
Eps. 20 – Keinginan
Nadia
Tapi Carol
mengangguk dengan semangat saat Joya menanyakan pendapatnya. Ia akan punya
teman mengobrol kalau Joya bekerja di kantor Boy. Joya terlihat senang sekali
dan langsung menelpon Ny.Besar untuk meminta ijin dari ibu mertuanya itu.
Ny.Besar setuju
saja tapi Joya harus libur setidaknya dua kali seminggu untuk menemani Ny.
Besar. Lihat saja senyum manis Joya saat bicara dengan mertuanya. Ia
mengabaikan semua orang disana yang jadi tertarik untuk memperhatikan ekspresi
wajahnya.
“Dia selalu
seperti itu kalau sudah bicara dengan ibu. Lupa sedang apa dan dimana. Abaikan
saja.”kata Boy.
Boy mengobrol
dengan Nando dan Steven tentang proyek yang sedang berjalan di luar kota. Nando
mengatakan kalau ia sudah mengirim orang ke sana untuk mengawasi proyek mereka.
Tapi kemungkinan Nando juga harus kesana juga.
“Tapi pengganti
Pak Joni belum datang juga sampai sekarang. Siapa yang akan mengawasi
department-mu nanti?”tanya Boy.
“Bu Ana bisa melakukannya.
Maksud saya mbak Ana. Manager HRD punya wewenang untuk mengawasi department
lain yang managernya sedang tidak berada di tempat. Saya bisa memberikan list
yang perlu diperhatikan mbak Ana dan mungkin Ny.Joya bisa membantu nanti.”kata
Nando.
“Ok. Kamu bisa
pergi kalau gitu. Atur saja waktunya. Jangan terlalu lama ya. Kasian
pengantinmu kalau ditinggal lama-lama.”kata Boy sambil melirik Carol.
Carol menatap
Nando sedikit cemberut karena mendengar Nando harus bertugas keluar kota. Tapi
ia segera tersenyum lagi ketika mendengar suara tawa Joya.
OB datang untuk
membereskan piring kotor dan mencuci kotak bekal milik Joya. Nando dan Steven
segera kembali ke tempat mereka masing-masing. Carol juga keluar dari ruang
kerja Boy setelah OB selesai dengan tugasnya.
Boy duduk di
samping Joya, merangkul pinggang istrinya itu sambil menyelinapkan tangannya ke
balik kemeja Joya.
“Mas, jangan
nakal. Aku masi ngobrol sama ibu.”bisik Joya.
“Ngobrol aja.
Aku gak ngapa-ngapain kok. Cuma mau makan dessert.”bisik Boy di telinga Joya.
“Ibu, mas Boy
nakal.”adu Joya pada Ny.Besar.
“Ya, sudah
sana. Ibu mau tidur dulu. Nanti kalian pulang on time-kan?”tanya Ny.Besar di
telpon.
“Ya, bu.”jawab
Joya.
“Titip beliin
ibu kue yang biasanya ya. Lusa ulang tahun Lastri juga. Kita rayain seperti
biasanya ya.”kata Ny.Besar lagi.
“Oh iya ya, bu.
Hampir lupa mbak Lastri ulang tahun.”kata Joya.
Ny.Besar menutup
telponnya dan Joya baru sadar kalau Boy sudah berada di atasnya. Joya menahan
__ADS_1
Boy yang mendekatinya.
“Mas, pintunya
belum dikunci.”kata Joya.
“Sini.”ajak Boy.
Boy menarik
tangan Joya dan membawanya masuk ke ruang istirahat Boy. Mereka menghabiskan
setengah jam berikutnya untuk bersenang-senang di dalam sana. Sampai Carol
harus bolak-balik untuk mengecek apa mereka sudah selesai atau belum.
Boy melupakan
meetingnya sehabis makan siang. Padahal peserta rapatnya sudah menunggu dirinya
di ruang meeting. Ketika sekali lagi Carol melongok kedalam, Boy kebetulan
keluar dari ruang istirahatnya dengan keadaan yang sedikit berantakan.
“Tuan, meetingnya
hampir dimulai.”kata Carol.
“Ach ya. Aku
lupa. Tunggu sebentar. Tolong jangan bangunkan Joya. Dia sedang tidur di
dalam.”kata Boy sambil berjalan ke kamar mandi.
Boy keluar tak
lama kemudian, ia sudah rapi kembali dan berjalan masuk ke ruang meeting. Carol
mengintip ke dalam ruang pribadi Boy. Tampak Joya masih tertidur di balik
selimut. Ia berjalan kembali ke mejanya.
*****
Nadia
bersidekap dengan wajah cemberut yang menggemaskan. Ia baru pulang dari sekolah
dan sangat bahagia melihat Ana menjemputnya bersama Nanda. Tapi saat mereka
tiba di rumah kembali dan Nadia bertanya tentang adiknya, Ana menjawab kalau
adiknya belum ada.
Ana duduk di
dekat Nadia yang berbalik memunggunginya.
“Nadia sayang,
“Nadia mau
pamer sama temen-temen disekolah, tante.”jawab Nadia polos.
Ana berdehem
untuk menyamarkan tawanya. Masa punya adik untuk dipamerin, memangnya mainan
baru.
“Oh, gitu. Trus
Nadia mau punya adik cowok atau cewek?”tanya Ana lagi.
“Nadia mau tiga
adik. Dua cewek dan satu cowok.”jawab Nadia lagi.
“Kenapa banyak
sekali? Satu saja dulu.”kata Ana lagi.
“Apa kau cuma
mau satu anak?”tanya Nanda yang tidak suka mendengar Ana bilang hanya satu
anak.
“Aku tidak bisa
melahirkan sekaligus tiga anak. Satu-satu dulu. Bisakah kau diam dulu,
suamiku?”pinta Ana.
Charlie yang
berdiri di belakang Nanda menahan senyumnya melihat Nanda menurut pada Ana.
“Nadia sayang,
sabar ya. Adik bayi akan cepat ada kalau Nadia sabar dan rajin berdoa.”bujuk
Ana.
“Adik bayi lama
keluarnya ya, tante?”tanya Nadia sambil berbalik menghadap Ana.
”Itu
tergantung kemampuan kakakmu, Nadia. Lihat saja apa kualitasnya masih bagus
atau sudah kadaluarsa.”
__ADS_1
“Iya, sayang.
10 bulan lagi kalau sudah jadi sekarang ya. Nadia yang sabar. Sekarang kita
mandi yuk.”kata Ana.
“Iya,
tante.”jawab Nadia sambil menggandeng tangan Nadia.
Nanda memperhatikan
Nadia yang berjalan bersama Ana, terlihat sangat senang. Ia teringat saat Nadia
seperti itu adalah saat ia bersama Charlie.
“Charlie, Ana
bertanya tentang kamu. Apa boleh aku cerita semuanya?”tanya Nanda.
“Saya tidak
keberatan, tuan muda. Tapi apa Ny. tidak akan merasa takut jika tahu saya dulu
seorang ...”jawab Charlie.
“Dia akan terus
mengejarku kalau gak cerita. Sekalian kita lihat reaksinya.”potong Nanda.
“Apa perlu saya
yang cerita, tuan muda?”tanya Charlie.
“Kalau Ana bertanya
padamu, jawab saja. Aku mau mandi. Apa ada yang penting hari ini?”tanya Nanda.
Charlie
mengikuti Nanda yang berjalan menuju kamarnya. Ia memberitahu kalau perusahaan
Nanda baru saja mendapatkan proyek baru yang diurus oleh manager proyek Dita.
“Dita? Bukannya
bulan lalu dia juga yang memenangkan proyek baru dengan TA grup?”tanya Nanda.
“Iya, tuan
muda.”jawab Charlie.
“Kau sudah
mengatur pemberian bonus untuknya?tanya Nanda lagi.
“Sudah, tuan
muda. Tapi ia mau hadiah yang lain.”kata Charlie.
“Apa?”
“Dia ingin
makan malam berdua dengan tuan muda.”kata Charlie.
Nanda menatap
Charlie yang balas menatapnya juga. Ia menggelengkan kepalanya, mereka masuk ke
kamar Nanda.
“Aku sudah
punya istri, bagaimana bisa makan malam dengan wanita lain. Berdua saja lagi!”kata
Nanda dengan marah.
“Saya sudah
mengatakan kalau tuan muda mungkin akan menolak, tapi nona Dita bersikeras. Dia
meyakinkan saya kalau dia sudah punya rencana untuk mengambil alih proyek
selanjutnya. Mungkin tuan muda mau lihat dulu site plan-nya?”tanya Charlie.
“Kalau memang
dia memaksa, ayo lakukan malam ini. Kalau tidak bisa, lupakan saja.”kata Nanda.
“Saya akan
mengaturnya, tuan muda.”kata Charlie.
Keduanya tidak
tahu kalau Ana sudah kembali dari kamar Nadia dan sedang menguping pembicaraan
mereka berdua. Ana mengepalkan tangannya, ia kesal karena Nanda akan pergi
makan malam dengan wanita lain.
“Makan malam
dengan wanita lain, eh. Ternyata kau ini playboy juga ya, tuan muda. Aku sudah
tertipu dengan kepolosanmu. Lihat saja apa kau bisa pergi malam ini.”
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.