
Rian
senyum-senyum di belakang kemudi mobil melihat kemesraan Boy dan Joya di kursi
belakang. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit dan Boy terus nemplok di
pundak Joya.
Joya : “Mas,
bahuku sakit nich.”
Boy : “Oh,
maaf. Aku lupa ada bekas gigitanku disana.”
Boy menegakkan
tubuhnya dan Joya tersenyum gemas sambil mencubit pipi Boy. Sebenarnya lebam di
tubuhnya sudah tidak sakit lagi, tapi Joya hanya ingin menggoda Boy saja. Rian
menahan tawanya setengah mati melihat Joya memperlakukan Boy seperti anak
kecil.
Boy yang
menyadari pandangan Rian, segera menaikkan kaca gelap antara sopir dan
penumpang. Joya melihat hal itu dan teringat sesuatu.
Joya : “Tunggu
dulu. Ini mobil yang sering dipakai kak Rian dulu kan? Waktu antar jemput aku?”
Boy : “Iya.”
Joya : “Berarti
mas ada di mobil ini juga dong, waktu itu.”
Boy : “Iya.”
Joya : “Pantas
saja aku merinding gak jelas tiap kali masuk ke mobil ini. Mas sengaja ya.”
Boy : “Mau
gimana lagi. Kamu gak mau nikah sama aku waktu itu, harus nunggu kamu lulus.
Habis tu kerja. Joya, aku sudah jomblo 27 tahun trus harus nunggu 3 tahun lagi.
Keburu kering dong.”
Joya : “Kering?
Apanya yang kering?”
Boy : “Masa
kamu gak tau?”
Boy meraih
tangan Joya dan meletakkannya dibagian tubuh Boy yang membuat Joya berjengit.
Joya : “Mas,
ih. Ada kak Rian tuch di depan.”
Boy : “Dia gak
akan lihat apapun yang kita lakukan disini.”
Joya : “Kenapa
mas sampai beli mobil ini? Buat ngintai aku? Kak Rian! Hoi!”
Joya berteriak
heboh memanggil Rian yang tetap konsentrasi menyetir. Ia mengetuk kaca gelap
itu, tetap tidak ada reaksi dari Rian.
Boy : “Bisa
dibilang gitu. Kau tau apa yang kukhayalkan waktu kita berdua di mobil ini?”
Joya : “Hmm...?”
Boy : “Aku akan
menciummu seperti ini.”
Boy mencium
bibir Joya.
Boy : “Trus
membuka bajumu.”
Joya menahan
tangan Boy yang akan membuka bajunya.
Joya : “Trus
ngapain lagi, mas?”
Boy : “Bercinta
dengan panas. Kamu belum pernah nyoba kan?”
Joya
menggeleng, dia belum segila itu untuk melakukannya di dalam mobil. Joya
mendorong Boy yang sudah menghimpitnya ke pintu mobil.
__ADS_1
Joya : “Aku gak
mau disini, mas.”
Boy : “Kapan-kapan
kita harus mencobanya.”
Joya : “Iya,
kapan-kapan aja, gak tau kapan.”
Boy terkikik
geli melihat wajah Joya cemberut. Ia mendekat pada Joya lagi,
Boy : “Coba
tanya mbak Putri, ada gak gaya yang bagus buat di mobil.”
Joya : “Ich,
mas. Gak lucu. Malu banget nanya kayak gitu, tau.”
Boy : “Di kamar
mandi tadi kamu gak malu.”
Joya mencubit
lengan Boy sampai suaminya itu menjerit kesakitan. Rian menghentikan mobil Boy,
mereka sudah sampai di rumah Ny. Besar.
Boy menatap pintu
masuk rumah itu, ia menunduk sambil menurunkan kaca gelap dan wajah Rian terlihat
jelas di depan mereka.
Rian : “Tuan
mau turun?”
Joya : “Mas...”
Boy : “Rian,
hari ini ada meeting?”
Rian : “Ada,
tuan.”
Boy melihat
lagi ke pintu masuk. Joya menggenggam tangan Boy,
Joya : “Mas,
masuk bentar ya. Antar aku ke kamar. Habis itu mas ke kantor.”
Boy : “Kamu mau
Joya
mengangguk. Boy turun dari mobil, ia menggendong Joya dan Joya langsung
pura-pura tertidur.
Rian mengikuti
mereka, sambil membawa barang-barang Joya.
Ny. Besar
tampak duduk di ruang tengah bersama Ny. Lastri dan Ny. Putri. Mereka menunggu
kedatangan Joya karena dokter Risman sudah memberitahu kalau Joya pulang hari
ini. Boy menatap ketiganya dan kembali menunduk.
Ny. Putri : “Boy,
Joya kenapa?”
Boy : “Ketiduran,
mbak. Aku bawa ke kamar dulu.”
Boy melangkah
ke lantai 2 diikuti Rian. Setelah membukakan pintu kamar Boy dan meletakkan
barang-barang Joya di atas sofa, Rian keluar lagi dari kamar. Ia tersenyum
melihat Joya membantu Boy agar tidak canggung masuk ke rumah ibunya.
Boy
membaringkan Joya diatas tempat tidur mereka. Joya membuka matanya, merangkul
tengkuk Boy dan menciumnya.
Joya : “Sana ke
kantor dulu, mas. Aku gak pa-pa.”
Boy : “Aku
usahakan pulang cepat.”
Joya : “Iya,
mas. Aku tunggu disini.”
Boy tampak
enggan meninggalkan Joya tapi ia harus menjalankan kewajibannya sebagai
direktur utama perusahaan Ny. Besar. Boy keluar dari kamar, ia mengangguk pada
__ADS_1
Rian dan bergegas turun ke lantai bawah.
Sampai di depan
ibu dan kedua kakaknya, Boy menunduk lagi.
Boy : “Bu, mbak
Lastri, mbak Putri, Boy titip Joya. Boy harus ke kantor sekarang.”
Ny. Besar : “Ya,
ke kantor sana. Urus saja kantormu.”
Mendengar
kata-kata Ny. Besar, Boy menarik nafasnya pelan. Suaranya sudah bergetar
menahan tangisan.
Boy : “Boy...
akan segera pulang habis meeting.”
Mendengar suara
Boy yang tercekat, Ny. Lastri menggeleng pada ibunya. Boy berjalan cepat keluar
dari rumah Ny. Besar masuk ke mobilnya. Rian mengemudikan mobil itu menuju
kantor Boy. Sesekali Rian melihat Boy melalui kaca spionnya.
Tangan Rian
terulur menekan perekam suara di ponselnya. Ia mencoba memancing isi hati
bosnya itu.
Rian : “Tuan
gak pa-pa?”
Boy : “Apa aku
terlihat gak pa-pa?”
Rian : “Ny.
Besar tidak bermaksud seperti itu, tuan.”
Boy : “Mungkin,
Rian. Ibu terlalu menyayangi Joya sampai bisa mengabaikan aku seperti itu. Aku
tahu aku memang salah. Tapi aku anak kandungnya kan?”
Rian : “Iya, tuan...
Bos adalah anak bungsu Ny. Besar.”
Boy : “Dan
seharusnya anak bungsu paling disayang, kan? Anak bungsu paling bisa dimaafkan
kesalahannya. Tapi ini tidak. Aku merasa justru akulah menantu di rumah ibu.”
Rian : “Bos...”
Boy : “Bahkan
menantu di rumah ibu juga sudah dianggap seperti anak kandung sendiri.
Kesalahanku karena mencintai Joya terlalu dalam sampai menyakitinya. Salahku
terlalu cemburu dan tidak mempercayai Joya. Salahku...”
Rian : “Bos, sabarlah.”
Boy : “Ya, aku
akan sabar. Sabar menunggu Joya siap dan sekarang sabar menunggu ibu memaafkan
aku. Mau 3 tahun, mau 30 tahun, aku akan sabar...”
Boy tidak bisa
menahan tangisannya lagi. Dia sudah cukup hancur mendapati Joya terluka
karenanya dan sekarang ibunya bahkan tidak mau menatapnya. Boy mengambil tisu
di depannya dan mengusap wajah dan hidungnya.
Rian : “Apa
kita kembali saja, bos?”
Boy : “Tidak...
kita... harus ke kantor. Semakin... cepat selesai...semakin... cepat pulang.”
Rian tetap
menjalankan mobil menuju kantor Boy. Bagaimanapun ini adalah beban dan tanggung
jawab yang harus ditanggung Boy sejak ayahnya meninggal.
Tanpa
sepengetahuan Boy, Rian mengirimkan rekaman percakapannya dengan Boy tadi pada
Ny. Lastri.
*****
Boy kasian
banget ya. Ibunya lebih sayang sama Joya daripada Boy sendiri.
Vote dong, kk. Biar saya makin semangat up-nya. Gratis kok.
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.