
Eps. 20 – Bayi besar
Ana : “Kau
menyakitiku, suamiku. Aku capek sekali. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, kau
harus menggendongku. Apa kau tidak sayang padaku?”
Ana merengek
sambil memutar-mutar telunjuknya di dada Nanda. Ana sengaja memasang tampang
anak anjing agar Nanda mau mendengarkannya.
”Oh, bahkan
dia sama imutnya dengan Nadia saat menginginkan sesuatu.”
Nanda : “Tapi
aku mau anak. Nadia ingin seorang adik lagi. Bukan seorang, tiga lagi. Dia mau
tiga adik.”
Ana : “Aku akan
memberimu anak, tapi pelan-pelan ya. Kau harus sabar. Semua itu perlu proses,
kita baru saja memulainya. Tunggu 2-3 bulan lagi baru kita bisa tahu hasilnya.
Kita bisa ke dokter kandungan untuk konsultasi.”
Nanda : “Tapi
aku boleh melakukan itu setiap hari, kan?”
Ana : “Kau
harus libur saat aku datang bulan?”
Nanda : “Kau
mau ke bulan?”
”Oh, Tuhan.
Kenapa aku mendapat suami seperti dia? Aku akan cepat mati karena terlalu lelah
melayani nafsunya dan juga menjawab pertanyaan bodohnya itu.”
Ana : “Datang
bulan itu tamu bulananku.”
Nanda :
“Laki-laki atau perempuan?”
Ana tertawa
mendengar pertanyaan Nanda, apalagi suaminya itu bertanya dengan wajah serius.
Ana : “Tamu
bulanan itu bukan orang. Hihihi...”
Nanda : “Kalau
dia laki-laki, gak boleh datang. Kalau dia perempuan, boleh datang tapi kenapa
aku harus libur?”
Ana : “Suamiku,
aku akan sakit kalau kau tidak libur saat tamu bulananku datang.”
Nanda : “Gitu.
Kau tidak sedang membohongi aku kan?”
Ana : “Aku
tidak berani bohong padamu, suamiku. Oh, aku sangat lapar. Boleh aku makan
dulu?”
Nanda : “Tekan
nomor 1 kalau kau perlu sesuatu.”
Ana : “Kau yang
bilang. Aku tidak enak.”
Nanda : “Mereka
semua sudah tahu kalau kau istriku. Minta saja.”
Ana terpaksa
melakukannya sendiri. Ia bicara dengan sopan dan sedikit gugup mendengar
seseorang di seberang sana memanggilnya nyonya muda pertama.
Ana : “Baru
kali ini aku memesan makanan pake grogi begini.”
Nanda : “Kau
harus terbiasa. Seperti kau terbiasa duduk diatas tubuhku.”
Ana tersenyum
sambil membelai pipi Nanda. Ia bergeser dan berbaring di samping suaminya itu.
__ADS_1
Ana : “Aku
ngantuk sekali. Jam berapa Nadia pulang sekolah?”
Nanda : “Hari
ini jam 3 karena ada extra. Kau mau menjemputnya nanti?”
Ana : “Ya.
Bangunkan aku ya.”
Nanda : “Makan
dulu. Baru kau boleh tidur.”
Tok, tok, tok.
Seseorang mengetuk pintu kamar Nanda. Ia menarik selimut menutupi tubuh mereka
berdua sebelum mengatakan ‘masuk’.
Beberapa
pelayan masuk sambil membawa meja pendek untuk diletakkan diatas tempat tidur
Nanda. Nanda dan Ana duduk diatas tempat tidur dan makanan segera di hidangkan.
Ana : “Terima
kasih makanannya.”
Nanda tersenyum
melihat nafsu makan Ana yang sangat baik. Ia menghabiskan telur gulung dan juga
potongan daging ayam asam manis.
Nanda : “Kau
suka?”
Ana : “Ya, itu
makanan kesukaanku. Kau suka apa?”
Nanda : “Aku
suka makan kamu.”
Ana : “Kau
sangat nakal. Bayi besarku yang tampan. Jangan makan aku ya. Makan wortel ini.”
Pelayan yang
masih berdiri di dekat mereka melongo melihat Ana menyuapi Nanda dengan wortel.
Nanda tidak suka makan wortel. Ia akan menyingkirkan piring makannya kalau ada
Mereka sudah
hampir mati berdiri bersiap mendengar kemarahan Nanda. Sebentar lagi akan ada
beberapa body guard masuk dan menyeret mereka keluar dari kamar. Tapi mereka
tidak bersalah. Ana yang minta dibuatkan capcay dengan banyak wortel. Keempat
pelayan itu sudah memucat menunggu nasibnya.
Ana : “Kamu gak
suka wortel?”
Nanda : “Nggak.
Rasanya gak enak.”
Ana : “Maaf,
sayang. Aku tidak tahu. Apa kau baik-baik saja?”
Nanda : “Tidak
buruk kalau kau suapi.”
Ana : “Apa kau
sedang menggombaliku sekarang?”
Nanda :
“Seperti itu gombal?”
Ana mengangguk
sambil tersenyum manis. Mereka menghabiskan makanan itu dan pelayan membereskan
semuanya.
Nanda : “Aku
gak suka wortel. Lidahku rasanya aneh, cium aku.”
Ana : “Kau
tidak akan berhenti kalau aku menciummu.”
Ana duduk di
pinggir tempat tidur. Ia merapatkan selimut menutupi tubuhnya. Matanya menatap
sekeliling kamar yang sedikit menyeramkan karena warna hitam di dindingnya.
Ana : “Suamiku,
__ADS_1
kenapa kamarmu berwarna hitam?”
Nanda : “Tidak
semua. Ada yang warnya putih.”
Ana : “Trus
kenapa warnanya seperti itu?”
Nanda : “Aku
hanya tidak mau kamar ini terlalu terang. Apa kau tahu pekerjaanku yang lain?”
Ana :
“Maksudmu? Kau punya dua pekerjaan?”
Nanda memeluk
tubuh Ana dari belakang, ia menyandarkan dagunya ke pundak Ana. Dirinya tergoda
ingin mencium leher Ana lagi.
Ana : “Kenapa kau
gak jawab pertanyaanku, suamiku?”
Nanda : “Akan
kukatakan kalau kau bilang kau cinta padaku.”
Ana : “Oh,
ayolah. Kita sama-sama tahu hal seperti itu belum terjadi. Kau yang memaksaku
menikahimu.”
Nanda : “Kamu
yang duluan memintanya. Apa kau lupa?”
Ana : “Trus apa
alasanmu setuju? Apa kau tidak takut aku akan memoroti hartamu?”
Nanda : “Aku
yakin pilihan Nadia tidak salah. Semua orang yang diinginkan Nadia adalah
orang-orang baik yang sangat menyayanginya. Charlie juga dulu gitu.”
Ana : “Oh ya? Dimana
kalian bertemu Charlie? Tunggu, dimana bajuku?”
Nanda : “Kamu
gak boleh pakai baju.”
Ana : “Tapi
kenapa? Aku bisa masuk angin.”
Nanda : “Aku
akan repot membukanya nanti.”
Ana : “Apa kau
berencana mengurungku di kamar terus? Aku harus kerja. Kita harus jemput Nadia
juga.”
Nanda semakin
mengeratkan pelukannya ke tubuh Ana. Ana tertawa melihat sikap manja Nanda
padanya. Pria tampan itu seperti bayi besar ketika berada di dekatnya.
Ana : “Suamiku,
lepaskan bathrobe-mu.”
Nanda : “Apa
kau mau lagi?”
Nanda melepas
bathrobe-nya dan Ana langsung memakai bathrobe itu. Ia bangkit dari atas
ranjang, duduk di sofa.
Nanda : “Kembali
kesini! Lepas bathrobenya!”
Ana : “Nggak!
Aku capek berbaring terus.”
Nanda mengikuti
Ana ke sofa. Ia berjalan telanjang tanpa berusaha menutupi wilayah pribadinya.
Ana memalingkan wajahnya yang sudah merona.
*****
Klik
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.
__ADS_1