Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Sangat mencintaimu


__ADS_3

Joya sudah


merasa kenyang, Boy membawa nampan bekas piring kotor mereka dan menaruhnya di


luar kamar. Ny. Besar yang melihat Boy bisa menjaga Joya dengan baik,


berpamitan pada Joya untuk pulang ke rumah.


Ny. Besar :


“Joya sayang, ibu pulang dulu ya.”


Joya : “Iya,


bu. Hati-hati di jalan.”


Joya mencium


dan memeluk ibu mertuanya itu dengan senyum mengembang. Ia merasakan kedamaian


saat Ny. Besar memeluknya dengan erat. Ny. Besar mengelus kepala Joya dan


mencium keningnya.


Ny. Besar :


“Istirahat dulu ya. Jangan memikirkan apa-apa lagi. Ibu harap kamu cepat


pulang.”


Joya : “Iya,


bu.”


Ny. Besar


beranjak ke dekat pintu, ia melirik Boy yang menunduk tidak berani menatap


ibunya. Ny. Lastri menarik tangan Boy mendekati ibunya dan berdiri di depannya.


Boy :


“Hati-hati di jalan, bu.”


Boy mengulurkan


tangannya dan disambut Ny. Besar dengan enggan. Ny. Besar dan Ny. Lastri keluar


dari kamar rawat inap. Boy mengusap wajahnya dengan kasar.


Joya : “Sabar,


mas. Bentar juga ibu baik lagi.”


Boy : “Iya, aku


yang salah juga. Kamu mau tidur sekarang?”


Joya :


“Kayaknya tadi ada yang belum selesai ya.”


Boy : “Tapi


kamu masih sakit, Joya. Aku gak mau nyakitin kamu lagi.”


Joya : “Kalau


aku kesakitan, mas bisa berhenti.”


Boy duduk di


samping Joya yang langsung bersandar di bahunya. Dengan tangannya yang gemetar,


Boy menyentuh dagu Joya dan menariknya mendekat. Sebuah ciuman hangat dan


lembut mendarat di bibir Joya.


Boy


melakukannya dengan sangat hati-hati seolah Joya adalah boneka kaca yang akan


retak kalau mendapat terlalu banyak tekanan. Joya membalas ciuman Boy,


merangkul tengkuk suaminya itu.


Boy : “Joya...


aku sangat mencintaimu.”


Joya : “Mmm...


mas...aku juga.”


Pakaian Joya


sudah berserakan di lantai kamar, Boy hampir membuka pakaiannya juga ketika


seseorang mengetuk pintu kamar. Joya refleks menutup dadanya dengan tangan.


Joya : “Itu


siapa?”


Boy : “Bentar


aku cek dulu.”


Boy berjalan


dengan cepat menuju pintu kamar yang hampir terbuka. Boy mengintip siapa yang


datang.


Suster :


“Permisi, tuan. Saya mengantar obat untuk nyonya. Ini diminum sebelum tidur.”


Boy : “Iya,


suster. Ada lagi?”


Suster :


“Nyonya sudah tidur?”


Boy : “Sudah.”


Suster : “Kalau


begitu saya permisi dulu.”


Boy menutup

__ADS_1


pintu kamar dan menguncinya. Joya sudah menarik selimut menutupi tubuhnya


sampai ke leher.


Joya : “Siapa,


mas?”


Boy : “Suster


ngasi obat. Kamu disuruh minum sebelum tidur.”


Joya menerima


obat yang disodorkan Boy dan meminumnya dengan cepat. Boy mengambil pakaian


Joya yang berserakan dan menaruhnya di kaki Joya.


Boy : “Kamu


istirahat dulu ya.”


Joya : “Gak


lanjut lagi?”


Boy : “Tidur


dulu. Nanti malam kan bisa.”


Joya mendengus dengan


malas dan membaringkan tubuhnya. Boy mengelus kepala Joya, menemani di


sampingnya sampai Joya perlahan mulai tertidur.


Beberapa saat


berlalu, Joya sudah lelap tertidur. Boy beranjak ke sofa dan duduk disana.


Tampak ponselnya berkerlap-kerlip tanda ada pemberitahuan. Boy membuka satu


persatu pemberitahuan chat itu. Yang paling panjang tentu saja dari Rian.


Boy mulai


membalas satu persatu chat dari Rian, memberikan instruksi pada asistennya itu.


Ia menambahkan pesan kalau ia tidak akan mengangkat telpon kalau tidak terlalu


penting. Jadi Rian bisa chat saja. Boy juga memeriksa dokumen yang sudah


dikirim Rian, ia terus bekerja sampai jam 1 dini hari.


Boy


merenggangkan tubuhnya, ia melihat ke arah Joya yang tampak masih tidur. Boy


mulai merasa mengantuk dan perlahan tertidur di sofa.


*****


Entah sudah


berapa lama Boy tertidur. Ia mulai terbangun saat seseorang menusuk-nusuk


pipinya.


Joya : “Mas,


Boy : “Joya...


bentar 5 menit lagi.”


Joya : “Mas,


bangun dong.”


Boy membuka sedikit


matanya, ia melihat Joya duduk disampingnya. Tangannya terulur meraih tubuh


Joya dan memeluknya dengan erat.


Boy : “Aku


masih ngantuk, sayang. Bentar aja.”


Joya : “Mas,


bangun dulu dong. Gak enak gini.”


Boy : “Cuma ada


kita berdua. Cium aku... Cepetan.”


Boy sama sekali


tidak mau membuka matanya lagi, ia memonyongkan bibirnya. Joya menutup mulut


Boy dengan tangannya dan Boy menciumi tangan Joya.


Joya : “Mas,


ada dokter disini, mas gak malu.”


Mata Boy


terbuka sempurna, ia melihat dokter Risman dan suster senyum-senyum melihat


tingkahnya. Boy menatap Joya yang wajahnya sudah merona. Bahkan Joya sudah


ganti baju.


Boy : “Pagi,


dokter. Ini jam berapa?”


Joya : “Sudah


jam 8 pagi, mas.”


Boy : “Kamu uda


mandi?”


Joya : “Iya,


mas. Uda sarapan juga.”


Boy : “Masih


pusing?”

__ADS_1


Joya : “Nggak,


mas. Aku uda sembuh. Dokter sudah kasi pulang sekarang.”


dr. Risman :


“Iya, Boy. Joya sudah bisa pulang. Ingat pesan saya.”


Boy : “Iya,


dokter. Akan saya ingat. Makasih, dokter.”


Dokter Risman


dan suster keluar dari kamar, meninggalkan Boy dan Joya yang masih dalam posisi


mesra diatas sofa.


Boy : “Pagi,


sayang. Aku selesaiin administrasi dulu ya. Baru kita pulang.”


Joya : “Rian


udah mengurusnya. Mas mandi dulu ya, trus sarapan.”


Boy menatap


Joya sangat dalam. Ia memeluk Joya dengan erat sambil menangis.


Boy : “Kenapa


kamu baik sekali? Aku sudah menuduhmu tanpa mendengarkan penjelasanmu. Kenapa,


Joya?”


Joya : “Mas


cuma salah paham. Mas juga sudah menyesal kan? Aku berusaha memahami sifat mas


yang seperti ini. Kita baru saja menikah, mas. Masih banyak waktu untuk saling


mengenal sifat masing-masing.”


Boy : “Bagaimana


kalau aku tidak bisa berubah? Apa kau akan pergi?”


Joya : “Mungkin,


mas...”


Joya melepas


pelukan Boy dan duduk dengan tegak. Boy menahan nafasnya menunggu kata-kata


Joya selanjutnya.


Joya : “Tapi


bukan aku yang ingin pergi, tapi ibu yang akan membawaku pergi. Aku sudah


ketakutan waktu mas datang dan ibu bilang ibu sudah mengirimku keluar kota.


Membayangkannya saja sudah membuat perasaanku hancur, mas.”


Boy : “Apa kau


sangat mencintaiku?”


Joya : “Sangat,


sampai rasanya mau mati waktu denger mas mau nikah sama wanita lain.”


Boy menghapus


air matanya dan tersenyum, ia meraih dagu Joya, hampir mencium istrinya itu.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Rian masuk kesana, celingukan sebentar dan cuma


berkata,


Rian : “Bos?


Bos? Apa aku salah masuk kamar ya? Ya sudah aku nunggu di luar saja.”


Joya terkikik


geli melihat reaksi Rian yang keluar lagi. Boy menundukkan kepalanya ke pundak


Joya,


Boy : “Aku


mandi dulu dech. Panggil Rian suruh masuk.”


Joya : “Iya,


mas. Mas gak akan cemburu sama kak Rian kan?”


Boy : “Aku gak


akan mengulangi kesalahan yang sama, sayang. Kecuali kamu yang mau macem-macem.”


Joya nyengir


dan menggeleng, mendekati Boy yang sudah berjalan duluan ke kamar mandi dan


memberikan paper bag yang berisi pakaian Boy.


Joya : “Jangan


lama-lama, mas.”


Boy : “Kenapa?”


Joya menatap


Boy dan mengerling genit pada suaminya itu. Boy menangkap maksud Joya dan


menarik istrinya itu masuk ke kamar mandi. Tinggallah Rian menunggu di luar


kamar, tidak tahu kapan pintu akan terbuka untuknya.


*****


Kasian amat Rian harus nunggu Boy dan Joya selesai gosok kamar mandi...


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2