Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Menantu kesayangan ibu


__ADS_3

Rian dan Ny.


Besar menoleh saat pintu ruang istirahat akhirnya terbuka. Kepala Boy melongok


dari sana dan ia sangat terkejut melihat ibunya duduk manis di sofa.


Boy : “Ibu?! Ibu


uda lama disini?”


Rian : “Sudah


25 menit, tuan.”


Boy : “Rian,


kenapa kamu gak ngasih tahu aku?!”


Rian : “Gimana


caranya, tuan? Saya harus mendobrak masuk gitu? Dengan resiko saya dimutasi ke


negara A, mending nunggu dech.” Batin Rian kesal.


Boy : “Rian!


Keluar sana. Berdiri di depan pintu, jangan ada yang boleh masuk. Siapapun itu.”


Rian : “Baik,


tuan.”


Ny. Besar


kebingungan melihat Boy mengusir Rian dan menyuruhnya berdiri di depan pintu.


Ny. Besar : “Kenapa,


Boy? Ada apa?”


Boy : “Ini,


Joya mau keluar ke kamar mandi, bu. Joya, uda sana.”


Joya : “Tapi


ada ibu, mas. Malu.”


Boy : “Cuma ada


ibu. Gak pa-pa. Cepat sana pake baju.”


Ny. Besar


tersenyum penuh arti saat melihat Joya keluar hanya memakai selimut membungkus


tubuhnya.


Joya : “I...


Ibu...” Bahkan wajah Joya lebih merah dari vas merah yang ada di ruangan itu.


Ny. Besar : “Joya,


sayang. Ini, ibu bawain baju.”


Boy yang


melihat ibunya menyodorkan paper bag, segera mengambilnya dan memberikannya


pada Joya.


Joya : “Makasih,


bu. Joya ke kamar mandi dulu ya.”


Ny. Besar


berdehem melihat Boy hanya memakai boxernya dengan tubuh bagian atas memakai


kemeja tanpa dikancingkan.


Boy : “Hehe...


ntar, bu. Boy pake baju dulu.”


Ny. Besar cuma


geleng-geleng kepala melihat kedua pasangan pengantin baru itu. Ia melanjutkan


meminum teh-nya sambil tetap duduk menunggu.


Joya keluar


dari kamar mandi setelah 10 menit berada di dalam sana bersamaan dengan Boy


yang keluar dari ruang istirahat. Giliran Boy yang masuk ke kamar mandi.


Ny. Besar : “Joya,


sayang. Sini, nak. Rambutmu masih basah ya?”


Joya duduk di


samping Ny. Besar yang mengambil handuk kecil di tangannya. Ny. Besar mengusap


rambut Joya dengan sayang.


Joya : “Biar


Joya saja, bu.”


Ny. Besar : “Biar


ibu saja. Kamu ini, baru sehari gak ketemu, ibu kok kangen ya. Biasanya


pagi-pagi kamu yang buatin ibu teh.”


Joya : “Mas Boy


gak ngasih Joya pulang, bu.”


Ny. Besar : “Ibu


yang nyuruh. Biar kalian bisa punya waktu berdua. Eh, malah kerja si Boy itu.”


Joya : “Tadi


ada meeting mendadak, bu. Ibu udah makan?”


Ny. Besar : “Makanya


ibu kesini mau ngajak makan diluar. Sekalian mau nyulik kamu dari Boy.”


Joya : “Iya,

__ADS_1


bu. Mau, bu diculik. Mas Boy...”


Boy : “Aku


kenapa?”


Boy yang baru


keluar dari kamar mandi, mendengar pembicaraan ibunya dengan istrinya.


Joya : “Gak


jadi.”


Ny. Besar


melihat Joya seperti sedang menyembunyikan sesuatu, ia menoleh pada Boy dan


mengusirnya keluar.


Ny. Besar : “Boy!


Keluar sana!”


Boy : “Tapi,


bu...”


Ny. Besar : “Keluar


cepat!”


Boy berjalan


keluar dari ruang kerjanya, ia melihat Rian masih berdiri di depan pintu,


menunggu perintah darinya.


Boy : “Rian,


ambilin kursi.”


Rian


mengambilkan kursi untuk Boy,


Rian : “Tuan


kenapa keluar?”


Boy : “Aku


diusir.”


Rian : “Hah?!


Oh...”


Untung Rian


cepat berpikir, ada Ny. Besar di dalam. Siapa lagi yang bisa mengusir Boy


keluar kalau gak Ny. Besar.


Rian : “Tuan


mau lembur malam ini?”


Boy : “Sepertinya


nggak. Desainnya sudah jadi?”


tuan. Mau kesana?”


Boy : “Ya,


sudah kita kesana dulu. Biar Joya sama ibu. Lia mana?”


Rian : “Tadi


ijin pulang duluan. Katanya gak enak badan.”


Boy : “Hmm.”


Mereka berdua


berjalan kembali ke ruangan pemasaran. Saat itu staf pemasaran sedang berkumpul


di satu meja, memperhatikan salah satu staf yang sedang melakukan finishing


untuk desain mereka.


Rian : “Ehem...


Selamat sore. Bagaimana desainnya? Sudah selesai?”


Staf : “Sore ,


pak. Sudah, pak.”


Rian : “Ambilkan


laptop. Tuan Boy mau lihat.”


Salah seorang


staf mengambil laptop agar Boy bisa melihat desainnya dengan lebih jelas. Ada


dua versi, yang satu dibuat berdasarkan usul Joya dan satunya memang dari


pemikiran seluruh staf pemasaran.


Boy : “Jadi ada


2 versi ya. Besok punya kalian dulu yang ditunjukkan ya.”


Staf : Baik, tuan


Boy.”


Boy : “Sudah


mulai malam, kalian sudah makan malam?”


Staf : “Belum,


tuan. Kami mau makan dulu baru pulang.”


Boy : “Kalian


mau makan apa?”


Staf : “...”


semuanya saling pandang, bingung mau makan apa.

__ADS_1


Boy : “Rian,


Niken mana?”


Rian : “Tadi


masih di ruangannya, tuan.”


Boy : “Kalian


makan di restaurant sebelah ya. Rian ajak Niken juga. Makan malam hari ini saya


yang traktir.”


Staf : “Horee...


Terima kasih, tuan Boy.”


Rian mengikuti


Boy yang sudah beranjak dari tempatnya duduk tadi. Mereka kembali ke ruang


kerja Boy dan mendapati Ny. Besar dan Joya masih duduk di sofa. Keduanya


menatap Boy yang nyelonong masuk ke ruangannya.


Boy : “Eh, maaf


bu. Apa sudah selesai ngobrolnya?”


Ny. Besar : “Sudah


selesai gara-gara kamu masuk. Kenapa gak ketok pintu dulu sich?”


Boy menggaruk


kepalanya yang tidak gatal. Gini dech nasib anak kandung rasa anak angkat.


Salah melulu perasaan.


Boy : “Bu, Boy


laper nich. Kita makan yuk. Rian, kamu duluan sana.”


Rian : “Baik,


tuan Boy. Ny. Besar, ny. Joya, saya permisi dulu.”


Ny. Besar : “Iya,


hati-hati. Ingat pesan saya ya, Rian.”


Rian : “Baik,


Ny. Besar.”


Joya tersenyum


pada Rian tapi Boy dengan cepat menutupi senyuman Joya agar tidak dilihat Rian.


Rian : “Haih,


sekarang aku gak boleh lihat senyumnya nyonya Joya juga nich. Besok apalagi.” Gumam


Rian sambil keluar dari ruang kerja Boy.


Ny. Besar : “Kita


makan dimana?”


Boy : “Restaurant


sebelah aja, bu. Mau gak? Kalo pulang, kelamaan.”


Ny. Besar : “Memangnya


Joya gak masak di apartment?”


Boy : “Boy gak


ngasi, bu. Lagian sarapannya tadi pagi beda.”


Joya : “Trus nasi


goreng yang mas makan tadi pagi itu siapa yang masak?”


Boy : “Hehe...


aku ingetnya bukan yang itu. Galak banget sich. Aku makan lagi nich.”


Joya : “Bu, mas


Boy tuch...”


Joya menatap


ibu mertuanya dengan pandangan memelas.


Ny. Besar : “Boy,


jangan gitu sama Joya. Kita ke apartmentmu saja. Makan disana. Masak yang


gampang aja, ya Joya.”


Joya : “Iya,


bu.”


Senyum


mengembang lebar dari bibir Joya, ia merangkul lengan ibu mertuanya itu.


Ny.Besar mengelus kepala Joya, ia terlihat sangat sayang pada anak yang kini


jadi menantu kesayangannya itu.


Boy : “Heh! Ada


ibu aja dia berani sama aku, awas aja kalo ibu udah pulang nanti.” Seringai Boy


licik sambil tersenyum tipis.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Vote juga ya...


Mau tahu novel author yang lain? Klik profil author ya.

__ADS_1


Makasi banyak..


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2