Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Menantu untuk Ibu Bag 17


__ADS_3

Kamu  tahu? Mengalah itu melelahkan tapi aku melakukannya, karena aku mencintaimu.


💞💞


Wajah Tyo berbinar menatap Safira dalam balutan kebaya kontemporer berwarna off white yang akan ia kenakan saat acara pernikahan mereka nanti. Mengetahui dirinya ditatap tanpa jeda, wajah gadis berkulit putih itu memerah.


"Dia cantik, 'kan Tyo?" tanya Bu Santi menyenggol lengan putra pertamanya. Tyo mengangguk setuju dengan ucapan ibunya.


"Oke, fixed ya, ukuran badannya, Fira?" Bu  Santi mendekat. Gadis itu mengangguk tersenyum.


Seharian penuh Tyo menemani Safira dan ibunya. Sore hari mereka tiba di rumah. Tampak Alva tengah memanaskan mobil. Sekilas pria itu mencuri pandang ke Safira.


"Safira, kamu istirahat dulu. Pasti lelah seharian kita jalan tadi." Tyo menatap lembut Safira. Gadis itu mengangguk tersenyum lalu melangkah ke kamar.


"Percayalah, Tyo. Ibu tidak salah memilih calon istri untukmu," ucap ibunya saat pria itu hendak menuju ke kamar.


"Tyo tahu, Bu. Safira gadis baik!"


Bu Santi tersenyum mengangguk.


"Bu, Al keluar dulu ya." Alva tiba-tiba berada di samping sang ibu.


"Ke mana?"


"Ada janji sama teman, nggak sampai malam kok."


Perempuan paruh baya itu mengangguk. Setelah mencium punggung tangan ibunya Alva bergegas pergi.


***


Di kamar Safira baru saja membersihkan diri. Saat ia hendak merebahkan dirinya di  ranjang. Matanya membidik sebuah surat yang tergeletak di lantai dekat dengan pintu kamar. Dengan kening berkerut mengambil surat beramplop putih itu. Perlahan ia buka. Matanya membulat saat membaca tulisan singkat di kertas itu.


"Hai Safira. Sebentar lagi kamu resmi dinikahi oleh Kak Tyo. Aku yakin dia bahagia begitu juga dirimu. Maafkan bila aku terlambat menyadari bahwa aku pun ... mencintaimu."


                                         Aku, Alvaro.


Wajah gadis itu berubah muram. Kertas di tangannya ia lipat kecil lalu dimasukkan ke laci meja rias. Bergeming ia menatap cermin. Kilas peristiwa antara dirinya dan Alva bermunculan bak puzle yang perlahan tersusun. Penolakan Alva dan kesombongan pria itu kembali terpapar. Hingga kedekatan mereka belakangan ini. Safira menyudahi lamunannya saat pintu diketuk.


"Mas Tyo?" sapanya saat membuka pintu. Pria tampan itu tersenyum menatap.


"Ponsel kamu ketinggalan."


"Makasih, Mas."


Tyo mengangguk. Ia menangkap kebingungan di raut wajah Safira.


"Kamu kenapa?"


"Enggak, Mas. Cuma ...."


"Kecapekan?"


Ia mengangguk. Pria itu menganjurkan agar ia istirahat.


"Biar nanti aku bawakan makan malam ke kamar."


Safira menggeleng cepat, ia merasa tidak enak dengan lelaki baik itu.

__ADS_1


"Kenapa? Aku nggak keberatan," tanyanya.


"Jangan, Mas. Saya nggak apa-apa. Mungkin belum mandi, jadi ngerasa gerah," kilah gadis itu seraya merapikan rambut.


"Oke, aku ke kamar dulu. Nanti kita makan malam bareng ibu."


Gadis itu mengangguk tersenyum.


***


Pak Yuda, Bu Santi dan Tyo sudah duduk melingkari meja makan saat Safira turun dari kamarnya. Tak ada Alva di sana,  membuat hatinya bersyukur. Entah kenapa semenjak pengakuannya di tulisan itu, ia mendadak tak ingin bertemu.


Safira mengakui ada gelenyar indah menyapa hati saat berdua saja dengan lelaki angkuh itu. Tapi tentu saja dirinya tak ingin memupuk rasa tersebut. Alva baginya adalah pria masa lalu yang pernah menolak dirinya.


Kini ia bersiap menyambut masa depannya bersama Tyo. Meskipun desir berbeda terasa saat ia bersama lelaki itu.


"Safira? Kenapa berdiri aja di situ?" Tyo menatapnya dengan senyum. Dengan wajah malu ia melangkah dan mengambil duduk.


"Sebentar lagi kalian sah menjadi sepasang suami istri. Ayah harap kalian bisa saling mengisi satu sama lain ... Tyo, menjadi pemimpin dalam keluarga itu bukan hal mudah, tanggung jawab besar ada di pundakmu, jadi ... bijaksanalah, Nak." Pak Yuda menasehati sang putra di sela acara makan malam itu.


Mengangguk Tyo menanggapi.


"Ibu yakin, Safira bisa memberikan kenyamanan buatmu, Tyo."


"Tyo tahu itu, Bu. Tyo akan membuat dia juga merasa nyaman," ungkapnya menatap Safira. Mendengar ucapan itu wajah itu kembali merona.


"Alva ke mana, Bu?"


"Adikmu ... biasa, tadi dia bilang mau ketemu teman ...."


"Malam semua!" Alva tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. T-shirt putih membungkus pas di tubuh atletis miliknya. Sejenak pria itu melirik ke arah Safira yang mendadak tertunduk seolah tak berani menatap.


"Nggak, Bu. Lagian udah selesai kok ketemuannya,"balas lelaki itu mengambil duduk di samping ibunya.


"Kalau begitu ayo makan bareng," ajak sang kakak.


Alva mengangguk tersenyum.


"Baik, calon pengantin. Adikmu ini akan menjadi adik yang baik dengan menurutimu," candanya mengambil sepotong perkedel di piring.


Suasana menjadi lebih hangat. Mereka berlima menikmati hidangan makan malam dengan perasaan bahagia. Namun, tanpa disadari, sebenarnya ada dua hati yang berpura-pura bahagia, sementara hati mereka sama-sama tersiksa.


***


Tinggal dua pekan lagi pernikahan Safira dan Tyo. Semua persiapan sudah matang. Undangan sudah menyebar.


Siang itu Safira berada di bakery and kafe miliknya. Ia sengaja terjun ke dapur untuk membuat beberapa resep baru. Ia sengaja meminta izin Tyo dan Bu Santi untuk pergi keluar rumah.


"Ada resep kue yang ingin saya contohkan dengan karyawan di toko, Bu."


Bu Santi mengizinkan demikian juga dengan Tyo.


"Asal, setelah itu kamu tetap harus berada di rumah sampai aku yang membawamu pergi," kelakar Tyo seraya mencubit hidung mancung gadis itu.


Seperti biasa, setelah selesai memberi pengarahan, ia kembali ke depan. Matanya membulat melihat Alva tengah duduk sendiri di salah satu kursi pengunjung. Pelan ia mundur kembali ke dapur, tapi terlambat, mata Alva keburu menangkap sosoknya. Lelaki itu melangkah menghampiri.


"Ikut aku!" Kuat tangan kokoh itu menahan lengan Safira. Gadis itu menolak tapi tenaganya tak cukup kuat untuk bertahan.

__ADS_1


Alva menggandeng gadis itu mengajaknya keluar.


"Mas, apa-apaan sih?" protesnya kesal saat sudah berada di mobil.


Alva menarik napas panjang, ia tak menjawab. Perlahan kendaraan beroda empat itu membawa keduanya meninggalkan tempat itu.


"Mas Al! Saya mau dibawa ke mana?" Safira kembali bertanya.


"Aku tidak akan melukai atau menyakitimu. Jadi diamlah!"


Gadis itu menyandarkan kepalanya lalu menatap ke luar jendela. Hatinya berdebar memikirkan apa yang akan dilakukan pria itu. Alva meminggirkan mobilnya ke sebuah taman.


"Ada apa, Mas Al?"


Pria itu menoleh ke Safira.


"Kamu sudah membaca surat itu?"


"Sudah."


"Lalu?"


"La_lu a_pa?"


"Apa jawabannya?"


"Jawaban apa?" Degub jantung gadis itu tak lagi beraturan. Jemarinya saling bertautan mencoba meredakan rasa.


"Kamu jangan bohongi diri sendiri, jujurlah dengan perasaanmu!"


Safira menggeleng mencoba membuat jarak saat pria itu mendekatkan tubuhnya.


"Aku tahu kamu sedang bermain-main dengan perasaanmu, 'kan?" Cepat Alva meraih wajah gadis itu dan menangkup dengan kedua tangannya. Posisi Safira terkunci, ia tak bisa menghindar saat bibir Alva ******* bibirnya. Gadis itu mencoba mendorong dada pria di depannya, tapi semakin ia mendorong semakin Alva menguncinya.


"Lepas! Saya mau pulang!" pinta Safira saat Alva menyudahi kecupannya.


"Kamu mencintaiku, 'kan?"


Gadis itu menunduk lalu menggeleng.


"Tatap aku, Safira!" Kembali ia menangkup wajah cantik di depannya. Safira memejamkan matanya tak membiarkan Alva menatap.


"Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu tidak berani menatap mataku?"


"Saya mau pulang, Mas Al."


"Tidak! Sebelum kamu menjawab pertanyaanku!"


"Oke, saya tidak mencintai Mas Al. Saya mencintainya, mencintai Mas Tyo!"


Alva melepas tangannya dari wajah cantik gadis itu. Terdengar embusan napas kasar darinya.


"Oke, terima kasih jawabannya. Kita pulang sekarang!"


Sepanjang jalan Alva tak lagi mencuri pandang seperti tadi. Dia hanya fokus ke depan. Sementara Safira sesekali menarik napas dalam-dalam menyembunyikan perih yang ia buat sendiri.


"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku Mas Alva, maafkan aku Mas Tyo ...." batinnya menahan air mata.

__ADS_1


Mendadak ada rasa yang hilang saat ia mengatakan bahwa dirinya mencintai Tyo pada Alva barusan. Ia merasa bersalah telah membuat pria itu bersedih.


***


__ADS_2