Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Merawat Joya


__ADS_3

Boy menarik lepas kaos yang dipakai Joya, ia mengelap keringat di tubuh Joya dengan handuk dan menyelimutinya lagi. Panas tubuh Joya belum juga turun, tiba-tiba ponsel Boy berdering. Boy mengangkat telpon dari ibunya itu.


Boy : "Iya, bu."


Ny. Besar : "Kalian dimana? Ini hampir tengah malam."


Boy : "Bu, Joya pingsan. Badannya panas tinggi. Aku lagi merawatnya."


Ny. Besar : "Apa?! Uda panggil dokter belum? Kenapa gak bawa pulang aja?"


Boy : "Bu, biar Boy aja yang ngrawat. Dokternya lagi keluar kota. Tadi Boy sudah telpon."


Ny. Besar : "Memangnya kamu bisa? Ibu kirim Bi Ijah kesana ya?"


Boy : "Bu, Boy akan jaga Joya. Percaya sama Boy."


Ny. Besar : "Kabarin ibu kalau ada apa-apa ya. Dan Boy..."


Boy : "Boy tahu, bu. Jangan khawatir."


Boy menutup telpon, ia menatap Joya lagi. Keringat membasahi dahi Joya, tubuhnya banjir keringat dan seprai ranjang sudah lembab.


Boy menyingkap selimut yang menutup tubuh Joya. Ia mengambil selimut tambahan dari dalam lemari, menyelimuti tubuh Joya lagi.


Joya mulai mengigau memanggil Ny. Besar dan juga Boy. Entah apa yang dimimpikannya, dalam keadaan demam tinggi. Boy mengelap keringat Joya lagi, nafas Joya masih saja ngos-ngosan.


Boy bangkit dari ranjang, ia membuka kaos dan celana panjangnya. Lalu berbaring di samping Joya. Direngkuhnya tubuh Joya dalam pelukannya. Boy mencium kening Joya.


Boy : "Kalau besok kamu bangun, tolong jangan marah padaku. Aku mencintaimu, Joya."


Boy semakin erat memeluk Joya, nafas Joya mulai teratur dan tenang. Kulit mereka bersentuhan dengan sangat erat sampai Boy harus menahan hasratnya yang mulai membara.


Sampai lewat jam 1 pagi, Boy belum juga bisa tidur. Ia berjaga-jaga kalau kondisi Joya justru memburuk nantinya. Lewat jam 2, kondisi Joya sudah mulai membaik. Keduanya penuh dengan keringat membasahi tubuh mereka.


Boy merasakan suhu tubuh Joya sudah mulai menurun. Nafasnya juga sudah kembali normal. Boy bernafas lega, matanya sudah mulai berat dan ia pun mulai tertidur.


------


Boy membuka matanya, tubuhnya terasa berat dan ia melihat Joya tertidur dalam pelukannya. Boy memijat keningnya, sedikit pusing karena kurang tidur. Ia melirik jam diatas nakas, sudah jam 6 pagi.


Ia kembali menatap Joya, kalau kondisinya mereka pacaran, ia akan membiarkan saja posisi mereka seperti ini sampai Joya terbangun dan kaget melihat keadaan mereka. Tapi ia tidak bisa membiarkan Joya tahu apa yang terjadi semalam.


Perlahan ia menggeser tubuhnya dan turun dari ranjang. Ia mengambil pakaian Joya dan memakaikannya kembali ke tubuhnya. Untung saja Joya belum bangun. Kalau sudah, entah bagaimana Boy harus menjelaskannya.


Setelah penampilan Joya kembali seperti semula, Boy masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi, berpakaian dan duduk bersandar di sofa.


Ia akan pura-pura tertidur di sofa dan menyamarkan kejadian tadi malam. Boy mulai memejamkan matanya, ia juga kurang tidur. Tapi sebelum benar-benar terlelap, Boy mengirim chat pada Rian untuk mengirimkan sarapan untuk mereka.


Jam 8 pagi, Joya menggeliat bangun. Ia merasa lebih segar setelah tidur yang cukup panjang.


Joya : "Aku dimana?"


Joya melihat sekeliling dan menyadari kalau dia tidak ada di kamarnya sendiri. Ia menunduk melihat pakaiannya masih utuh.


Boy : "Kamu sudah bangun?"


Joya hampir lompat dari duduknya saat mendengar suara Boy.


Boy : "Kalau mau mandi, ada baju ganti di kamar mandi. Semalam kamu pingsan..."


Joya : "Pingsan?"


Boy : "Panas badanmu terlalu tinggi."


Joya sedikit terbatuk, sejak semalam ia belum minum setetes airpun. Boy mengambil air di atas nakas dan memberikannya pada Joya.


Joya minum dengan terburu-buru hingga hampir tersedak. Boy ingin menepuk punggungnya tapi malah berbalik duduk di sofa lagi. Joya menuangkan air lagi ke gelas kosong di tangannya dan kembali meminumnya sampai habis.


Setelah meletakkan gelas kembali ke atas nakas, Joya merasakan tidak nyaman pada tubuhnya yang lengket. Ia melirik Boy yang duduk di sofa dan berjalan masuk ke kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Joya memeriksa tubuhnya seperti seorang maniak, ia meraba bagian tubuhnya yang terasa sangat aneh. Ia sempat sadar semalam dan merasakan seseorang meraba tubuhnya.

__ADS_1


Dan ia yakin kalau itu Boy, Joya memejamkan matanya, bayangannya tentang kejadian semalam saat ia sadar kembali berputar samar di ingatannya.


Joya gak akan lupa rasa sentuhan Boy dan itu memang dia. Bahkan aroma parfum Boy menempel di tubuhnya. Apa itu artinya Boy melakukan sesuatu padanya semalam?


Akhirnya Joya mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju ganti yang sudah disiapkan Boy. Baju dan celana kaos itu tampak kebesaran sedikit di tubuh Joya.


Boy menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Joya keluar dari sana dengan rambut sedikit basah dan tubuh berbalut pakaiannya. Boy memalingkan wajahnya melihat tetesan air membasahi leher Joya.


Dirinya tersiksa melihat pemandangan itu, andai saja mereka pacaran, andai saja Joya mau jadi istrinya. Atau ia bisa melampiaskannya sekarang. Boy kembali menatap Joya dengan intens.


Joya yang masih menggosok rambutnya dengan handuk tidak menyadari ada singa kelaparan yang ingin menerkamnya. Ia berjalan mendekati ranjang, meletakkan pakaian kotornya diatas sana dan mulai melipat selimut.


Saat Joya menyadari semuanya, Boy sudah berdiri di belakangnya. Tubuh Joya membeku di tempat, Boy mengulurkan tangannya ingin menyentuh Joya. Joya bisa merasakan Boy berdiri di belakangnya, tubuhnya mulai gemetar ketakutan.


Ting! Tong! Boy menggenggam tangannya dengan keras. Ia berjalan cepat keluar dari kamar itu dan membuka pintu apartment. Boy hampir menyemprot orang di depan pintu, tapi ia menahan dirinya.


Ny. Besar masuk bersama Bi Ijah, sopir dan juga Rian.


Boy : "Ibu..."


Ny. Besar : "Dimana Joya?"


Boy : "Di kamar..."


Ny. Besar dan Bi Ijah masuk ke kamar apartment sementara sopir meminta kunci mobil Ny. Besar pada Boy dan langsung keluar dari apartment Boy.


Tinggal Rian dan Boy yang masih berdiri di dekat pintu. Rian melihat wajah nelangsa Boy, pipinya masih bersemu merah dengan keringat membasahi keningnya.


Rian : "Bos gak khilaf kan?"


Boy : "Hampir..."


Rian : "Stock pengaman ada di laci nakas paling bawah kalo perlu."


Bukannya senang, Boy malah memukul perut Rian sampai Rian melungker di karpet. Boy duduk di sofa, menunggu ibunya keluar dari kamarnya.


Setelah 10 menit, Joya keluar dari kamar apartment bersama Ny. Besar dan Bi Ijah. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian biasa dan wajahnya juga lebih cerah. Padahal saat bangun tidur tadi wajah Joya masih pucat.


Boy : "Ini, bu." Boy menyerahkan buku yang diperlukan Joya.


Ny. Besar : "Nanti ibu kembalikan kalau Joya sudah selesai. Ayo, Joya."


Joya menunduk ke arah Boy dan mengucapkan terima kasih pada Boy dengan tulus. Ia mengikuti Ny. Besar yang keluar lebih dulu, meninggalkan Boy yang geregetan sendiri.


------


Joya baru selesai ujian skripsi, ia bisa menjawab setiap pertanyaan dengan baik dan menunggu hasilnya di depan ruang jurusan. Jantungnya deg-degan menanti ketua jurusan keluar dari dalam sana.


Ketua jurusan akhirnya keluar dan memberikan lipatan kertas ke masing-masing mahasiswa yang baru selesai ujian. Semua mahasiswa itu dinyatakan lulus termasuk Joya.


Joya berteriak senang, ia segera membuka map yang sudah ia siapkan dan memasukkan kertas itu kesana. Tanpa basa-basi lagi, Joya langsung berjalan ke ruang tata usaha dan menyerahkan kelengkapan untuk wisuda yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Setelah mendapatkan map berisi perlengkapan wisuda, Joya menelpon Ny. Besar.


Joya : "Halo, Ny. Besar."


Ny. Besar : "Iya, Joya. Gimana? Kabar bagus?"


Joya : "Saya lulus dan bisa wisuda minggu depan."


Ny. Besar : "Bagus sekali. Selamat ya, Joya. Kita harus rayakan ini."


Joya : "Rayakan? Tapi saya gak enak, Ny. Besar."


Ny. Besar : "Apanya gak enak. Cepat pulang, kita barberque. Ayo, ayo."


Joya : "Baik, Ny. Besar."


Joya menutup telponnya, ia ingin memberitahu Boy, tapi Joya mengurungkan niatnya. Mereka gak seakrab itu, biarlah.


------

__ADS_1


Malam itu ada pesta barberque di rumah Ny. Besar. Semua orang memberi selamat pada Joya yang bahkan belum wisuda tapi sudah lulus dengan baik.


Boy bergabung dengan mereka dan lagi-lagi Joya harus memasak spageti spesial untuk Boy. Boy tidak mengatakan apa-apa pada Joya saat Joya menghidangkan spageti di hadapannya.


Hanya satu buket bunga mawar merah yang dibawa kurir yang melambangkan perasaan Boy saat itu. Joya menerima bunga itu dengan bingung karena gak ada pengirimnya, kurir itu hanya memberikan bunga itu dan pergi.


Ny. Besar : "Wah, Joya punya penggemar rahasia nich." Ny. Besar melirik Boy yang sibuk makan.


Joya : "Saya gak punya, Ny. Besar. Ini buat Ny. Besar saja."


Joya menyerahkan buket bunga itu pada majikannya, dia tidak mau Ny. Besar salah paham kalau dia punya affair dengan laki-laki diluar sana. Padahal Ny. Besar tahu kalau buket itu dikirim Boy untuk Joya.


Joya : "Ny. Besar, saya dapat dua undangan untuk menghadiri wisuda. Mmm... Saya pikir Ny. Besar bisa datang kesana, tapi saya tidak yakin kalau tempatnya akan nyaman. Apa saya boleh mengundang orang lain?"


Ny. Besar : "Memangnya kamu mau mengundang siapa?"


Joya : "Mungkin kak Niken dan kak Rian."


Ny. Besar : "Kenapa gak Boy aja? Boy bisa kan?"


Ny. Besar sengaja menepuk punggung Boy keras-keras membuatnya tersedak dan batuk-batuk. Joya panik, ia mengambil air putih untuk Boy dan memberikan tisu.


Boy : "Kapan sich? Uhuk!"


Joya : "Minggu depan, Tuan."


Boy : "Iya, aku datang."


Boy terlihat tidak peduli, ia kembali makan setelah batuknya berhenti padahal dalam hatinya senang sekali.


------


Hari wisuda Joya, Ny. Besar mendandani Joya hingga terlihat sangat cantik dengan kebaya yang dikenakannya. Boy melirik Joya sekilas, ia tetap bersikap dingin.


Rian yang berdiri disampingnya, menunggu untuk mengantar mereka ke tempat wisuda Joya, menyikut lengan Boy.


Rian : "Wah, Joya cantik ya."


Boy : "Iya... Aku mau tanya ibu... "


Rian : "Tanya apa?"


Boy : "Boleh langsung bawa ke KUA gak ya? Uda cantik gitu harusnya bisa kunikahi sekarang."


Rian : "Sabar, bos. Ingat misi kita."


Boy : "His!! Menyebalkan."


Boy sudah masuk duluan ke kursi penumpang mobil, sementara Joya duduk di sampingnya. Ny. Besar yang memintanya duduk di belakang agar kebaya dan kainnya tidak kusut.


Padahal Boy sudah mengatur agar Joya duduk di sampingnya dengan menambah sopir kantor.


Jadilah Rian seperti pengiring pengantin untuk pasangan pengantin yang duduk dibelakang sana. Rian mengirim pesan pada Boy,


Rian : "Bos, jangan khilaf dibelakang sana."


Boy : "Bisa kau suruh sopir membawa kita ke KUA? Aku beneran gak tahan..."


Rian : "Sabar, bos. Mau aku tutup kacanya?"


Boy membalasnya dengan emoji wajah marah. Jangan sampai Rian melakukan itu atau ia benar-benar akan khilaf sekarang.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak...

__ADS_1


-------


__ADS_2