
Jam 5 pagi,
Joya terbangun dengan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Kemarin Boy melahap Joya
di beberapa bagian tempat di apartmentnya. Joya mencoba mengingat kapan ia naik
ke atas tempat tidur, tapi ia tidak bisa mengingatnya.
Joya mencoba
bangkit dari tidurannya, ia memegangi pinggangnya yang sakit dan mencoba
menarik nafas panjang.
Joya : “Haduh,
kalo terus gini, bisa-bisa pinggangku patah. Aduch, sakit...”
Joya melihat
Boy tertidur dengan pulas, pelan-pelan ia turun dari atas ranjang dan masuk ke
kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, Joya keluar dari kamar mandi hanya
berbalut handuk pendek.
Ia membuka
lemari Boy dan mencari pakaian dalamnya. Tapi Joya tidak menemukannya, ia hanya
melihat deretan lingerie beraneka warna dan model tergantung di sana.
Joya : “Banyak
sekali modelnya, kenapa gak ada yang tertutup sich?”
Saat Joya
sedang asyik memilih lingerie yang paling tertutup, Boy sudah bangun dan sedang
menatapnya. Ia menikmati pemandangan tubuh istrinya yang berbalut handuk mini.
Joya mengambil
salah satu lingerie dan memakainya setelah membiarkan handuknya terjatuh. Boy
masih betah melihat apa yang Joya lakukan di depan lemarinya.
Setelah memakai
lingerie itu, ia beranjak ke sebelah lemari yang berisi pakaian Boy. Joya
menarik kaos Boy dan memakainya. Kaos itu menutupi tubuh Joya sampai ke
pertengahan pahanya, yang membuat Boy tersenyum lebar.
Joya menutup
pintu lemari kembali dan mengeringkan rambutnya sambil berjalan keluar dari
kamar. Ia menuju dapur dan membuka kulkas. Ada bahan makanan didalam sana yang
cukup lengkap. Joya mengeluarkan beberapa bahan makanan, ia akan membuat nasi
goreng untuk sarapan mereka berdua.
Harum masakan
Joya mulai memenuhi apartment Boy. Ia juga menyeduh kopi untuk Boy yang
aromanya membangunkan Boy.
Joya : “Maass,
bangun. Ini kopinya.”
Boy pura-pura
tidur lagi saat Joya masuk ke dalam kamar. Joya meletakkan kopi diatas nakas
dan mengusap pipi Boy.
Joya :
“Maass... Boy... bangun...”
Melihat Boy
tidak juga bangun, Joya mendekat dan menggigit telinga Boy. Bruk! Joya
merasakan tubuhnya terjatuh di atas tubuh Boy.
Joya :
“Hiyaa..! Boy!!”
Boy : “Kamu
sudah berani menggodaku pagi-pagi gini, masih kurang yang semalem?”
Joya : “Jangan
lagi... Sakit...!”
Boy : “Apanya
yang sakit?”
Joya :
“Pinggang saya sakit, mas. Bisa kan istirahat dulu.”
Boy tersenyum,
ia menyusupkan tangannya ke balik kaos Joya. Joya memejamkan matanya, tubuhnya
menegang, ia takut Boy menyerangnya lagi. Dia tidak akan bisa bangun kalau Boy
melakukannya lagi sekarang.
Boy : “Jangan takut,
sayang. Mana kopiku?”
Joya : “Itu,
mas. Lepasin dong.”
Boy melepaskan
__ADS_1
pelukannya pada tubuh Joya. Istrinya itu duduk di pinggir ranjang dan
mengambilkan kopi untuk Boy. Boy meminum sedikit dan merenggangkan tubuhnya.
Boy : “Sudah
lama aku gak olahraga seperti semalam.”
Joya :
“Emangnya mas sering olahraga seperti semalam? Sama siapa?”
Boy tersenyum
melihat wajah masam Joya, senyumnya sudah lenyap dari wajah cantiknya. Boy
meletakkan kopinya diatas nakas lagi.
Boy : “Dulu
sering. Aku sering kok olahraga.”
Joya : “Sama
siapa?”
Boy : “Ada
beberapa cewek...”
Joya : “Mas kok
gitu sich?” Boy mendengar suara Joya mulai tercekat. Ia hampir menangis
dikerjain Boy.
Boy : “Kenapa
kamu nangis? Aku cuma bercanda, Joya jangan nangis.”
Boy panik
melihat air mata sudah menetes di pipi Joya, kalau ketahuan ibunya, Boy bisa
dijewer lagi nich.
Boy : “Aku
bercanda. Aku gak pernah melakukannya sama perempuan lain-lain. Kamu
satu-satunya, Joya.”
Joya :
“Beneran?”
Boy : “Iya,
sumpah. Cuma sama kamu. Kemarin malam itu yang pertama juga buat aku.”
Joya berhenti
menangis, Boy menghapus air matanya dan memeluk tubuh Joya.
Boy : “Sayang,
jangan nangis lagi ya. Aku bisa dihukum ibu kalau ketahuan bikin kamu nangis.”
Joya : “Mas
Boy : “Aku nakalnya
kan sama kamu doang. Kamu uda mandi?”
Joya : “Sudah.
Mas mandi sana, sarapannya sudah siap.”
Boy : “Mandiin
dong. Tanganku pegal nich.”
Joya : “Manja.
Gak mau, mas. Ntar saya basah lagi.”
Boy : “Gak
pa-pa basah, sekalian...”
Joya tidak bisa
menolak Boy yang sudah menariknya masuk ke kamar mandi. Boy beneran cuma minta
dimandikan tanpa melakukan apa-apa di dalam sana.
Setelah selesai
mengeringkan tubuh Boy, Joya juga mengeringkan tubuhnya. Mereka segera
berpakaian dan bersiap sarapan. Joya kembali memakai lingerie seksi, membuat
Boy senyam-senyum melihatnya.
Joya : “Mas,
gak ada baju yang normal ya. Masa saya pakai beginian seharian?”
Boy : “Ngapain
kamu pake baju? Cuma ada kita disini.”
Joya : “Tapi
saya malu, mas.”
Boy : “Aku ini
suamimu, aku juga sudah melihat semuanya. Ngapain kamu malu?”
Joya ingin
bicara lagi tapi ponsel Boy berbunyi, Boy mengangkat telpon dari Rian.
Boy : “Halo,
Rian.”
Rian : “Pagi,
__ADS_1
tuan. Maaf mengganggu sepagi ini, apa tuan bisa ke kantor hari ini?”
Boy : “Apa ada
meeting penting?”
Rian : “Ada,
tuan. Client kita, Pak Wika ingin bertemu secara langsung dengan tuan sebelum
kembali ke negaranya.”
Boy : “Bisa kau
bawakan pakaian wanita ke apartmentku?”
Rian : “Maksud
tuan untuk nyonya Joya?”
Boy :
“Memangnya istriku yang mana lagi selain Joya.”
Joya menoleh
saat namanya disebut. Ia menatap Boy dengan pandangan bingung.
Rian : “Hehe,
maaf tuan. Kalau pakaian Nyonya Joya ada di lemari gantung, tuan.”
Boy : “Kapan
kau menaruhnya?”
Rian : “Waktu tuan
membawa nyonya ke apartment untuk pertama kalinya. Saya pikir tuan akan sering
membawa nyonya kesana. Siapa tahu saat itu ada hal-hal yang tidak terduga...
berdua saja...”
Boy : “Astaga!
Khayalanmu semakin parah. Apa kau perlu ke dokter?”
Rian : “Sesungguhnya
yang saya perlukan hanya honey moon, tuan.”
Boy : “Oh, iya.
Aku lupa kamu belum sempat liburan ya. Hahahahaha...”
Rian nyengir
mendengar tawa lepas bosnya itu. Bagaimana mau pergi liburan dengan Niken kalau
setiap hari dirinya dijejali banyak sekali pekerjaan sampai Rian merasa
tangannya kurang banyak.
Boy : “Jam
berapa Pak Wika datang?”
Rian : “Sekitar
jam 10, tuan. Masih ada waktu kalau tuan mau melanjutkan lagi.”
Boy : “Aku akan
datang bersama istriku. Siapkan semuanya.”
Rian : “Baik,
tuan.”
Boy meletakkan
kembali ponselnya diatas meja. Ia menatap Joya yang sudah selesai sarapan.
Boy : “Ayo ikut
ke kantorku.”
Joya : “Untuk
apa, mas?”
Boy : “Aku ada
meeting sebentar, habis itu kita jalan-jalan berdua.”
Joya : “Trus
baju saya mana? Masa saya pakai lingerie ini ke kantor mas.”
Boy : “Enak
aja. Ada baju di lemari gantung. Coba kau lihat dulu sana.”
Joya membawa
piring bekas sarapannya ke dapur dan meletakkannya di tempat cuci piring. Ia
berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar dan membuka lemari yang dimaksud
Boy.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren
Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak..
__ADS_1
🌴🌴🌴🌴🌴