
Boy menoleh pada
Niken yang masih duduk di samping Joya.
Boy : “Niken,
apa kau tahu yang terjadi?”
Niken : “Anda
minum obat perangsang, tuan.”
dr. Risman :
“Obat perangsang? Boy, yang benar saja.”
Niken : “Tuan
Boy salah mengira obat itu obat penurun panas biasa.”
dr. Risman :
“Oh, coba lihat sini matamu.”
Dokter Risman
menyenter mata Boy dan melihat pengaruh obat itu masih belum hilang sepenuhnya.
dr. Risman :
“Kamu sudah makan?”
Boy : “Belum,
dokter.”
dr. Risman :
“Makan dulu, habis itu minum obat ini. Dan banyak minum air putih.”
Boy : “Tapi,
Joya...”
dr. Risman :
“Saya masih memeriksanya. Cepat makan dan minum obat itu. Atau kau mau lihat
keadaan Joya lebih parah dari ini?”
Boy menurut
juga, ia keluar dari ruang istirahat dan menemukan sudah ada makanan diatas
meja.
Rian : “Silakan
makan dulu, tuan.”
Boy : “Kamu
sudah makan?”
Rian menggeleng
dan mengatakan nanti saja. Ia juga menanyakan keadaan Joya, tapi Boy
menggeleng. Boy menyelesaikan makan dengan cepat. Ia langsung meminum obat dan
kembali ke dalam ruang istirahatnya. Joya tampak sudah bangun, dan sedang minum
air gula hangat yang diletakkan Boy diatas nakas.
Boy : “Sayang,
kamu gak pa-pa?”
Joya : “Ya,
mas.”
Boy : “Mau
makan? Ada makanan di luar.”
Joya : “Iya,
mas. Mas udah makan?”
Boy mengangguk,
ia keluar ruang istirahat untuk mengambil makanan tapi ditahan dokter Risman
yang sudah keluar juga.
dr. Risman : “Boy,
duduk. Saya mau bicara.”
Boy sudah
siap-siap akan dimarahi lagi. Tapi memang dia yang ceroboh. Boy duduk di sofa
disamping dokter Risman.
dr. Risman : “Boy,
pergilah berlibur. Kalian berdua.”
Boy : “Ya,
__ADS_1
dokter.”
dr. Risman : “Kalau
bisa. Ini kalau bisa ya. Kalian jangan melakukan hubungan dulu.”
Boy : “Sampai
kapan, dokter?”
dr. Risman : “Sebulan.”
Boy : “Ya,
dokter.”
dr. Risman : “Ini
untuk kebaikan kalian juga. Kalian ingin Joya segera hamil, kan? Dengan caramu
seperti ini, hanya akan menundanya lebih lama lagi.”
Boy mengangguk,
ia bisa menahannya dan berharap Joya akan segera sehat kembali. Dokter Risman
berpamitan dan tidak memberikan obat apapun untuk Joya.
Boy : “Rian,
bisa atur liburan kami? Tolong hubungi direktur kantor Joya. Bilang Joya tugas
keluar kota bersamaku selama seminggu. Kalau perlu kirim staf kita kesana untuk
menggantikan tugas Joya sementara.”
Rian : “Baik,
bos. Bos mau kemana?”
Boy : “Aku
tanya Joya dulu. Dia juga belum makan.”
Boy membawa
makanan ke dalam ruang istirahatnya dan melihat Niken mengelap tangan Joya
dengan tisu basah.
Boy : “Kenapa?”
Niken : “Ini,
tuan. Kata Joya agak lengket dan tidak nyaman.”
Wajah Boy memerah
menghilangkan bekas percintaan mereka tadi.
Boy : “Joya,
makan dulu ya. Habis itu aku bantu mandi. Niken, kamu bisa makan dulu sama
Rian. Kalian belum makan, kan?”
Niken mengangguk,
ia berjalan keluar dari ruang istirahat dan melihat Rian duduk di sofa. Membuka
bungkus makanan untuk mereka berdua. Niken memilih masuk ke kamar mandi,
mengisi bath up dengan air hangat dan menuangkan aromatherapy di dalam sana.
Rian : “Ayo kita
makan.” Ajak Rian setelah Niken duduk di sampingnya.
Niken : “Habis
makan, Joya mau mandi dibantu Boy. Kamu panggil OB suruh ganti sprei kamar itu
ya.”
Rian : “Okey.”
Keduanya menghabiskan
makanan di hadapan mereka, sampai Boy keluar dari ruang istirahat dan meminta
Rian balik badan di pojokan.
Rian : “Baik,
bos. Kalau sudah selesai, bos jangan keluar dulu ya. Saya suruh OB ganti
spreinya dulu.”
Boy : “Ya.”
Boy menggendong
Joya keluar dari ruang istirahat, langsung masuk ke kamar mandi.
*****
30 menit
kemudian, Boy keluar dari kamar mandi, memastikan ruang istirahat dan ruang
kerjanya kosong. Semua orang sudah keluar dan kedua ruangan itu sudah bersih
__ADS_1
kembali. Boy menggendong Joya keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang
istirahat lagi. Ia mendudukkan Joya di atas tempat tidur dan mengeringkan
rambutnya.
Kring! Kring!
Ponsel Joya berbunyi di dalam tasnya. Boy mengambil ponsel itu dan melihat Ibu
calling.
Boy : “Halo,
bu.” Boy mengangkat telpon itu, sudah siap-siap akan dimarahi lagi.
Ny. Besar : “Dimana
Joya?”
Boy : “Joya,
ibu mau bicara.” Sambil menyerahkan ponsel Joya.
Joya : “Halo,
ibu.”
Ny. Besar : “Nak,
kamu gak pa-pa? Tadi dokter Risman sudah cerita semuanya.”
Joya : “Nggak
pa-pa, bu. Ini bukan salah mas Boy. Ibu tahu sekretaris mas Boy kan? Dia yang
ngasi obat ke mas Boy. Ibu bisa tanya kak Rian. Mas Boy dijebak, bu.”
Ny. Besar : “Iya,
ibu tahu. Kalian sebaiknya pergi liburan.”
Joya : “Liburan,
bu?” Joya menatap Boy dan Boy mengangguk.
Ny. Besar : “Ya,
pergilah seminggu. Tenangkan diri kalian sambil istirahat.”
Joya : “Kemana,
bu?”
Ny. Besar : “Ke
Bali? Mau?”
Joya : “Bali...
Iya, bu.”
Ny. Besar : “Ya,
sudah. Bilang sama Boy, ibu gak marah. Tapi kalian harus cepat berangkat.”
Joya : “Iya,
bu. Makasi ya, bu.”
Joya meletakkan
ponselnya di sampingnya, Boy masih mengeringkan rambut Joya. Ia menunduk
mencium wangi rambut Joya dan memeluk pinggang ramping istrinya itu. Joya
menyandarkan tubuhnya pada pundak Boy.
Boy : “Dokter
bilang, kita perlu istirahat dan liburan. Kamu mau ke Bali? Lihat pantai?”
Joya : “Apa
disana ada danau?”
Boy : “Ada.
Kita bisa ke pantai sehari, besoknya ke danau, trus keliling Bali. Mau, kan?”
Joya : “Iya,
mas.”
Boy : “Aku
sangat mencintaimu, sayang.”
Joya : “Aku
juga, mas.”
Keduanya
mempererat pelukan mereka sambil mengkhayalkan liburan mereka di Bali nanti.
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.