Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Bersabar terus


__ADS_3

Rian


senyum-senyum di belakang kemudi mobil melihat kemesraan Boy dan Joya di kursi


belakang. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit dan Boy terus nemplok di


pundak Joya.


Joya : “Mas,


bahuku sakit nich.”


Boy : “Oh,


maaf. Aku lupa ada bekas gigitanku disana.”


Boy menegakkan


tubuhnya dan Joya tersenyum gemas sambil mencubit pipi Boy. Sebenarnya lebam di


tubuhnya sudah tidak sakit lagi, tapi Joya hanya ingin menggoda Boy saja. Rian


menahan tawanya setengah mati melihat Joya memperlakukan Boy seperti anak


kecil.


Boy yang


menyadari pandangan Rian, segera menaikkan kaca gelap antara sopir dan


penumpang. Joya melihat hal itu dan teringat sesuatu.


Joya : “Tunggu


dulu. Ini mobil yang sering dipakai kak Rian dulu kan? Waktu antar jemput aku?”


Boy : “Iya.”


Joya : “Berarti


mas ada di mobil ini juga dong, waktu itu.”


Boy : “Iya.”


Joya : “Pantas


saja aku merinding gak jelas tiap kali masuk ke mobil ini. Mas sengaja ya.”


Boy : “Mau


gimana lagi. Kamu gak mau nikah sama aku waktu itu, harus nunggu kamu lulus.


Habis tu kerja. Joya, aku sudah jomblo 27 tahun trus harus nunggu 3 tahun lagi.


Keburu kering dong.”


Joya : “Kering?


Apanya yang kering?”


Boy : “Masa


kamu gak tau?”


Boy meraih


tangan Joya dan meletakkannya dibagian tubuh Boy yang membuat Joya berjengit.


Joya : “Mas,


ih. Ada kak Rian tuch di depan.”


Boy : “Dia gak


akan lihat apapun yang kita lakukan disini.”


Joya : “Kenapa


mas sampai beli mobil ini? Buat ngintai aku? Kak Rian! Hoi!”


Joya berteriak


heboh memanggil Rian yang tetap konsentrasi menyetir. Ia mengetuk kaca gelap


itu, tetap tidak ada reaksi dari Rian.


Boy : “Bisa


dibilang gitu. Kau tau apa yang kukhayalkan waktu kita berdua di mobil ini?”


Joya : “Hmm...?”


Boy : “Aku akan


menciummu seperti ini.”


Boy mencium


bibir Joya.


Boy : “Trus


membuka bajumu.”


Joya menahan


tangan Boy yang akan membuka bajunya.


Joya : “Trus


ngapain lagi, mas?”


Boy : “Bercinta


dengan panas. Kamu belum pernah nyoba kan?”


Joya


menggeleng, dia belum segila itu untuk melakukannya di dalam mobil. Joya


mendorong Boy yang sudah menghimpitnya ke pintu mobil.

__ADS_1


Joya : “Aku gak


mau disini, mas.”


Boy : “Kapan-kapan


kita harus mencobanya.”


Joya : “Iya,


kapan-kapan aja, gak tau kapan.”


Boy terkikik


geli melihat wajah Joya cemberut. Ia mendekat pada Joya lagi,


Boy : “Coba


tanya mbak Putri, ada gak gaya yang bagus buat di mobil.”


Joya : “Ich,


mas. Gak lucu. Malu banget nanya kayak gitu, tau.”


Boy : “Di kamar


mandi tadi kamu gak malu.”


Joya mencubit


lengan Boy sampai suaminya itu menjerit kesakitan. Rian menghentikan mobil Boy,


mereka sudah sampai di rumah Ny. Besar.


Boy menatap pintu


masuk rumah itu, ia menunduk sambil menurunkan kaca gelap dan wajah Rian terlihat


jelas di depan mereka.


Rian : “Tuan


mau turun?”


Joya : “Mas...”


Boy : “Rian,


hari ini ada meeting?”


Rian : “Ada,


tuan.”


Boy melihat


lagi ke pintu masuk. Joya menggenggam tangan Boy,


Joya : “Mas,


masuk bentar ya. Antar aku ke kamar. Habis itu mas ke kantor.”


Boy : “Kamu mau


Joya


mengangguk. Boy turun dari mobil, ia menggendong Joya dan Joya langsung


pura-pura tertidur.


Rian mengikuti


mereka, sambil membawa barang-barang Joya.


Ny. Besar


tampak duduk di ruang tengah bersama Ny. Lastri dan Ny. Putri. Mereka menunggu


kedatangan Joya karena dokter Risman sudah memberitahu kalau Joya pulang hari


ini. Boy menatap ketiganya dan kembali menunduk.


Ny. Putri : “Boy,


Joya kenapa?”


Boy : “Ketiduran,


mbak. Aku bawa ke kamar dulu.”


Boy melangkah


ke lantai 2 diikuti Rian. Setelah membukakan pintu kamar Boy dan meletakkan


barang-barang Joya di atas sofa, Rian keluar lagi dari kamar. Ia tersenyum


melihat Joya membantu Boy agar tidak canggung masuk ke rumah ibunya.


Boy


membaringkan Joya diatas tempat tidur mereka. Joya membuka matanya, merangkul


tengkuk Boy dan menciumnya.


Joya : “Sana ke


kantor dulu, mas. Aku gak pa-pa.”


Boy : “Aku


usahakan pulang cepat.”


Joya : “Iya,


mas. Aku tunggu disini.”


Boy tampak


enggan meninggalkan Joya tapi ia harus menjalankan kewajibannya sebagai


direktur utama perusahaan Ny. Besar. Boy keluar dari kamar, ia mengangguk pada

__ADS_1


Rian dan bergegas turun ke lantai bawah.


Sampai di depan


ibu dan kedua kakaknya, Boy menunduk lagi.


Boy : “Bu, mbak


Lastri, mbak Putri, Boy titip Joya. Boy harus ke kantor sekarang.”


Ny. Besar : “Ya,


ke kantor sana. Urus saja kantormu.”


Mendengar


kata-kata Ny. Besar, Boy menarik nafasnya pelan. Suaranya sudah bergetar


menahan tangisan.


Boy : “Boy...


akan segera pulang habis meeting.”


Mendengar suara


Boy yang tercekat, Ny. Lastri menggeleng pada ibunya. Boy berjalan cepat keluar


dari rumah Ny. Besar masuk ke mobilnya. Rian mengemudikan mobil itu menuju


kantor Boy. Sesekali Rian melihat Boy melalui kaca spionnya.


Tangan Rian


terulur menekan perekam suara di ponselnya. Ia mencoba memancing isi hati


bosnya itu.


Rian : “Tuan


gak pa-pa?”


Boy : “Apa aku


terlihat gak pa-pa?”


Rian : “Ny.


Besar tidak bermaksud seperti itu, tuan.”


Boy : “Mungkin,


Rian. Ibu terlalu menyayangi Joya sampai bisa mengabaikan aku seperti itu. Aku


tahu aku memang salah. Tapi aku anak kandungnya kan?”


Rian : “Iya, tuan...


Bos adalah anak bungsu Ny. Besar.”


Boy : “Dan


seharusnya anak bungsu paling disayang, kan? Anak bungsu paling bisa dimaafkan


kesalahannya. Tapi ini tidak. Aku merasa justru akulah menantu di rumah ibu.”


Rian : “Bos...”


Boy : “Bahkan


menantu di rumah ibu juga sudah dianggap seperti anak kandung sendiri.


Kesalahanku karena mencintai Joya terlalu dalam sampai menyakitinya. Salahku


terlalu cemburu dan tidak mempercayai Joya. Salahku...”


Rian : “Bos, sabarlah.”


Boy : “Ya, aku


akan sabar. Sabar menunggu Joya siap dan sekarang sabar menunggu ibu memaafkan


aku. Mau 3 tahun, mau 30 tahun, aku akan sabar...”


Boy tidak bisa


menahan tangisannya lagi. Dia sudah cukup hancur mendapati Joya terluka


karenanya dan sekarang ibunya bahkan tidak mau menatapnya. Boy mengambil tisu


di depannya dan mengusap wajah dan hidungnya.


Rian : “Apa


kita kembali saja, bos?”


Boy : “Tidak...


kita... harus ke kantor. Semakin... cepat selesai...semakin... cepat pulang.”


Rian tetap


menjalankan mobil menuju kantor Boy. Bagaimanapun ini adalah beban dan tanggung


jawab yang harus ditanggung Boy sejak ayahnya meninggal.


Tanpa


sepengetahuan Boy, Rian mengirimkan rekaman percakapannya dengan Boy tadi pada


Ny. Lastri.


*****


Boy kasian


banget ya. Ibunya lebih sayang sama Joya daripada Boy sendiri.


Vote dong, kk. Biar saya makin semangat up-nya. Gratis kok.


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2