
Tim photografer sudah datang sejak jam 9 pagi untuk mempersiapkan keperluan pra-wedding Aliya dan Aldo. Mereka di dandani dan berganti pakaian sesuai konsep yang mereka inginkan.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Aldo dan Aliya karena keduanya punya bakat jadi model dari lahir. Hanya dengan sedikit gerakan saja, keduanya bisa bergaya mengikuti arahan photographer.
Photografer : Kalian bakat jadi model. Kalau gak sibuk, hubungi aku ya. Aku suka banget foto kalian. Perfect.”
Aliya dan Aldo cuma saling pandang menahan tawa melihat tingkat photografer yang kegirangan karena pekerjaannya cepat selesai dengan hasil yang memuaskan.
🌵🌵🌵🌵🌵
Aldo menutup pintu apartmentnya dan melihat sekeliling yang sudah bersih kembali. Hari ini mereka memang khusus untuk photo pra-wedding saja. Besok pagi mereka ada janji ketemu desainer untuk fitting baju pengantin.
Aldo melihat Aliya tertidur di ranjang, hanya memakai piyama mini setelah ganti baju tadi. Aldo menarik nafasnya, menahan hasrat melihat paha mulus Aliya. Ditariknya selimut menutupi tubuh Aliya dan duduk di sampingnya.
Ponsel Aliya berdering, itu telpon dari Alvin,
Alvin : “Hai, Al.”
Aldo : “Halo, Al.”
Alvin : “Aldo, kalian sudah selesai pra-weddingnya?”
Aldo : “Sudah, Al. Aliya ketiduran nich.”
Alvin : “Yah, baru kami mau kesana. Baby Arya mau ketemu tantenya.”
Aldo : “Hehe… datang saja, Al. Semalam Aliya bilang ingin bertemu baby Arya.”
Alvin : “Ok, otw kamarmu.”
Aldo : “Oh, kalian sudah disini.”
Alvin : “Iya, baru selesai imunisasi baby Arya. Cepat buka pintunya.”
Aldo berjalan ke depan pintu dan membukanya. Aliya, Rara, dan baby Arya sudah berdiri disana. Aldo mempersilakan mereka masuk.
Alvin : “Apa kabarmu, Al?”
Aldo : “Seperti yang kau lihat, sangat sehat dan bugar. Bagaimana denganmu?”
Alvin : “Kau lihat sendiri, aku agak kerepotan menjaga baby Arya.”
Rara : “Eehheemm… kamu yang repot?”
Alvin : “Eh, maksudku Rara yang repot.”
Alvin menggaruk kepalanya melihat tatapan mata Rara yang mengancam. Aldo terkekeh melihat kejadian itu, bagaimana rasanya jadi ayah?
Aldo : “Aku boleh gendong baby Arya? Dia sudah cukup kuat kan?”
Rara bertatapan dengan Alvin yang mengangguk,
__ADS_1
Rara : “Sepertinya ada yang tidak sabaran mau jadi papa.”
Aldo : “Aku masih belum tahu cepat atau tidak. Susah payah aku membujuk Aliya agar kami segera menikah. Aku tidak mau memaksanya segera punya anak.”
Rara menyerahkan baby Arya pada Aldo yang menatap Aldo kegirangan. Ia memainkan air liurnya sambil sesekali tertawa. Aldo tampak kikuk menggendong baby Arya, ia ingin merebahkan baby Arya dalam gendongannya, tapi baby Arya terus berusaha bangun.
Rara : “Coba kau tegakkan dia.”
Aldo mencobanya dengan hati-hati dan kini baby Arya bersandar pada pundak Aldo, liurnya membasahi kemeja Aldo.
Aldo : “Kenapa dia mungil sekali? Apa dia tidak mau makan?”
Rara : “Bayi sebesar ini kamu bilang mungil? Dokter bilang baby Arya harus diet sedikit dan dia belum boleh makan, hanya susu saja.”
Aldo : “Vin, apa kau tahu tentang itu?”
Alvin : “Ya jelaslah, aku selalu mendampingi Rara ketika baby Arya ke dokter. Mama juga selalu membantu kami menjaga baby Arya dan memberitahu semua yang kami perlu tahu tentang bayi.”
Aldo : “Apa menurutmu kami bisa jadi orang tua yang baik nantinya? Mamamu disini, mamaku juga kadang-kadang perlu ke luar negeri bersama papaku. Apa aku sewa baby sister saja?”
Aliya : “Aku bisa mengurus bayi kita, buat apa baby sister.”
Mereka menatap Aliya yang sudah bangun karena suara tawa baby Arya. Aliya duduk di samping Aldo, menyodorkan tangannya meminta baby Arya.
Baby Arya berpindah ke tantenya yang menggendongnya dengan lembut. Baby Arya menatap Aliya yang tersenyum,
Aliya : “Halo, pangeran kecil. Apa kau kangen sama aunty?”
Aliya mencium pipi baby Arya yang gembul, baby Arya menarik rambut Aliya, memainkannya sambil tertawa. Pelan-pelan Aliya membuai baby Arya dalam gendongannya dan baby Arya langsung tertidur.
Aldo : “Bagaimana kau melakukannya? Apa kau pernah punya bayi sebelumnya?”
Aliya : “Sembarangan, aku masih perawan gini, punya bayi darimana.”
Aldo : “Lalu ini?”
Aliya : “Aku pernah jadi sukarelawan dan dapat tugas merawat bayi hampir setahun.”
Aldo : “Al, berhentilah memberiku kejutan, aku semakin jatuh dalam pesonamu.”
Alvin bergidik mendengar gombalan Aldo, terlintas ide gila dalam otak Alvin.
Alvin : “Bisa kan aku titip baby Arya sebentar disini. Dua jam aja.”
Aliya : “Trus kalian mau kemana?”
Alvin : “Kami mau buat adiknya, ok Al? Nanti aku traktir.”
Rara : “Alvin, kamu gila!”
Alvin : “Sebentar saja, Ra. Ayolah, perlengkapan baby Arya juga sudah ada didalam tas, kan.”
__ADS_1
Aliya dan Aldo cuma melongo melihat Alvin menarik Rara kembali ke kamar apartment mereka. Wajah mereka bersemu merah membayangkan sebentar lagi akan terjadi gempa lokal di apartment itu. Sementara baby Arya tidur lelap dalam gendongan Aliya.
🌿🌿🌿🌿🌿
Hampir tiga jam kemudian…
Aldo membuka pintu apartmentnya dan Alvin masuk membawa sekotak besar pizza dan makanan lainnya. Rara juga masuk membawa stock ASI dingin. Aliya sedang bermain dengan baby Arya yang keningnya sudah ditempeli kompres penghilang demam.
Udara di dalam apartment sedikit panas karena AC sudah diatur sesuai suhu normal ruangan. Baby Arya bergerak lincah mencoba merangkak tapi terus terjatuh.
Aliya : “Aku kira kau tidak akan kembali sampai anak keduamu lahir, kak.”
Alvin : “Aku sedikit terlena tadi, Rara semakin hebat saja.”
Rara : “Al, kamu gak malu ngomong begitu di depan Aliya. Baby Arya panas ya, Al?”
Aliya : “Iya, suhu badannya sempat naik tadi. Keringatnya banyak sekali, sampai-sampai stock ASI kakak sudah habis.”
Rara : “Apa dia rewel?” Rara menggendong baby Arya yang terlihat kesal karena terus terjatuh.
Aliya : “Gak juga, apa dia akan tumbuh gigi? Aku lihat gusinya sudah bengkak, kak.”
Rara : “Oh, dokternya tidak bilang apa-apa.”
Aliya : “Kalau sampai besok dia masih demam, mungkin giginya akan tumbuh.”
Aldo semakin terpesona dengan pengetahuan Aliya, ia sangat yakin kalau punya anak nanti, anak mereka akan sama jeniusnya dengan Aliya.
Aliya : “Aldo, kenapa melihatku seperti itu.”
Aldo : “Aku sedang membayangkan kau menggendong bayi kita, Al.”
Aliya : “Itu masih lama, Al. Ayo kita makan dulu. Alvin sudah menyogok kita dengan semua ini untuk memuluskan rencana mesumnya.”
Alvin : “Aku yakin kalau kau sudah tahu rasanya, kau tidak mau berhenti, Aliya.”
Aliya : “Kak, apa kak Rara seperti itu?”
Rara : “Itu hanya bisa-bisanya Alvin saja, Al. Aku sampai tidak bisa jalan kalau dia sudah kalap.”
Aliya : “Apa kau juga berencana membuatku sampai tidak bisa jalan?”
Aldo : “Kalau aku hanya ingin membuatmu tidak bisa berhenti mendesah, sayang.”
Blush! Wajah Aliya memerah mendengar pengakuan Aldo. Dengan kesal ia mencubit pinggang Aldo, membuatnya kesakitan. Alvin dan Rara tertawa melihat tingkah kedua pasangan itu.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
__ADS_1
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------