
Setelah lelah berdansa, Boy menarik tangan Joya ke balkon di lantai 2. Suasananya cukup sepi disana dan ada berbagai macam makanan tersedia. Boy melepaskan tangan Joya, ia mengambil minuman yang tersedia dan meminumnya.
Joya : "Tuan, apa saya boleh minum juga?"
Boy menyodorkan minuman yang sudah ia cicipi pada Joya yang meminumnya sampai habis. Joya mencari minuman yang sama dan kembali meminumnya. Ia menyukai rasa minuman itu.
Boy hanya memperhatikan Joya yang mulai mabuk. Ia masih membawa obat tidur di saku celananya, tapi melihat Joya yang mabuk, sepertinya obat itu tidak diperlukan lagi.
Joya berjalan mendekati Boy, ia merangkul leher Boy yang sedang duduk di sofa yang sudah disediakan disana. Malam itu langit jernih tanpa awan dan banyak bintang. Joya naik ke pangkuan Boy dan kembali merangkul lehernya.
Joya : "Tuan, kau ganteng sekali."
Boy menikmati perlakuan Joya saat ia mabuk. Ia bisa mendapatkan kasih sayang yang selalu ia mimpikan setiap malam. Joya sudah hampir tidak sadar, matanya setengah menutup dalam dekapan Boy.
Boy : "Kita balik ke hotel yuk."
Joya : "Jangan... Disini aja."
Boy : "Apa yang ingin kau lakukan disini?"
Joya : "Entahlah, mungkin ini..."
Joya mencium Boy yang tidak menyangka akan dicium. Ciuman yang lembut tanpa nafsu membuat keduanya terbawa suasana malam romantis.
Joya mengerang dalam dekapan Boy saat ciumannya pindah ke leher Joya. Tiba-tiba beberapa orang datang ke balkon itu untuk makan dan minum.
Boy : "Ada orang, kita balik ke hotel ya. Ayo, sayang."
Joya hanya diam mengikuti langkah Boy yang sudah merangkul pinggangnya. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Boy langsung membawa Joya kembali ke dalam mobil yang membawa mereka tadi tanpa mencari Rian dan Niken. Di dalam mobil, Joya tidak mau melepaskan Boy.
Ia bergelayut manja di lengan Boy yang mendekapnya erat. Sopir yang melihat adegan panas di belakangnya, menekan tombol untuk menutup tirai antara kursi depan dan kursi belakang.
Boy menunduk mencumbu Joya yang kegelian di bawahnya. Ia memberi kissmark di tengkuk Joya dan satu lagi di leher bawahnya. Boy tersenyum melihat hasil perbuatannya. Yang jelas, Joya pasti kebingungan besok.
Mereka segera sampai di hotel, Boy memapah Joya yang hampir tertidur. Lift terbuka, Boy menyudutkan Joya di pojok lift dan memeluknya.
Joya : "Tuan Boy..."
Boy : "Panggil namaku..." Boy berbisik di telinga Joya sambil meremas pahanya.
Joya : "Boy... Ugh..."
Boy semakin panas mendengar namanya disebut Joya yang sudah mabuk. Setelah pintu lift terbuka, Boy membopong Joya menuju kamar mereka.
------
Sepertinya kita lupa sesuatu ya...
Rian dan Niken tampak sedang berdiri di lantai dansa, tubuh keduanya bergerak seiring dentuman musik yang menghentak di klub malam Calvin. Tubuh Niken menempel erat pada Rian yang sudah memeluknya dari belakang.
Flash back...
Setelah Boy meninggalkan mereka berdua, seorang pria yang sedikit berumur mendekati Niken yang duduk sendirian. Mereka ngobrol sebentar sebelum pria itu memaksa Niken minum.
Pria yang sudah mabuk itu bahkan hampir memukulnya karena Niken terus menolak. Niken dikira salah satu wanita penghibur disana. Rian yang melihat hal itu, segera menolong Niken dan mendorong pria itu hingga jatuh.
__ADS_1
Parahnya pria mabuk itu salah satu rekan bisnis Calvin yang terkenal mesum dan kaya. Anak buahnya hampir berkelahi dengan Rian kalau Calvin tidak menengahi mereka.
Rian mengatakan kalau Niken adalah istrinya dan pria itu bersikap tidak sopan. Niken yang mendengar kata-kata Rian, spontan merangkul tangan Rian. Tubuhnya gemetar takut dilecehkan.
Calvin menjelaskan pada pria itu yang tidak mempermasalahkannya lagi. Pria itu pergi setelah Calvin memberinya dua wanita penghibur yang lebih seksi dan hot dari Niken.
Setelah itu, Niken menempel terus pada Rian. Mereka mengira Boy dan Joya sedang mojok di salah satu ruangan di dalam klub malam itu.
Niken tidak menolak saat Rian memberinya minuman yang cukup ringan alkoholnya dan mengajaknya berdansa.
Flash back end...
Rian : "Kita keluar aja ya. Uda malam."
Niken : "Bagaimana dengan tuan Boy dan Joya?"
Mereka bicara sambil berpelukan, terlihat mesra sekali. Tangan Niken merangkul leher Rian sementara Rian merangkul pinggang ramping Niken.
Rian : "Mereka sudah kembali ke hotel."
Niken : "Kita balik ke hotel juga."
Rian : "Ada yang harus kulakukan dulu."
Niken hanya bisa mengikuti langkah Rian meninggalkan klub malam itu. Rian memesan taksi yang membawa mereka ke sebuah restauran yang buka 24 jam.
Niken turun dari taxi dan Rian menuntunnya masuk ke restauran itu.
Niken : "McD? Kamu laper?"
Rian benar-benar keki mendengar pertanyaan Niken, tapi gak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya. Hanya disini satu-satunya tempat yang aman untuk melancarkan aksinya.
Niken : "Rian? Kamu dimana?"
Niken hampir berdiri saat lampu kembali menyala dan Rian sudah berlutut di depannya membawa rangkaian bunga mawar dan sebuah kotak berisi cincin.
Rian : "Niken, will you marry me?"
Niken bengong melihat Rian berlutut melamarnya, wajah dinginnya perlahan menghangat. Niken tertawa cekikikan melihat latar belakang tempat Rian melamar dirinya.
Suasana romantis buyar seketika karena memang tempat yang Rian pilih untuk melamar gak ada romantisnya sama sekali. Ya kali nglamar seorang gadis di restauran cepat saji tanpa dekorasi romantis.
Rian : "Kenapa kamu ketawa?"
Niken : "Gak cocok. Emang gak ada tempat lain?"
Rian : "Kapan aku sempat menyiapkannya? Jadi kamu terima apa gak?"
Niken : "Kok kamu marah? Aku gak mau."
Niken duduk lagi di tempatnya semula. Ia memandang keluar restauran yang terlihat mulai sepi. Rian duduk di depannya, tampak seperti penjudi kalah judi.
Rangkaian bunga mawar dan kotak cincin diletakkan Rian diatas meja di depan mereka. Ia memanggil pelayan dan minta dibawakan semua jenis es krim yang ada di McD. Rian jadi stress karena Niken menolak lamarannya.
Niken menahan senyum melihat kelakuan Rian. Jauh di lubuk hatinya ia sangat senang karena Rian mau menikahinya. Meski belum cinta, tapi rasa itu mulai ada. Tapi ia ingin melihat sampai mana Rian serius sama kata-katanya.
Rian menerima beberapa gelas es krim dan mulai memakannya dengan lahap tanpa menawari Niken.
__ADS_1
Niken : "Kamu gak takut sakit perut, makan es krim sebanyak ini?"
Rian : "Jangan pedulikan aku. Biarin aja."
Rian ngambek dong. Niken mengambil satu gelas es krim dan mulai memakannya. Rasa es krim itu manis dan memiliki aroma vanila yang enak.
Niken tersenyum menikmati rasa yang meresap di mulutnya. Enak juga, pikirnya. Ia jarang makan es krim karena menurutnya terlalu manis. Tapi kalau lagi stress, boleh juga makan es krim.
Rian yang menatap Niken, melihat ada bekas es krim di sudut bibir Niken. Ia bangkit berdiri, menarik tangan Niken dengan cepat dan mencium bibirnya. Beberapa pelayan yang masih memperhatikan mereka langsung heboh.
Niken melotot mendapat perlakuan mengejutkan itu dari Rian. Ia mencoba mendorong Rian, tapi Rian memeluk tubuhnya erat sambil terus menciumnya. Niken menjauhkan kepalanya, tapi tengkuknya sudah dipegang Rian.
Niken bisa merasakan es krim rasa coklat dari mulut Rian saat lidah Rian memasuki mulutnya. Rian menyesap manis bibir Niken sampai membuat bibir gadis itu bengkak.
Setelah keduanya hampir kehabisan nafas, Rian melepaskan ciumannya. Kedua tangan Niken masih ada dalam dekapan Rian. Ia menunduk dengan wajah merona, jantungnya berdebar gak karuan.
Rian : "Menikahlah denganku. Aku akan bertanggung jawab untuk malam sebelumnya."
Niken : "Kamu serius?"
Rian : "Apa perlu kutunjukkan keseriusanku?"
Niken : "Caranya?"
Rian : "Besok kita nikah di KUA. Malam ini kita kawin dulu."
Niken mencubit dada Rian yang sudah tertawa ngakak. Ia kembali memeluk Niken dengan erat.
Rian : "Jadi kamu terima?"
Niken : "Iya..."
Rian : "Kapan aku bisa ke rumah orang tuamu?"
Niken : "Aku yatim piatu dan gak punya saudara lainnya."
Rian : "Maaf, aku akan bilang pada orang tuaku. Mereka pasti senang bertemu denganmu."
Niken : "Ini terlalu cepat, Rian. Kita belum mengenal terlalu dalam."
Rian : "Aku sudah mengenalmu luar dalam."
Wajah Niken merona mendengar kata-kata Rian, bagaimanapun juga malam kemarin sudah terjadi sesuatu diantara mereka. Tentu saja Rian sudah melihat seluruh tubuhnya.
Rian : "Kamu mau nunggu berapa lama? Kamu gak khawatir kalau semalam aku sudah menghamilimu?"
Niken : "Terserah kamu saja."
Rian memeluk erat Niken, senyum bahagia menggaris di bibirnya. Akhirnya Rian bisa mendapatkan Niken.
-----
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak...
-------