
Boy menatap layar laptopnya yang menampilkan visual Joya di ruang kerjanya bersama Niken. Hari ini hari terakhir Joya bekerja membantu Niken mengerjakan proyek Calvin.
Boy sudah mempercepat projek itu agar ia bisa segera terbebas dari Calvin. Entah darimana Calvin mendapatkan nomornya dan mengirimkan foto-foto bagian tubuh vulgar seorang pria yang diyakini Boy adalah foto tubuh Calvin.
Ia bergidik geli ketika teringat hal itu. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Boy kalau Calvin agak belok. Masalahnya ia juga menunjukkan ketertarikan pada Joya. Boy jadi mengira kalau dia menyukai Joya.
Joya dan Niken sepertinya sedang menuju ke ruang kerja Boy. Ia memastikannya lewat pelacak di ID Joya dan mereka sedang ada di lift. Boy memikirkan sebuah rencana dengan cepat.
Ia teringat obat tidur yang masih ada di laci mejanya. Ia ingat kalau Joya tidak kuat haus, beberapa kali mereka bekerja di ruangan yang sama, Joya lebih sering minum dari pada dia.
Boy mendekati deretan gelas di tempat minum disediakan ia menyimpan beberapa gelas kosong dan meletakkan dua gelas saja diatas meja. Boy mengoleskan obat tidur ke dasar gelas dan kembali duduk di kursinya. Jantungnya berdebar kencang menanti jalannya rencananya nanti.
Niken mengetuk pintu ruang kerja Boy sementara Joya menyerahkan dokumen pada Rian. Pintu ruang kerja terbuka dan Niken masuk ke dalam sana. Boy memberi tanda pada Niken untuk mendekat dan ia bisa mengatakan dengan singkat mengenai rencananya.
Niken mengangguk mengerti, ia melangkah ke meja kopi dan pura-pura ingin membuat kopi saat Joya masuk ke ruang kerja Boy. Ia duduk di sofa setelah meletakkan dokumen yang cukup tinggi di depannya.
Rian meminta Joya membantunya memilah dokumen da meletakkannya di dalam lemari penyimpanan di ruangan Alex. Semua harus diurutkan dan diberikan tanda sebelum masuk ke dalam lemari.
Joya bisa mengerjakannya dengan cepat, karena itu Rian selalu meminta Joya melakukannya. Lagipula Boy jadi lebih banyak punya waktu untuk mengintip Joya dari balik laptopnya.
Niken : "Joya, tolong buatkan Pak Boy kopi ya."
Joya : "Baik, kak."
Joya mendekati meja kopi sementara Niken keluar dari ruang kerja Boy diam-diam. Niken sengaja mengatur mesin air panas memanaskan air lebih lama. Joya merasa sedikit haus pada tenggorokannya.
Ia menuangkan air minum ke dalam gelas yang tersedia disana dan meminumnya sampai habis. Tak lama kemudian Joya tampak memegangi kepalanya, ia memegangi sisi meja kopi dan hampir jatuh kalau Boy tidak menahan tubuhnya.
Boy membopong Joya dan membaringkannya diatas ranjang di ruang istirahat Boy. Joya belum tertidur sepenuhnya, ia bisa merasakan saat Boy mulai mencium bibirnya.
Joya : "Mmmhh... Mmmmppphh..."
__ADS_1
Joya memalingkan wajahnya tapi Boy kembali mencium bibirnya. Mata Joya tidak bisa lagi terbuka, ia hampir tertidur lelap. Saat dirasakannya kemejanya sudah terlepas dari tubuhnya.
-----
Joya membuka matanya, melihat sekeliling dengan bingung. Spontan ia meraba tubuhnya, pakaiannya masih utuh dan ia terbangun diatas sofa ruang kerja Boy.
Tampak tumpukan dokumen diatas meja masih tertata rapi seperti sebelumnya. Joya menoleh menatap meja kerja Boy yang kosong. Ruangan itu sepenuhnya kosong tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya.
Dengan perasaan bingung, Joya merapikan dokumen di depannya dengan cepat. Ia memasukkan semua dokumen itu ke lemari arsip di ruang kerjs Boy. Setelah selesai, Joya berjalan keluar dari sana.
Perutnya sudah terasa lapar, diliriknya jam di ruang kerja Rian, sudah hampir jam 3 sore. Berapa lama dia tertidur di dalam sana tadi?
Joya menunggu lift terbuka, ia sedikit linglung karena efek obat tidur yang tadi diminumnya. Wajahnya memerah saat mengingat sentuhan Boy di tubuhnya.
Kalau dibilang itu mimpi, semuanya terasa sangat jelas. Tapi Joya tidak merasakan keanehan dari tubuhnya. Hanya lembab saja yang ia rasakan karena tamu bulanannya.
Setelah pintu lift terbuka, Joya masuk dan menekan nomor lantai tempat ruang kerjanya. Tapi sebelum itu ia mampir ke toilet.
-----
Boy mulai membuka kemeja Joya, ia ingin tidur memeluk Joya seperti sebelumnya. Mungkin ini kesempatannya yang terakhir, ia tidak punya alasan lagi untuk tetap menahan Joya di perusahaannya.
Ditatapnya bagian atas tubuh Joya yang hanya tertutup bra berwarna hitam. Warna yang sangat kontras dengan kulit tubuh Joya. Boy membenamkan wajahnya ke atas bra itu. Perbuatannya membuat Joya melenguh tanpa sadar.
Ia membuka kemejanya juga, saat kulit mereka saling bergesekan, hasrat Boy sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia ingin memiliki Joya sekarang, menunggu lagi akan membuatnya jadi gila.
Tapi saat ia menyentuh bagian bawah tubuh Joya, hati Boy mencelos seketika mendapati dinding pertahanan yang wajib dikenakan Joya disana. Kebetulan Joya sedang datang bulan saat itu.
Boy mengusap kasar wajahnya, ia duduk di pinggir ranjang dan melempar kemejanya ke sudut kamar. Hampir saja ia kebablasan, kalau saja Joya tidak kedatangan tamu, mungkin Boy akan memuaskan hasratnya pada Joya sekarang. Tidak peduli ibunya akan menjewer telinganya sampai putus.
Boy : "Kau ini benar-benar membuatku tidak bisa melakukan apa-apa padamu. Aku akan sabar, dan kau akan lihat bagaimana buasnya aku saat kau jadi istriku nanti."
__ADS_1
Joya seperti mendengar kata-kata Boy, ia tersenyum dalam tidurnya. Entah apa yang diimpikan gadis itu sampai bisa tersenyum seperti itu.
Akhirnya Boy memakai kembali kemejanya, ia berbaring di samping Joya dan memeluknya.
Boy : "Untuk saat ini aku hanya akan memelukmu, sayang. Entah kapan kita akan bisa menghabiskan waktu berdua saja seperti ini. Tentu saja dengan normal."
Setelah memeluk tubuh dan mencium Joya lagi, Boy memakaikan kemeja Joya dan merapikan penampilannya. Efek obat tidur itu akan segera hilang dan Boy tidak ingin ambil resiko ketahuan melakukan hal yang membuatnya terlihat seperti maniak.
Setelah menggendong Joya ke sofa ruang kerjanya, Boy bersiap pergi meeting.
Flash back end...
-----
Joya menghabiskan makan siangnya dengan cepat. Niken menyuruhnya makan dulu dan Joya bisa pulang. Ia merapikan kotak bekalnya, dan melihat sekeliling kantin. Ia akan merindukan kantor ini karena ada Boy disini.
Joya membawa tas ransel dan tas bekalnya, ojol yang dipesannya sudah datang dan sedang menunggunya di parkiran. Joya berjalan cepat keluar dari kantin menuju parkiran.
Ia memanggil ojol mendekat dan segera naik setelah ojol menyebut namanya. Mereka meninggalkan kantor Boy dan entah kapan Joya akan kembali lagi kesana.
-----
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
-------
__ADS_1