
Joya sudah
merasa kenyang, Boy membawa nampan bekas piring kotor mereka dan menaruhnya di
luar kamar. Ny. Besar yang melihat Boy bisa menjaga Joya dengan baik,
berpamitan pada Joya untuk pulang ke rumah.
Ny. Besar :
“Joya sayang, ibu pulang dulu ya.”
Joya : “Iya,
bu. Hati-hati di jalan.”
Joya mencium
dan memeluk ibu mertuanya itu dengan senyum mengembang. Ia merasakan kedamaian
saat Ny. Besar memeluknya dengan erat. Ny. Besar mengelus kepala Joya dan
mencium keningnya.
Ny. Besar :
“Istirahat dulu ya. Jangan memikirkan apa-apa lagi. Ibu harap kamu cepat
pulang.”
Joya : “Iya,
bu.”
Ny. Besar
beranjak ke dekat pintu, ia melirik Boy yang menunduk tidak berani menatap
ibunya. Ny. Lastri menarik tangan Boy mendekati ibunya dan berdiri di depannya.
Boy :
“Hati-hati di jalan, bu.”
Boy mengulurkan
tangannya dan disambut Ny. Besar dengan enggan. Ny. Besar dan Ny. Lastri keluar
dari kamar rawat inap. Boy mengusap wajahnya dengan kasar.
Joya : “Sabar,
mas. Bentar juga ibu baik lagi.”
Boy : “Iya, aku
yang salah juga. Kamu mau tidur sekarang?”
Joya :
“Kayaknya tadi ada yang belum selesai ya.”
Boy : “Tapi
kamu masih sakit, Joya. Aku gak mau nyakitin kamu lagi.”
Joya : “Kalau
aku kesakitan, mas bisa berhenti.”
Boy duduk di
samping Joya yang langsung bersandar di bahunya. Dengan tangannya yang gemetar,
Boy menyentuh dagu Joya dan menariknya mendekat. Sebuah ciuman hangat dan
lembut mendarat di bibir Joya.
Boy
melakukannya dengan sangat hati-hati seolah Joya adalah boneka kaca yang akan
retak kalau mendapat terlalu banyak tekanan. Joya membalas ciuman Boy,
merangkul tengkuk suaminya itu.
Boy : “Joya...
aku sangat mencintaimu.”
Joya : “Mmm...
mas...aku juga.”
Pakaian Joya
sudah berserakan di lantai kamar, Boy hampir membuka pakaiannya juga ketika
seseorang mengetuk pintu kamar. Joya refleks menutup dadanya dengan tangan.
Joya : “Itu
siapa?”
Boy : “Bentar
aku cek dulu.”
Boy berjalan
dengan cepat menuju pintu kamar yang hampir terbuka. Boy mengintip siapa yang
datang.
Suster :
“Permisi, tuan. Saya mengantar obat untuk nyonya. Ini diminum sebelum tidur.”
Boy : “Iya,
suster. Ada lagi?”
Suster :
“Nyonya sudah tidur?”
Boy : “Sudah.”
Suster : “Kalau
begitu saya permisi dulu.”
Boy menutup
__ADS_1
pintu kamar dan menguncinya. Joya sudah menarik selimut menutupi tubuhnya
sampai ke leher.
Joya : “Siapa,
mas?”
Boy : “Suster
ngasi obat. Kamu disuruh minum sebelum tidur.”
Joya menerima
obat yang disodorkan Boy dan meminumnya dengan cepat. Boy mengambil pakaian
Joya yang berserakan dan menaruhnya di kaki Joya.
Boy : “Kamu
istirahat dulu ya.”
Joya : “Gak
lanjut lagi?”
Boy : “Tidur
dulu. Nanti malam kan bisa.”
Joya mendengus dengan
malas dan membaringkan tubuhnya. Boy mengelus kepala Joya, menemani di
sampingnya sampai Joya perlahan mulai tertidur.
Beberapa saat
berlalu, Joya sudah lelap tertidur. Boy beranjak ke sofa dan duduk disana.
Tampak ponselnya berkerlap-kerlip tanda ada pemberitahuan. Boy membuka satu
persatu pemberitahuan chat itu. Yang paling panjang tentu saja dari Rian.
Boy mulai
membalas satu persatu chat dari Rian, memberikan instruksi pada asistennya itu.
Ia menambahkan pesan kalau ia tidak akan mengangkat telpon kalau tidak terlalu
penting. Jadi Rian bisa chat saja. Boy juga memeriksa dokumen yang sudah
dikirim Rian, ia terus bekerja sampai jam 1 dini hari.
Boy
merenggangkan tubuhnya, ia melihat ke arah Joya yang tampak masih tidur. Boy
mulai merasa mengantuk dan perlahan tertidur di sofa.
*****
Entah sudah
berapa lama Boy tertidur. Ia mulai terbangun saat seseorang menusuk-nusuk
pipinya.
Joya : “Mas,
Boy : “Joya...
bentar 5 menit lagi.”
Joya : “Mas,
bangun dong.”
Boy membuka sedikit
matanya, ia melihat Joya duduk disampingnya. Tangannya terulur meraih tubuh
Joya dan memeluknya dengan erat.
Boy : “Aku
masih ngantuk, sayang. Bentar aja.”
Joya : “Mas,
bangun dulu dong. Gak enak gini.”
Boy : “Cuma ada
kita berdua. Cium aku... Cepetan.”
Boy sama sekali
tidak mau membuka matanya lagi, ia memonyongkan bibirnya. Joya menutup mulut
Boy dengan tangannya dan Boy menciumi tangan Joya.
Joya : “Mas,
ada dokter disini, mas gak malu.”
Mata Boy
terbuka sempurna, ia melihat dokter Risman dan suster senyum-senyum melihat
tingkahnya. Boy menatap Joya yang wajahnya sudah merona. Bahkan Joya sudah
ganti baju.
Boy : “Pagi,
dokter. Ini jam berapa?”
Joya : “Sudah
jam 8 pagi, mas.”
Boy : “Kamu uda
mandi?”
Joya : “Iya,
mas. Uda sarapan juga.”
Boy : “Masih
pusing?”
__ADS_1
Joya : “Nggak,
mas. Aku uda sembuh. Dokter sudah kasi pulang sekarang.”
dr. Risman :
“Iya, Boy. Joya sudah bisa pulang. Ingat pesan saya.”
Boy : “Iya,
dokter. Akan saya ingat. Makasih, dokter.”
Dokter Risman
dan suster keluar dari kamar, meninggalkan Boy dan Joya yang masih dalam posisi
mesra diatas sofa.
Boy : “Pagi,
sayang. Aku selesaiin administrasi dulu ya. Baru kita pulang.”
Joya : “Rian
udah mengurusnya. Mas mandi dulu ya, trus sarapan.”
Boy menatap
Joya sangat dalam. Ia memeluk Joya dengan erat sambil menangis.
Boy : “Kenapa
kamu baik sekali? Aku sudah menuduhmu tanpa mendengarkan penjelasanmu. Kenapa,
Joya?”
Joya : “Mas
cuma salah paham. Mas juga sudah menyesal kan? Aku berusaha memahami sifat mas
yang seperti ini. Kita baru saja menikah, mas. Masih banyak waktu untuk saling
mengenal sifat masing-masing.”
Boy : “Bagaimana
kalau aku tidak bisa berubah? Apa kau akan pergi?”
Joya : “Mungkin,
mas...”
Joya melepas
pelukan Boy dan duduk dengan tegak. Boy menahan nafasnya menunggu kata-kata
Joya selanjutnya.
Joya : “Tapi
bukan aku yang ingin pergi, tapi ibu yang akan membawaku pergi. Aku sudah
ketakutan waktu mas datang dan ibu bilang ibu sudah mengirimku keluar kota.
Membayangkannya saja sudah membuat perasaanku hancur, mas.”
Boy : “Apa kau
sangat mencintaiku?”
Joya : “Sangat,
sampai rasanya mau mati waktu denger mas mau nikah sama wanita lain.”
Boy menghapus
air matanya dan tersenyum, ia meraih dagu Joya, hampir mencium istrinya itu.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Rian masuk kesana, celingukan sebentar dan cuma
berkata,
Rian : “Bos?
Bos? Apa aku salah masuk kamar ya? Ya sudah aku nunggu di luar saja.”
Joya terkikik
geli melihat reaksi Rian yang keluar lagi. Boy menundukkan kepalanya ke pundak
Joya,
Boy : “Aku
mandi dulu dech. Panggil Rian suruh masuk.”
Joya : “Iya,
mas. Mas gak akan cemburu sama kak Rian kan?”
Boy : “Aku gak
akan mengulangi kesalahan yang sama, sayang. Kecuali kamu yang mau macem-macem.”
Joya nyengir
dan menggeleng, mendekati Boy yang sudah berjalan duluan ke kamar mandi dan
memberikan paper bag yang berisi pakaian Boy.
Joya : “Jangan
lama-lama, mas.”
Boy : “Kenapa?”
Joya menatap
Boy dan mengerling genit pada suaminya itu. Boy menangkap maksud Joya dan
menarik istrinya itu masuk ke kamar mandi. Tinggallah Rian menunggu di luar
kamar, tidak tahu kapan pintu akan terbuka untuknya.
*****
Kasian amat Rian harus nunggu Boy dan Joya selesai gosok kamar mandi...
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1