
------
Joya melangkah mengikuti interviewer bersama mahasiswa lainnya.
Siang itu juga mereka langsung melakukan tour keliling perusahaan untuk mengetahui tata letak perusahaan termasuk tata tertib selama magang.
Saat mereka melewati ruang meeting, Joya menahan nafasnya ketika melihat Boy keluar dari sana. Joya sempat melihat kalau Boy meliriknya tapi di wajahnya tidak ada reaksi apapun. Sepertinya Boy masih marah padanya.
Mereka menyingkir memberi jalan pada Boy dan setiap orang yang keluar dari ruang meeting. Interviewer mengajak mereka masuk ke dalam ruang meeting.
Interviewer : Itu tadi direktur sekaligus anak dari owner perusahaan ini. Namanya Pak Boy. Kalian mungkin tidak akan berurusan secara langsung dengan beliau. Tapi tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu kalian akan dipanggil untuk menemui beliau."
Joya hanya mengangguk bersama mahasiswa lainnya.
Setelah tour selesai, Joya bisa pulang bersama yang lainnya. Mereka akan mulai magang besok pagi.
Joya mengirimkan pesan pada Ny.Besar setelah melihat di ponselnya ada panggilan tak terjawab dan chat dari Ny.Besar.
Joya : "Maaf, Ny.Besar. Saya baru selesai interview untuk magang. Tadi tidak sempat memberitahu Ny.Besar. Saya dalam perjalanan pulang sekarang."
Ny.Besar : "Ibu kira terjadi sesuatu, Joya. Baiklah, hati-hati dijalan pulang."
Joya : "Baik, Ny. Besar."
Joya segera memesan ojol, ia berjalan keluar dari lobby perusahaan dan melihat Tama, salah satu mahasiswa yang magang bersamanya berhenti dengan motornya di depan Joya.
Tama : "Joya, ayo aku antar pulang. Rumahmu dimana?"
Joya : "Aku uda mesen ojol. Orangnya sudah dekat, kamu duluan saja."
Tama : "Cancel aja."
Joya : "Kasian ojolnya. Eh, itu ojolnya datang. Sampai besok, Tama."
Tama menunggu Joya naik ke ojol sambil menggenggam stang motornya. Tiba-tiba tengkuknya terasa dingin, ia mengelus lehernya yang merinding.
Tama tidak menyadari kalau Boy berdiri di dalam lobby sedang menatapnya dengan pandangan tajam, siap membunuh saingan cintanya.
-------
Sampai di rumah Ny.Besar, Joya ingat kalau dia harus membersihkan kamar Boy.
Setelah ganti baju, Joya beranjak ke lantai 2. Suasana rumah agak sepi karena penghuninya ada yang belum pulang. Dan ART sedang memasak makan malam.
Joya membuka pintu kamar Boy perlahan, ia melihat kamar itu berantakan. Semua perlengkapan di dalam kamar itu bertebaran di lantai.
__ADS_1
Joya mulai mengambil satu persatu CD musik dan menyusunnya kembali ke rak. Buku-buku saling tumpang tindih di kaki ranjang juga dibawanya ke rak.
Langkah Joya terhenti saat melihat sebuah bingkai foto yang tergeletak di bawah meja kerja Boy. Ada foto Boy disana, terlihat sangat tampan dengan senyum tipis.
Joya mengambil foto itu dan memasukkan bingkai kosongnya ke dalam laci meja kerja. Ia akan menyimpannya sampai waktunya tiba nanti.
Joya melanjutkan membersihkan kamar Boy. Ia mengusap satu persatu pakaian yang tertinggal di lemari Boy sambil merapikannya.
Selanjutnya ia merapikan tempat tidur yang kondisinya acak-acakan. Banyak kenangan yang ia miliki bersama Boy di kamar ini.
Saat pertama kalinya ia tidur seranjang bersama pria tampan itu. Kemesraan yang diberikan Boy, mengingat itu membuat wajah Joya memerah.
Ia tersenyum malu sendiri, bahkan setelah jatuh cinta pada Boy, ia tidak bisa memilikinya dengan status anak pembantu. Joya menertawakan takdirnya sendiri, kalaupun sebelum lamaran ini dia sudah lulus, status anak pembantu tetap akan disandangnya
Sungguh ia rela menjadi milik Boy seutuhnya, tapi dalam hatinya tidak bisa mengelak akan statusnya. Ia tahu seberapa besar kekuasaan Ny.Besar, semua orang mengenal keluarga mereka.
Bahkan menantu Ny.Besar rata-rata berasal dari keluarga mampu. Meskipun tidak sekaya Ny.Besar, tapi mereka mampu. Tidak ada yang berasal dari status sosial rendahan sepertinya.
Joya melihat kotak kecil terjatuh ketika ia membereskan bed cover. Ia mengambilnya dan membuka kotak itu.
Cincin yang indah sekali, batunya seperti berlian bersinar dengan terangnya. Ia memasukkan kotak itu ke sakunya, nanti ia akan memberikannya pada Ny. Besar untuk disimpan.
Joya menatap puas dengan hasil pekerjaannya yang sudah membuat kamar Boy rapi kembali. Ia beranjak keluar kamar dan menutup pintu.
Joya turun ke lantai bawah, semua orang sudah berkumpul di meja makan bersiap makan malam.
Ny. Besar melihat arah tatapan Joya,
Ny.Besar : "Joya, ayo duduk. Makan bersama kami."
Joya : "Maaf, Ny. Besar. Saya mau e-mail tugas dulu. Oh, ini saya temukan di kamar Tuan Boy."
Joya meletakkan kotak kecil itu di dekat Ny. Besar yang langsung membukanya. Cincin yang sudah disiapkan Boy untuk melamar Joy.
Ny.Besar : "Makasi, Joya. Nanti ingat makan malam ya."
Joya : "Baik, Ny.Besar. Saya permisi."
Semua orang di meja makan menatap kepergian Joya ke kamarnya.
Ny.Putri : "Bu, aku kok kasian liat Joya begitu. Boy gimana juga keadaannya sekarang."
Ny.Besar : "Biarkan mereka tenang dulu. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya mengawasi mereka berdua dan men-support Joya. Dia harus segera lulus kuliah dan kerja."
Ny. Putri : "Sudah sampai mana kuliahnya? Harusnya sudah mulai magang ya."
__ADS_1
Ny.Besar : "Joya baru ikut interview magang hari ini dan sepertinya sudah diterima. Ibu hanya belum tahu magang di perusahaan mana."
Mereka melanjutkan makan malam tanpa terlalu banyak bicara lagi dan lagi-lagi Joya tidak makan malam. Ia hanya keluar untuk membantu mencuci piring seperti biasa dan kembali masuk ke kamarnya.
------
Pagi yang cerah saat Joya berangkat untuk magang di perusahaan Boy. Ny.Besar sempat menanyakan dimana Joya magang dan Joya menjawab di perusahaan Boy.
Joya menunggu angkutan umum yang biasa lewat di depan rumah Ny.Besar, saat mobil Ny.Besar keluar dari dalam rumah dan berhenti di depannya.
Sopir : "Joya, ayo masuk. Saya juga mau ke kantor Tuan Boy, ada barangnya yang ketinggalan."
Joya : "Oh, iya pak."
Joya masuk ke mobil Ny.Besar dan duduk di depan. Ia memasang sabuk pengaman dan mobil mulai meluncur ke arah kantor Boy.
Jalanan yang cukup lengang karena masih pagi membuat mereka tidak perlu memakan waktu lama untuk sampai di depan kantor Boy.
Mobil berhenti di depan lobby, security yang sudah mengetahui semua mobil keluarga Boy, mengarahkan mobil agar parkir di tempat yang sudah disediakan.
Sopir : "Joya, bisa minta tolong bawakan ini ke ruangan Tuan Boy?"
Joya : "Maaf, pak. Saya tidak diperbolehkan ke ruangan ataa tanpa ijin. Lebih cepat kalau bapak yang bawa sendiri ke atas."
Sopir Ny.Besar mengalah dan keluar dari mobil bersama Joya. Beberapa karyawan menoleh menatap Joya yang keluar dari mobil keluarga Boy.
Mereka berbisik-bisik sambil berjalan masuk ke lobby kantor. Joya tidak peduli dengan itu, ia hanya fokus untuk menjalani hari pertamanya magang.
------
Joya menjalani hari magang pertama dengan sangat memuaskan. Ia benar-benar menyelesaikan setiap tugas yang diberikan seniornya dengan baik dan cepat.
Hal ini malah menimbulkan kecemburuan pada beberapa mahasiswa yang juga magang disana. Mereka berpikir kalau Joya sedang berusaha mencari perhatian.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Please vote poin buat karya author ya...
Makasi banyak...
__ADS_1
-------