Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Piyama tidur


__ADS_3

Jam 5 pagi,


Joya terbangun dengan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Kemarin Boy melahap Joya


di beberapa bagian tempat di apartmentnya. Joya mencoba mengingat kapan ia naik


ke atas tempat tidur, tapi ia tidak bisa mengingatnya.


Joya mencoba


bangkit dari tidurannya, ia memegangi pinggangnya yang sakit dan mencoba


menarik nafas panjang.


Joya : “Haduh,


kalo terus gini, bisa-bisa pinggangku patah. Aduch, sakit...”


Joya melihat


Boy tertidur dengan pulas, pelan-pelan ia turun dari atas ranjang dan masuk ke


kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, Joya keluar dari kamar mandi hanya


berbalut handuk pendek.


Ia membuka


lemari Boy dan mencari pakaian dalamnya. Tapi Joya tidak menemukannya, ia hanya


melihat deretan lingerie beraneka warna dan model tergantung di sana.


Joya : “Banyak


sekali modelnya, kenapa gak ada yang tertutup sich?”


Saat Joya


sedang asyik memilih lingerie yang paling tertutup, Boy sudah bangun dan sedang


menatapnya. Ia menikmati pemandangan tubuh istrinya yang berbalut handuk mini.


Joya mengambil


salah satu lingerie dan memakainya setelah membiarkan handuknya terjatuh. Boy


masih betah melihat apa yang Joya lakukan di depan lemarinya.


Setelah memakai


lingerie itu, ia beranjak ke sebelah lemari yang berisi pakaian Boy. Joya


menarik kaos Boy dan memakainya. Kaos itu menutupi tubuh Joya sampai ke


pertengahan pahanya, yang membuat Boy tersenyum lebar.


Joya menutup


pintu lemari kembali dan mengeringkan rambutnya sambil berjalan keluar dari


kamar. Ia menuju dapur dan membuka kulkas. Ada bahan makanan didalam sana yang


cukup lengkap. Joya mengeluarkan beberapa bahan makanan, ia akan membuat nasi


goreng untuk sarapan mereka berdua.


Harum masakan


Joya mulai memenuhi apartment Boy. Ia juga menyeduh kopi untuk Boy yang


aromanya membangunkan Boy.


Joya : “Maass,


bangun. Ini kopinya.”


Boy pura-pura


tidur lagi saat Joya masuk ke dalam kamar. Joya meletakkan kopi diatas nakas


dan mengusap pipi Boy.


Joya :


“Maass... Boy... bangun...”


Melihat Boy


tidak juga bangun, Joya mendekat dan menggigit telinga Boy. Bruk! Joya


merasakan tubuhnya terjatuh di atas tubuh Boy.


Joya :


“Hiyaa..! Boy!!”


Boy : “Kamu


sudah berani menggodaku pagi-pagi gini, masih kurang yang semalem?”


Joya : “Jangan


lagi... Sakit...!”


Boy : “Apanya


yang sakit?”


Joya :


“Pinggang saya sakit, mas. Bisa kan istirahat dulu.”


Boy tersenyum,


ia menyusupkan tangannya ke balik kaos Joya. Joya memejamkan matanya, tubuhnya


menegang, ia takut Boy menyerangnya lagi. Dia tidak akan bisa bangun kalau Boy


melakukannya lagi sekarang.


Boy : “Jangan takut,


sayang. Mana kopiku?”


Joya : “Itu,


mas. Lepasin dong.”


Boy melepaskan

__ADS_1


pelukannya pada tubuh Joya. Istrinya itu duduk di pinggir ranjang dan


mengambilkan kopi untuk Boy. Boy meminum sedikit dan merenggangkan tubuhnya.


Boy : “Sudah


lama aku gak olahraga seperti semalam.”


Joya :


“Emangnya mas sering olahraga seperti semalam? Sama siapa?”


Boy tersenyum


melihat wajah masam Joya, senyumnya sudah lenyap dari wajah cantiknya. Boy


meletakkan kopinya diatas nakas lagi.


Boy : “Dulu


sering. Aku sering kok olahraga.”


Joya : “Sama


siapa?”


Boy : “Ada


beberapa cewek...”


Joya : “Mas kok


gitu sich?” Boy mendengar suara Joya mulai tercekat. Ia hampir menangis


dikerjain Boy.


Boy : “Kenapa


kamu nangis? Aku cuma bercanda, Joya jangan nangis.”


Boy panik


melihat air mata sudah menetes di pipi Joya, kalau ketahuan ibunya, Boy bisa


dijewer lagi nich.


Boy : “Aku


bercanda. Aku gak pernah melakukannya sama perempuan lain-lain. Kamu


satu-satunya, Joya.”


Joya :


“Beneran?”


Boy : “Iya,


sumpah. Cuma sama kamu. Kemarin malam itu yang pertama juga buat aku.”


Joya berhenti


menangis, Boy menghapus air matanya dan memeluk tubuh Joya.


Boy : “Sayang,


jangan nangis lagi ya. Aku bisa dihukum ibu kalau ketahuan bikin kamu nangis.”


Joya : “Mas


Boy : “Aku nakalnya


kan sama kamu doang. Kamu uda mandi?”


Joya : “Sudah.


Mas mandi sana, sarapannya sudah siap.”


Boy : “Mandiin


dong. Tanganku pegal nich.”


Joya : “Manja.


Gak mau, mas. Ntar saya basah lagi.”


Boy : “Gak


pa-pa basah, sekalian...”


Joya tidak bisa


menolak Boy yang sudah menariknya masuk ke kamar mandi. Boy beneran cuma minta


dimandikan tanpa melakukan apa-apa di dalam sana.


Setelah selesai


mengeringkan tubuh Boy, Joya juga mengeringkan tubuhnya. Mereka segera


berpakaian dan bersiap sarapan. Joya kembali memakai lingerie seksi, membuat


Boy senyam-senyum melihatnya.


Joya : “Mas,


gak ada baju yang normal ya. Masa saya pakai beginian seharian?”


Boy : “Ngapain


kamu pake baju? Cuma ada kita disini.”


Joya : “Tapi


saya malu, mas.”


Boy : “Aku ini


suamimu, aku juga sudah melihat semuanya. Ngapain kamu malu?”


Joya ingin


bicara lagi tapi ponsel Boy berbunyi, Boy mengangkat telpon dari Rian.


Boy : “Halo,


Rian.”


Rian : “Pagi,

__ADS_1


tuan. Maaf mengganggu sepagi ini, apa tuan bisa ke kantor hari ini?”


Boy : “Apa ada


meeting penting?”


Rian : “Ada,


tuan. Client kita, Pak Wika ingin bertemu secara langsung dengan tuan sebelum


kembali ke negaranya.”


Boy : “Bisa kau


bawakan pakaian wanita ke apartmentku?”


Rian : “Maksud


tuan untuk nyonya Joya?”


Boy :


“Memangnya istriku yang mana lagi selain Joya.”


Joya menoleh


saat namanya disebut. Ia menatap Boy dengan pandangan bingung.


Rian : “Hehe,


maaf tuan. Kalau pakaian Nyonya Joya ada di lemari gantung, tuan.”


Boy : “Kapan


kau menaruhnya?”


Rian : “Waktu tuan


membawa nyonya ke apartment untuk pertama kalinya. Saya pikir tuan akan sering


membawa nyonya kesana. Siapa tahu saat itu ada hal-hal yang tidak terduga...


berdua saja...”


Boy : “Astaga!


Khayalanmu semakin parah. Apa kau perlu ke dokter?”


Rian : “Sesungguhnya


yang saya perlukan hanya honey moon, tuan.”


Boy : “Oh, iya.


Aku lupa kamu belum sempat liburan ya. Hahahahaha...”


Rian nyengir


mendengar tawa lepas bosnya itu. Bagaimana mau pergi liburan dengan Niken kalau


setiap hari dirinya dijejali banyak sekali pekerjaan sampai Rian merasa


tangannya kurang banyak.


Boy : “Jam


berapa Pak Wika datang?”


Rian : “Sekitar


jam 10, tuan. Masih ada waktu kalau tuan mau melanjutkan lagi.”


Boy : “Aku akan


datang bersama istriku. Siapkan semuanya.”


Rian : “Baik,


tuan.”


Boy meletakkan


kembali ponselnya diatas meja. Ia menatap Joya yang sudah selesai sarapan.


Boy : “Ayo ikut


ke kantorku.”


Joya : “Untuk


apa, mas?”


Boy : “Aku ada


meeting sebentar, habis itu kita jalan-jalan berdua.”


Joya : “Trus


baju saya mana? Masa saya pakai lingerie ini ke kantor mas.”


Boy : “Enak


aja. Ada baju di lemari gantung. Coba kau lihat dulu sana.”


Joya membawa


piring bekas sarapannya ke dapur dan meletakkannya di tempat cuci piring. Ia


berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar dan membuka lemari yang dimaksud


Boy.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren


Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak..

__ADS_1


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2