Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
(Kisah Anak) - Alvin merajuk


__ADS_3

Rara menyeduh kopi dan susu untuknya dan Alvin, tiba-tiba Rara memegangi perutnya yang membuncit. Ia sedikit membungkuk menahan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya, sambil berpegangan pada meja makan. Alvin yang baru keluar dari kamar, segera berlari menghampiri Rara,


Alvin : “Rara kenapa?!”


Rara : “Agak sakit, anakmu menendangku dengan keras.”


Alvin : “Apa sudah terasa? Ini sudah 7 bulan kan?”


Rara : “Iya, dia sering sekali menendangku. Tumben sampai nyeri begini.”


Alvin : “Apa karena semalam…”


Alvin membayangkan percintaan panas mereka semalam yang membuat Alvin nambah sampai 2 kali. Rara mencubit perut Alvin karena kesal.


Rara : “Tuch, kan. Dokter sudah bilang jangan sering-sering, kamu bandel.”


Alvin : “Sayang, kau tahu saat kau hamil begini. Seksi…”


Rara merinding saat Alvin meniup telinganya,


Rara : “Hais, pokoknya kamu harus puasa sampai aku gak nyeri lagi.”


Alvin : “Kok gitu sich, yang…”


Rara : “Kalo gak nurut, tidur diluar.” Ancam Rara.


Alvin cemberut, ia duduk di meja makan mengaduk kopinya yang hampir dingin dan meminumnya. Alamat gak dapet jatah sebulan nich.


Setelah bibik datang, Alvin berangkat ke kantor. Ia terlihat lesu sekali dan hanya sekedar menyapa karyawannya. Asisten Alvin yang tampak bersemangat menatap bingung pada bosnya.


Asisten Alvin : “Pagi, pak. Hari ini ada meeting dengan client A dan juga makan siang dengan client C. Bapak kenapa lesu?”


Alvin : “Aku gak pa-pa.”


Asisten Alvin : “Bapak gak dapet jatah ya?”


Alvin : “He eh.”


Asisten Alvin : “Bwakakaka… maaf, pak. Ehem, saya balik ke ruangan ya, pak.”


Asisten Alvin ngibrit keluar dari ruangan Alvin yang sudah menatapnya dengan tajam. Menderita sekali rasanya harus menahan hasrat, tapi dia harus melakukannya untuk Rara dan anaknya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari-hari berikutnya, Alvin lebih banyak diam. Ia tampak menyibukkan dirinya dengan pekerjaan untuk mengalihkan perhatian. Bahkan ia tidak memeluk dan mencium Rara seperti biasanya, kecuali Rara yang memulainya.

__ADS_1


Perubahan Alvin sedikit mengusik Rara, pada awalnya Rara menganggap hal itu biasa saja, tapi lama kelamaan Rara mulai curiga. Untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka, Rara merasa curiga pada Alvin.


Alvin yang biasanya hangat di dekatnya, kini seperti acuh tak acuh. Kecurigaan Rara semakin menjadi saat Alvin sering menerima telpon dari client di malam hari. Biasanya Alvin tidak mau menjawab telpon di malam hari kecuali telpon dari keluarga mereka.


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam itu, Rara mendengar suara ponsel Alvin berdering. Alvin sedang duduk di ruang kerjanya yang menghadap ke halaman belakang.


Rara mengintip dari pintu ruang kerja Alvin di rumah, Alvin sedang v-call dengan seorang perempuan cantik yang tampaknya tidak memakai pakaian.


Sesekali Alvin terkekeh mendengar godaan perempuan itu. Rara ingin melabrak Alvin saat itu, hatinya sakit melihat suaminya seperti itu, tapi ia memilih kembali ke kamar.


Rara : “Apa karena aku terlihat gendut dan jelek?” gumam Rara dengan sedih.


Rara melepas semua pakaiannya dan berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia melihat tampilannya yang lebih berisi karena sedang mengandung. Perutnya buncit, dadanya membengkak, dan beberapa daerah hitam yang muncul di tubuhnya.


Rara : “Jelek banget.” Rara cemberut di depan cermin.


Alvin yang masuk ke kamar, terpana di depan pintu. Rara tidak peduli ia terlalu sibuk meneliti perubahan pada tubuhnya.


Alvin menghela nafas pelan, mengepalkan tangannya dan masuk ke dalam kamar. Rara sedang mendongakkan kepalanya, melihat lehernya yang sedikit menghitam.


Alvin sudah duduk di sisi ranjang, ia ingin mengecas ponselnya dan tidur. Tapi tingkah Rara berikutnya membuat Alvin makin salah tingkah.


Alvin : “Ra, kamu gak tidur.”


Akal sehat Alvin langsung ambyar, ia berdiri dan menjalan mendekati Rara. Dipeluknya tubuh istrinya. Rara yang diserang tiba-tiba, sadar kalau ia masih curiga pada Alvin.


Rara : “Vin, aku jelek ya. Aku gendut…”


Alvin : “…Kamu seksi…”


Rara : “Ah, boong. Kamu lihat dong baik-baik.” Wajah cemberut Rara di cermin tampak sangat menggemaskan.


Alvin : “Aku sudah melihat semua bagian tubuhmu, Ra.”


Rara : “Jadi aku jelek kan? Uda gak cantik lagi.”


Alvin : “Apa aku pernah bilang begitu? Bagiku kamu, istriku adalah wanita yang paling sempurna.”


Rara : “Tapi kenapa kamu telponan sama perempuan lain?”


Alvin : “Dia hanya client, Ra.”


Rara : “Client tapi mesra.. Ish… Minggir, aku mau tidur.” Rara mencoba melepas pelukan Alvin.

__ADS_1


Alvin : “Sayang... jangan gini."


Rara : “Aku masih kesel! Clientmu itu genit, bisa-bisanya dia gak pake baju lagi v-call sama kamu!”


Alvin : “Loh, dia pakai baju kok. Tapi warnanya sama seperti warna kulitnya. Gak percaya?”


Alvin meraih ponselnya yang baru terisi setengah, ia membuka akun sosial medianya dan mencari sesuatu disana.


Alvin : “Nih, lihat story-nya. Itu baju yang sama kan, yang kamu lihat tadi.”


Rara : “Eh, iya. Aku pikir dia telanjang…”


Rara melirik Alvin yang kembali menaruh ponselnya dan memasangkan pada charger. Ia merasa tidak enak sudah mencurigai suaminya, lebih tidak enak lagi karena merasa dirinya tidak cantik dan bersikap kekanakan.


Rara : “Vin…”


Rara memeluk Alvin dari belakang, perutnya yang buncit menghalanginya menempel lebih dekat. Alvin melepaskan pelukan Rara, mendudukkannya di sisi ranjang dan berlutut di depannya. Alvin mencium perut Rara dan mendapat tendangan dari bayi di dalamnya.


Alvin : “Bahkan anak ini tahu kalau aku sudah membuatmu kesal. Setelah dia lahir pasti dia akan membelamu, tapi aku akan bekerja keras untuk membuatkan adiknya. Jadi ada yang akan membelaku juga.”


Rara : “Maafkan aku…”


Alvin tersenyum, ia mulai mencium Rara, melepaskan hasrat dan kerinduan yang terpendam. Rara menatap ke dalam mata Alvin, mata yang masih sama saat pertama kali menyatakan cinta padanya.


Rara sangat bersyukur mendapatkan suami seperti Alvin, yang bahkan tidak tergoda dengan perempuan lain dalam kondisi Rara yang sedang hamil saat ini.


Alvin : “Apapun yang berubah pada tubuhmu, bahkan sampai menua sekalipun, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, Ra.”


Rara : “Maafkan aku sudah curiga sama kamu…”


Alvin : “Aku tahu itu karena kau sangat mencintaiku, kan.”


Rara : “Aku mencintaimu, Al.”


Alvin : “Aku lebih mencintaimu, Ra.”


Mereka terlelap dalam tidur yang nyaman dan melegakan karena berhasil melewati cobaan dalam kehidupan pernikahan mereka.


-------


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


-------


__ADS_2