Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Takut dimarahi lagi


__ADS_3

Boy menoleh pada


Niken yang masih duduk di samping Joya.


Boy : “Niken,


apa kau tahu yang terjadi?”


Niken : “Anda


minum obat perangsang, tuan.”


dr. Risman :


“Obat perangsang? Boy, yang benar saja.”


Niken : “Tuan


Boy salah mengira obat itu obat penurun panas biasa.”


dr. Risman :


“Oh, coba lihat sini matamu.”


Dokter Risman


menyenter mata Boy dan melihat pengaruh obat itu masih belum hilang sepenuhnya.


dr. Risman :


“Kamu sudah makan?”


Boy : “Belum,


dokter.”


dr. Risman :


“Makan dulu, habis itu minum obat ini. Dan banyak minum air putih.”


Boy : “Tapi,


Joya...”


dr. Risman :


“Saya masih memeriksanya. Cepat makan dan minum obat itu. Atau kau mau lihat


keadaan Joya lebih parah dari ini?”


Boy menurut


juga, ia keluar dari ruang istirahat dan menemukan sudah ada makanan diatas


meja.


Rian : “Silakan


makan dulu, tuan.”


Boy : “Kamu


sudah makan?”


Rian menggeleng


dan mengatakan nanti saja. Ia juga menanyakan keadaan Joya, tapi Boy


menggeleng. Boy menyelesaikan makan dengan cepat. Ia langsung meminum obat dan


kembali ke dalam ruang istirahatnya. Joya tampak sudah bangun, dan sedang minum


air gula hangat yang diletakkan Boy diatas nakas.


Boy : “Sayang,


kamu gak pa-pa?”


Joya : “Ya,


mas.”


Boy : “Mau


makan? Ada makanan di luar.”


Joya : “Iya,


mas. Mas udah makan?”


Boy mengangguk,


ia keluar ruang istirahat untuk mengambil makanan tapi ditahan dokter Risman


yang sudah keluar juga.


dr. Risman : “Boy,


duduk. Saya mau bicara.”


Boy sudah


siap-siap akan dimarahi lagi. Tapi memang dia yang ceroboh. Boy duduk di sofa


disamping dokter Risman.


dr. Risman : “Boy,


pergilah berlibur. Kalian berdua.”


Boy : “Ya,

__ADS_1


dokter.”


dr. Risman : “Kalau


bisa. Ini kalau bisa ya. Kalian jangan melakukan hubungan dulu.”


Boy : “Sampai


kapan, dokter?”


dr. Risman : “Sebulan.”


Boy : “Ya,


dokter.”


dr. Risman : “Ini


untuk kebaikan kalian juga. Kalian ingin Joya segera hamil, kan? Dengan caramu


seperti ini, hanya akan menundanya lebih lama lagi.”


Boy mengangguk,


ia bisa menahannya dan berharap Joya akan segera sehat kembali. Dokter Risman


berpamitan dan tidak memberikan obat apapun untuk Joya.


Boy : “Rian,


bisa atur liburan kami? Tolong hubungi direktur kantor Joya. Bilang Joya tugas


keluar kota bersamaku selama seminggu. Kalau perlu kirim staf kita kesana untuk


menggantikan tugas Joya sementara.”


Rian : “Baik,


bos. Bos mau kemana?”


Boy : “Aku


tanya Joya dulu. Dia juga belum makan.”


Boy membawa


makanan ke dalam ruang istirahatnya dan melihat Niken mengelap tangan Joya


dengan tisu basah.


Boy : “Kenapa?”


Niken : “Ini,


tuan. Kata Joya agak lengket dan tidak nyaman.”


Wajah Boy memerah


menghilangkan bekas percintaan mereka tadi.


Boy : “Joya,


makan dulu ya. Habis itu aku bantu mandi. Niken, kamu bisa makan dulu sama


Rian. Kalian belum makan, kan?”


Niken mengangguk,


ia berjalan keluar dari ruang istirahat dan melihat Rian duduk di sofa. Membuka


bungkus makanan untuk mereka berdua. Niken memilih masuk ke kamar mandi,


mengisi bath up dengan air hangat dan menuangkan aromatherapy di dalam sana.


Rian : “Ayo kita


makan.” Ajak Rian setelah Niken duduk di sampingnya.


Niken : “Habis


makan, Joya mau mandi dibantu Boy. Kamu panggil OB suruh ganti sprei kamar itu


ya.”


Rian : “Okey.”


Keduanya menghabiskan


makanan di hadapan mereka, sampai Boy keluar dari ruang istirahat dan meminta


Rian balik badan di pojokan.


Rian : “Baik,


bos. Kalau sudah selesai, bos jangan keluar dulu ya. Saya suruh OB ganti


spreinya dulu.”


Boy : “Ya.”


Boy menggendong


Joya keluar dari ruang istirahat, langsung masuk ke kamar mandi.


*****


30 menit


kemudian, Boy keluar dari kamar mandi, memastikan ruang istirahat dan ruang


kerjanya kosong. Semua orang sudah keluar dan kedua ruangan itu sudah bersih

__ADS_1


kembali. Boy menggendong Joya keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang


istirahat lagi. Ia mendudukkan Joya di atas tempat tidur dan mengeringkan


rambutnya.


Kring! Kring!


Ponsel Joya berbunyi di dalam tasnya. Boy mengambil ponsel itu dan melihat Ibu


calling.


Boy : “Halo,


bu.” Boy mengangkat telpon itu, sudah siap-siap akan dimarahi lagi.


Ny. Besar : “Dimana


Joya?”


Boy : “Joya,


ibu mau bicara.” Sambil menyerahkan ponsel Joya.


Joya : “Halo,


ibu.”


Ny. Besar : “Nak,


kamu gak pa-pa? Tadi dokter Risman sudah cerita semuanya.”


Joya : “Nggak


pa-pa, bu. Ini bukan salah mas Boy. Ibu tahu sekretaris mas Boy kan? Dia yang


ngasi obat ke mas Boy. Ibu bisa tanya kak Rian. Mas Boy dijebak, bu.”


Ny. Besar : “Iya,


ibu tahu. Kalian sebaiknya pergi liburan.”


Joya : “Liburan,


bu?” Joya menatap Boy dan Boy mengangguk.


Ny. Besar : “Ya,


pergilah seminggu. Tenangkan diri kalian sambil istirahat.”


Joya : “Kemana,


bu?”


Ny. Besar : “Ke


Bali? Mau?”


Joya : “Bali...


Iya, bu.”


Ny. Besar : “Ya,


sudah. Bilang sama Boy, ibu gak marah. Tapi kalian harus cepat berangkat.”


Joya : “Iya,


bu. Makasi ya, bu.”


Joya meletakkan


ponselnya di sampingnya, Boy masih mengeringkan rambut Joya. Ia menunduk


mencium wangi rambut Joya dan memeluk pinggang ramping istrinya itu. Joya


menyandarkan tubuhnya pada pundak Boy.


Boy : “Dokter


bilang, kita perlu istirahat dan liburan. Kamu mau ke Bali? Lihat pantai?”


Joya : “Apa


disana ada danau?”


Boy : “Ada.


Kita bisa ke pantai sehari, besoknya ke danau, trus keliling Bali. Mau, kan?”


Joya : “Iya,


mas.”


Boy : “Aku


sangat mencintaimu, sayang.”


Joya : “Aku


juga, mas.”


Keduanya


mempererat pelukan mereka sambil mengkhayalkan liburan mereka di Bali nanti.


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan

__ADS_1


jejakmu). Tq.


__ADS_2