Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Menikahlah denganku


__ADS_3

Nonstop cerita tentang Deril dan Mila dulu ya, author sengaja gak misahin biar gak bingung bacanya.


Happy reading..!!


Please comment kalau masih mau lagi cerita tentang mereka berdua.


🌺🌺🌺🌺🌺


Deril mengatur nafasnya yang tidak teratur, ia melihat Mila memalingkan wajahnya. Deril melepaskan tali yang mengikat tangan Mila dan menarik selimut menutupi tubuh mereka,


Deril : “La… kamu marah?”


Mila : “…”


Deril : “Katakan sesuatu?”


Mila : “…”


Deril : “Istirahatlah…”


Deril  bangkit dari ranjang, mengambil bathrobe dari lemari dan mengambil ponselnya. Ia duduk di sofa kamar, sambil mengetik sesuatu dengan cepat. Setelah mendapat notifikasi berhasil, Deril kembali mendekati Mila,


Deril : “La… tolong lihat aku..”


Mila berbalik dengan enggan menatap Deril dengan mata yang masih berlinang air mata. Deril mengangkat tubuh Mila yang masih terbungkus selimut dan berjalan ke dekat jendela besar di kamar apartmentnya.


Deril : “Buka tirainya.”


Mila menarik tirai agar terbuka lebar dan kembali menatap Deril, ia menurunkan Mila dan memeluknya dari belakang.


Deril : “Coba kau lihat running text di seberang.”


Mata Mila terbelalak melihat running text diatas gedung di seberang apartment Deril.


“MILA, AKU MENCINTAIMU! MENIKAHLAH DENGANKU!”


Kata-kata itu meluncur menghilang dan berganti dari bunga mawar dan cincin. Mila belum melepaskan tatapannya dari running text itu yang kembali menampilkan kata-kata awal. Deril melepaskan pelukannya, membiarkan Mila tetap berdiri di depan jendela.


Sinar matahari pagi mulai terpancar dari sela-sela running text membuat mata Mila silau, ketika ia berbalik, Deril sudah berlutut di depannya membawa rangkaian bunga mawar yang besar dan sebuah cincin.


Deril : “Aku tahu ini sangat mendadak, bahkan bukan di tempat yang romantis, dan dalam keadaan kita yang terlihat kacau karena habis bercinta.”


Mila melirik ranjang yang berantakan dan kotor.


Deril  : “Tapi aku tidak bisa memikirkan tempat lain lagi saat ini. Sampai sekarang kau belum bicara padaku, aku benar-benar tidak mau minta maaf untuk apa yang baru saja kulakukan karena aku tidak menyesalinya. Aku melakukan itu padamu murni karena cinta, bukan hanya hasrat saja dan cintaku sama sekali tanpa penyesalan.


Mila, menikahlah denganku.”


Mila : “Apa kau sungguh-sungguh? Bukan hanya sebatas tanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan?”


Deril : “Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu, tapi aku belum menyadarinya sampai tadi saat aku terbangun dan melihatmu tertidur disampingku.”


Mila : “Aku masih ragu, aku takut kamu mempermainkan aku.”


Deril : “Aliya akan menghajarku kalau aku berani melakukannya. Terima aku ya…atau…”


Mila : “Atau apa?” Mila melangkah mundur karena Deril tiba-tiba bangkit dan mendekatinya.


Deril : “Aku akan membuatmu mencintaiku…”


Deril merangkul pinggang Mila, mereka bertatapan lama, Deril menunduk mencoba mencium Mila yang langsung di respon Mila dengan balas menciumnya.


Deril : “Aku mencintaimu…”

__ADS_1


Mila : “Aku juga mencintaimu…”


Deril tersenyum sangat bahagia, ia mengangkat Mila yang reflex memeluk kepala Deril.


Deril : “Kita mandi yuk. Aku sudah lapar.”


Mila : “Ka… kau saja yang mandi duluan.”


Deril : “Apa kau bisa mandi sendiri?”


Mila : “Aku bisa! Turunkan aku.”


Deril menurunkan Mila, ia mencoba jalan tapi tubuhnya masih terasa sakit. Mila hampir jatuh, kalau Deril tidak menangkapnya.


Deril : “Masih berani bilang bisa mandi sendiri, aku tidak akan melakukannya lagi di dalam sana.”


Mila hanya bisa menuruti Deril, mereka mandi bersama dan keluar setengah jam kemudian,


Deril : “Aku akan masak sarapan. Kamu mau nunggu di kamar atau ikut ke dapur?”


Mila : “Ak… Aku akan ganti seprai ranjangmu dulu. Bagaimana kalau nodanya tidak bisa hilang?”


Deril : “Biarkan saja, ART akan mengurusnya nanti. Kalaupun tidak mau hilang, kenapa? Aku tidak keberatan dengan hasil percintaan kita semalam.”


Mila : “ART mu akan tahu kalau kita sudah…”


Deril : “Kalau dia tahu, mama dan papaku juga akan tahu. Bersiaplah malam ini kita akan bertemu mereka, itupun kalau mereka ada disini. Aku tidak tahu jadwal mereka.”


Mila : “Kenapa kau santai sekali?! Aku malu, Ril?”


Deril : “Jangan panggil aku Ril, aku gak suka, itu panggilan Cecil untuk Aril ketika mereka bercinta. Ah, aku belum cerita kalau aku punya saudara kembar ya.”


Mila : “Kau kembar? Lalu aku harus panggil apa?”


Mila : “Sa… sayang, berhentilah meraba punggungku.”


Saat itu mereka hampir selesai berpakaian dan Deril membantu Mila menarik retsleting dress-nya. Pintu kamar Deril diketuk seseorang,


Deril : “Sepertinya ART-ku sudah datang.”


Deril membuka pintu, terlihat ART wanita paruh baya berdiri di depan pintu,


ART : “Selamat pagi, tuan Deril. Sarapan sudah siap untuk dua orang. Bisa saya bersihkan kamar Tuan sekarang?”


Deril : “Masuklah, bi. Kenalkan ini Mila, pacarku.”


Mila : “Halo, bibi.”


ART : “Silahkan sarapan dulu, non.”


Deril mengajak Mila ke ruang makan, berjalan perlahan karena Mila masih merasa nyeri, diatas meja makan sudah tersedia sarapan untuk dua orang.


Mila : “Bagaimana ART-mu tahu kalau ada aku disini?”


Deril : “Sepatumu kan ada di rak sepatu. Bibi itu orangnya sangat teliti, bahkan dia tahu kalau ada barang yang geser sedikit saja. Lagipula, aku tidak pernah membawa orang lain ke apartmentku.”


Kring! Kring! Deril dan Mila menoleh menatap pintu depan, bel apartment terus berbunyi, menandakan orang yang ada di luar sedang tidak sabar. Deril membuka pintu dan bergegas menyingkir karena orang tuanya masuk dengan terburu-buru.


Mila yang masih duduk di meja makan, segera bangun dan berdiri dengan kaku. Ia memasang wajah tersenyum, sedikit meringis karena tubuhnya terasa nyeri lagi.


Mama Deril : “Nak, makanlah lagi. Kau mau sesuatu? Deril, apa kamu gak punya susu?”


Mila bingung karena mama Deril tiba-tiba mendekatinya dan memintanya duduk lagi. Papa Deril menepuk kepala anaknya terlihat sangat bangga.

__ADS_1


Deril : “Mama, papa ngapain kesini?”


Mama Deril : “Tentu saja, mau lihat calon mantu. Tahu begini, dari dulu mama suruh kamu ke Indonesia.”


Deril : “Mah… Mila bingung tuch, mama, papa duduk dulu ya. Deril buatin teh.”


ART : “Saya saja, tuan.” ART Deril tiba-tiba muncul entah darimana.


Deril mengajak Mila duduk di sofa, langkah Mila sedikit tertahan karena merasa nyeri. Mama Deril yang melihat itu, bisik-bisik ke papa Deril yang cuma mengangguk. Blush! Wajah Mila memerah seperti tomat segar.


Deril : “Mah, pah, kenalkan ini Mila, pacar… eh, calon istri Deril.” Mila hampir bangkit dari duduknya hendak mencium tangan mama dan papa Deril, tapi dilarang mama Deril.


Mama Deril : “Mila sayang, jangan bergerak dulu kalau masih sakit.” Mila menunduk, tidak berani menatap kedua orang tua Deril. Ia ingin masuk ke lubang yang dalam karena merasa sangat malu.


Deril : “Mah, Mila gak salah, itu Deril yang maksa dia tadi.”


Mama Deril : “Apa Mila merasa terpaksa? Kalian tidak saling mencintai?”


Deril : “Kami saling cinta, kok. Iya, kan sayang?”


Mila hanya mengangguk, tambah malu lagi karena Deril memanggilnya sayang.


Papa Deril : “Jadi kapan kalian rencana menikah? Papa akan segera menghubungi Boy untuk persiapan pernikahan.”


Deril : “Secepat yang papa bisa. Mila, kamu setuju?”


Mila : “Iy… iya.”


Papa Deril : “Seminggu mungkin bisa, kita adakan di Indonesia atau disini?”


Mila : “Se…seminggu?” Mila sedang membayangkan mamanya marah-marah dengan roll di semua rambutnya,


mempersiapkan pernikahan yang singkat.


Deril : “Kamu keberatan, sayang? Bagaimana kalau benihku di dalam perutmu sudah jadi bayi sekarang, apa kau mau menunggu lagi?”


Mila menelan salivanya yang terasa keras seperti batu, Deril bahkan tidak mengecilkan suaranya ketika mengatakan hal memalukan seperti itu. Mila mencubit lengan Deril pelan, mengatakan kalau dia sangat malu.


Tiba-tiba pintu apartment Deril terbuka, seseorang yang terlihat mirip dengan Deril masuk bersama seorang wanita cantik dan seksi.


Aril : “Bro, apa kau akan menikah?!”


Deril : “Iya. Mila, ini Aril, saudara kembarku dan Cecil, pacar Aril sekaligus sekretarisku di kantor.”


Aril dan Cecil duduk di sofa setelah bergantian mencium tangan orang tua mereka.


Aril : “Tapi apa kakak ipar sudah tahu tentang…”


Cecil mencubit Aril, menghentikan kata-katanya, membuat Mila memandang Deril, bingung.


Deril : “Aku akan cerita pada Mila sekarang.”


Papa Deril : “Kami akan pergi dulu, kabari papa kalau kalian sudah selesai.”


Deril mengangguk dan kembali menatap Mila.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


-------


__ADS_2