
Cecil terbangun dan merasakan pinggangnya sakit, wajahnya bersemu merah saat melihat dimana dia dan bagaimana kondisinya sekarang. Aril tampak duduk di sofa dan paper bag yang tadi memenuhi kamar sudah berkurang sebagian. Perut Cecil berbunyi saat ia mencium aroma makanan yang sudah terhidang di meja.
Aril : “Kau sudah bangun, kemarilah dan makan dulu. Tadi Deril menelpon, aku bilang kau sudah pulang karena tidak enak badan.”
Jelas itu bohong, karena Aril sudah mengirimkan foto mereka berdua yang sedang tumpang tindih diatas sofa. Deril sampai mengirimkan emoji jari tengah mengacung dan kata-kata kasar pada Aril ketika ia menanyakan tentang Cecil.
Cecil : “Bi.. bisa tolong ambilkan bathrobe itu…”
Aril menggeleng, Cecil merapatkan selimutnya dan berjalan mendekati sofa. Ia mengambil bathrobe yang tergeletak disana dan memakainya dengan cepat. Cecil duduk di sofa, mulai makan sambil sesekali melirik Aril yang sibuk memainkan ponselnya.
Aril : “Setelah ini lanjutkan pekerjaanmu disini, aku sudah memenuhi semua rak yang ada dan kau bisa menghitung berapa lagi yang kurang. Kalau mau ganti baju, disana ada baju yang bisa kau pakai juga. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu.”
Aril membuka laptopnya dan sibuk bekerja, ia terlihat mirip sekali dengan Deril kalau sedang dalam mode serius. Cecil membawa piring bekas makannya ke dapur dan mencuci piringnya. Ia merasa tidak nyaman pada tubuhnya dan memutuskan mandi dulu.
Cecil masuk ke kamar mandi di kamar Aril dan menghabiskan 15 menit di dalam sana. Bahkan di dalam kamar mandi sudah tersedia peralatan mandi untuknya, tinggal make up saja yang kurang. Cecil tidak memperhatikan kalau satu set peralatan make up sudah tersedia diantara paper bag yang belum dibuka semuanya. Cecil bisa tinggal kapan saja di apartment Aril.
Aril melirik sekilas saat Cecil keluar dari kamar mandi, tampak lebih segar dan wangi. Hasratnya mulai bangkit tapi papanya sudah menerornya sejak setengah jam yang lalu minta dikirimkan laporan perusahaan. Aril mendengus kesal menatap laptopnya, biasanya asistennya akan membantunya dan Aril hanya perlu melihat hasil akhirnya saja.
Cecil menatap Aril yang mendengus,
Cecil : “Kenapa? Ada yang salah?”
Aril : “Aku tidak bisa menyelesaikan ini dengan cepat. Apa kau bisa bantu aku?”
Cecil mendekat pada Aril, duduk di sampingnya. Aroma tubuh Cecil membuat Aril tidak bisa konsen. Aril mengepalkan tangannya menahan hasrat, ia tidak ingin Cecil kesal padanya dan berakhir tidak mau membantunya. Deril tidak salah memilih sekretaris karena bahkan Cecil bisa membantu menyelesaikan pekerjaan Aril juga dengan cepat dan benar.
Aril : “Akhirnya selesai juga, pria tua itu tidak akan mengomel lagi sampai minggu depan.”
Aril menatap puas pada e-mail yang baru saja dikirimkan papanya. Ia menoleh pada Cecil, tersenyum manis dan bagi Cecil itu adalah senyuman mesum. Cecil langsung berdiri, ngibrit ke walk in closet untuk memakai pakaian kerjanya lagi.
Cecil menyelesaikan mengukur beberapa lemari yang masih kosong untuk dijadikan rak aksesoris dan rak perlengkapan. Hanya sedikit pekerjaan di walk in closet hingga tidak perlu waktu sampai dua minggu. Sementara meja rias bisa dipesan sesuai dengan ukuran yang tersisa di sudut kamar Aril.
Aril : “Besok pulang kerja, aku jemput ke kantor ya.”
Cecil : “Tidak!! Aku bisa pulang sendiri.”
Aril : “Kau harus langsung kesini dan aku tidak terima penolakan.”
Cecil : “Okey!” Cecil kesal sekali dengan sifat pemaksa Aril.
Aril : “Malam ini kau menginap disini.”
__ADS_1
Cecil : “Aku harus kembali ke kantor, pekerjaanku disini sudah selesai.”
Aril : “Kau mau cari siapa jam segini?”
Cecil menengok ke jam dinding dan melihat kalau ini sudah jam 8 malam.
Cecil : “Kalau gitu, aku mau pulang saja.”
Aril : “Siapa bilang pekerjaanmu sudah selesai, kau lihat paper bag itu bahkan belum masuk semuanya. Cepat kerjakan.”
Cecil mendengus kesal, ia mulai membuka satu persatu paper bag yang tersisa dan menemukan masih ada beberapa gaun malam, piyama seksi, dan pakaian normal lainnya.
Cecil menggantung semua pakaian itu dan mengaturnya agar terlihat lebih rapi. Kotak-kotak sepatu ia tempatkan di bawah lemari, menunggu rak sepatu selesai. Termasuk juga clutch, dan aksesoris pendukung lainnya.
Jam 10 kurang, Cecil merenggangkan tubuhnya yang pegal. Energinya terasa sudah habis bahkan setelah ia tidur tadi. Lantai walk in closet itu terasa sangat nyaman, mungkin tidak masalah kalau dia berbaring sebentar disana.
-------
Cecil berjalan tergesa-gesa masuk ke kantor Deril, ia hampir terlambat karena harus membuatkan Aril sarapan dulu.
Semalam Cecil ketiduran di apartment Aril dan Aril mengangkatnya ke atas ranjang. Bukan cuma itu aja, tapi Aril juga membuka semua pakaian yang dipakai Cecil, membuat wanita cantik itu panik saat bangun.
Cecil menghempaskan tubuhnya diatas kursi kerjanya. Ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari. Untung saja Deril belum datang, notif ponsel Cecil membuatnya menoleh ke layar ponselnya, itu pesan dari Aril,
Cecil : "Brengsek mesum!! Jujur semalam kau juga meniduriku kan?"
Aril : "Aku bilang nggak, meskipun ingin sekali. Tubuhmu merespon dengan baik waktu aku hitung tahi lalatmu."
Cecil memukul meja kerjanya, membuat Deril yang baru datang menatapnya heran,
Deril : "Apa kau baik-baik saja?"
Cecil : "Aku... Selamat pagi, pak." Cecil menahan amarahnya dan tersenyum manis pada Deril.
Deril berjalan masuk ke ruang kerjanya sambil geleng-geleng kepala dan Cecil mengirimkan pesan lagi,
Cecil : "Aku harus bekerja, berhenti mengirim pesan."
Aril : "Sayang, kau mau pakai CD merah atau hitam? Ingat untuk langsung datang ke apartmentku, nanti."
Cecil : "Aku akan memilihnya sendiri!"
__ADS_1
Cecil bekerja dengan perasaan kacau karena Aril yang terus saja mengirimkan pesan mesum seolah-olah mereka sedang ngorbrol biasa.
-------
Setelah hari yang melelahkan, terburu-buru keluar kantor untuk pergi ke apartment Aril dan bersiap ke pesta, Aril tersenyum puas menatap Cecil yang terlihat cantik dan seksi.
Cecil memakai lagi gaun merah yang sebelumnya ia coba, melengkapinya dengan sepatu, aksesoris dan riasan natural menyempurnakan penampilannya.
Aril menggandeng Cecil masuk ke tempat pesta. Semua orang menatap Aril yang terlihat sangat serasi dengan Cecil.
Deril yang juga ada di pesta itu, sempat terkejut melihat kedatangan keduanya. Tapi mama dan papanya yang berdiri tidak jauh darinya, menatap Deril kepo.
Papa : "Aril datang sama siapa?"
Mama : "Ini gak bercanda kan?"
Deril : "Wow, ma, pa, sabar dulu. Sebaiknya mama tanya sendiri sama Aril. Deril gak ikutan."
Mereka gak perlu penasaran lama-lama karena Aril sudah melihat mereka dan menarik Cecil mendekat. Cecil yang melihat Deril, sempat menolak tapi ia tidak kuat menahan tarikan Aril.
Aril : "Sayang, ini mama dan papaku."
Cecil : "Om, tante. Selamat malam. Pak Deril..."
Mama dan papa Aril menoleh pada Deril seolah Deril telah berbohong pada mereka.
Deril : "Jangan tanya aku, aku gak tahu."
Mama : "Aril, siapa dia, nak?"
Aril : "Dia Cecil, calon istriku."
Papa : "What!!"
Deril sudah berjalan menjauh karena tahu papanya akan berteriak mendengar kata-kata Aril. Biarlah Aril yang menjelaskan bagaimana hubungam mereka bisa terjadi.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
__ADS_1
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
-------