
Rian berusaha
mengemudikan mobil dengan stabil, ia mendengar rintihan Joya setelah Boy
menggigit pundak wanita itu dengan keras.
Rian : “Tuan...”
Boy : “Diam
kau. Cepat jalannya!”
Rian : “Tuan
salah paham!”
Akhirnya Rian
berani mengeluarkan kata-katanya juga. Mereka hampir sampai di apartment Boy
dan Rian akan kehilangan kesempatan membela Joya kalau mereka berdua sudah
masuk ke dalam lift.
Boy : “Bahkan
asistenku juga membelamu. Wanita macam apa yang bisa menggoda laki-laki seperti
itu.”
Deg! Joya sakit
hati mendengar kata-kata Boy.
Joya : “Aku wanita
macam apa?”
Boy : “Seorang
wanita sudah menikah tapi menerima bunga dari pria lain. Kau sungguh berani!”
Joya memejamkan
matanya, akhirnya ia tahu apa yang membuat Boy semarah ini.
Joya : “Tapi,
itu salah paham...”
Boy : “Kalian
sama saja. Kau menolong nyonyamu, dan kau mengelak karena dia membelamu!”
Boy
menunjuk-nunjuk tempat duduk Rian dengan kakinya. Rian sedikit tertegun ketika
mereka sampai di basement apartment.
Boy segera keluar
dari mobil, mengeret Joya dengan kasar sampai sepatu yang dikenakannya
tertinggal sebelah di dalam mobil. Joya bahkan tidak sempat mengambil tasnya
yang terjatuh di bawah kursi mobil.
Rian : “Tuan,
saya mohon...”
Boy : “Kau
boleh pulang. Terima kasih sudah membelanya. Aku sudah tahu apa yang kulihat
sendiri!”
Boy membawa
Joya ke dalam lift dan mendorongnya ke sudut lift. Dengan kasar Boy mencium Joya,
membuat wanita itu hampir pingsan kehabisan nafas.
Terengah-engah,
lemas dan berantakan, Boy tidak merasa kasihan melihat keadaan istrinya itu.
Rasa cemburu membutakan matanya, cintanya pada Joya membuatnya jadi orang gila.
Ketika lift
terbuka, Boy kembali menyeret Joya dan mendorong wanita itu masuk ke kamar
apartmentnya.
Bruk! Joya
terduduk diatas sofa, nafasnya bahkan belum stabil. Lengan dan sudut bibirnya
terasa sakit karena perlakuan Boy.
Joya : “Ma...as,
aku... bisa...”
Boy : “Bisa
apa?! Heh! Katakan sejujurnya, apa ini siasatmu?”
Joya : “Maksud
mas?”
Boy : “Kau
menolakku dan membuatku menunggu 3 tahun hanya untuk omong kosong pernikahan! Padahal
kau sudah sejak awal berhubungan dengan pria lain.”
__ADS_1
Joya : “Apa?”
Teori tidak
berdasar yang dikatakan Boy, memberi sedikit kekuatan pada Joya untuk melawan.
Dirinya sudah dituduh tanpa bukti dan hanya sekedar padangan dari sudut yang
berbeda.
Joya : “Aku
tidak bersalah, mas. Mas sudah salah paham. Aku hanya membantu Rio!”
Boy : “Sebut
lagi namanya dan akan kubungkam mulutmu itu.”
Boy
mencengkeram dagu Joya, membuatnya meringis kesakitan. Joya menatap Boy dengan
mata berkaca-kaca, ia sangat terkejut melihat kecemburuan suaminya itu. Boy
yang selalu lembut padanya, menjadi sangat kasar.
Joya : “Mas,
tolong dengarkan penjelasanku.”
Boy : “Penjelasan
macam apa? Katakan! Kuberi waktu 5 menit.”
Joya menarik
nafas agar lebih tenang, ia menceritakan dari awal pembicaraannya dengan Rio sampai
akhirnya Rio datang dan berlutut di depan dirinya dan Meta.
Boy : “Sudah 5
menit. Dan aku bahkan tidak melihat orang lain selain kalian berdua.
Benar-benar pintar berkilah.”
Joya : “Tapi
Rio melamar Meta, mas. Dia hanya menitipkan bunga itu padaku.”
Boy : “Kau
sungguh-sungguh merencanakannya dengan baik.”
Joya : “Rencana
apa?”
Boy mendekati
Joya dengan cepat dan mencium istrinya lagi. Menambah rasa sakit di sudut bibir
Joya yang mulai membengkak.
Joya refleks
menendang Boy, kemejanya sudah berantakan, rambutnya juga. Boy kembali menekan
Joya,
Boy : “Kau
berani menendang suamimu! Demi pria itu!”
Joya : “Maaf,
mas. Aku tidak sengaja. Sakit, mas.”
Seumur hidup
Joya, ia tidak pernah mendengar seseorang berteriak padanya, bahkan kejadian terakhir
saat Rio memaksanya, membuat Joya sangat trauma. Ny. Besar bahkan tidak pernah
berkata kasar padanya.
Joya sangat
mencintai Boy sampai rela mempersiapkan dirinya agar pantas bersanding dengan
Boy. Rasa cinta yang ia pendam selama ini pada Boy, kenapa harus berbuah
kesakitan terus-menerus.
Joya terpaksa
menggigit tangan Boy saat cengkeraman tangan Boy membuat lengannya mati rasa.
Boy : “Aduch!”
Brak! Tubuh
lemas Joya terhempas keatas sofa. Saat Boy akan mendekati Joya lagi, pintu
apartmentnya di ketuk seseorang.
Boy
meninggalkan Joya yang mengerang diatas sofa, ia membuka pintu dan tertegun
melihat ibunya sudah berdiri disana. Ny. Besar terlihat sangat murka, ia
mendorong Boy dengan tongkatnya dan masuk ke dalam apartment bersama Bi Ijah
dan Rian.
Ny. Besar : “Joya!”
Ny. Besar
__ADS_1
berjalan cepat menghampiri Joya yang hampir pingsan, melihat keadaan Joya yang
berantakan, Ny. Besar menatap tajam ke arah Boy yang menunduk. Bi Ijah
menyelimuti tubuh Joya dengan selimut tipis yang dibawanya.
Boy : “Ibu...
Joya...”
Ny. Besar : “Ibu
sudah tahu semuanya. Rian, tolong bantu saya membawa Joya pulang.”
Boy : “Joya
tidak boleh pergi kemana-mana?”
Ny. Besar : “Kenapa
dia harus tetap disini dan disiksa suami kejam seperti kamu!”
Boy : “Bu!”
Ny. Besar : “Kau
sudah berani sama ibu, Boy! Kamu mau ibu mati disini! Rian, cepat!”
Rian : “Maaf,
tuan Boy. Maaf Ny. Joya.”
Boy kembali
menunduk, Rian dengan cepat membantu Joya berdiri dan menggendong Ny. mudanya
itu. Bi Ijah membantu membukakan pintu untuk Rian. Ny. Besar bahkan tidak
berkata apa-apa lagi, juga melewati Boy begitu saja.
Pintu apartment
tertutup dan Boy meluncur turun jatuh di lantai apartementnya,
Boy : “Apa yang
sudah kulakukan?!”
*****
Rian merasakan
tubuh Joya gemetar dalam gendongannya. Bi Ijah terus mengusap rambut Joya yang
kusut. Ny. Besar menahan tangisannya melihat kondisi Joya.
Ny. Besar : “Rian,
habis ini kamu temani Boy. Coba jelaskan padanya.”
Rian : “Baik,
Ny. Besar.”
Mereka sampai
di lantai dasar dan sopir Ny. Besar dengan sigap membukakan pintu dan membantu Rian
mendudukkan Joya di kursi belakang.
Ny. Besar : “Rian,
cepat kembali ke atas. Jangan sampai Boy melakukan kebodohan lagi.”
Rian : “Baik,
Ny. Besar. Oh, tunggu sebentar. Saya ambilkan tas dan sepatu Ny. Joya.”
Rian membuka
kunci mobil Boy dan mengambil tas dan sebelah sepatu Joya dari dalam sana dan
memberikannya pada Bi Ijah.
Rian : “Silakan
jalan, Ny. Besar. Terima kasih.”
Ny. Besar : “Saya
yang terima kasih, Rian. Kamu sudah menolong Joya.”
Rian : “Sudah
tugas saya, Ny. Besar.”
Mobil Ny.Besar meluncur
keluar dari basement apartment Boy. Ny. Besar menggenggam tangan Joya yang
sudah menangis dengan sedih.
Ny. Besar : “Menangis
saja, Joya. Jangan ditahan, nak.”
Joya menangis
semakin keras dalam pelukan Ny. Besar yang juga ikutan menangis.
*****
Kasian banget
Joya ya. Cemburu boleh saja, tapi harus ingat tetap pakai logika dan memandang
sesuatu dari segala arah. Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin.
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.