Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Godaan (2)


__ADS_3

Alvin benar-benar berusaha menyelesaikan skripsinya agar bisa lulus secepatnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar, termasuk ketika sedang bersama Rara.


Setelah pertunangan mereka, sebulan yang lalu, godaan demi godaan membuat Alvin  semakin sulit mengendalikan dirinya saat berada di dekat Rara.


Apalagi Rara sudah mulai PKL di perusahaan papa Alvin, mereka jadi lebih sering bertemu.


Akhir pekan, Rara dan Alvin sama-sama sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Mereka sedang ada di rumah Alvin, tepatnya di kamar Alvin.


Mama Alvin meminta mereka berdua diam saja di rumah karena ia sudah memasak makanan kesukaan mereka. Sesekali mama Alvin menengok ke kamar mereka, sekedar membawa minuman dan cemilan.


Sebenarnya rencana ini dilakukan karena papa Rara yang minta, ia sering sekali melihat Alvin dan Rara menghabiskan waktu berdua saja di rumah Rara.


Meskipun mereka hanya duduk dan belajar di ruang tengah, tapi papa Rara kuatir karena tidak ada orang lain di rumah itu terutama saat malam hari. Posesif father mode on.


Rara merenggangkan tangannya yang pegal setelah mengetik hampir 3 lembar folio untuk laporan PKL-nya. Ia ingin laporan PKL-nya selesai sebelum 3 bulan masa PKL berakhir, jadi dia bisa segera menyusun skripsinya.


Sama saja dengan Alvin, Rara juga tidak tahan lama-lama bertunangan. Godaannya banyak, belum lagi rasa penasaran karena ia baru pertama kali berhubungan dengan laki-laki. Mereka sama-sama mesum.


Alvin : “Capek, yang? Mau istirahat dulu?”


Rara : “Iya nich, pegel banget.”


Alvin : “Sini aku pijitin.”


Alvin menggeser posisi duduknya mendekati Rara, ia menghidupkan TV mencari film komedi agar mereka bisa rileks. Rara mengikat rambutnya keatas, memperlihatkan tengkuknya yang putih bersih.


Alvin mulai memijat bahu Rara yang terasa kaku, Rara menikmati pijatan Alvin sampai ia memejamkan matanya. Melihat Rara memejamkan matanya, Alvin mulai iseng, ia mengganti tangannya dengan bibirnya.


Ketika mendengar desahan Rara, tubuh bagian bawah Alvin langsung bereaksi. Mulai bangun dari tidur lelap dan langsung berdiri tegak. Alvin merasa ngilu, ia mencoba memperbaiki posisi duduknya, tapi gak banyak membantu.


Akhirnya Alvin menghentikan aktifitasnya dan lari masuk ke kamar mandi. Rara yang ditinggal sendiri kebingungan mencari kemana Alvin pergi.


-------


Alvin baru keluar dari ruang sidang, ia berhasil dalam ujian skripsinya tanpa revisi. Rara dan Lia yang sudah menunggu di depan ruang sidang segera menghampiri Alvin.


Lia dan Rara : “Bagaimana?”


Alvin : “Berhasil, aku lulus.”


Lia dan Rara memeluk Alvin berbarengan, membuat Alvin kewalahan. Dipta yang sejak tadi duduk saja, segera bangun dan menarik Lia.


Lia : “Aih, Diptaku sayang cemburu ya.”

__ADS_1


Dipta : “Bukan aku, kasian Rara. Uda mau nangis.”


Rara : “Rara gak cemburu kok, Rara seneng banget Alvin bisa lulus. Tinggal Rara aja, abis itu…”


Melihat Rara menunduk malu-malu dalam pelukan Alvin, Lia dan Dipta memandang mereka,


Lia dan Dipta : “Dasar mesum.”


Untuk merayakan kelulusan Alvin, mereka mengadakan pesta barberque di rumah Alvin. Rara dan Lia membantu Joya membawa nampan berisi irisan daging dan sayuran segar ke halaman depan yang sudah ramai dengan beberapa saudara mereka, termasuk Dipta juga ada.


Setelah selesai menyiapkan panggangan dan mulai memanggang daging, Alvin naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya.


Ia tertegun di depan pintu melihat Rara sedang melepas dress-nya. Rara tidak menyadari kalau Alvin sudah berdiri di belakangnya, menatap tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam. Saat Alvin


memeluk Rara, ia berteriak karena kaget,


Rara : “Aaaarrgghhh… Alvin! Kamu ngagetin aja.”


Alvin : “Kenapa kamu gak kunci pintu? Kalau bukan aku yang masuk gimana?”


Rara : “Aku lupa, cuma mau ganti baju bentar aja kok. Gerah banget.”


Alvin : “Gak sekalian mandi aja. Aku temenin…"


Alvin belum mau melepas pelukannya, kulit tubuh Rara terasa sangat lembut menempel di tangan dan pipinya. Alvin menguwel-uwel hidungnya di punggung Rara, membuat Rara membungkuk kegelian.


Rara : “Alvin, jangan… stop… aku lagi datang bulan…”


Alvin menatap punggung Rara yang kemerahan akibat ciumannya, ia mengaitkan tali bra Rara, dan duduk di tempat tidur.


Rara melihat kode dari Alvin agar masuk ke kamar mandi, ia mengambil tasnya dan masuk ke kamar mandi.


Alvin merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, ia menutup matanya dengan lengan dan tersenyum.


Alvin : “Sabarlah… sebentar lagi kau akan mendapatkannya…”


Rara keluar dari kamar mandi, sudah ganti baju dan terlihat lebih segar. Mereka bergandengan tangan turun ke bawah dan berkumpul dengan yang lainnya.


💐💐💐💐💐


Alvin berlarian masuk ke kampusnya, ia melihat daftar peserta ujian skripsi  yang ditempel di mading dan bergegas menuju ruang sidang. Nafasnya hampir putus saat tiba di depan ruang sidang Rara, Lia dan Dipta sudah menunggu disana.


Lia : “Kemana aja kamu? Rara nyariin kamu dari tadi, dia nangis tau.”

__ADS_1


Alvin : “Apa yang terjadi? Tadi aku habis meeting sama client papa, mana gak bisa diwakilin lagi, padahal aku uda ijin dari seminggu yang lalu.”


Alvin menarik dasinya dan membantingnya ke lantai, di jambaknya rambutnya gemas sampai rambutnya berantakan. Sejak lulus, Alvin sudah mulai bekerja di perusahaan Boy sebagai wakil direktur, sementara Boy tetap mengurus perusahaan kakek Alvin.


Pekerjaan itu cukup menyita waktu dan perhatian Alvin karena dia harus selalu meeting dengan client dan menjaga performa perusahaan tetap tinggi. Sampai-sampai Rara marah, merasa di acuhkan.


Lia dan Dipta menahan senyum melihat Alvin yang gelisah sambil sesekali melihat ke dalam ruang sidang. Tampak Rara masih duduk di depan pengujinya. Mereka berencana mengerjain Alvin yang datang terlambat ke sidang skripsi Rara.


Tak berapa lama, Rara keluar dari ruang sidang, senyumnya berganti cemberut saat melihat Alvin berdiri di depannya. Rara memeluk Lia yang berjalan mendekatinya.


Rara : “Aku lulus, kak.” Rara berbisik pada Lia yang memeluknya semakin erat.


Lia : “Yang tabah ya sayang. Pasti bisa kok.” Suara Lia terdengar dramatis, membuat Alvin bingung. Apa Rara tidak lulus?


Alvin : “Ra, apa yang terjadi? Kamu gak apa-apa?”


Alvin menarik Rara dari pelukan Lia dan memeluknya. Terdengar isak tangis Rara yang membuat Alvin ikut sedih.


Alvin : “Kamu gak mungkin gagal kan? Kamu kan sudah belajar.”


Lia dan Dipta menahan tawa sampai sakit perut. Mereka mencoba bersikap biasa, tapi sulit sekali. Rara bergerak merangkul Alvin, membisikkan sesuatu ke telinga Alvin,


Rara : “Sayang, baju apa yang harus aku pakai di malam pertama kita?”


Alvin : “Maksudmu? Baju apa…”


Lia dan Dipta : “Huahahahahahahahaha….”


Alvin melihat Lia dan Dipta tertawa terpingkal-pingkal, ia mulai mengerti kalau sedang dikerjain, Alvin sudah ingin menerkam Rara yang ikut tertawa juga, tapi ia menyimpannya untuk nanti.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu


kelanjutannya ya.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak


kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2