
Eps. 20 – Menangkap tikus
Saat semua orang sudah keluar lift kecuali Joya, sekretaris Carol bertindak cepat menutup
pintu lift dan lift segera naik membawa Joya ke lantai ruang kerja Boy.
Nando sudah menunggu Joya di depan lift. Ia memperkenalkan diri sekilas dan segera membawa
Joya masuk ke dalam ruang kerja Boy. Sekretaris Carol masih mengawasi CCTV, ia
melihat semakin banyak orang berkerumun di dekat lift dan langsung mengunci
lift agar tidak bisa dipakai.
Sekretaris Carol : “Lift sementara tidak bisa dipakai. Ny. kenapa Ny. kesini?”
Joya : “Aku pikir situasinya tidak terlalu mencekam seperti tadi. Mereka siapa sich?”
Nando : “Sepertinya itu orang-orang suruhan Pak Joni. Saya akan panggil petugas keamanan.”
Joya : “Apa cukup? Mereka banyak sekali.”
Nando : “Tenang saja, Ny. Masih ada petugas cadangan.”
Nando menelpon seseorang. Ia terlibat pembicaraan serius dengan seseorang di telpon itu.
Nando : “Aku belum bisa. Gak bisa syaratnya diganti?”
Joya menoleh pada sekretaris Carol yang terlihat kepo menatap Nando.
Nando : “Baik, iya, aku janji akan bawa dia nanti malam. Cepat datang.”
Joya melihat Nando jadi gelisah setelah menelpon.
Joya : “Ada apa? Petugasnya kurang?”
Nando : “Bukan, Ny. Itu, saya minta bantuan kakak saya tapi syaratnya saya harus bawa calon
istri saya ke rumahnya nanti malam.”
Joya melirik sekretaris Carol yang terlihat kecewa. Joya jadi kesal pada Nando, kalau sudah
punya calon istri, kenapa masih ngasih perhatian pada sekretaris Carol. Nando jadi
bingung melihat kedua wanita di hadapannya tiba-tiba jadi dingin padanya.
Situasi semakin gawat. Orang-orang suruhan Pak Joni sudah sampai di tangga ruang kerja Boy.
Sementara di CCTV terlihat Boy dan Pak Joni sedang bertengkar. Sekretaris Carol
mengaktifkan lift untuk petugas keamanan kantor. Mereka sudah naik ke lantai
ruang kerja Boy dan sedang menahan pintu agar pasukan Pak Joni tidak bisa masuk.
Joya : “Maass!!
Joya terkejut melihat Pak Joni memukul Boy. Ia segera berlari keluar dari ruang kerja Boy dan
masuk ke ruang meeting tanpa sempat dicegah Nando dan sekretaris Carol.
Keduanya menyusul Joya masuk ke ruang meeting.
Dalam situasi yang mencekam, Pak Joni mengambil nampan besi untuk memukul Boy. Boy melindungi
dirinya dengan tangannya, sementara Rian sedang baku hantam dengan asisten Pak
__ADS_1
Joni. Joya yang masuk ke ruang meeting, melihat Boy hampir dipukuli. Ia segera
pasang badan melindungi Boy, tapi tidak merasakan sakit di tubuhnya.
Sekretaris Carol datang dengan cepat dan melindungi Joya dengan tubuhnya. Brak! Pukulan
nampan besi dari Pak Joni diterima dengan telak oleh punggung sekretaris Carol.
Ia pingsan seketika menerima serangan itu.
Bug! Nando menghantam pinggang Pak Joni membuatnya tersungkur. Tiba-tiba segerombolan
orang masuk ke ruang meeting. Mereka hampir menangkap Rian dan juga Nando. Joya
berteriak histeris mencoba membangunkan sekretaris Carol yang pingsan di
pelukannya. Boy berusaha membantu Nando tapi kena pukul juga.
Mereka hampir babak belur, sebelum akhirnya tumbang satu persatu dengan kedatangan rombongan
preman berwajah seram.
Nanda : “Nando, kamu dimana?!”
Nando melihat kakaknya berjalan masuk melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan di lantai.
Nanda segera menemukan adiknya itu dan menoel-noel pipinya yang kena pukul.
Nando : “Sakit, kak. Ssss...”
Nanda : “Mana calon istrimu?”
Nando menunjuk kearah Joya dan sekretaris Carol yang masih pingsan.
Nanda : “Calon istrimu ada dua? Serakah sekali kamu.”
Boy memegang bahu Joya ketika Nanda bergerak mendekati mereka. Nanda membungkuk di depan
sekretaris Carol dan menjentikkan jarinya. Dua orang berbadan kekar, segera
menggotong tubuh sekretaris Carol dengan hati-hati dan membawanya keluar dari sana.
Joya : “Mau dibawa kemana dia?”
Joya bertanya pada Nanda dengan berani, ia menatap khawatir pada sosok sekretaris Carol yang
dibawa pergi.
Nanda : “Tenang saja, Ny. Dia akan kami rawat dengan baik sampai sembuh. Apa Ny. terluka?”
Joya menggeleng, ia melihat keadaan Boy yang meringis kesakitan. Nanda menjentikkan
tangannya lagi. Beberapa orang kekar datang membawa kotak obat dan mulai memeriksa
dan mengobati Rian dan Boy. Nanda menoleh menatap Nando yang masih bengong di
tempatnya.
Nanda : “Kenapa kau masih disini? Temani calon istrimu. Apa perlu aku mengantarmu?”
Nando menatap Joya,
Joya : “Tolong temani sekretaris Carol. Dia sudah menyelamatkan nyawaku dan suamiku.”
Nando mengangguk dan segera pergi dari sana.
__ADS_1
Nanda : “Nah, sekarang membereskan kekacauan disini.”
Nanda menjentikkan tangannya lagi dan semua orang yang tergeletak di lantai langsung
di jejerkan bersandar pada dinding. Beberapa orang kekar berjaga di sekitar
mereka. Nanda berjalan mendekati Pak Joni yang masih dipiting anak buahnya. Ia
melihat Boy dan Rian dibantu berdiri dan didudukkan di kursi.
Anak buah Nanda yang merawat Boy dan Rian melaporkan kalau tidak ada tulang yang patah, hanya
luka memar dan lebam saja yang dialami keduanya. Nanda mengibaskan tangannya,
ia tersenyum ramah pada Boy,
Nanda : “Jadi, tuan Boy. Bagaimana tuan mau menyelesaikan masalah ini?”
Boy : “Anda siapa? Terima kasih karena sudah menolong kami.”
Nanda : “Saya Nanda, kakaknya Nando. Saya yang seharusnya berterima kasih pada anda. Karena
anda, Nando sudah banyak berubah sekarang. Jadi, tuan mau saya singkirkan
tikus-tikus ini tanpa jejak?”
Nanda menyeringai sambil menatap Pak Joni yang gemetaran.
Boy : “Kami sudah cukup bukti untuk menjebloskannya ke penjara. Ditambah dengan rekaman
CCTV tadi, dia akan menerima hukumannya.”
Nanda : “Tuan terlalu murah hati. Charlie, bawa mereka berdua ke kantor polisi. Dan tolong
permanis sedikit rekaman CCTV itu. Dia sudah membuat calon adik iparku pingsan,
kita buat dia pingsan di pengadilan. Ingat jangan ada jejak.”
Orang yang ditunjuk Nanda, menggerakkan kepalanya dan empat orang kekar mengangkat Pak
Joni dan asistennya keluar dari ruang meeting. Charlie meminta Rian memberikan
dokumen bukti padanya dan juga rekaman CCTV. Boy mengangguk pada Rian. Niken
yang baru datang segera memapah Rian menuju ruang kerjanya.
Boy : “Tuan Nanda, sekali lagi terima kasih atas bantuan tuan. Saya tidak berbuat apa-apa
pada Nando, dia yang mau berubah.”
Nanda : “Tetap saja saya harus berterima kasih.”
Joya : “Tuan Nanda, kemana tuan membawa sekretaris Carol?”
Nanda : “Tentu saja ke rumah saya. Tenang saja, Ny. dia akan baik-baik saja disana. Kami akan
merawatnya sampai sembuh dan mengembalikannya pada anda.”
Joya : “Tolong jangan panggil Ny. cukup Joya saja.”
Nanda : “Baiklah, Joya. Anda juga bisa memanggil saya Nanda. Usia kita tidak jauh, kan?”
Boy mulai cemberut saat melihat Joya akrab dengan Nanda. Dan kecemburuan Boy tertangkap
oleh Nanda.
__ADS_1
*****
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan jejakmu). Tq.