Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Tanggung jawab


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Aldo membuka matanya, ia melihat ke samping dan kaget melihat Aliya sudah bangun dan sedang menatapnya.


Aldo : “Astaga, Al. Kau mengagetkan aku.” Aldo tiba-tiba bangun dan memegangi kepalanya yang pusing. Ia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lagi.


Aliya : “Semalam aku mabuk ya? Kepalaku pusing sekali.”


Aldo : “Iya, aku sudah berusaha memperingatkanmu kan. Semalam juga om Roy yang memintaku membawamu kesini.”


Aliya : “Tapi tidak terjadi apa-apa kan?”


Aldo : “Menurutmu? Kamu gak lihat penampilanmu sekarang. Aku ini pria normal, Al. Bagaimana aku bisa tahan melihat seorang wanita membuka pakaiannya di depanku.”


Aldo bingung dengan sikap tenang Aliya, normalnya wanita mabuk yang diajak tidur oleh pria akan marah-marah ketika sadar.


Kalau wanita itu gak marah, artinya memang dia mencintai pria itu atau wanita itu sudah terbiasa melakukannya. Aldo benar-benar penasaran, sebenarnya Aliya ini wanita seperti apa?


Aldo : “Kenapa kau diam? Apa kau menyesal? Kita melakukannya karena sama-sama tidak sadar. Boleh aku tahu, berapa pria yang sudah tidur denganmu?”


Aliya : “Kalau kita memang melakukan sesuatu tadi malam, harusnya kau tahu berapa pria yang sudah tidur denganku.”


Aldo berpikir sejenak, ia membelalakkan matanya menyadari sesuatu,


Aldo : “Jadi kau masih perawan…!!!”


Aliya : “Kau bahkan mengaku dengan cepat. Kenapa? Kau kecewa karena aku masih perawan. Jadi kau tidak bisa main-main denganku.”


Aldo : “Hei, kau salah menilaiku, tapi kuakui kalau aku hampir menerkammu tadi malam, kau sangat seksi…”


Aldo mendekati Aliya yang masih anteng berbaring di bawah selimutnya, mata mereka bertemu pandang, Aliya tidak bisa mengalihkan pandangannya.


Mata hitam Aldo mulai menyedot perhatiannya. Mata yang membuatnya mulai merasakan sesuatu. Aldo sangat ingin mencium bibir Aliya lagi, ia masih ingat rasa manis yang ditinggalkan Aliya di bibirnya waktu itu. Wajah Aliya menghangat, ia tidak tahu apa yang akan Aldo perbuat padanya.


Aldo : “Kenapa kau tidak mendorongku? Kau tahu apa yang pria pikirkan saat mereka berdua saja dengan seorang wanita, pria itu akan jadi singa yang siap menerkam.”


Aliya : “Aku tahu kau tidak akan berbuat macam-macam padaku. Sekarang bangunlah dan ambilkan aku obat sakit kepala. Untung saja aku tidak ada schedule hari ini.”


Aldo : “Apa kau tidak melihatku sebagai pria jantan?”


Dengan kesal, Aldo bangun dari tempat tidurnya, ia masuk ke kamar mandi dan terdengar suara gemericik air. Sementara Aliya menarik selimut menutupi kepalanya, susah payah ia menarik nafas yang memburu karena jantungnya yang berdebar kencang.


Sejak terbangun tadi dan mendapati dirinya tidur di kamar Aldo dengan Aldo tidur disampingnya, membuat jantungnya mulai berdetak tak karuan. Awalnya ia ingin memukul Aldo karena mengira Aldo sudah berbuat kurang ajar, tapi ia merasakan tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Belum lagi melihat tubuh Aldo yang  seksi dengan otot yang kuat dan perut sixpack. Aliya tersenyum malu sambil menutup wajahnya, ia sudah melihat Aldo sebagai pria jantan.


Aldo keluar dari kamar mandi, cuma berbalut handuk kecil di pinggangnya.


Aliya : “Aldo, apa kau sudah gila, aku masih ada disini!”


Aldo : “Kenapa marah? Kamu kan gak menganggapku pria. Lagian kamu bisa kan balik badan, aku cuma sebentar pakai baju. Kau mau sarapan apa?”


Aliya : “Apa aja, aku boleh pinjam bajumu?”


Aldo : “Ambil saja di lemari, nanti aku belikan baju lagi sebelum kau pulang.”


Brak! Aliya menoleh mendengar suara pintu kamar dibanting menutup, sepertinya Aldo beneran kesal. Aliya bangkit dari tempat tidur Aldo, ia memutuskan mandi, dan keluar dengan tubuh berbalut handuk. Dilihatnya tempat tidur Aldo yang masih berantakan, Aliya segera merapikan tempat tidur itu hingga bersih kembali.

__ADS_1


Saat berbalik, Aliya melihat Aldo berdiri di dekat pintu kamar membawa sarapan untuk mereka. Melihat Aldo menatapnya intens, wajah Aliya memerah, ia menunduk memegang erat handuk yang masih menempel di tubuhnya. Aldo masuk ke kamar, meletakkan nampan di atas meja dan berjalan ke lemari pakaiannya. Ia mengambil kemejanya dan membawa kemeja itu mendekati Aliya.


Aliya menatap Aldo yang memakaikan kemeja ke tubuhnya, tangan Aldo menyentuh kulit tubuh Aliya dan tubuhnya kembali membara.


Tiba-tiba, bruk!, Aldo mendorong Aliya hingga jatuh ke tempat tidurnya, Aldo langsung menindih tubuh Aliya dan mulai ******* bibirnya.


Aldo : “Shit! Aku benar-benar ketagihan dengan bibirmu, Al.”


Melihat ekspresi wajah Aliya yang memerah, Aldo melupakan kalau hubungannya dengan Aliya hanya sebatas partner. Aldo benar-benar sudah jatuh cinta pada


Aliya.


Aldo : “Al, aku berubah pikiran…”


Aliya : “Hah? Apa?”


Aliya yang setengah sadar tidak mengerti apa yang dikatakan Aldo, karena Aldo kembali menciumnya.


Aliya : “Ja… jangan Al… Ak…aku… takut.”


Aldo berbaring di samping Aliya, kepalanya terasa sakit. Aldo memejamkan matanya, mengingat setiap sentuhan yang baru saja ia rasakan dari Rara. Baru kali ini Aldo sangat menikmati sentuhannya dengan wanita. Aliya duduk di sisi tempat tidur,


Aliya : “Al, kenapa kamu lakukan itu?”


Aldo : “Al, aku harus telpon papaku sekarang, tolong kamu kasi aku jawaban setelah ini…”


Aliya memandang Aldo yang mengambil HP-nya dan menekan beberapa nomor, ia menekan tombol loudspeaker. Beberapa saat sambungan telpon, ayah Aldo mulai bersuara,


Pak Alex : “Hai, boy.”


Pak Alex : “Papa di jalan mau pulang, ada mama juga. Kenapa, boy?” Papa Aldo memanggil Aldo dengan sebutan boy atau anak laki-laki.


Aldo : “Aldo mau bicara soal Aliya… Papa serius mau Aldo menjalin hubungan dengan Aliya.”


Pak Alex : “Papa dan mama tidak ada maksud apa-apa, kamu tahu kan hubungan antara papa dan papanya Aliya sangat dekat. Tidak ada salahnya kalau kalian punya hubungan yang special. Aliya juga sangat baik, cantik dan pintar. Sudah saatnya kau serius dengan hubungan percintaanmu, boy.”


Aldo : “Kalau… ini Aldo bilang kalau ya pah, Aldo belum memastikannya. Kalau Aldo akhirnya jatuh cinta sama Aliya, trus gimana, pah?”


Papa Alex : “Kamu serius nich? Gak main-main sama Aliya kan?”


Aldo : “Ya seriuslah, pah… “ Aldo menatap Aliya saat ia bilang kalau sudah jatuh cinta dan serius, Aliya yang ditatap Aldo terlihat shock.


Papa Alex : “Papa harap kalian bisa berumah tangga, tapi tunggu Aliya siap dulu ya. Tapi kalau Aliya tidak keberatan menikah sekarang, papa dan mama sudah siap melamar Aliya, boy.” Nada suara papa Aldo terdengar sangat senang.


Aldo : “Tapi Aldo belum tanya Aliya, pah. Kalau Aliya gak suka sama Aldo, gimana ya pah?” Aldo sudah menggenggam tangan Aliya, membuat gadis itu malu sekali.


Pak Alex : “Kamu kurang tulus ngejar Aliya, boy. Tunjukkan kamu pria sejati.”


Aldo : “Maksud papa? Aldo boleh ‘gituan’ sama Aliya...” Aldo tersenyum nakal pada Aliya, membuat wajah gadis itu semakin merah.


Pak Alex : “Kamu mau dibunuh Alvin ya… Jangan macam-macam sama kehormatan wanita, Al. Papa gak setuju apalagi sampai kamu maksa Aliya.”


Aldo : “Aldo gak maksa, Aliya yang mau…” Aliya mencoba menghentikan ucapan Aldo, tapi Aldo sudah menghindar. Aliya tidak berani bicara takut kepergok papa Aldo.

__ADS_1


Pak Alex : “Ka… kamu, jangan bilang kalau kalian…”


Aldo : “Coba papa inget disini jam berapa?” Pak Alex mengingat jam dan menyadari kalau di LN masih subuh, itu artinya Aliya sudah menginap bersama Aldo.


Pak Alex : “Aliando Hermawan!! Ap… apa disana ada Aliya?” Suara Pak Alex terdengar gugup.


Aldo : “Ada, papa mau bicara?”


Pak Alex : “Halo, Aliya…


Aliya : “Ha… halo, om.” Aliya ikutan gugup, ia sudah tidak bisa menghindar dari Aldo yang sekarang sudah memeluknya.


Pak Alex : “Nak, om jamin Aldo akan tanggung jawab dengan perbuatannya. Maaf, tapi om harus tahu apa sudah terjadi sesuatu yang lebih diantara kalian?”


Aliya : “…hampir, om. Aliya masih bisa jaga diri…”


Pak Alex : “Ah, ok. Maksud om kalau sudah kejadian, pernikahan bisa dilakukan secepatnya, tapi kalau belum, kita bisa persiapan dulu. Om rasa tiga bulan cukup ya.”


Aldo : “Ok, pah. Tapi Aldo sama Aliya belum bisa pulang sekarang…”


Pak Alex : “Kenapa?”


Aldo : “Aldo mau bulan madu duluan sama Aliya.”


Pak Alex : “Aliando Hermawan…!!!!! Papa serius, boy!! Kamu berani sentuh Aliya sekarang, fasilitas papa tarik semua!”


Aldo : “Pah, Aldo uda bisa menghidupi Aliya disini, papa tenang-tenang aja deh dan tunggu cucu aja.”


Mama Aldo : “Nak, jaga baik-baik calon istrimu. Jangan nakal dulu ya. Aliya, mama mau ketemu secepatnya. Minggu depan papa sama mama kesana ya.”


Aldo & Aliya : “Iya, mah.”


Mereka saling menatap dan tersenyum saat menjawab mamanya Aldo bersamaan. Aldo memeluk Aliya dan mengucapkan,


Aldo : “I love you, Aliya.”


Aliya : “…I love you, Aldo…”


---Tamat---


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy dan anak-anak mereka sudah tamat sampai sini.


Tapi jangan sedih ya, karena author masih punya banyak novem yang ingin segera author up load setelah ini.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru. Ada juga novel terbaru dengan judul "Duren Manis". Jangan lupa dibaca ya...


Terima kasih sudah banyak mendukung author dengan segala kekurangan dalam penulisan dan cerita. Author juga masih perlu belajar banyak.

__ADS_1


-------


__ADS_2