
Eps. 21 – Hamil?
“Iya, bu. Kok
ibu bisa tahu?”
“Dari dulu Joya
kalau sudah demam, kalau gak masuk angin, ya karena mau flu. Ibu sudah hafal, Boy.”
Boy
menyelesaikan makan malamnya dengan cepat. Ia ingin melihat keadaan Joya lagi.
Bi Ijah mengikuti Boy sambil membawa makan malam untuk Joya. Saat Boy masuk ke
kamar, ia tidak melihat Joya diatas tempat tidur.
“Joya? Kamu di
dalam?”tanya Boy dari depan pintu kamar mandi.
“Iya, mas.
Bentar. Masih sakit perut.”
“Tapi kamu gak
pa-pa, kan?”
“Iya, bentar
mas.”
Boy meminta Bi
Ijah meninggalkan saja nampan berisik makan malam Joya diatas meja. Ia
memeriksa e-mail masuk di ponselnya dan membalas dengan cepat. Joya akhirnya
keluar dari kamar mandi, ia terlihat menggigil dan segera masuk ke bawah
selimut lagi.
“Hii, dingin
banget.”
“Ayo, makan
dulu.”
“Males makan,
mas. Mau bobok lagi.”
Boy mendekatkan
nampan ke samping Joya, melihat Joya
hanya mengaduk-ngaduk nasi dipiring tanpa berniat memakannya, Boy menyuapi Joya
makan. Tapi hanya setengah yang sanggup dihabiskan Joya.
“Sudah, mas.
Aku mual.”
“Kamu sakit apa
sich?”
“Aku kan dah
bilang masuk angin, trus tadi juga capek.”
“Kalau itu kamu
yang nyerang mas ya. Padahal mas uda mau nolak.”
Joya melipat
kedua tangannya di depan dada, “Nolak nich? Gak mau lagi?”
Boy nyengir
lebar, ia mengusap-usap kening Joya yang sudah tidak sepanas tadi. “Kamu jangan
memaksakan diri kerja sampai sakit gini ya. Seporsinya aja. Secukupnya. Lagian
masih ada besok.”
“Iya, mas. Aku
salah, maaf.”
“Sebagai
hukumannya, mas mau lagi...”
Joya tidak bisa
__ADS_1
menghindar dari jarak tangkap Boy, ia masih berusaha nego tapi ia lupa kalau
Boy sangat ahli dibidang negosiasi. Pokoknya harus deal dengan keuntungan untuk
Boy. Joya tertawa geli saat Boy menciumi lehernya.
“Mas, aku
ngantuk banget nich. Besok aja ya.”
“Iya, tidur ada
dech. Biarin mas gini dulu bentar.”
“Tapi kan gak
bisa tidur jadinya.”
Boy
menghentikan aksinya dan berbaring di samping Joya. “Tidur, sayang. Cepat
sembuh ya.”
Joya mulai
memejamkan matanya dan tertidur pulas.
*****
Siang
berikutnya, Joya sedang membersihkan bahan masakan bersama Bi Ijah, saat Ny.
Lastri pulang membawa buah-buahan. Hari itu ia tidak masuk ke kantor Boy karena
masih sakit, kepalanya pusing dan badannya panas lagi. Ny. Besar sudah meminta
Joya ke dokter bersamanya, tapi Joya hanya ingin istirahat di rumah.
*** bukannya
istirahat, Joya tetap saja bandel ikut membantu mengerjakan pekerjaan di dapur.
Alasannya karena ia tambah pusing berada di kamar sejak pagi. Ny. Lastri
meletakkan bungkusan yang dibawanya di dekat Joya.
“Makan siangnya
apa nich, Joya?”tanya Ny.Lastri.
“Soto ayam,
Bau duren
memenuhi dapur saat Ny. Lastri membuka plastik pembungkus buah. Tiba-tiba Joya
merasa pusing dan perutnya mual, ia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah
disana.
“Hoeek...
Hoeekk... Uhuk... Hoeekk...”
Bi Ijah ikut
masuk ke kamar mandi dan memijat perlahan tengkuk Joya, tapi muntahnya malah
semakin keras. Ny. Lastri melongok ke dalam kamar mandi. Ia berpikir sejenak
sebelum tersenyum sedikit ragu.
”Apa ini
tandanya? Dimana aku simpan benda itu ya?”
Ny. Lastri
pergi mencari sesuatu dari dalam lemari di kamarnya, ia tersenyum senang ketika
melihat benda yang ia cari ketemu juga. Ny. Lastri memperhatikan tanggal
kadaluarsa di benda itu dan membawanya keluar kamar.
Ia kembali
berdiri di depan kamar mandi, Joya masih muntah-muntah di dalam. Setelah merasa
lebih baik, Joya keluar dari kamar mandi di papah Bi Ijah.
“Joya, coba tes
pakai ini.”kata Ny.Lastri sambil menyerahkan sebuah tespack ke tangan Joya.
Joya menerima
tespack yang disodorkan Ny. Lastri. Tapi ia mencium bau duren lagi, dan kembali
muntah-muntah.
__ADS_1
“Hoeek...
Hoeekk... Hoeekk...”
Ny. Besar yang
sedang istirahat di kamarnya, keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi. Ia
mendengar suara muntah Joya yang cukup keras dan mengkhawatirkan keadaan Joya.
“Ada apa
Lastri? Joya kenapa?”
Ny. Lastri
berbisik pada Ny. Besar yang langsung menelpon dokter Risman dari dalam
kamarnya. Sementara Ny. Lastri kembali ke dapur dan memerintahkan pelayan yang
lain membawa duren keluar dari dapur.
“Mbak, tolong
bawa keluar durennya dari dapur. Bungkus plastik double ya. Jangan sampai
baunya masuk ke dalam rumah. Padahal aku pengen banget makan duren itu. Tapi ya
sudahlah.”
Joya keluar
dari kamar mandi, tubuhnya gemetar karena terus memuntahkan sarapannya. Bi Ijah
memegangi Joya agar tidak jatuh bersama Ny. Lastri mereka menuntun Joya naik ke
lantai 2 menuju kamarnya.
“Joya, ayo kita
tes dulu, mb bantu ya.”
Ny. Lastri
membawa Joya ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Joya keluar dipapah
Ny. Lastri yang memberikan hasil tespack ke Ny. Besar. Ny. Besar melihat hasil
tespack itu dan tersenyum senang.
“Akhirnya Boy
berhasil ya!”seru Ny. Besar senang.
Joya yang tidak
mengerti apa-apa, hanya terdiam memegangi perutnya yang sakit. Ia sudah
dibaringkan di atas tempat tidur. Bi Ijah mengoleskan minyak kayu putih ke
tubuh Joya yang mulai terasa dingin.
Dokter Risman
datang, dan langsung memeriksa Joya, “Joya kapan terakhir datang bulan?”
Joya melirik
kalender diatas nakas, sudah sebulan lebih dia tidak datang bulan. Setelah
lewat enam bulan sejak pernikahannya dengan Boy, Joya baru menyadari datang
bulannya terlambat.
“Sudah sebulan
lebih, dokter. Saya kenapa ya, dok?”
“Selamat ya, Joya.
Joya sedang hamil, perkiraannya baru dua bulan. Nanti lebih jelasnya bisa ke
dokter kandungan langsung ya. Saya kasi rekomendasi dokter kandungan yang
bagus.”
“Saya? Hamil?”Joya
sedikit linglung karena tidak percaya kalau dirinya sedang mengandung.
Joya memegang
perutnya yang masih rata. Ny. Besar memeluk Joya, “Selamat ya nak, kau akan
jadi ibu. Boy… sedang apa anak itu sekarang?”
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
__ADS_1
tinggalkan jejakmu). Tq.