Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Menantu untuk Ibu bagian 24


__ADS_3

Kau mencintaiku tanpa sepatah kata, aku mencintaimu dengan satu kata yang tak pernah patah.


***


Terkadang bahagia itu perlu di usahakan bukan menunggu ia datang. Namun, apa jadinya jika bahagia itu tak pernah bisa diraih?


Alva duduk di balik meja menghadap tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani. Sesekali ia mengepulkan asap rokok. Ketukan pintu membuyarkan sunyi. Deva sang sahabat muncul dengan senyum lebar.


"Nggak bilang kalau mau ke sini? Masuk!"


Pria berkulit sawo matang itu mengambil duduk di depan Alva. Sudah enam bulan ia tak bertemu sahabatnya itu. Alva tampak sedikit kurus dengan mata cekung.


"Loe dah kayak orang frustrasi, Al!"


Alva mengangkat bibirnya sedikit membuang sisa rokok ke asbak.


"Mungkin! Tapi bukankah hidup harus berlanjut?" tuturnya menyandarkan tubuh ke kursi.


"Loe nggak pingin balik? Betah di kota kecil ini?"


Mengangkat bahu lalu menggeleng, Alva bertutur bawa dia lebih baik di sini.


"Dan loe bisa ngelupain Safira?"


Pria berkulit bersih itu diam. Enam bulan berlalu, ia memilih pergi untuk kebaikan semua ternyata belum menemukan itu. Ia belum merasa bisa sepenuhnya melupa.


Deva tertawa kecil, dirinya tahu betul seperti apa Alva.


"Loe belum bisa lupain dia, 'kan?" tanyanya, "ayolah! Cari gadis lain, Al! Di sini pasti juga ada yang ...."


"Jangan ceramah, Dev! Gue tahu apa yang harus gue lakukan ... tapi saat ini gue belum bisa melakukan apa pun." potongnya.


Deva mengangguk, ia menyerahkan amplop biru muda dengan pita pink ke arah sahabatnya.


"Apa ini?"


"Baca, gue harap loe datang!"


"Loe ... loe nikah, Dev?" tanyanya setelah membaca undangan itu.


Anggukan Deva dibalas senyum lebar dan tepukan di bahu oleh Alva.


"Selamat, Dev! Gue pasti di datang!"


Deva tersenyum mengucapkan terima kasih.


"Gue harap loe segera menyusul, Al!"


Alva menaikkan alisnya tersenyum.


***


Kehamilan Safira menginjak bulan ke tujuh, perut wanita berwajah ayu itu semakin membuncit. Hamil di tengah-tengah orang yang menyayanginya membuat Safira merasa nyaman. Bu Santi tak henti memberi perhatian pada menantunya itu. Tentu saja suaminya, Tyo. Lelaki itu semakin perhatian pada sang istri.


"Mas Tyo, saya bisa jalan ambil sendiri, nggak usah diambilkan," ujar Safira saat ia hendak mengambil minum di kulkas.


"Aku tahu, tapi aku ingin menikmati rasanya sebagai suami yang selalu ada untuk istrinya yang sedang hamil." Tatapan lembut pria itu selalu membuat Safira terlindungi.


"Mas, lusa jadi pergi?" Entah kenapa hatinya gundah mendengar Tyo akan ke luar kota untuk satu urusan.

__ADS_1


Pria itu mengangguk tersenyum.


"Kemarin Alva datang, nah lusa Mas dan dia akan berangkat ke kota yang sama. Kita harus ketemu sama investor di sana."


Wanita itu terdiam, mengusap pelan perutnya. Ada tebersit khawatir tersirat dari wajahnya. Hal itu disadari Tyo.


"Kenapa, Sayang?"


"Saya khawatir, Mas."


"Khawatir? Kenapa?"


"Perasaan saya nggak enak," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.


Tyo mendekat, mencoba menenangkan sang istri. Seraya mengusap pelan perut Safira ia mengatakan bahwa tak perlu ada yang dirisaukan.


"Semua baik-baik saja, kamu jangan khawatir." Dipeluknya Safira sambil mengecup puncak kepala wanita itu.


"Jangan nangis, mas baik-baik aja."


Bukan tambah tenang, Safira semakin tergugu. Tak seperti biasa, wanita itu merasa ada yang mengganggu pikiran.  Namun, Tyo bisa meredam resah istrinya.


***


Pagi sesuai yang direncanakan, Alva menjemput Tyo ke rumahnya. Meski ragu, ia mencoba menata hati. Sosok yang di rindu itu tengah menyiapkan keberangkatan Tyo.


"Mas hati-hati ya. Kabari saya secepatnya kalau sampai," pesannya sebelum mencium punggung tangan Tyo. Semua itu disaksikan Alva. Ia tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan keduanya. Tak lupa Tyo mengusap perut Safira kemudian membisikkan sesuatu di sana.


"Aku pergi, Sayang. Jaga diri dan buah cinta kita baik-baik. Aku barusan berpesan agar dia tidak menyusahkan mamanya."


Safira mengangguk tersenyum menahan air mata yang hendak tumpah.


"Hati-hati," tuturnya mengusap bulir air yang menetes.


Sejenak Alva mematung menatap Safira. Wanita itu terlihat semakin cantik.


"Mas Al bisa hati-hati kan?"


Alva mengangguk mengatupkan bibirnya.


"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Kami berangkat," pamitnya berlalu.


***


Gelegar petir membangunkan wanita itu dari lelap. Ia melihat ke arah dinding. Petunjuk waktu terlihat pukul sebelas malam. Pria yang ditunggu tak juga memberi kabar. Ia terlihat mulai resah. Sementara diluar hujan semakin menggila.


Safira bangkit mengambil telepon mencoba kembali menghubungi sang suami. Namun, tak satu pun pun panggilan dijawab. Wajahnya terlihat semakin frustrasi.


Saat ia hendak meletakkan tubuh kembali ke ranjang, teleponnya berdering.


"Assalamualaikum, Ibu."


"___"


"Malam-malam begini? Ada apa, Bu?"


"___"


"Bu, tapi ...."

__ADS_1


Sambungan telepon diputus. Safira termangu tak mengerti apa yang terjadi. Akan tetapi hatinya mendadak bertalu semakin kencang. Tendangan kecil dari perut membuat dirinya terkejut. Lembut ia mengusap seraya mencoba bercengkrama dengan nyawa di dalam sana.


"Papa akan baik-baik saja, Sayang," bisiknya.


Deru mobil berhenti tepat di depan rumah. Ia mengintip dari balik gorden. Bu Santi tergopoh-gopoh melangkah ke mendekat. Segera ia membuka pintu.


"Safira." Tak seperti biasa, kali ini mertuanya itu langsung memeluk dengan mengucapkan kata-kata yang ia tidak bisa mencerna maksudnya.


"Ibu duduk dulu."


"Bu, katakan ada apa," tanyanya setelah mereka duduk di ruang tengah.


"Nak, suamimu dan Alva ... mereka ...."


Wajahnya sontak berubah seputih kapas. Napasnya memburu dengan mata terlihat mengembun. Penuturan Bu Santi seolah menjawab resahnya kemarin. Tyo dan Alva mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang. Mobil yang mereka tumpangi mengalami pecah ban yang mengakibatkan kendaraan mereka tidak bisa dikontrol sehingga menabrak pagar pembatas jalan tol.


"Bu ... di mana mereka? Bagaimana kondisi Mas Tyo juga Mas Alva? Mereka baik-baik saja, 'kan?" Suaranya bergetar seiring dengan air mata yang mengalir. Bu Santi bertutur bahwa Pak Yuda tengah mengusahakan agar keduanya di pindah di rumah sakit di kota mereka. Sebab lokasi kejadian tak jauh dari kota tempat tinggal mereka.


"Bu, mereka baik-baik saja kan, Bu? Katakan, Bu."


"Kita semua berharap demikian, Safira."


Bu Santi memeluk menantunya mencoba saling berbagi kekuatan.


***


Tidak ada yang bisa diucapkan oleh wanita itu selain menangis menahan perih duka di dada menyaksikan belahan jiwanya tergolek tak berdaya dengan mata terpejam. Tyo dinyatakan koma oleh dokter. Benturan hebat di kepala membuat perdarahan di otak sang suami hingga tak sadarkan diri.


Safira menatap nanar ke arah layar monitor, sesekali ia mengusap kening suaminya. Bibir wanita itu terus merapal doa. Ada raut duka yang mendalam di pancaran wajah itu.


"Mas, bangun. Sebentar lagi, dia datang ... sebentar lagi putramu lahir, Mas. Tidakkah kamu ingin melihatnya, tidakkah kamu ingin menemani kami?" tuturnya terisak. Satu minggu sudah lelaki itu mengunci matanya. Tak bergerak, tak bereaksi. Meski dicegah, Safira berkeras untuk tetap tinggal di rumah sakit siang dan malam.


"Ibu, saya sudah kehilangan kedua orang tua yang menyayangi saya. Apa saya sekarang juga harus kehilangan Mas Tyo? Cuma dia yang bisa menenangkan dan sayang pada saya, Bu."


Bu Santi tak bisa bicara banyak, ia hanya mencoba memberi support pada menantunya itu.


"Ibu tahu, Safira, tapi kondisimu yang mengharuskan dirimu istirahat. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu padamu juga calon cucu ibu."


Sikap keras wanita itu akhirnya membuat Bu Santi menyerah. Ia akhirnya mengutus istri Pak Soleh di desa untuk menemani Safira. Sementara Bu Santi sebenarnya tak kalah sedih. Keadaan Alva pun tidak jauh dengan kondisi Tyo. Meski pria itu sudah mulai siuman.


Pertanyaan pertama yang diucapkan Alva adalah tentang sang kakak.


"Mas Tyo, Bu? Mana Kak Tyo? Al mau ketemu, dia baik-baik aja kan?"


Mata sang ibu berkaca-kaca. Ia hanya bisa meminta pada Tuhan agar putranya Tyo bisa melewati komanya. Terngiang ucapan dokter barusan saat ia berkonsultasi.


"Tingkat kesadaran koma tergantung dari seberapa parah kerusakan pada otak dan bagian otak mana yang masih berfungsi. Orang yang mengalami koma tidak menyadari keadaan sekitar dan tidak dapat merespon suara maupun rasa nyeri. Refleks dasar seperti batuk dan menelan pada pasien koma pun sangat berkurang, dan sebagian pasien memerlukan alat bantu untuk tetap bernafas," jelas dokter berambut putih itu ramah.


"Lalu bagaimana dengan anak saya, Dokter?"


"Sebagian pasien koma dapat sadar, dan sebagian lagi masuk ke status vegetatif dan meninggal dunia ... tapi kita punya Tuhan, Bu. Berdoalah, semoga anak ibu bisa melewati masa ini," paparnya.


Air mata Bu Santi mengalir tanpa bisa ditahan. Melihat hal itu Alva semakin histeris. Berkali-kali ia bertanya soal Tyo, tapi tetap saja ia tak mendapat jawaban. Hanya air muka sang ibu yang membuat otaknya berpikir liar.


"Ibu, antar aku ke Kak Tyo!"


"Alva, kondisi kamu tidak memungkinkan untuk itu. Tyo sedang menjalani perawatan intensif. Dia akan baik-baik saja. Percayalah!" Pak Yuda yang baru tiba menengahi. Tak puas dengan jawaban tersebut, ia mencoba bangkit. Namun, tentu saja tak memungkinkan, karena tulang kakinya retak yang menyebabkan ia tak lagi bebas bergerak.


***

__ADS_1


__ADS_2