Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Tidak seperti kelihatannya


__ADS_3

Rian berusaha


mengemudikan mobil dengan stabil, ia mendengar rintihan Joya setelah Boy


menggigit pundak wanita itu dengan keras.


Rian : “Tuan...”


Boy : “Diam


kau. Cepat jalannya!”


Rian : “Tuan


salah paham!”


Akhirnya Rian


berani mengeluarkan kata-katanya juga. Mereka hampir sampai di apartment Boy


dan Rian akan kehilangan kesempatan membela Joya kalau mereka berdua sudah


masuk ke dalam lift.


Boy : “Bahkan


asistenku juga membelamu. Wanita macam apa yang bisa menggoda laki-laki seperti


itu.”


Deg! Joya sakit


hati mendengar kata-kata Boy.


Joya : “Aku wanita


macam apa?”


Boy : “Seorang


wanita sudah menikah tapi menerima bunga dari pria lain. Kau sungguh berani!”


Joya memejamkan


matanya, akhirnya ia tahu apa yang membuat Boy semarah ini.


Joya : “Tapi,


itu salah paham...”


Boy : “Kalian


sama saja. Kau menolong nyonyamu, dan kau mengelak karena dia membelamu!”


Boy


menunjuk-nunjuk tempat duduk Rian dengan kakinya. Rian sedikit tertegun ketika


mereka sampai di basement apartment.


Boy segera keluar


dari mobil, mengeret Joya dengan kasar sampai sepatu yang dikenakannya


tertinggal sebelah di dalam mobil. Joya bahkan tidak sempat mengambil tasnya


yang terjatuh di bawah kursi mobil.


Rian : “Tuan,


saya mohon...”


Boy : “Kau


boleh pulang. Terima kasih sudah membelanya. Aku sudah tahu apa yang kulihat


sendiri!”


Boy membawa


Joya ke dalam lift dan mendorongnya ke sudut lift. Dengan kasar Boy mencium Joya,


membuat wanita itu hampir pingsan kehabisan nafas.


Terengah-engah,


lemas dan berantakan, Boy tidak merasa kasihan melihat keadaan istrinya itu.


Rasa cemburu membutakan matanya, cintanya pada Joya membuatnya jadi orang gila.


Ketika lift


terbuka, Boy kembali menyeret Joya dan mendorong wanita itu masuk ke kamar


apartmentnya.


Bruk! Joya


terduduk diatas sofa, nafasnya bahkan belum stabil. Lengan dan sudut bibirnya


terasa sakit karena perlakuan Boy.


Joya : “Ma...as,


aku... bisa...”


Boy : “Bisa


apa?! Heh! Katakan sejujurnya, apa ini siasatmu?”


Joya : “Maksud


mas?”


Boy : “Kau


menolakku dan membuatku menunggu 3 tahun hanya untuk omong kosong pernikahan! Padahal


kau sudah sejak awal berhubungan dengan pria lain.”

__ADS_1


Joya : “Apa?”


Teori tidak


berdasar yang dikatakan Boy, memberi sedikit kekuatan pada Joya untuk melawan.


Dirinya sudah dituduh tanpa bukti dan hanya sekedar padangan dari sudut yang


berbeda.


Joya : “Aku


tidak bersalah, mas. Mas sudah salah paham. Aku hanya membantu Rio!”


Boy : “Sebut


lagi namanya dan akan kubungkam mulutmu itu.”


Boy


mencengkeram dagu Joya, membuatnya meringis kesakitan. Joya menatap Boy dengan


mata berkaca-kaca, ia sangat terkejut melihat kecemburuan suaminya itu. Boy


yang selalu lembut padanya, menjadi sangat kasar.


Joya : “Mas,


tolong dengarkan penjelasanku.”


Boy : “Penjelasan


macam apa? Katakan! Kuberi waktu 5 menit.”


Joya menarik


nafas agar lebih tenang, ia menceritakan dari awal pembicaraannya dengan Rio sampai


akhirnya Rio datang dan berlutut di depan dirinya dan Meta.


Boy : “Sudah 5


menit. Dan aku bahkan tidak melihat orang lain selain kalian berdua.


Benar-benar pintar berkilah.”


Joya : “Tapi


Rio melamar Meta, mas. Dia hanya menitipkan bunga itu padaku.”


Boy : “Kau


sungguh-sungguh merencanakannya dengan baik.”


Joya : “Rencana


apa?”


Boy mendekati


Joya dengan cepat dan mencium istrinya lagi. Menambah rasa sakit di sudut bibir


Joya yang mulai membengkak.


Joya refleks


menendang Boy, kemejanya sudah berantakan, rambutnya juga. Boy kembali menekan


Joya,


Boy : “Kau


berani menendang suamimu! Demi pria itu!”


Joya : “Maaf,


mas. Aku tidak sengaja. Sakit, mas.”


Seumur hidup


Joya, ia tidak pernah mendengar seseorang berteriak padanya, bahkan kejadian terakhir


saat Rio memaksanya, membuat Joya sangat trauma. Ny. Besar bahkan tidak pernah


berkata kasar padanya.


Joya sangat


mencintai Boy sampai rela mempersiapkan dirinya agar pantas bersanding dengan


Boy. Rasa cinta yang ia pendam selama ini pada Boy, kenapa harus berbuah


kesakitan terus-menerus.


Joya terpaksa


menggigit tangan Boy saat cengkeraman tangan Boy membuat lengannya mati rasa.


Boy : “Aduch!”


Brak! Tubuh


lemas Joya terhempas keatas sofa. Saat Boy akan mendekati Joya lagi, pintu


apartmentnya di ketuk seseorang.


Boy


meninggalkan Joya yang mengerang diatas sofa, ia membuka pintu dan tertegun


melihat ibunya sudah berdiri disana. Ny. Besar terlihat sangat murka, ia


mendorong Boy dengan tongkatnya dan masuk ke dalam apartment bersama Bi Ijah


dan Rian.


Ny. Besar : “Joya!”


Ny. Besar

__ADS_1


berjalan cepat menghampiri Joya yang hampir pingsan, melihat keadaan Joya yang


berantakan, Ny. Besar menatap tajam ke arah Boy yang menunduk. Bi Ijah


menyelimuti tubuh Joya dengan selimut tipis yang dibawanya.


Boy : “Ibu...


Joya...”


Ny. Besar : “Ibu


sudah tahu semuanya. Rian, tolong bantu saya membawa Joya pulang.”


Boy : “Joya


tidak boleh pergi kemana-mana?”


Ny. Besar : “Kenapa


dia harus tetap disini dan disiksa suami kejam seperti kamu!”


Boy : “Bu!”


Ny. Besar : “Kau


sudah berani sama ibu, Boy! Kamu mau ibu mati disini! Rian, cepat!”


Rian : “Maaf,


tuan Boy. Maaf Ny. Joya.”


Boy kembali


menunduk, Rian dengan cepat membantu Joya berdiri dan menggendong Ny. mudanya


itu. Bi Ijah membantu membukakan pintu untuk Rian. Ny. Besar bahkan tidak


berkata apa-apa lagi, juga melewati Boy begitu saja.


Pintu apartment


tertutup dan Boy meluncur turun jatuh di lantai apartementnya,


Boy : “Apa yang


sudah kulakukan?!”


*****


Rian merasakan


tubuh Joya gemetar dalam gendongannya. Bi Ijah terus mengusap rambut Joya yang


kusut. Ny. Besar menahan tangisannya melihat kondisi Joya.


Ny. Besar : “Rian,


habis ini kamu temani Boy. Coba jelaskan padanya.”


Rian : “Baik,


Ny. Besar.”


Mereka sampai


di lantai dasar dan sopir Ny. Besar dengan sigap membukakan pintu dan membantu Rian


mendudukkan Joya di kursi belakang.


Ny. Besar : “Rian,


cepat kembali ke atas. Jangan sampai Boy melakukan kebodohan lagi.”


Rian : “Baik,


Ny. Besar. Oh, tunggu sebentar. Saya ambilkan tas dan sepatu Ny. Joya.”


Rian membuka


kunci mobil Boy dan mengambil tas dan sebelah sepatu Joya dari dalam sana dan


memberikannya pada Bi Ijah.


Rian : “Silakan


jalan, Ny. Besar. Terima kasih.”


Ny. Besar : “Saya


yang terima kasih, Rian. Kamu sudah menolong Joya.”


Rian : “Sudah


tugas saya, Ny. Besar.”


Mobil Ny.Besar meluncur


keluar dari basement apartment Boy. Ny. Besar menggenggam tangan Joya yang


sudah menangis dengan sedih.


Ny. Besar : “Menangis


saja, Joya. Jangan ditahan, nak.”


Joya menangis


semakin keras dalam pelukan Ny. Besar yang juga ikutan menangis.


*****


Kasian banget


Joya ya. Cemburu boleh saja, tapi harus ingat tetap pakai logika dan memandang


sesuatu dari segala arah. Hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin.


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2