
Eps. 18 - Pernikahan
Hari pernikahan tiba juga. Sejak pagi, semua orang sangat sibuk menjalankan perannya masing-masing.
Joya tampak sedang dirias di dalam kamar pengantinnya, sementara Boy bersiap-siap di kamar lainnya.
Setelah selesai ganti pakaian dengan baju pengantin, Joya ditinggalkan di kamar pengantinnya sendirian. Ia berdiri di balik tirai yang menutupi sebagian kamar itu untuk memudahkan berganti baju.
Joya menoleh saat ia mendengar pintu kamar di buka seseorang.
Joya : "Siapa?"
Boy : "Ini aku."
Joya terdiam saat melihat sosok bayangan mendekati tirai.
Joya : "Tuan gak boleh masuk. Pamali katanya."
Boy : "Kamu gak kangen sama aku? Kita uda dua hari gak ketemu."
Dua hari belakangan, Boy sama sekali gak boleh ketemu Joya. Ia baru kembali dari apartmentnya pagi hari ini.
Joya : "Gak kangen."
Boy mengulurkan tangannya ke balik tirai, ia membawa sesuatu di tangannya.
Boy : "Buat kamu. Buka ya."
Joya ragu-ragu awalnya tapi ia menerima kotak itu dan membukanya.
Sebuah cincin dengan berlian yang besar berbinar di dalam kotak beludru hitam itu.
Joya : "Tuan, ini..."
Boy : "Ulurkan tangan kananmu."
Boy memegang tangan Joya dan memasangkan cincin itu di jari manis kanannya. Joya sedikit tertarik ke depan saat Boy menarik tangan kanan Joya dan mencium jemarinya yang beraroma melati.
Boy : "Kamu harum banget."
Joya : "Tuan... Lepasin..."
Boy : "Joya, aku uda gak sabar."
Joya : "Gak sabar ngapain, tuan?"
Boy : "Mendengarmu memanggilku sayang. Boleh sekarang?"
Joya : "Nanti aja ya, tuan. Saya malu."
Boy : "Nanti malam panggil aku sayang ya."
Joya : "Saya gak janji, tuan."
Keduanya berdiri saling berhadapan dengan kedua tangan mereka menyatu satu sama lain. Tirai masih menutupi wajah Joya dari pandangan Boy.
Tiba-tiba Ny. Besar masuk ke dalam kamar pengantin, mengagetkan mereka.
Ny. Besar : "Astaga, Boy!! Kamu gak boleh disini. Keluar!!"
Boy : "Bu, bentar aja. Boy baru ketemu Joya. Janji gak liat mukanya."
Ny. Besar : "Boy... Keluar...!"
Boy : "Tapi bu..."
Ny. Besar membuka pintu lebih lebar.
Ny. Besar : "Keluar atau ibu panggil security."
__ADS_1
Boy : "Bu... Tega banget sama anak sendiri..."
Boy melengos keluar dari kamar pengantin mereka. Joya terkikik geli mendengar Boy dimarahi Ny. Besar.
Ny. Besar : "Joya...?"
Joya : "Iya, Ny. Besar."
Ny. Besar : "Lupa lagi manggil ibu."
Joya : "Maaf, Ny... ibu."
Ny. Besar menyibak tirai dan terpana melihat penampilan Joya yang sempurna.
Ny. Besar : "Pantas saja Boy gak sabaran mau ketemu kamu. Luar biasa cantiknya."
Joya merona digoda Ny. Besar. Ia melihat Ny. Besar membawa sebuah kotak dan membukanya.
Ny. Besar : "Coba pakai ini, Joya."
Joya melihat perhiasan emas berbatu berlian di dalam kotak itu. Joya tahu itu salah satu dari enam set perhiasan yang disiapkan Ny. Besar untuk putri dan menantu perempuannya.
Entah kenapa Joya sedikit takut memakainya,
Ny. Besar : "Ayo dipakai. Kenapa, Joya?"
Joya : "Ny.... bu, Joya gak berani pakai. Kalau hilang gimana?"
Ny. Besar : "Harus dipakai. Gak usah takut."
Joya hanya pasrah saat Ny. Besar memanggil Bi Ijah untuk membantu Joya memakai semua perhiasan itu. Joya terlihat semakin cantik dan berkilau.
Ny. Besar : "Ini baru sesuai dengan bayangan ibu. Joya sudah siap? Sebentar lagi akad akan dimulai."
Joya mengangguk malu-malu.
Ny. Besar berjalan bersama Joya menuruni tangga rumah. Ijab sedang berlangsung di ruang tengah dan saat Joya sampai di tangga paling bawah, para saksi berteriak "sah! sah!"
Ny. Besar : "Ayo, kesana. Duduk di samping Boy."
Joya : "Baik, bu."
Boy menatap Joya yang sedang berjalan ke arahnya. Joya tersenyum dengan wajah sedikit merona, Boy baru saja menyelesaikan ijab kabul dengan baik dan sekarang Joya sah sebagai istrinya.
Joya duduk di samping Boy dan mereka semua berdoa bersama dipimpin penghulu. Joya mencium tangan Boy dan Boy mencium keningnya.
Setelah bertukar cincin, Boy menyerahkan mas kawin yang cukup berat pada Joya. Selain emas batangan, Boy juga memberikan uang tunai ratusan juta pada Joya.
Joya terkejut mendapatkan mas kawin sebanyak itu, ia hanya minta mas kawin seperangkat alat sholat saja pada Boy.
Joya : "Tuan, ini kebanyakan."
Boy : "Untukmu gak ada yang kebanyakan. Panggil aku sayang."
Joya tersipu malu dan menggeleng.
Boy : "Awas ntar malem ya."
Joya menunduk malu.
Acara ijab dilanjutkan dengan resepsi session pertama. Ny. Besar menyebar sekitar 750 undangan karena Boy tidak mau pernikahannya terlalu ramai.
Dan 250 undangan pertama datang pada saat acara ijab. Boy dan Joya duduk bersama di pelaminan, mereka mulai menyalami para tamu undangan yang datang.
Sesekali Boy menyenggol lengan Joya, mencoba menarik perhatiannya.
Joya : "Tuan kenapa sich? Uda lapar ya?"
Joya celingukan mencari jam dinding. Sebenarnya dia juga lapar.
__ADS_1
Boy : "Iya aku lapar."
Joya : "Apa kita boleh turun ngambil makanan dulu?"
Boy : "Kita langsung ke kamar aja. Aku mau makan kamu."
Joya sedikit menjauh dari Boy, jantungnya tiba-tiba deg-degan mendengar kata-kata Boy.
Joya : "Tuan... tamunya masih banyak."
Boy tersenyum melihat reaksi Joya. Ny. Besar yang melihat keduanya gelisah diatas pelaminan, menyuruh kakak Boy mengalihkan tamu undangan untuk langsung makan saja.
Boy dan Joya diminta ke meja khusus keluarga inti dan makan disana. Joya mengambilkan makanan untuk Boy. Ia juga tak lupa bertanya apa Ny. Besar sudah makan.
Ny. Besar : "Ibu sudah makan, nak. Makanlah dulu. Temani suamimu."
Joya melirik Boy yang masih menunggunya. Perlahan Joya berjalan mendekati Boy dan duduk disampingnya. Benar saja, baru Joya duduk, tangan Boy langsung nemplok di paha Joya.
Joya : "Tuan... Geli..."
Boy : "Dimana lagi yang geli? Aku mau tahu semuanya."
Joya : "Bu... Bukannya tuan sudah tahu dimana aja?"
Wajah Joya merona melihat tatapan Boy. Ia tersenyum malu dan terlihat semakin cantik.
Ketika Boy mendekat lagi, Joya menyodorkan sesendok nasi dengan lauknya pada Boy.
Joya : "Makan dulu, tuan."
Boy menikmati disuapin makan oleh Joya. Ia tak berhenti membuka mulutnya sampai nasi di piringnya habis.
Boy : "Kamu gak makan?"
Joya : "Sa... Saya? Nanti saja, tuan."
Boy berdiri mengambil sedikit nasi dan lauk untuk Joya.
Boy : "Ayo, makan. Aku suapin."
Joya : "Saya makan sendiri, tuan."
Boy tidak membiarkan Joya makan dengan tenang. Sesekali tangannya mengelus punggung dan paha Joya,
Joya : "Tuan... Jangan..."
Boy : "Kenapa? Kamu gak sabaran? Habis ini kita boleh ke kamar."
Joya semakin gugup, Boy merasakan tubuh Joya sedikit gemetar. Ia tersenyum,
Boy : "Tenang... Aku gak akan melakukannya sekarang kalau kamu belum siap. Tapi kita harus ganti baju untuk resepsi berikutnya."
Joya mengangguk malu. Ia menyelesaikan makannya dengan cepat.
Boy : "Mau nambah lagi?"
Joya : "Nggak, tuan."
Boy : "Ayo kita ke kamar."
Boy menuntun Joya berjalan menuju kamar mereka.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dan βDuren Manisβ dengan cerita yang gak kalah seru.
__ADS_1
Makasi banyak..
π΄π΄π΄π΄π΄