
Eps. 20 – Membujuk tante Ana
Carol : “Mana, kak?”
Nando melongo melihat Carol langsung tersenyum manis seperti Nadia. Istrinya itu terlihat
seperti kucing kecil yang menunggu diberi makanan.
Nando : “Hais, sia-sia aku membelamu. Kamu mau es krim?”
Carol : “Iya. Mana?”
Nando : “Di kulkas banyak, tapi fokus dulu ya. Ini Bu Ana gimana?”
Carol : “Ayo, kita lihat mereka.”
Mereka bertiga kembali ke ruang tamu dan melihat Nadia sudah tertidur pulas di pelukan Ana.
Joya baru selesai memasang plester ke kedua lutut dan siku Ana.
Ana : “Nando, ini adikmu?”
Nando : “Iya, bu Ana. Maaf, biar saya yang gendong.”
Nadia masih belum mau melepaskan pelukannya. Akhirnya Ana meminta ijin untuk membawa Nadia
ke kamarnya. Nanda menawarkan diri untuk mengantar Ana ke kamar Nadia. Nanda
membantu Ana bangun dan ikut memegangi Nadia agar tidak jatuh. Mereka yang
melihat kedekatan Ana dan Nanda jadi senyum-senyum sendiri.
Nando : “Kita lihat, kakak bisa diandalkan gak.”
Carol : “Kamu yakin kakak ipar bisa tanpa bantuan kita?”
Nando memberi tanda pada Charlie untuk mengikuti Nanda. Mereka hanya perlu menunggu sampai
Nanda dan Ana kembali ke ruang tamu.
Tapi sampai lewat sedikit dari waktu makan siang, hanya Charlie yang kembali. Itupun
langsung keluar dari rumah tanpa mengatakan apa-apa. Nando mengajak mereka
makan siang duluan sambil menunggu. Jiwa kepo Joya sudah meronta tidak sabar
menunggu apa yang akan terjadi antara Nanda dan Ana.
*****
Apa yang terjadi pada mereka?
Nadia terbangun saat Ana ingin membaringkannya diatas ranjangnya yang dominan berwarna ungu
muda. Ia mengajak Ana bermain sambil terus bertanya tentang banyak hal pada
Ana. Sedangkan Nanda, duduk di samping mereka, sibuk melakukan permintaan Nadia
untuk menyiapkan mainan yang diinginkannya.
Kalau sudah seperti itu, Nanda akan menyuruh Charlie pergi mengurus hal lain. Mereka akan bermain
sampai sore hari dan bisnis Nanda harus ada yang mengawasi.
Gruk! Perut Ana berbunyi tanda dia sudah lapar. Wajah Ana memerah ketika Nadia dan Nanda menatapnya
karena bunyi perutnya.
__ADS_1
Nadia : “Tante laper ya.”
Ana : “Iya, sayang. Tante boleh pulang gak? Bentar lagi sore loh. Tante juga mau mandi.”
Nadia : “Makan disini aja, tante. Tante mau makan apa? Ada koki yang bisa masak semua
makanan.”
Ana : “Oh, tante gak enak, sayang. Kasi tante pulang dulu ya.”
Nadia langsung pasang wajah cemberut, bersiap-siap nangis. Tapi Ana langsung berkata dengan
tegas,
Ana : “Nadia. Nadia, anak yang pinter kan? Nadia sayang kan sama tante?”
Nadia mengangguk, wajahnya sudah normal lagi. Ia terlihat sangat polos dengan mata
bulatnya yang bersinar menatap Ana.
Ana : “Kalau gitu, Nadia pasti kasi ijin tante pulang dulu. Tante gak boleh lama-lama
disini, sayang.”
Nadia : “Kenapa?”
Wajah Nadia terlihat sangat menggemaskan saat memasang mode anak kucing. Ana menakupkan
kedua tangannya ke pipi Nadia.
Ana : “Aduh, gemes. Imut banget sich kamu. Tante kan cuma tamu. Tamu itu gak boleh lama-lama
bertamu. Tante boleh pulang ya.”
Nadia : “Aku ikut, tante.”
Ana : “Eh, gak boleh, sayang. Kamu disini sama kak Nanda ya. Main sama kak Nanda.”
Ana mengelus rambut Nadia dengan lembut,
Ana : “Hayo, jangan nangis ya. Nanti wajah cantiknya pergi, gak balik lagi loh.”
Nadia : “Gak mau. Tante gak boleh pergi. Kakak, tante Ana gak boleh pergi.”
Nanda langsung memasang mode waspada. Ini permintaan pertama Nadia yang paling sulit ia
lakukan.
Nanda : “Nadia, lepasin dulu tante Ana. Kakak mau bicara sama tante Ana sebentar. Kamu makan
dulu ya sama bibik.”
Nadia : “Iya, kak. Tapi tante Ana gak boleh pulang ya.”
Nanda : “Iya.”
Nanda mengajak Ana ke ruangan sebelah. Entah bagaimana, di ruangan itu sudah disiapkan meja
dan ada pelayan yang siap menghidangkan makanan untuk mereka berdua.
Nanda : “Silakan dinikmati, nona Ana.”
Ana : “Terima kasih, tuan Nanda. Sebaiknya saya pulang saja. Maaf, saya tidak bisa menerima
undangan makan siang anda.”
Ana berbalik ingin keluar, tapi dua orang bodyguard yang membawanya tadi sudah berdiri di
__ADS_1
depannya.
Ana : “Kalian lagi. Tolong minggir. Saya mau pulang.”
Bukannya minggir, lengan Ana diangkat dan ia didudukkan di kursi di depan Nanda. Ana
menatap sebal pada Nanda yang sudah mulai makan.
Ana : “Tuan Nanda, apa-apaan ini. Anda menyuruh bodyguard anda menculik saya dan sekarang
saya tidak diijinkan pergi. Saya rasa tuan Nanda sudah berlebihan.”
Nanda : “Silakan makan dulu. Saya perlu bicara dengan nona setelah ini. Kalau kita
sepakat, nona bisa keluar dari sini dengan aman.”
Ana : “Kalau tidak? Tuan mau apa?”
Nanda : “Saya akan mengurung anda disini. Tidak peduli anda manager di perusahaan tuan Boy.”
Ana memilih menghabiskan makanannya dulu agar bisa secepatnya mendengar apa yang akan
dikatakan Nanda. Setelah selesai makan, dua orang pelayan wanita membawa satu
set pakaian dan meminta Ana untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Ana : “Tuan Nanda, saya tidak perlu membersihkan diri. Tolong cepat katakan apa yang tuan
inginkan.”
Nanda : “Silakan membersihkan diri dulu. Atau pelayan bisa membantu nona membuka
pakaian nona disini.”
Ana mengepalkan tangannya, ia mulai kesal dan masuk ke kamar mandi. Kedua pelayan wanita tadi memaksa
ikut masuk juga, meski Ana sudah meminta mereka menunggu di luar saja. Nanda
tersenyum tipis saat mendengar teriakan Ana di dalam kamar mandi itu.
Tak lama kemudian, kedua pelayan itu membawa Ana ke hadapan Nanda lagi. Ana yang sudah
selesai mandi, tampak cantik dan segar dengan gaun terusan berleher rendah dan
panjangnya diatas lutut. Mata Nanda tidak sengaja menatap kearah dada Ana yang
terbentuk sempurna karena gaun itu.
Ana yang sudah mengira hal itu akan terjadi setelah memakai gaun itu, sibuk menutupi dadanya
dengan rambut panjangnya yang kini tergerai sepinggang. Telinga Nanda memerah
menatap penampilan Ana, apalagi ketika semilir angin dari AC, menghembuskan
rambut Ana dengan lembut.
Nanda harus berterima kasih pada Charlie karena asistennya itu berinisiatif untuk
mengusulkan makan siang bersama dan membersihkan diri untuk Ana sebelum mereka
mulai bicara. Charlie hanya ingin membantu Nanda melihat sisi lain dari Ana.
Dan siapa tahu tuan mudanya itu akhirnya jatuh cinta pada Ana.
Ana : “Tuan Nanda, tuan bisa bicara sekarang. Tolong berhenti menatap dada saya.”
*****
__ADS_1
Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.