Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Dimaafkan


__ADS_3

Boy memijat


kepalanya yang berdenyut. Ini meeting terakhir mereka hari ini dan Boy sudah


sangat lelah mendengarkan stafnya bicara sejak tadi.


Boy : “Stop.”


Rian


mengisyaratkan semua orang untuk duduk diam,


Rian : “Ada


apa, bos?”


Boy : “Kalian


ada solusi untuk masalah ini?”


Hening. Semua


staf diam saja. Boy semakin memijat kepalanya, ia bangkit berdiri membuat semua


orang di ruangan itu spontan berdiri juga.


Boy : “Besok,


solusinya sudah harus ada dalam bentuk presentasi. Kalian bisa pulang.”


Rian membuka


pintu ruang meeting untuk Boy yang berjalan kembali ke ruang kerjanya. Boy


bersandar pada kursi kerjanya dan memejamkan matanya.


Rian : “Bos


perlu sesuatu?”


Boy : “Tidak. Ada


lagi yang harus kuurus?”


Rian : “Sudah


selesai untuk hari ini, bos.”


Boy : “Antar


aku pulang.”


Rian : “Baik,


bos.”


Boy dan Rian


berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Boy, Lia mencoba mencegat Boy untuk


minta tanda tangannya.


Lia : “Tuan,


saya perlu tanda tangan tuan.”


Boy : “Letakkan


saja di meja, besok aku tanda tangan.”


Rian menggeleng


pada Lia yang hampir menyela Boy lagi. Lia terdiam membiarkan Boy berjalan


menuju lift.


Lia : “Tuan Boy


terlihat aneh. Apa dia bertengkar dengan Joya?” Senyum mengembang dari bibir


Lia membayangkan Boy galau karena Joya.


Lia : “Mungkin


aku masih punya kesempatan mendekati tuan Boy.”


Lia tersenyum


jahat, mirip adegan pelakor di sinetron-sinetron di TV. Yang jelas Lia halu


tingkat dewa.


Selama di


perjalanan, Boy terus memejamkan matanya, kembali ke rumah Ny. Besar atau tetap


diam dikantor, sama sekali tidak bisa membuat dirinya tenang. Boy ingin pergi


dari rutinitas itu sebentar saja.


Boy : “Rian,


apa bisa kau mengatur perjalananku keluar kota?”


Rian : “Bisa,


bos. Bos mau kemana?”


Boy : “Sepertinya


aku perlu bersantai sebentar. Aku lelah.”


Rian : “Baik,


bos. Akhir pekan ini long weekend, apa bos mau pergi bersama Ny. Joya?”


Boy : “Ya, kalau


ibu mengijinkan. Tapi sepertinya aku akan pergi sendiri saja.”


Rian : “Bos mau


kemana? Villa atau hotel?”


Boy : “Ke villa


ibu saja.”

__ADS_1


Rian : “Baik,


tuan.”


Rian kembali


fokus menyetir mobil, belum ada jawaban apa-apa dari Ny. Lastri sejak Rian


mengirimkan video pengakuan Boy padanya tadi pagi. Hal ini membuat Rian sedikit


frustasi, sampai kapan Boy akan terus diperlakukan seperti ini.


Mereka akhirnya


sampai di rumah Ny. Besar. Rian dan Boy turun dari mobil, Boy berjalan masuk


dan tidak mendapati siapapun di ruang tengah.


Boy : “Rian,


kau bisa istirahat. Aku ke atas dulu.”


Rian : “Baik,


bos.”


Boy berjalan


menaiki tangga diiringi tatapan Rian, Boy tampak tidak bersemangat. Sampai di


depan pintu kamarnya, Boy ragu-ragu untuk membuka pintunya. Ia menarik nafas


sebentar dan tersenyum sambil membuka pintu.


Boy : “Joya...


aku pulang...”


Kamar Boy


kosong, tidak tampak siapapun didalam sana, bahkan kamar mandi juga kosong. Boy


mulai berpikir yang tidak-tidak. Ia membuka lemari pakaian Joya dan melihat


masih ada pakaian Joya di dalam sana.Boy keluar dari kamar dengan cepat dan


mulai berteriak memanggil Joya.


Boy : “Joya!


Joya!”


Boy terlihat


seperti orang gila ketika tidak ada satu orang pun yang menghampirinya. Ia


berjalan cepat menuruni tangga dan tidak sengaja terpeleset hingga jatuh terjerembab.


Boy berdiri dengan cepat, tidak mempedulikan kakinya dan lengannya yang


terantuk pinggiran tangga. Bahkan pipi Boy juga sedikit memar.


Boy : “Rian!


Rian! Dimana dia? Aku harus kemana?”


Boy berlari


ngos-ngosan karena terus berlari. Boy terduduk di meja makan, ia mengambil air


minum dan teringat sesuatu.


Ia mengeluarkan


ponselnya dan menelpon Joya. Tring! Tring! Tring! Tring! Ponsel Joya berbunyi nyaring


dari arah halaman belakang. Boy berlari dengan cepat kesana, ia melihat Joya


berdiri di halaman belakang dengan senyum mengembang.


Boy : “Joya!”


Boy menjatuhkan


ponselnya dan berlari menghampiri Joya, ia langsung memeluk Joya dengan erat.


Joya : “Mas,


kenapa?”


Joya melihat


lebam dari lengan Boy dan juga memar di pipinya. Boy tidak mau melepas pelukannya


dari Joya.


Boy : “Kumohon


jangan menghilang lagi. Aku akan mati, Joya.”


Joya mendorong


tubuh Boy dan menutup mulutnya.


Joya : “Jangan


ngomong gitu, mas. Aku disini. Gak kemana-mana.”


Boy : “Kamu


kemana?”


Joya : “Aku


disini dari tadi, mas. Nunggu mas pulang.”


Boy : “Tapi


tadi... ach, sudahlah...”


Boy memeluk


Joya lagi, menciumi wajah dan bibir Joya dan tidak berhenti sampai seseorang


berdehem di belakang Boy. Boy menoleh, melepaskan ciumannya dari Joya dan


melihat ibunya berdiri di sana, menatapnya tanpa ekspresi.

__ADS_1


Entah kenapa


Boy langsung melepaskan tangannya dari Joya dan mundur selangkah. Boy bertingkah


seperti kepergok ibu Joya sedang mencium putri kesayangannya itu.


Joya : “Mas...”


Boy : “Maaf...


maaf...”


Joya : “Mas...!”


Joya kembali


memeluk Boy, tidak mau melepaskan pelukannya sementara tangan Boy tergantung di


samping tubuhnya tidak berani bergerak.


Ny. Besar : “Apa


kalian akan terus disini? Makan malam 1 jam lagi.”


Ny. Besar hanya


mengatakan itu dan berjalan kembali ke dalam. Otak Boy langsung hang saat itu


juga. Joya mengguncang tubuh Boy yang hanya bengong setelah ditegur ibunya.


Joya : “Mas,


ayo cepat mandi. Ibu bilang makan malam 1 jam lagi.”


Boy : “Tapi


ibu...”


Joya : “Ibu


sudah maafin mas kok. Ayo, kita mandi dulu.”


Boy : “...


Mandi? Iya, ayo.”


Joya menarik


Boy ke lantai 2 dan masuk ke kamar mereka, melewati Ny. Besar dan Rian yang


sedang berdiri berdampingan. Boy melihat ibunya sudah mau tersenyum padanya.


Tadi setelah


melihat Boy naik ke lantai 2, Rian segera menemui Ny. Besar untuk memastikan


kalau beliau mendengarkan rekaman pengakuan Boy tadi. Ny. Besar sudah


mendengarnya dan sudah memaafkan Boy juga setelah melihat Boy mengurus Joya


dengan baik di rumah sakit.


Ny. Besar : “Rian,


terima kasih karena kamu selalu menjaga Boy dan juga Joya.”


Rian : “Sudah


tugas saya, Ny. Besar.”


Ny. Besar : “Bergabunglah


untuk makan malam hari ini.”


Rian : “Terima


kasih Ny. Besar, tapi saya harus menjemput Niken.”


Ny. Besar : “Ach,


iya. Kau juga masih pengantin baru ya. Pulanglah.”


Rian : “Selamat


sore, Ny. Besar.”


Rian keluar


dari rumah Ny. Besar mengendarai mobil Boy dan kembali ke kantornya. Niken


sudah menunggu Rian di ruangannya. Ia segera turun setelah Rian menelponnya.


Niken : “Mana


bos?” tanya Niken saat mereka bertemu di lobby.


Rian : “Sudah


pulang. Ayo, kita juga pulang. Eh, tunggu. Aku lupa mengambil chargerku. Kamu


nunggu sini?”


Niken : “Aku


ikut aja.”


Rian berjalan bersama


Niken menuju ke lift yang langsung membawa mereka ke lantai ruang kerja Boy.


*****


Di ruang kerja


Boy, Lia dengan berani duduk di kursi kerja Boy dan membayangkan dirinya bisa


menjadi Ny. Boy. Ia tidak menyadari kalau Rian sedang berjalan mendekati


ruangan Boy.


*****


Apakah Lia akan


kepergok?


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2