Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Cucu Pertama Boy


__ADS_3

Semua orang sangat gembira menyambut kedatangan baby Arya di rumah. Untuk 3 hari ke depan, Alvin menyewa suster untuk membantu Rara menjaga baby Arya sehingga ia bisa beristirahat dengan baik. Dukungan dari seluruh keluarganya membuat Rara sangat senang menjadi seorang ibu.


Apalagi mamanya dan Joya juga selalu ada untuknya, mengajarinya dengan sabar. Baby Arya membuat suasana rumah semakin ramai dengan suara tangisannya.


Awalnya Rara selalu panik mendengar tangisan baby Arya, tapi mamanya bilang kalau bayi sesekali harus menangis kencang agar paru-parunya tumbuh dengan baik.


Semakin hari Rara semakin mandiri menjadi ibu, membuat Alvin kagum padanya. Rara benar-benar sempurna dimata Alvin. Ia ikut membantu menjaga baby Arya, meski hanya sekedar menggendongnya.


🌲🌲🌲🌲🌲


Lihatlah baby Arya sedang tertidur di ranjang babynya sekarang. Rara merenggangkan tubuhnya yang pegal setelah seharian mengurus baby Arya yang rewel setelah imunisasi.


Tiga bulan sudah umur baby Arya sekarang. Ia tidak suka ditidurkan terlentang dan suka sekali menendang selimutnya.


Caranya tidur persis seperti Alvin. Tidur miring sambil memeluk guling. Pipinya yang gembul terus bergerak seperti sedang mengunyah sesuatu.


Rara duduk di sisi ranjang, ia ingin mandi tapi takut baby Arya terbangun. Akhirnya Rara memutuskan mandi dengan pintu kamar mandi terbuka. Ia sudah mengunci pintu depan karena bibik juga sudah pulang dan Alvin belum pulang karena masih meeting dengan client.


Sedang asyik menyabuni tubuhnya, sebuah tangan melingkar di perutnya.


Rara : “Aarrggh…! Alvin, ngagetin aja.”


Alvin : “Ra… Aku ikut mandi ya.”


Rara melongok ke belakang, melihat ke ranjang baby Arya yang masih tidur. Alvin sudah menggantikan tangannya menyabuni seluruh tubuh Rara.


Rara : “Vin, jangan nakal ya. Nanti Arya bangun.”


Rara segera membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi, meninggalkan Alvin yang masih meresapi kenikmatan yang menjalari tubuhnya.


Rara : “Vin, kamu uda makan?”


Alvin : “Udah, aku bawain makanan kesukaan kamu tuch. Makan dulu sana. Aku jagain Arya.”


Rara keluar kamar dan melihat bungkusan diatas meja makan. Ia duduk di meja makan dan menikmati makan malamnya dengan tenang.


Tiba-tiba Alvin berteriak memanggil Rara, Rara tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam kamar,


Rara : “Kenapa? Arya…”


Alvin sedang mengabadikan momen pertama kali baby Arya berusaha membalikkan badannya. Baby Arya berusaha sangat keras memiringkan tubuhnya tanpa bantuan.


Alvin : “Ayo, sedikit lagi, baby Ar…”


Alvin dan Rara memberi semangat pada baby Arya yang terus berusaha dan akhirnya berhasil tengkurap untuk pertama kalinya. Rara bertepuk tangan untuk baby Arya, sementara Alvin terus mengabadikan momen itu.


Rara : “Waduh, kalau uda bisa balik badan gini, harus ekstra ngejagain nich.”


Rara menggendong baby Arya yang mulai kelelahan, Alvin meletakkan ponselnya,


Alvin : “Uda selesai makan, Ra?”

__ADS_1


Rara : “Iya, lupa. Nitip Arya bentar ya.”


Alvin menggendong baby Arya dan membawanya keluar kamar, menemani Rara makan di meja makan. Rara tersenyum melihat Alvin mengajak baby Arya bicara, baby Arya sampai tertawa terbahak-bahak.


🌹🌹🌹🌹🌹


Momen baby Arya tengkurap untuk pertama kalinya langsung beredar di keluarga mereka, termasuk Aliya dan Aldo. Mereka sama-sama menonton dari kantor masing-masing. Aldo mengirim chat pada Aliya,


Aldo : “Sayang, baby Arya uda 3 bulan ya…”


Aliya : “Iya, trus kenapa?”


Aldo : “Kita uda bisa mulai persiapan pernikahan, kan?”


Aliya : “Biar mama kita yang urus, pernikahan kita kan di Indonesia.”


Aldo : “Kamu mau punya anak berapa?”


Aliya : “Tergantung kamu sekuat apa…”


Aldo : “Maksudmu? Aku kurang kuat gitu?”


Aliya : "Aku kan belum pernah merasakannya."


Aldo meremas kertas kerja di atas mejanya, lagi-lagi Aliya menggoda imannya. Aliya terkikik melihat Aldo mengetik lama dan hanya mengirimkan balasan singkat,


Aldo : “Awas saja malam ini…”


Aldo menjambak rambutnya kesal, gak munafik kalau Aldo menginginkan Aliya jadi miliknya sepenuhnya. Tapi Aldo terlalu mencintai Aliya sampai-sampai ia takut kalau melakukannya sekarang, hanya akan menghancurkan Aliya nantinya.


Aldo ingin mencoba memenuhi keinginan Aliya yang sudah mengijinkannya, tapi ia takut kali ini ia tidak akan berhenti tepat waktu dan kebablasan. Godaan yang diberikan Aliya terlalu kuat untuk di tolaknya terus.


Hubungan mereka memang sudah semakin panas, bahkan sudah saling melihat tubuh masing-masing. Tapi mereka belum sampai ke tahap hubungan intim seperti suami istri. Hanya belaian ringan saling memuaskan satu sama lain.


💐💐💐💐💐


Aldo menunggu Aliya turun ke parkiran, ia bersandar di mobilnya sambil memainkan ponselnya. Seorang wanita yang kebetulan lewat di depannya, menyapa Aldo,


Mei : “Aldo? Apa kabar?”


Ini dia salah satu korban Aldo yang pernah dekat dengannya dulu. Wanita oriental yang memiliki tubuh tinggi semampai dan sangat proporsional. Belahan dadanya mendesak dada Aldo karena wanita ini sedang memeluknya.


Aldo : “Woo… tunggu dulu, kamu Mei kan?”


Mei : “Aldo, kamu masih ingat aku.”


Aldo : “Iya, iya. Tapi bisa kan lepaskan pelukanmu dulu.”


Mei : “Kenapa? Biasanya kau suka pelukanku.”


Aldo : “Iya, biasanya. Tapi dulu, aku…”

__ADS_1


Aldo melihat Aliya yang sudah berdiri di belakang mereka dalam usahanya melepaskan pelukan Mei yang erat. Kalau biasanya disekitar Aliya selalu diselimuti butiran kecil salju, sekarang Aldo bisa melihat badai salju yang akan menghantamnya.


Mei melihat kearah tatapan Aldo, ia mencibir Aliya yang menatapnya dingin.


Mei : “Aldo, siapa dia?”


Aliya : “Kamu yang siapa, kenapa memeluk tunanganku?”


Mei : “Aldo, kamu sudah tunangan?”


Aliya : “Aku memang tunangannya, bisa kau lepaskan tunanganku?”


Mei : “Aldo, kenapa kamu gak jawab?”


Aldo bukannya gak mau menjawab, ia jatuh dalam pesona Aliya yang berkata kalau Aldo tunangannya. Aldo sangat ingin mencium Aliya yang terlihat manis karena cemburu.


Mei melepas pelukannya saat Aldo mendorongnya pelan, mendekati Aliya. Pandangan mereka bertemu dan Aldo meraih tengkuk Aliya, menciumnya tanpa aba-aba. Membuat bibir Aliya bengkak dan memerah.


Aldo menuntun Aliya masuk ke mobilnya, dan menatap Mei tajam,


Aldo : “Dia calon istriku. Jadi menyingkirlah.”


Aldo masuk ke mobil dan mengemudikannya ke arah apartment mereka. Aliya yang turun lebih dulu, membanting pintu mobil dengan keras. Aldo menyusul Aliya masuk dan terus mengekorinya.


Aldo : “Al, kamu marah?”


Aliya : “…”


Aldo : “Al, dia yang memelukku, aku berusaha melepaskan pelukannya.”


Aliya : “Aku lihat kau menikmatinya.”


Aldo : “Kamu cemburu?”


Aliya : “Itu normal kan?”


Aliya melepas pakaiannya, ia ingin mendinginkan kepalanya yang panas, sementara Aldo yang melihatnya segera balik badan.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat


ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan


Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


-------

__ADS_1


__ADS_2