
Boy memijat
kepalanya yang berdenyut. Ini meeting terakhir mereka hari ini dan Boy sudah
sangat lelah mendengarkan stafnya bicara sejak tadi.
Boy : “Stop.”
Rian
mengisyaratkan semua orang untuk duduk diam,
Rian : “Ada
apa, bos?”
Boy : “Kalian
ada solusi untuk masalah ini?”
Hening. Semua
staf diam saja. Boy semakin memijat kepalanya, ia bangkit berdiri membuat semua
orang di ruangan itu spontan berdiri juga.
Boy : “Besok,
solusinya sudah harus ada dalam bentuk presentasi. Kalian bisa pulang.”
Rian membuka
pintu ruang meeting untuk Boy yang berjalan kembali ke ruang kerjanya. Boy
bersandar pada kursi kerjanya dan memejamkan matanya.
Rian : “Bos
perlu sesuatu?”
Boy : “Tidak. Ada
lagi yang harus kuurus?”
Rian : “Sudah
selesai untuk hari ini, bos.”
Boy : “Antar
aku pulang.”
Rian : “Baik,
bos.”
Boy dan Rian
berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Boy, Lia mencoba mencegat Boy untuk
minta tanda tangannya.
Lia : “Tuan,
saya perlu tanda tangan tuan.”
Boy : “Letakkan
saja di meja, besok aku tanda tangan.”
Rian menggeleng
pada Lia yang hampir menyela Boy lagi. Lia terdiam membiarkan Boy berjalan
menuju lift.
Lia : “Tuan Boy
terlihat aneh. Apa dia bertengkar dengan Joya?” Senyum mengembang dari bibir
Lia membayangkan Boy galau karena Joya.
Lia : “Mungkin
aku masih punya kesempatan mendekati tuan Boy.”
Lia tersenyum
jahat, mirip adegan pelakor di sinetron-sinetron di TV. Yang jelas Lia halu
tingkat dewa.
Selama di
perjalanan, Boy terus memejamkan matanya, kembali ke rumah Ny. Besar atau tetap
diam dikantor, sama sekali tidak bisa membuat dirinya tenang. Boy ingin pergi
dari rutinitas itu sebentar saja.
Boy : “Rian,
apa bisa kau mengatur perjalananku keluar kota?”
Rian : “Bisa,
bos. Bos mau kemana?”
Boy : “Sepertinya
aku perlu bersantai sebentar. Aku lelah.”
Rian : “Baik,
bos. Akhir pekan ini long weekend, apa bos mau pergi bersama Ny. Joya?”
Boy : “Ya, kalau
ibu mengijinkan. Tapi sepertinya aku akan pergi sendiri saja.”
Rian : “Bos mau
kemana? Villa atau hotel?”
Boy : “Ke villa
ibu saja.”
__ADS_1
Rian : “Baik,
tuan.”
Rian kembali
fokus menyetir mobil, belum ada jawaban apa-apa dari Ny. Lastri sejak Rian
mengirimkan video pengakuan Boy padanya tadi pagi. Hal ini membuat Rian sedikit
frustasi, sampai kapan Boy akan terus diperlakukan seperti ini.
Mereka akhirnya
sampai di rumah Ny. Besar. Rian dan Boy turun dari mobil, Boy berjalan masuk
dan tidak mendapati siapapun di ruang tengah.
Boy : “Rian,
kau bisa istirahat. Aku ke atas dulu.”
Rian : “Baik,
bos.”
Boy berjalan
menaiki tangga diiringi tatapan Rian, Boy tampak tidak bersemangat. Sampai di
depan pintu kamarnya, Boy ragu-ragu untuk membuka pintunya. Ia menarik nafas
sebentar dan tersenyum sambil membuka pintu.
Boy : “Joya...
aku pulang...”
Kamar Boy
kosong, tidak tampak siapapun didalam sana, bahkan kamar mandi juga kosong. Boy
mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia membuka lemari pakaian Joya dan melihat
masih ada pakaian Joya di dalam sana.Boy keluar dari kamar dengan cepat dan
mulai berteriak memanggil Joya.
Boy : “Joya!
Joya!”
Boy terlihat
seperti orang gila ketika tidak ada satu orang pun yang menghampirinya. Ia
berjalan cepat menuruni tangga dan tidak sengaja terpeleset hingga jatuh terjerembab.
Boy berdiri dengan cepat, tidak mempedulikan kakinya dan lengannya yang
terantuk pinggiran tangga. Bahkan pipi Boy juga sedikit memar.
Boy : “Rian!
Rian! Dimana dia? Aku harus kemana?”
Boy berlari
ngos-ngosan karena terus berlari. Boy terduduk di meja makan, ia mengambil air
minum dan teringat sesuatu.
Ia mengeluarkan
ponselnya dan menelpon Joya. Tring! Tring! Tring! Tring! Ponsel Joya berbunyi nyaring
dari arah halaman belakang. Boy berlari dengan cepat kesana, ia melihat Joya
berdiri di halaman belakang dengan senyum mengembang.
Boy : “Joya!”
Boy menjatuhkan
ponselnya dan berlari menghampiri Joya, ia langsung memeluk Joya dengan erat.
Joya : “Mas,
kenapa?”
Joya melihat
lebam dari lengan Boy dan juga memar di pipinya. Boy tidak mau melepas pelukannya
dari Joya.
Boy : “Kumohon
jangan menghilang lagi. Aku akan mati, Joya.”
Joya mendorong
tubuh Boy dan menutup mulutnya.
Joya : “Jangan
ngomong gitu, mas. Aku disini. Gak kemana-mana.”
Boy : “Kamu
kemana?”
Joya : “Aku
disini dari tadi, mas. Nunggu mas pulang.”
Boy : “Tapi
tadi... ach, sudahlah...”
Boy memeluk
Joya lagi, menciumi wajah dan bibir Joya dan tidak berhenti sampai seseorang
berdehem di belakang Boy. Boy menoleh, melepaskan ciumannya dari Joya dan
melihat ibunya berdiri di sana, menatapnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
Entah kenapa
Boy langsung melepaskan tangannya dari Joya dan mundur selangkah. Boy bertingkah
seperti kepergok ibu Joya sedang mencium putri kesayangannya itu.
Joya : “Mas...”
Boy : “Maaf...
maaf...”
Joya : “Mas...!”
Joya kembali
memeluk Boy, tidak mau melepaskan pelukannya sementara tangan Boy tergantung di
samping tubuhnya tidak berani bergerak.
Ny. Besar : “Apa
kalian akan terus disini? Makan malam 1 jam lagi.”
Ny. Besar hanya
mengatakan itu dan berjalan kembali ke dalam. Otak Boy langsung hang saat itu
juga. Joya mengguncang tubuh Boy yang hanya bengong setelah ditegur ibunya.
Joya : “Mas,
ayo cepat mandi. Ibu bilang makan malam 1 jam lagi.”
Boy : “Tapi
ibu...”
Joya : “Ibu
sudah maafin mas kok. Ayo, kita mandi dulu.”
Boy : “...
Mandi? Iya, ayo.”
Joya menarik
Boy ke lantai 2 dan masuk ke kamar mereka, melewati Ny. Besar dan Rian yang
sedang berdiri berdampingan. Boy melihat ibunya sudah mau tersenyum padanya.
Tadi setelah
melihat Boy naik ke lantai 2, Rian segera menemui Ny. Besar untuk memastikan
kalau beliau mendengarkan rekaman pengakuan Boy tadi. Ny. Besar sudah
mendengarnya dan sudah memaafkan Boy juga setelah melihat Boy mengurus Joya
dengan baik di rumah sakit.
Ny. Besar : “Rian,
terima kasih karena kamu selalu menjaga Boy dan juga Joya.”
Rian : “Sudah
tugas saya, Ny. Besar.”
Ny. Besar : “Bergabunglah
untuk makan malam hari ini.”
Rian : “Terima
kasih Ny. Besar, tapi saya harus menjemput Niken.”
Ny. Besar : “Ach,
iya. Kau juga masih pengantin baru ya. Pulanglah.”
Rian : “Selamat
sore, Ny. Besar.”
Rian keluar
dari rumah Ny. Besar mengendarai mobil Boy dan kembali ke kantornya. Niken
sudah menunggu Rian di ruangannya. Ia segera turun setelah Rian menelponnya.
Niken : “Mana
bos?” tanya Niken saat mereka bertemu di lobby.
Rian : “Sudah
pulang. Ayo, kita juga pulang. Eh, tunggu. Aku lupa mengambil chargerku. Kamu
nunggu sini?”
Niken : “Aku
ikut aja.”
Rian berjalan bersama
Niken menuju ke lift yang langsung membawa mereka ke lantai ruang kerja Boy.
*****
Di ruang kerja
Boy, Lia dengan berani duduk di kursi kerja Boy dan membayangkan dirinya bisa
menjadi Ny. Boy. Ia tidak menyadari kalau Rian sedang berjalan mendekati
ruangan Boy.
*****
Apakah Lia akan
kepergok?
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.