
Telepon genggam miliknya bergetar, mata indah Safira melirik kemudian cepat meraih benda pipih itu. Membaca identitas pemanggil kemudian ia kembali meletakkan ke meja tanpa menerimanya. Telepon itu terus bergetar tanpa jeda. Hingga akhirnya ia menyentuh warna hijau di layar.
"Halo, Mas Alva."
Tak ada sahutan dari seberang. Kembali gadis itu menyapa, masih sama. Safira mengangkat bahu, kemudian membawa telepon selulernya ke kamar.
***
Alva menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia merasa tak pernah serapuh ini. Ada penyesalan yang terlambat di hatinya.
"Sial!" umpatnya mengepalkan tangan. Bayangan senyum Safira menari-nari di pelupuk. Lagi-lagi ia kembali mencoba menghubungi gadis yang telah mencuri hatinya itu. Namun, lagi-lagi ia tak sanggup berkata apa pun. Mendengar suara Safira dari seberang telah cukup membuat dirinya gugup.
"Mas Alva, 'kan? Kenapa diam aja? Bisa dengar suara saya?"
Pria itu menarik napas dalam-dalam.
"Kamu masih diam, saya tutup teleponnya!"
"Jangan!" Spontan ia berucap. Sejenak hening tak ada yang membuka suara.
"Ada apa, Mas?"
"Nggak, aku cuma mau ngucapin selamat!"
"Terima kasih."
"Safira ...."
"Ya? Ada apa, Mas?"
"Nggak ada apa-apa."
"Oke, saya boleh tutup teleponnya?"
"Iya." Alva mengangguk memejamkan mata kemudian melempar telepon selulernya begitu saja di kasur. Lama ia menatap langit-langit, perlahan pria itu menyadari semua kesalahan yang pernah ia buat.
Ibunya benar tentang Safira. Gadis itu memang luar biasa. Tak heran kenapa sang ibu berambisi menikahkan ia dengan Safira. Meski akhirnya Bu Santi menyerah. Kini justru Tyo lah yang akan segera menjadi penjaga hati gadis itu.
Suara ketukan pintu membuatnya terjaga. Tak tahu berapa lama ia tertidur.
"Masuk!" Asal ia menanggapi masih dengan mata mengantuk.
"Woi, bangun, Al!" Tyo duduk di ranjangnya seraya menarik bantal yang menutup wajah sang adik. Malas ia membuka mata. Senyum lebar sang kakak membuat Alva teringat pada gadis yang jauh di desa.
"Selamat, Kak!" Ia menjabat tangan Tyo. Pria berkacamata itu tersenyum mengangguk.
"Yakin sudah rela?" godanya.
"Ck! Emang kakak rela apa kalau aku ambil kembali?" celetuk Alva bersandar di petiduran.
"Nggak lah! Tapi ...."
"Tapi apa, Kak?" potong Alva menatap Tyo.
"Kalau bisa bikin kamu bahagia kenapa nggak?"
Mendengar itu Alva menggeleng cepat. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda. Sang kakak hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Kak! Aku mau bilang ke ayah ...."
"Bilang apa?"
"Aku mau melanjutkan studi di Belanda!"
Tyo menatap penuh tanya ke Alva.
__ADS_1
"Tiba-tiba? Ke Belanda?"
Lelaki berambut sedikit gondrong itu menggeleng. Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya sudah cukup lama ia memiliki keinginan itu. Namun, saat itu ia masih ragu, dan kini ia merasa telah yakin.
Tyo mengangguk tersenyum.
"Kamu mau bicara sekarang ke ayah?"
Alva mengangguk mengatakan akan membersihkan diri.
"Al!" panggil Tyo saat Alva hendak ke kamar mandi.
"Jujur ya jawab pertanyaan aku."
"Apaan, Kak?"
"Kamu mencintai Safira?"
Alva tersenyum tipis tak menjawab.
"Jangan bohongi diri sendiri. Jawab!"
"Nggak, Kak!" jawabnya kemudian masuk ke kamar mandi.
***
Alva menunduk mendengar penuturan Pak Yuda, saat ia mengungkapkan keinginan untuk sekolah ke luar negeri. Sang ayah tidak mengizinkan, tetapi Alva justru di percaya untuk memegang anak perusahaannya, sama seperti Tyo.
"Kamu tidak perlu ke luar negeri. Ayah tahu di bidang mana minatmu. Ayah beri kamu posisi yang cocok untuk itu."
Pria itu terlihat kecewa.
"Al, ibu tidak ingin anak ibu jauh-jauh lagi dari ibu," tutur Bu Santi lembut. Meski harus kecewa ia tak urung mengangguk. Kedua orang tuanya mengabarkan bahwa sang kakak akan segera menikah. Lagi-lagi ia mengangguk.
"Kapan, Bu?"
Mendengar nama Safira disebut, jantung pria itu berdetak kencang. Tak ingin perasaannya diketahui, ia meneguk air putih di depannya.
"Kamu ... bisa jemput dia, 'kan?" tanya ibunya.
Alva menatap wajah sang ibu dengan kening berkerut. Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Al yang jemput?"
"Iya, sebab kakakmu harus menemani ayah bertemu klien di Surabaya hari itu ... gimana, bisa?"
Pria itu tak menjawab, ia tampak berpikir. Bagaimana mungkin ia menjemput gadis itu. Sementara dirinya sedang berusaha melupakannya? Ia tak mungkin mencurangi Tyo. Bagaimanapun, ia tak ingin sang kakak tahu perasaan yang ia simpan untuk Safira.
"Al, kamu dengar apa yang ibu bicarakan?"
Alva gelagapan mengangguk.
"Iya, Bu."
"Oke, berarti minggu depan kamu jemput Safira. Ingat, perlakukan dengan baik. Dia calon kakak iparmu!"
Dengan menarik napas dalam-dalam ia mengangguk.
"Tuhan, paling tidak ampuni kesalahanku jika aku berbuat salah ... tapi kumohon ijinkan aku merubah keadaan ini dengan baik," bisiknya.
***
Sementara Tyo tak pernah jemu menghubungi Safira. Gadis itu bahagia mendapat perhatian besar dari Tyo.
"Maaf, Safira.Mas nggak bisa ke sana, pekerjaan ini harus segera diselesaikan, supaya tidak menggangu saat kita bulan madu nanti." Suara Tyo di seberang membuat pipinya merona.
__ADS_1
"Iya, Mas. Jangan lupa makan ya."
"Iya, kamu juga. Jaga diri baik-baik ya."
"____"
"Ya sudah, sampai ketemu nanti ya."
Dengan senyum dikulum Safira menyudahi pembicaraan. Ada bayangan bahagia di kepalanya. Meski terkadang sosok Alva berkelebat.
Ia tak mungkin menghentikan waktu kemudian mundur untuk mengetahui perasaan yang ada pada dirinya. Baginya kenyamanan itu telah dia temukan pada sosok Tyo. Meski getar cinta itu belum ia rasakan seperti saat berdua dengan Alva.
Mengingat Alva, ia kembali terkenang saat pria itu untuk pertama kali mencium bibirnya. Meski ciuman itu tiba-tiba, tapi ada rasa yang menyentuh dalam hati yang membuat ia tidak bisa melupakan begitu saja.
"Tuhan, jika Mas Tyo memang Engkau utus untuk menemaniku, kumohon jauhkan Alva dariku."
Safira beranjak dari duduk, ia bersiap-siap untuk mengajar anak-anak kecil melukis di rumah itu. Seperti biasa pagi dan sore beberapa anak datang untuk belajar melukis ada juga yang minta belajar membaca. Semua ia layani dengan senang hati. Hal itu terkadang membuat dirinya enggan pergi dari desa itu. Saat ia baru saja memulai mengajar. Seorang anak kecil menghampirinya dengan membawa bunga mawar.
"Ini buat Mbak Safira."
Keningnya berkerut dengan mata penuh tanya.
"Terima kasih, Ali. Eh ini Ali petik bunga dari mana?" tanyanya menerima satu tangkai mawar putih itu. Lelaki kecil itu menggeleng.
"Bukan Ali, Mbak. Tapi ... Mas itu," tuturnya menunjuk pria yang tengah berdiri mengamati dari jauh. Safira tak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sementara pria itu tersenyum manis padanya. Tampak ia memberi isyarat agar Safira melanjutkan aktivitasnya.
"Mas Tyo kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke sini?" Protesnya saat kegiatannya usai.
"Sengaja mau bikin kejutan," balas Tyo tersenyum, "kamu nggak suka?"
"Suka, Mas."
"Suka? Suka sama mas atau bunganya?" goda Tyo. Safira menunduk malu.
"Minggu besok kamu bakal dijemput Alva, nggak apa-apa, 'kan?"
Mendengar nama Alva disebut mendadak ia merasa ada desir berbeda.
"Ke_kenapa bukan Mas yang jemput?"
Tyo terkekeh mencubit gemas hidung mancung milik gadis di depannya.
"Aku maunya juga gitu, tapi ayah sudah telanjur mengajak mas untuk bertemu klien di Surabaya ... tapi kalau kamu keberatan, mungkin mas bisa ajukan ke ...."
"Jangan , Mas! Nggak apa-apa, kasihan ayah, pasti klien kali ini penting hingga mengajak Mas Tyo."
Pria berkacamata itu mengangguk. Sebenarnya ia tengah memupuk rasa cinta pada gadis itu. Pelan tapi pasti ia mulai merasa jatuh cinta, meski ia sebenarnya bukan tidak tahu bahwa sang adik juga mulai mencintainya.
"Safira ...."
"Ya, Mas?"
"Seberapa penting cinta buatmu?"
"Maksud, Mas Tyo?"
Dengan senyum pria itu menjelaskan, bahwa dalam suatu hubungan cinta punya andil besar untuk bisa menjadikan keduanya bertahan, selain kepercayaan dan kenyamanan.
"Mas kenapa tanya seperti itu? Mas ragu?" Ia balik bertanya.
Tyo menggeleng.
"Bukan ragu padamu, tapi ... mas ragu pada orang yang ternyata juga mencintaimu." Mata Safira menyipit.
"Saya nggak ngerti, Mas."
__ADS_1
"Sudahlah ... kita masuk yuk. Kamu bisa bikin teh buat aku?"
Gadis itu tersenyum mengangguk.