
Eps. 20 – Tuan
muda kepo
“Suamiku...”panggil
Ana manja.
Melihat
kelakuan majikannya, sopir Nanda dengan cepat menekan tombol di depannya. Sekat
kaca langsung bergerak menutup di antara mereka.
“Apalagi
maumu?”tanya Nanda.
“Suruh supirmu
menungguku di luar kantor ya. Dan jangan menarik perhatian.”pinta Ana lagi.
“Banyak sekali
permintaanmu pagi ini. Bagaimana kau akan berterima kasih?”tanya Nanda.
Charlie
menghentikan langkahnya saat melihat mobil Nanda bergoyang perlahan. Ia melihat
bangunan di sebelahnya, tidak ada gempa. Lebih bingung lagi saat melihat banyak
tanda cinta keluar dari mobil itu.
“Ada apa?”tanya
Charlie pada sopir yang menunggu di luar mobil.
“Saya disuruh
keluar sebentar, tuan. 10 menit. Ini sudah hampir 5 menit.”
Charlie menepuk
keningnya, ia mengerti apa yang dilakukan Nanda dan Ana. Tapi harus ya
melakukannya di depan sekolah Nadia. Beberapa orang yang menyadari keberadaan
mereka di luar mobil, jadi memperhatikan mobil itu.
“Cepat masuk.
Jalankan saja mobilnya pelan-pelan. Anggap sudah 10 menit.”perintah Charlie.
Mereka berdua
masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil itu perlahan sampai ke kantor Ana. Charlie
mulai stress setelah mereka menunggu hampir 15 menit, tapi tidak ada
tanda-tanda Nanda dan Ana akan berhenti. Security kantor Boy yang curiga
melihat mobil berhenti cukup lama di depan kantor, menghampiri mobil itu.
Charlie keluar tepat pada waktunya.
“Maaf, pak.
Dilarang berhenti disini lama-lama. Silakan masuk atau lanjutkan perjalanan
anda.”kata security itu.
“Maaf, sebentar
lagi ya, pak. Nyonya saya masih ganti baju di dalam. Beliau bekerja
disini.”kata Charlie.
Boy yang baru
datang, melihat Charlie bicara dengan security di pinggir jalan. Ia
menghentikan mobilnya dan keluar bersama Rian.
“Tuan Boy,
selamat pagi.”sapa Charlie sambil sedikit membungkuk.
“Ada apa?
Mobilnya mogok? Anda, asisten tuan Nanda, kan?”tanya Boy.
“Benar, tuan.
Sebenarnya...”Charlie maju dan membisikkan sesuatu pada Boy.
“Ehem! Cuaca
cukup cerah hari ini. Ayo, kita masuk Rian. Pak security, biarkan mereka disini
dulu ya. Ini salah satu client kita juga.”kata Boy dengan telinga sedikit
merona.
Charlie
menunduk malu juga. Akhirnya Ana membuka pintu mobil dan keluar dengan keringat
membasahi pelipisnya.
“Sampai jumpa,
sayang. Dah, Charlie.”kata Ana sambil dadah-dadah.
__ADS_1
Charlie masuk
lagi ke dalam mobil setelah memastikan Ana masuk ke kantornya dengan aman. Ia
melirik tuan mudanya yang terlihat sangat segar dan berseri. Sopir mereka juga
tersenyum lebar melihat Nanda sangat bahagia.
“Tuan muda, ada
lipstik di pipi tuan.”kata Charlie.
“Ini lipstik
Ana. Biarkan saja!”ketus Nanda.
“Ada juga di
leher tuan muda.”kata Charlie masih ngeliatin.
“Biarkan saja!
Kenapa kau cerewet sekali?”bentak Nanda.
“Tapi kalau
dilihat staf yang lain bagaimana, tuan muda?”tanya Charlie.
“Beri
pengumuman yang bisa menghitung dengan tepat bekas lipstik di pipi dan leherku,
bonusnya bulan ini dua kali lipat.”kata Nanda tegas.
”Apa kau sudah
gila, tuan muda? Pengumuman macam apa itu.”
Tapi Charlie
memberikan pengumuman itu juga pada semua karyawan lewat siaran chat. Alhasil,
saat Nanda tiba di kantornya, sebagian besar karyawan ada di lobby menunggu
Nanda lewat.
Jawaban dari
masing-masing karyawan masuk ke ponsel Charlie. Termasuk Charlie juga iseng
menjawab. Nanda menghadiahinya bonus dua kali lipat sesuai janjinya bersama
beberapa orang karyawan yang menjawab 5.
Kabar tentang
kedekatan Nanda dengan seorang wanita langsung jadi trending topik diperusahaan
IT itu. Headline news langsung berubah posisi menjadi ‘wanita yang bisa mencium
“Charlie, kau
belum katakan siapa wanita yang bersamamu tadi malam.”kata Nanda.
“Itu...”kata
Charlie ragu.
“Kalau kau mau
berbohong lagi, aku sebarkan CCTV semalam ke berita kantor.”ancam Nanda.
“Itu nona Dita,
tuan muda. Tolong jangan sebarkan apapun.”pinta Charlie memelas.
“Jadi seleramu
begitu ya.”kata Nanda.
“Dia yang
memaksa saya, tuan muda. Saya bersumpah.”
“Tapi kamu juga
mau, kan. Dua kali, heh?! Lihat siapa yang lebih nakal sekarang.”ejek Nanda.
Nanda
menertawakan Charlie yang malu-malu seperti pengantin baru. Ia menyuruh Charlie
mulai serius mencari pendamping hidupnya. Setidaknya mereka tidak akan
digosipkan yang tidak-tidak lagi. Charlie hanya bisa terima nasib, bahkan Dita
tidak mau menikah dengannya. Hubungan mereka hanya sebatas sama-sama senang.
“Hubungan kami
tidak semudah itu, tuan muda. Nona Dita hanya ingin bersenang-senang saja.”jelas
Charlie.
“Dan kamu? Apa
kamu suka sama dia?”tanya Nanda.
“Sepertinya dia
wanita yang baik. Tapi kami perlu waktu untuk bisa saling mengenal, tuan muda.”
“Bagus. Ayo
__ADS_1
pergi.”kata Nanda.
“Kemana, tuan
muda?”tanya Charlie sambil mengikuti tuan mudanya keluar dari ruang kerjanya.
Nanda tidak menjawab
Charlie. Ia terus berjalan menuju ruang kerja Dita yang saat itu sedang
menerima tamu. Charlie melotot ketika membuka pintu dan melihat posisi Dita sangat
dekat dengan seorang pria. Tangan Dita bahkan sudah berada di bahu pria itu.
“Tuan muda,
anda kemari lagi. Silakan duduk.”kata Dita biasa saja.
Nanda melirik
Charlie yang sudah memerah menahan perasaannya yang kacau. Charlie ingin
bertanya siapa pria itu tapi ia tidak menemukan alasan untuk bertanya.
“Babe, nanti
kita sambung lagi ya. Aku agak sibuk. Call me.”kata Dita pada pria itu sambil
mengerdip genit.
Pria itu keluar
dari kantor Dita, melewati Charlie yang sudah mengepalkan tangannya. Nanda
duduk di kursi,
“Sepertinya aku
mengganggu ya. Siapa pria tadi?”tanya Nanda biasa saja.
“Tuan muda
tidak mengenalnya? Oh, bagaimana saya menjelaskannya. Dia seorang informan. Apa
yang membuat tuan muda kesini?”kata Dita tanpa melihat Charlie.
“Informan
seperti apa? Bayarannya pasti mahal.”kata Nanda lagi.
“Bayarannya
hanya sibuk beberapa malam saja, tuan muda. Tidak mahal. Tapi informasinya
selalu tepat.”
Dita bercerita
tentang tender kali ini yang harus bersaing dengan perusahaan asing. Ia sedang
mengumpulkan informasi untuk bisa mengetahui kelemahan tim lawan. Sepanjang itu
Dita bercerita yang diingat Charlie hanya kata-kata ‘sibuk beberapa malam saja’.
Yang Charlie
bayangkan Dita bersama pria itu melakukan apa yang Charlie lakukan bersama Dita
di malam sebelumnya. Sampai Nanda menghentikan cerita Dita, Charlie kembali
fokus pada Nanda.
“Aku mau kalian
berdua menangani proyek di wilayah D. Kalian harus bekerja sama untuk bisa
menyelesaikan proyek itu sampai selesai. Sumber daya yang ada bisa dipakai
semaksimal mungkin. Caranya harus bersih.”perintah Nanda.
“Baik, tuan
muda.”kata Dita dan Charlie dengan patuh.
Charlie tetap
tinggal di kantor Dita, sementara Nanda beralasan ingin ke kamar kecil. Dia
meminta asistennya untuk mengambil berkas proyek di wilayah D. Proyek panjang
yang tidak selesai karena client mereka sangat cerewet dan juga suka cari
masalah.
Tapi proyek itu
nilainya cukup besar dan bisa mendatangkan bonus kalau berhasil menanganinya.
Termasuk proyek dengan tingkat kesulitan level 5 dari 5 level.
Charlie mencuri
pandang menatap Dita yang sibuk dengan ponselnya. Ia ingin bicara tapi bingung
harus membahas apa. Akhirnya asisten Dita kembali membawa setumpuk berkas yang
langsung dibaca keduanya.
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.