
Joya
mengambilkan makanan untuk makan malamnya dengan Boy. Setelah melihat Joya
bermanja-manja dengan ibunya, Boy jadi manja pada Joya. Joya harus melayani
semua permintaan Boy di pesta itu.
Boy : “Joya,
ambilkan aku kue. Joya, ambilkan air minum. Joya, aku lapar mau makan. Joya,
Joya, Joya.”
Joya jadi
stress karena namanya terus di panggil Boy, tapi ia tetap tersenyum pada
suaminya itu. Ketika akhirnya Boy sibuk dengan makan malamnya yang nambah 2
kali hanya karena masakan Joya, Joya menyelinap masuk ke kamarnya.
Ia kembali
membersihkan dirinya dan membuka lemari pakaiannya. Joya melihat satu persatu
set lingeri yang tergantung rapi di dalam lemarinya. Ia melihat liengeri warna
hitam yang tadi di pilih Boy dan memutuskan memakai yang itu saja.
Setelah memakai
lingerie itu, Joya duduk di depan meja riasnya. Ia mulai memakai make up
lengkap dari bedak sampai eyeliner. Bahkan memakai lipstik berwarna merah yang
berani. Setelah itu Joya berdiri dan melihat penampilannya didepan cermin.
Joya : “Oh,
kenapa aku terlihat berlebihan sekali.”
Joya mengatur
rambutnya agar tergerai menutupi salah satu pundaknya yang terbuka. Wajahnya
merona melihat penampilannya yang sangat seksi dan hot.
Joya : “Apa ini
yang dimaksud mb Putri? Ach, masih kurang pita.”
Joya membuka
lemarinya lagi, ia mencari selendang berwarna merah dan mengikatnya di lehernya.
Joya kembali memperhatikan penampilannya dan mengeluh lagi,
Joya : “Oh, aku
terlihat seperti wanita yang tidak sopan.”
Sungguh ingin
menyebut kata-kata yang lebih vulgar tapi Joya bukan tipe wanita yang bisa
mengatakan hal-hal yang tidak sopan dengan gamblangnya.
Joya hampir
menarik lepas pita di lehernya, dan mengganti lingerienya dengan piyama tidur
biasa, tapi Joya mendengar langkah kaki seseorang di depan kamarnya.
*****
Setelah
menghabiskan makan malamnya tadi, Boy sudah siap menyuruh-nyuruh Joya untuk
melayaninya mengambilkan dessert. Tapi setelah memanggil beberapa lama, Joya
bahkan tidak tampak dimanapun.
ART sampai
ikutan mencari Joya tapi gak ketemu juga. Boy sendiri sampai mengecek ke dapur,
memastikan istrinya itu tidak sedang mencuci piring. Boy malah sempat berpikir
Joya mencuci pakaian malam-malam begini.
Tapi saat Bi
Ijah mengatakan kalau Joya tidak ada di lantai bawah bahkan di garasi dan kamar
ART, Boy langsung melihat kearah tangga.
Boy berjalan
cepat ke lantai 2 dan berhenti di depan kamarnya. Ia mengedarkan pandangan ke
seluruh lantai 2, tapi tetap tidak melihat Joya dimana pun.
Boy : “Kemana
sich dia? Ini ulang tahunku dan dia menghilang lagi. Aku kesal sekali!”
Boy membuka
pintu kamarnya dan masuk kesana. Ia menutup pintu sedikit membanting dan
berbalik. Saat itu Boy melongo melihat Joya berdiri di depannya.
Boy : “Joya...”
Joya : “Ma...
Mas Boy...”
Glup! Boy
menelan salivanya melihat penampilan hot Joya. Joya berdiri dengan gugup dan
sedikit gelisah. Ia semakin grogi saat Boy terus menatapnya dengan intens.
Joya : “Mas...
__ADS_1
kamu... gak...”
Joya menepuk
pipinya dan bicara dengan cepat,
Joya : “Mas, gak
mau buka kadonya?”
Blush! Wajah Joya
semakin memerah, mendengar kata-katanya yang menggoda Boy. Joya menunduk, ia
berjalan mundur saat melihat Boy berjalan perlahan mendekatinya.
Boy : “Berhenti!”
Joya diam di
tempat, ia masih menunduk.
Joya : “Jangan
mendekat dulu, mas. Jantungku rasanya mau lompat dari tempatnya.”
Boy : “Gimana
aku bisa buka kadoku kalau aku gak boleh mendekatimu?”
Joya
mengulurkan ujung pita yang menggantung di lehernya. Boy menerima ujung pita
itu dan perlahan menarik pitanya hingga lepas.
Boy : “Joya,
lihat aku.”
Joya : “Aku
malu, mas.”
Boy : “Apa kau
menghilang untuk menyiapkan ini?”
Joya : “Iya,
mas.”
Boy : “Sini,
aku mau lihat lebih dekat.”
Boy duduk di sisi
ranjang dan mengulurkan tangannya pada Joya. Joya memejamkan matanya dan
perlahan menarik nafas. Boy dengan sabar menunggu Joya menenangkan dirinya, ia
ingin tertawa melihat reaksi Joya yang malu sendiri.
Boy : “Sini,
Joya mendekat,
menyentuh tangan Boy yang langsung menariknya mendekat. Tubuh Joya berdiri di
depan Boy sekarang.
Boy : “Siapa
yang membantumu?” Boy bertanya sambil menarik tali yang menggantung dari bahu
Joya. Boy tahu Joya tidak akan memikirkan hadiah seperti ini sendiri.
Joya : “Mb
Putri, mas. Tadi aku udah gak mau.”
Boy : “Kenapa
gak mau?”
Joya : “Terlalu
memalukan, mas. Aku terlihat seperti wanita...”
Boy : “Kamu
istriku, tidak memalukan kalau kau sesekali berpenampilan seperti ini hanya di
depanku.”
Joya : “Aku
malu, mas. Semuanya tipis dan mini begini.”
Boy : “Tapi aku
suka sekali kado yang ini. Kado terbaik seumur hidupku. Sayang sekali aku tidak
bisa mengabadikannya.”
Joya : “Kalau
sebatas atas dada, kan masih bisa di foto, mas.”
Boy : “Tidak
boleh. Penampilanmu ini, semuanya hanya aku yang boleh melihatnya. Hanya aku
yang boleh menikmatinya.”
Joya merasakan
tangan Boy mulai meraba punggungnya.
Joya : “Mas mau
sekarang?”
Boy : “Ya,
boleh?”
__ADS_1
Joya : “Pintunya
udah dikunci?”
Boy : “Sepertinya
belum.”
Joya berjalan
ke pintu kamar dan menguncinya. Ia ingin mematikan lampu kamar, tapi Boy
melarangnya,
Boy : “Jangan
dimatiin lampunya.”
Joya : “Tapi,
mas...”
Boy : “Hari ini
ulang tahunku, lakukan apa yang kumau.”
Joya mendekat
lagi dan duduk di samping Boy. Ia masih gelisah dan grogi sampai merasakan
tangannya sangat dingin. Boy menarik dagu Joya, mata Joya mulai terpejam tapi
Joya tidak merasakan apa-apa. Saat ia membuka matanya lagi, Joya melihat Boy
tersenyum.
Boy : “Jangan
pejamkan matamu, lihat aku terus.”
Mata Joya
terbelalak saat Boy mulai mencium bibirnya dengan lembut.
*****
Joya terbangun
keesokan paginya, ia merenggangkan tubuhnya sejenak. Dilihatnya Boy masih tidur
dengan rambut acak-acakan.
Joya : “Pagi,
mas.” Joya mencium kening Boy.
Ia bangkit
perlahan, mengambil lingerienya yang tergeletak di bawah ranjang dan melihat
dirinya di depan cermin. Joya tersenyum malu melihat banyaknya bekas perbuatan
Boy semalam. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah mandi,
Joya segera berpakaian dan mengeringkan rambutnya. Ia harus ke dapur untuk
membuat sarapan dan bekal makan siang untuk dirinya dan Boy. Joya melirik Boy
yang masih tidur dan meninggalkannya sendirian.
Suasana dapur
sudah mulai sibuk karena Bi Ijah sudah mulai memasak untuk sarapan.
Joya : “Pagi,
bi. Masak apa?”
BI Ijah : “Pagi,
Ny. Joya. Sarapan hari ini nasi kuning dan ini bahan makanan untuk bekal nanti
siang. Ny. mau masak apa?”
Joya : “Saya
bawa ayam goreng sama sayur bening aja, bi. Maaf ya saya bangun kesiangan.”
Bi Ijah : “Saya
paham kok, Nyonya.”
Joya melihat
lirikan mata Bi Ijah ke arah lehernya, Joya membetulkan kemejanya yang berleher
tinggi dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Tapi lain
halnya dengan Ny. Putri ketika mereka bertemu di meja makan, Ny. Putri dengan
heboh mengintip ke balik kemeja tinggi Joya dan menggodanya habis-habisan.
Joya : “Mbak,
jangan keras-keras dong. Joya malu nich.”
Ny. Putri : “Jadi
rencanaku berhasil.”
Melihat Joya
mengangguk malu-malu, Ny. Putri semakin heboh menggodanya. Kalau sudah begitu,
Joya hanya bisa menunduk malu dan kabur ke kamarnya untuk membangunkan Boy.
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1