
Alvin dan Lia tampak sedang jalan berdua setelah kuliah usai, ini kuliah terakhir mereka sebelum liburan semester. Mereka tertawa bersama dan ngobrol akrab. Biasanya Alvin tidak akan memperhatikan sekitarnya, tapi ketika mereka melewati Rara yang sedang berdiri di depan mading, Alvin menoleh menatap Rara. Lia ikutan menoleh dan tersenyum saat Alvin menghentikan langkah kakinya. Perhatiannya sudah sepenuhnya teralihkan pada Rara yang sedang mencatat sesuatu dari mading. Lia menggelengkan kepala dan berlalu dari sisi Alvin yang berdiri tepat di belakang Rara. Alvin menunduk melihat apa yang ditulis Rara,
Alvin : “Kamu lagi ngapain, Ra?”
Rara terkejut dan menoleh membuat mereka hampir berciuman lagi.
Rara : “Kak Alvin, aduch bikin kaget aja.”
Alvin mengambil buku catatan Rara dan membaca jadwal semester cepat.
Alvin : “Kau mau ambil kuliah di liburan semester?” Rara mengangguk.
Ia duduk di samping mading dan Alvin ikut duduk di sampingnya.
Alvin : “Padahal mama mengajakmu liburan ke villa kami di luar kota.” Alvin tidak habis pikir kenapa dia bisa mengucapkan hal penting semudah itu pada Rara. Tadinya ia ingin bilang pada mamanya kalau Rara sibuk, jadi tidak bisa ikutan liburan dengan keluarga mereka.
Rara : “Benarkah? Sayang sekali aku tidak bisa ikut.” Rara terlihat sedih.
Alvin : “Kenapa kau ikut semester pendek?”
Rara : “Kak, aku harus cepat lulus karena kami mau pindah ke kota Y. Aku dan mama akan menyusul papa yang kerja disana dan menetap disana.” Alvin terlihat terpukul.
Tiba-tiba HP Rara berbunyi, Rara mengangkatnya,
Rara : “Halo, pah.”
Papa Rara : “Halo, sayang lagi dimana?”
Rara : “Rara lagi di kampus, pah.”
Papa Rara : “Rara mau liburan disini sama papa?”
Rara : “Liburan pah? Tapi Rara mau ikut semester pendek.”
Papa Rara : “Gak libur dong.”
Rara : “Iya, biar cepet lulus, pah.”
Papa Rara : “Kenapa gak pindah kuliah aja, sayang?”
Rara : “Rara gak mau pindah kuliah, pah. Kampus disini yang terbaik, sayang sekali kalau harus pindah. Papa yang sabar ya.”
Papa Rara : “Ya udah sayang, papa balik kerja lagi ya.”
Rara : “Iya pah, da…dah.”
Rara menutup telponnya, ia melihat ke sampingnya, Alvin sudah tidak ada. Ia menatap sekeliling, mencari sosok Alvin yang tidak kelihatan lagi.
-------
Rara mengantar mamanya keluar rumah, mama Rara akan mengunjungi papa Rara untuk beberapa waktu.
Mama Rara : “Hati-hati di rumah ya. Inget kunci pintu dan jendela, ingetin bibik juga. Jangan pulang malem-malem. Kabarin mama kalau ada apa-apa.”
Rara : “Iya, mama. Seperti biasakan?”
Mama Rara : “Tapi kali ini kan Rara sendirian di rumah. Bibik cuma datang pagi ampe sore aja, malamnya gak ada orang lagi. Mama kuatir nich.”
Rara : “Mama kan bisa liat Rara dari CCTV, papa juga bisa liat kan? Alarm juga selalu terpasang.”
Mama Rara : “Trus kalau tiba-tiba mati lampu gimana?”
Alvin yang kebetulan lewat, menghentikan motornya di depan rumah Rara.
__ADS_1
Alvin : “Sore, tante, Rara. Tante mau kemana?”
Mama Rara : “Nah, kebetulan ketemu nak Alvin, tante mau pergi beberapa hari ke tempat om kerja. Tante minta tolong ya, Alvin jagain Rara selama tante pergi.”
Rara : “Ma, Rara kan bukan anak kecil lagi. Gak usah ngrepotin kak Alvin deh.”
Alvin : “Baik, tante. Alvin akan jaga Rara selama tante pergi.”
Mendengar kata-kata Alvin membuat Rara terkejut,
Mama Rara : “Nah, Alvinnya mau. Nanti kirim kontaknya Alvin ke mama ya, sayang. Bye, bye.”
Mama Rara mencium kening Rara dan menjabat tangan Alvin yang langsung mencium tangannya. Mereka melambai pada mobil yang membawa mama Rara menuju bandara. Mereka saling menatap sejenak,
Rara : “Kak Alvin baru pulang? Mau mampir dulu? Rara buatin minum.”
Alvin : “Ok.”
Alvin memarkir motornya di garasi Rara dan ikut masuk ke dalam rumah. Rara membuatkan teh hangat untuk Alvin, sementara diluar langit mulai mendung dan gelap.
Alvin : “Berapa lama tante pergi? Apa kau berani sendirian disini?”
Rara : “Sekitar 2 minggu sich, kalau pagi sampai sore ada ART dan sopir. Malam harinya baru aku sendirian, kak.”
Alvin : “Kamu gak takut?”
Rara : “Hehe… kalo gak orang lain memang menakutkan sich, tapi kalau aku sudah kunci pintu dan jendela, sepertinya aman-aman saja.”
Alvin meminum tehnya, ia tampak berpikir sejenak.
Alvin : “Kalau kamu takut, akan kutemani.” Wajah Alvin sedikit merona, ~~~~ia bingung kenapa dia bisa menawarkan untuk menemani Rara, padahal seharusnya dia tidak peduli pada Rara.
Rara : “Maksud kakak? Kakak nginep disini gitu?” Alvin berdehem, ia berpura-pura tenang,
Rara berpikir sejenak, kalau sampai orang tuanya tahu kalau Alvin menginap disini, papanya akan langsung mengirimkan tiket pesawat untuknya malam ini juga.
Rara : “Emm… kak, bukannya aku menolak, tapi kalau ketahuan papa, aku bisa langsung di kirim ke kota Y malam ini juga. Makasih kak sudah mau bantu aku.”
Alvin : “Ya sudah, sepertinya mau hujan, aku pulang dulu ya. Makasih tehnya. Kalau memang kau takut, nanti malam telpon saja aku.”
Rara mengangguk dan tersenyum, ia melambaikan tangan pada Alvin yang masih menunggunya sampai masuk ke rumah lagi dan mengunci pintu.
Malam harinya saat hujan deras turun membasahi blok perumahan, Rara menelpon Alvin yang langsung diangkat,
Alvin : “Ada apa, Ra? Kamu baik-baik aja?”
Rara : “Kak, maaf ganggu malem-malem, bisa gak kakak main gitar satu lagu aja sampai aku tidur. Suara petirnya sedikit menakutkan.”
Alvin : “Kamu yakin cuma mau dengar aku main gitar? Gak mau aku kesana dan menemanimu?” Lagi-lagi Alvin merasa dirinya sudah gila.
Rara : “Gak usah kesini, kak. Cukup main gitar aja, Rara juga uda ngantuk tapi kaget terus karena suara petirnya.”
Alvin mengambil gitarnya, ia meletakkan HP-nya di meja dan mulai memainkan gitarnya. Tak lama Alvin memasang telinganya baik-baik mencoba mendengarkan suara Rara yang tidak terdengar lagi, sepertinya Rara sudah tidur
di kamarnya.
Alvin : “Ra, selamat tidur. Aku sayang kamu.” Alvin memutuskan panggilan, ia termenung memikirkan kata-kata manis yang baru saja keluar dari bibirnya untuk Rara.
-------
Rara sibuk mengikuti jadwal semester pendek yang padat, karena jumlah kuliah yang diambilnya maksimal, Rara tidak punya waktu libur. Bahkan saat akhir pekan, ia harus menyelesaikan tugas kuliahnya dan belajar. Alvin
memperhatikan Rara yang sedang membaca di sudut taman. Saat itu Alvin sedang bersama Lia yang heran melihat perubahan sikap Alvin.
__ADS_1
Lia : “Sepertinya ceritaku sudah tidak menarik lagi ya.” Alvin menatap Lia.
Alvin : “Maksudmu?”
Lia memegang pipi Alvin dan menengokkan kepalanya ke arah Rara.
Lia : “Tuch, maksudku. Bukankah dia pernah nembak kamu dulu, sepertinya dia gadis yang baik. Bahkan kau mengajaknya ke ultah tante Joya, kan.” Alvin tertawa.
Alvin : “Jangan bercanda, kau tahu seleraku kan.” Lia ikutan tertawa.
Lia : “Sepertinya seleramu yang sudah berubah, sudahlah jalani saja dulu dengan dia, Rara.”
Alvin : “Dia bukan tipe seperti itu, aku tidak mau memberi dia harapan, apalagi mempermainkan dia.” Lia tersenyum.
Lia : “Kalau begitu sudah waktunya kamu serius memikirkan Rara. Aku akan menikah, Vin. Gak selamanya kita bisa sama-sama, kita pasti akan punya kehidupan masing-masing.”
Alvin membayangkan saat dia dan Rara berdua di kamar mandi rumah Alvin malam itu. Ia merasakan kehangatan dari senyuman Rara. Tanpa sadar ia memeluk Rara yang mengira Ines sedang mengintip mereka. Padahal tidak ada orang lain disana selain mereka berdua. Alvin tersenyum mengingat ciuman panasnya dengan Rara, bibirnya yang mungil meninggalkan rasa manis di bibir Alvin.
Lia : “Malah senyum-senyum, sudah sana temani dia. Aku balik duluan ya, bye.”
Alvin mendekati Rara yang sedang merenggangkan tubuhnya yang pegal, ia tampak letih dan mengantuk.
Alvin : “Jangan memaksakan diri, Ra.”
Rara menoleh dan tersenyum pada Alvin.
Rara : “Kak Alvin, ternyata lebih berat dari yang kubayangkan, tapi menyenangkan juga. Kenapa kakak disini? Bukannya kakak sedang liburan?”
Alvin duduk di samping Rara.
Alvin : “Aku cuma sebentar disana, males aja sama Ines. Kamu sudah makan?” Rara mengangguk.
Tiba-tiba terdengar suara perut Rara yang lapar.
Alvin : “Katanya sudah makan, kenapa perutmu demo lagi?” Rara tersenyum malu.
Rara : “Tadi pagi sich sudah makan, kak.”
Alvin : “Ayo, temani aku makan. Aku lapar.”
Alvin membawa Rara ke sebuah restauran dekat kampus.
Alvin : “Mama kamu sudah balik?” Rara menggeleng.
Rara : “Kata mama, papa kurang sehat, jadi mama akan disana lebih lama. Mungkin aku juga akan menyusul kesana.” Rara termenung.
Alvin : “Segitu saja kamu nyerah, tunjukkan kalau kamu bisa dong, selesaikan semester pendek ini. Aku akan bantu, anggap saja balasan karena kamu mau jadi pacarku, eh pacar bohonganku.”
Rara kembali tersenyum ceria, mereka menghabiskan sore itu dengan ngobrol seru tentang mata kuliah semester pendek.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu
kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, kritik dan saran sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
-------
__ADS_1