Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Kekasih Alvin (calon)


__ADS_3

Libur semester tiba juga, setelah ujian yang melelahkan. Rara memilih bekerja paruh waktu di butik tantenya. Biasanya ia membantu merapikan baju untuk pemotretan dan melihat-lihat saat pemotretan berlangsung. Butik tantenya menjual produk fashion online, sehingga perlu beberapa model untuk memperagakan produknya. Beberapa model pria di foto dalam satu frame, terkadang ada model wanitanya juga. Rara menikmati pekerjaannya disana, ia belajar desain dari tantenya karena tantenya ingin Rara menggantikannya mengelola bisnis itu.


Suatu hari, ketika Rara sedang membawakan pakaian untuk salah satu model ke kamar ganti, ia bertemu Alvin yang sedang melepas kaosnya.


Rara : “Kak Alvin? Kok bisa disini?” Rara menatap tubuh Alvin yang sangat atletis, ia tertegun sejenak. Tubuh Alvin sangat sexy, dengan otot yang kuat di beberapa bagian tubuhnya, membuat Rara menelan liurnya. Merasa malu, Rara langsung berbalik.


Rara : “Maaf, kak. Aku gak sengaja, ini bajunya.”


Alvin : “Kamu ngapain disini? Kamu kerja disini?” Alvin mengambil baju dari tangan Rara, memakainya dan berjalan keluar kamar ganti.


Rara : “Iya kak, ini butik tanteku.”


Rara mengikuti Alvin ke tempat pemotretan, ia tidak menyangka akan bertemu Alvin di butik tantenya. Rupanya Alvin sering jadi model untuk tantenya karena tante Alvin bersaudara ipar dengan tante Rara.


Usai pemotretan, Alvin celingukan mencari Rara, tapi Rara sedang menemani tantenya berbelanja. Ia bertanya pada staf butik tentang Rara, dan mendapat jawaban yang sama dengan Rara.


Alvin : “Jadi dia gak bohong.” Alvin memandang keluar jendela, langit mulai gelap.


Alvin sudah hampir pulang saat hujan deras tiba-tiba turun. Ia duduk di dekat jendela butik menatap motornya yang basah. Seharusnya tadi ia mendengarkan mamanya untuk membawa mobil saja, mamanya selalu benar soal kondisi cuaca.


Rara : “Aduch, aku kehujanan.”


Rara masuk ke dalam kamar ganti butik, mengambil handuk di lemari, melepas cardigannya, dan mulai mengeringkan rambutnya. Alvin yang tadi mengikuti Rara, melihatnya sedang mengeringkan rambut. Meskipun Rara tidak secantik Lia, tapi moment saat rambut Rara basah dan pundaknya terlihat, membuat Alvin terpana juga. Rara menoleh ketika merasakan ada seseorang di pintu.


Rara : “Kak Alvin?”


Alvin : “Eh, sorry, aku kira gak ada orang. Kamu dari mana?” Alvin masuk ke ruang ganti dan duduk di sofa yang tersedia disana.


Rara mengambil kaos, ia masuk ke salah satu bilik ganti baju dan mengganti tanktop-nya disana.


Rara : “Tadi aku mengantar tante belanja ke mall, trus diturunin sama tante diujung jalan karena tiba-tiba ditelpon client, jadinya kehujanan dech. Kakak kok belum pulang? Kayaknya hujannya sudah reda.” Alvin menoleh keluar butik,


Alvin : “Yang ada juga tambah deres, liat tuch.” Rara tersenyum jengah.


Rara : “Kalo gak keberatan, aku antar pulang ya, mau? Kebetulan aku bawa mobil.” Alvin tampak berpikir sejenak.


Alvin : “Boleh dech, daripada nunggu hujan gak jelas.”


Rara mengambil tas dan pakaiannya yang basah, mereka berjalan menuju mobil Rara yang terparkir di depan butik. Rara menyetir mobilnya menuju rumah Alvin.


Alvin : “Kau tahu rumahku?” Alvin heran karena Rara tahu jalan menuju rumahnya.


Rara : “Kan kita tinggal di blok yang sama, kak. Aku sering lihat kakak pulang kadang malam kadang sore.”


Alvin menatap Rara yang tetap tersenyum sambil tetap fokus menyetir mobil. Mereka tiba di depan rumah Alvin.


Alvin : “Makasi ya, bye.”


Rara melambaikan tangan dan berpamitan. Alvin melihat Rara memutar mobilnya dan masuk ke rumah yang paling ujung di blok perumahan mereka.


-------


Beberapa hari kemudian, Alvin sedang berlatih memainkan gitarnya di dalam ruang kelas musik yang sepi. Rara yang kebetulan lewat mendengarnya, ia menatap Alvin yang asyik memetik gitar. Tiba-tiba Alvin menatapnya dan tersenyum. Rara ikut tersenyum, sebelum berbalik hendak pergi.


Alvin : “Rara!”


Rara menoleh menatap Alvin yang mengejarnya ke luar ruang musik.

__ADS_1


Alvin : “Bisa masuk sebentar? Aku perlu bicara sama kamu.”


Rara : “Ya kak?”


Alvin : “Ra, Minggu besok kamu sibuk gak? Bisa gak kamu temenin aku ke arisan keluargaku.” Rara masih diam, mencoba mencerna maksud kata-kata Alvin barusan.


Alvin : “Sebenarnya aku bertaruh dengan sepupuku kalau aku bisa membawa pacarku, dia akan berhenti mengejarku. Aku harap kamu mau membantuku.”


Rara : “Kenapa kakak gak ngajak kak Lia aja? Bukannya aku gak mau bantu, tapi kak Lia kan sangat perfect untuk tugas ini.” Alvin tertawa, ia tak menyangka Rara bisa mengusulkan Lia dan tidak langsung menerima tawarannya.


Alvin : “Keluargaku sudah mengenal Lia dan mereka tahu kami cuma sahabat. Jadi kamu mau gak?”


Rara : “Baik, aku akan bantu kakak. Ada lagi kak?”


Alvin : “Berapa no-mu? Nanti kuhubungi jam berapa aku jemput.”


Rara menyebutkan nomornya, dan Alvin mengirimkan test WA ke nomor Rara.


Alvin : “Jangan menghubungi nomorku kalau tidak penting, kalau tidak akan ku-block.”


Rara mengangguk, berpamitan, dan melangkah pergi. Alvin tersenyum membayangkan arisan keluarganya nanti.


-------


Hari Minggu yang ditunggu Rara tiba juga, Alvin menjemput Rara di rumahnya. Setelah menunggu 5 menit, Rara keluar dari rumahnya. Alvin menoleh menatap Rara yang terlihat cantik dengan dress kuning selutut.


Rara : “Hai, kak. Bagaimana penampilanku? Apa ini terlalu berlebihan? Kakak bilang ini pesta kebun kan?”


Alvin : “Lumayan, ayo berangkat. Mamaku sudah berangkat duluan.”


Rara masuk ke mobil Alvin dan mereka berangkat menuju villa keluarga Alvin. Selama dalam perjalanan, Alvin sesekali mencuri pandang ke arah Rara. Ia melihat kotak kue di pangkuan Rara.


Rara : “Ini puding. Aku bawa untuk keluargamu, semoga mereka suka ya.”


Alvin tiba-tiba menepikan mobilnya, ia menghadap ke arah Rara menatapnya tajam.


Alvin : “Ingat ya ini hanya sandiwara, aku hanya minta bantuanmu. Jadi jangan terlalu berharap kita akan lebih dari ini.”


Rara : “Aku tahu, kak. Kakak tenang aja ini hanya sebuah hadiah, bukan sesuatu yang berarti.”


Alvin menatap Rara yang tersenyum, meski matanya tampak berkaca-kaca. Alvin menjalankan mobilnya kembali, ia merasa tindakannya mengajak Rara sudah salah besar. Tapi dia sudah tidak bisa mundur lagi, Rara lebih baik daripada sepupunya yang agresif.


Mereka sampai di tempat arisan. Alvin kembali bicara tegas pada Rara,


Alvin : “Setelah ini apapun yang terjadi hanya sandiwara, kau mengerti?” Rara mengangguk.


Keluarga besar Alvin berkumpul di ruang keluarga, sebagian lagi di halaman belakang. Sama seperti sifat Boy dulu, Alvin tidak banyak bicara basa-basi pada keluarganya. Ia hanya menyapa mereka sekilas sambil menanyakan mamanya. Alvin mengajak Rara masuk dan menemui Joya.


Alvin : “Mah, ini Rara. Rara, ini mamaku.” Rara tersenyum, menjabat tangan Joya dan menempelkan tangan Joya ke dahinya.


Rara : “Tante, apa kabar? Ini ada sedikit oleh-oleh.”


Joya : “Oh, ini ya temannya Alvin, kirain Alvin mau bawa temen cowok lagi. Ayo kita duduk dulu. Rara cantik sekali ya.”


Rara tersenyum, ia mengikuti Joya duduk di sofa di pinggir jendela. Tiba-tiba seorang gadis manis menghampiri mereka.


Ines : “Alvin ! Kangen dech.” Gadis itu hendak merangkul Alvin yang langsung duduk di samping Rara.

__ADS_1


Alvin : “Ines, kenalin ini Rara, pacarku.”


Joya terkejut mendengar kata-kata Alvin, ia tahu putranya sangat menyukai Lia, tapi kenapa sekarang bilang kalau Rara adalah pacarnya? Rara mengulurkan tangannya tapi Ines tidak peduli. Ia terlihat kesal sekali, sebelum berbalik dan pergi.


Alvin : “Jangan lupa taruhan kita ya. Bye.” Alvin melambaikan tangannya pada Ines dan menatap Rara yang masih tersenyum manis. Joya merasa Alvin menyembunyikan sesuatu darinya.


Alvin mengajak Rara duduk di pinggir kolam renang, Rara melihat-lihat sekeliling taman yang diatur dengan sangat indah.


Rara : “Sepertinya Ines sangat menyukai kakak ya.” Alvin mengangkat gelasnya.


Alvin : “Dia hanya sepupuku, sejak puber, ia mulai mengejarku. Benar-benar mengganggu.” Rara tertawa.


Alvin : “Kenapa ketawa? Kau tidak tahu rasanya...”


Tiba-tiba Alvin mendekatkan wajahnya pada Rara sampai Rara bisa melihat bayangan wajahnya di bola mata


Alvin yang hitam.


Alvin : “Jangan bergerak, rupanya belum cukup yang tadi.” Rara tahu pasti Ines sedang memperhatikan mereka.


Rara : “Apa dia sudah pergi?” Alvin mengernyitkan dahinya.


Alvin : “Dia cuma berdiri disana. Shit! Maaf ya aku harus melakukan ini...”


Alvin mencium sudut bibir Rara, sehingga mereka tampak sedang berciuman. Alvin memeluk pinggang Rara, sementara Rara mulai merangkul leher Alvin. Rara sangat terkejut, sekaligus sangat bahagia, meskipun ini hanya pura-pura dan jelas sekali kalau Rara yang dirugikan, ia tidak ambil pusing. Ketika Rara hampir terlena, Alvin


menghentikan semuanya. Rara tak berhenti tersenyum setelah itu.


Keluarga Alvin memuji Rara yang ramah dan cantik, bahkan mama Alvin mengundang Rara ke acara ulang tahunnya minggu depan. Rara melirik Alvin,


Alvin : “Nanti Alvin yang jemput Rara, mah.”


Joya : “Iya, nanti Alvin yang jemput ya. Rara harus datang ya.”


Ines tidak terlihat lagi sampai arisan selesai. Rara masuk ke mobil Alvin, setelah berpamitan pada


keluarga Alvin.


Alvin : “Makasih ya udah mau bantu aku. Sorry kalau tadi aku kelepasan, tapi...”


Rara : “Aku senang kok kak, lagipula ini hanya sandiwara kan? Atau... “


Rara memandang Alvin penuh arti, membuat Alvin tertawa sedikit sinis. Ia mendekati Rara sambil mengulurkan tangannya mengambil sabuk pengaman.


Alvin : “Jangan terlalu berharap...”


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu


kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, kritik dan saran sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.

__ADS_1


-------


__ADS_2