Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Ep. 20 – Aku suka kadomu


__ADS_3

Joya


mengambilkan makanan untuk makan malamnya dengan Boy. Setelah melihat Joya


bermanja-manja dengan ibunya, Boy jadi manja pada Joya. Joya harus melayani


semua permintaan Boy di pesta itu.


Boy : “Joya,


ambilkan aku kue. Joya, ambilkan air minum. Joya, aku lapar mau makan. Joya,


Joya, Joya.”


Joya jadi


stress karena namanya terus di panggil Boy, tapi ia tetap tersenyum pada


suaminya itu. Ketika akhirnya Boy sibuk dengan makan malamnya yang nambah 2


kali hanya karena masakan Joya, Joya menyelinap masuk ke kamarnya.


Ia kembali


membersihkan dirinya dan membuka lemari pakaiannya. Joya melihat satu persatu


set lingeri yang tergantung rapi di dalam lemarinya. Ia melihat liengeri warna


hitam yang tadi di pilih Boy dan memutuskan memakai yang itu saja.


Setelah memakai


lingerie itu, Joya duduk di depan meja riasnya. Ia mulai memakai make up


lengkap dari bedak sampai eyeliner. Bahkan memakai lipstik berwarna merah yang


berani. Setelah itu Joya berdiri dan melihat penampilannya didepan cermin.


Joya : “Oh,


kenapa aku terlihat berlebihan sekali.”


Joya mengatur


rambutnya agar tergerai menutupi salah satu pundaknya yang terbuka. Wajahnya


merona melihat penampilannya yang sangat seksi dan hot.


Joya : “Apa ini


yang dimaksud mb Putri? Ach, masih kurang pita.”


Joya membuka


lemarinya lagi, ia mencari selendang berwarna merah dan mengikatnya di lehernya.


Joya kembali memperhatikan penampilannya dan mengeluh lagi,


Joya : “Oh, aku


terlihat seperti wanita yang tidak sopan.”


Sungguh ingin


menyebut kata-kata yang lebih vulgar tapi Joya bukan tipe wanita yang bisa


mengatakan hal-hal yang tidak sopan dengan gamblangnya.


Joya hampir


menarik lepas pita di lehernya, dan mengganti lingerienya dengan piyama tidur


biasa, tapi Joya mendengar langkah kaki seseorang di depan kamarnya.


*****


Setelah


menghabiskan makan malamnya tadi, Boy sudah siap menyuruh-nyuruh Joya untuk


melayaninya mengambilkan dessert. Tapi setelah memanggil beberapa lama, Joya


bahkan tidak tampak dimanapun.


ART sampai


ikutan mencari Joya tapi gak ketemu juga. Boy sendiri sampai mengecek ke dapur,


memastikan istrinya itu tidak sedang mencuci piring. Boy malah sempat berpikir


Joya mencuci pakaian malam-malam begini.


Tapi saat Bi


Ijah mengatakan kalau Joya tidak ada di lantai bawah bahkan di garasi dan kamar


ART, Boy langsung melihat kearah tangga.


Boy berjalan


cepat ke lantai 2 dan berhenti di depan kamarnya. Ia mengedarkan pandangan ke


seluruh lantai 2, tapi tetap tidak melihat Joya dimana pun.


Boy : “Kemana


sich dia? Ini ulang tahunku dan dia menghilang lagi. Aku kesal sekali!”


Boy membuka


pintu kamarnya dan masuk kesana. Ia menutup pintu sedikit membanting dan


berbalik. Saat itu Boy melongo melihat Joya berdiri di depannya.


Boy : “Joya...”


Joya : “Ma...


Mas Boy...”


Glup! Boy


menelan salivanya melihat penampilan hot Joya. Joya berdiri dengan gugup dan


sedikit gelisah. Ia semakin grogi saat Boy terus menatapnya dengan intens.


Joya : “Mas...

__ADS_1


kamu... gak...”


Joya menepuk


pipinya dan bicara dengan cepat,


Joya : “Mas, gak


mau buka kadonya?”


Blush! Wajah Joya


semakin memerah, mendengar kata-katanya yang menggoda Boy. Joya menunduk, ia


berjalan mundur saat melihat Boy berjalan perlahan mendekatinya.


Boy : “Berhenti!”


Joya diam di


tempat, ia masih menunduk.


Joya : “Jangan


mendekat dulu, mas. Jantungku rasanya mau lompat dari tempatnya.”


Boy : “Gimana


aku bisa buka kadoku kalau aku gak boleh mendekatimu?”


Joya


mengulurkan ujung pita yang menggantung di lehernya. Boy menerima ujung pita


itu dan perlahan menarik pitanya hingga lepas.


Boy : “Joya,


lihat aku.”


Joya : “Aku


malu, mas.”


Boy : “Apa kau


menghilang untuk menyiapkan ini?”


Joya : “Iya,


mas.”


Boy : “Sini,


aku mau lihat lebih dekat.”


Boy duduk di sisi


ranjang dan mengulurkan tangannya pada Joya. Joya memejamkan matanya dan


perlahan menarik nafas. Boy dengan sabar menunggu Joya menenangkan dirinya, ia


ingin tertawa melihat reaksi Joya yang malu sendiri.


Boy : “Sini,


Joya mendekat,


menyentuh tangan Boy yang langsung menariknya mendekat. Tubuh Joya berdiri di


depan Boy sekarang.


Boy : “Siapa


yang membantumu?” Boy bertanya sambil menarik tali yang menggantung dari bahu


Joya. Boy tahu Joya tidak akan memikirkan hadiah seperti ini sendiri.


Joya : “Mb


Putri, mas. Tadi aku udah gak mau.”


Boy : “Kenapa


gak mau?”


Joya : “Terlalu


memalukan, mas. Aku terlihat seperti wanita...”


Boy : “Kamu


istriku, tidak memalukan kalau kau sesekali berpenampilan seperti ini hanya di


depanku.”


Joya : “Aku


malu, mas. Semuanya tipis dan mini begini.”


Boy : “Tapi aku


suka sekali kado yang ini. Kado terbaik seumur hidupku. Sayang sekali aku tidak


bisa mengabadikannya.”


Joya : “Kalau


sebatas atas dada, kan masih bisa di foto, mas.”


Boy : “Tidak


boleh. Penampilanmu ini, semuanya hanya aku yang boleh melihatnya. Hanya aku


yang boleh menikmatinya.”


Joya merasakan


tangan Boy mulai meraba punggungnya.


Joya : “Mas mau


sekarang?”


Boy : “Ya,


boleh?”

__ADS_1


Joya : “Pintunya


udah dikunci?”


Boy : “Sepertinya


belum.”


Joya berjalan


ke pintu kamar dan menguncinya. Ia ingin mematikan lampu kamar, tapi Boy


melarangnya,


Boy : “Jangan


dimatiin lampunya.”


Joya : “Tapi,


mas...”


Boy : “Hari ini


ulang tahunku, lakukan apa yang kumau.”


Joya mendekat


lagi dan duduk di samping Boy. Ia masih gelisah dan grogi sampai merasakan


tangannya sangat dingin. Boy menarik dagu Joya, mata Joya mulai terpejam tapi


Joya tidak merasakan apa-apa. Saat ia membuka matanya lagi, Joya melihat Boy


tersenyum.


Boy : “Jangan


pejamkan matamu, lihat aku terus.”


Mata Joya


terbelalak saat Boy mulai mencium bibirnya dengan lembut.


*****


Joya terbangun


keesokan paginya, ia merenggangkan tubuhnya sejenak. Dilihatnya Boy masih tidur


dengan rambut acak-acakan.


Joya : “Pagi,


mas.” Joya mencium kening Boy.


Ia bangkit


perlahan, mengambil lingerienya yang tergeletak di bawah ranjang dan melihat


dirinya di depan cermin. Joya tersenyum malu melihat banyaknya bekas perbuatan


Boy semalam. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Setelah mandi,


Joya segera berpakaian dan mengeringkan rambutnya. Ia harus ke dapur untuk


membuat sarapan dan bekal makan siang untuk dirinya dan Boy. Joya melirik Boy


yang masih tidur dan meninggalkannya sendirian.


Suasana dapur


sudah mulai sibuk karena Bi Ijah sudah mulai memasak untuk sarapan.


Joya : “Pagi,


bi. Masak apa?”


BI Ijah : “Pagi,


Ny. Joya. Sarapan hari ini nasi kuning dan ini bahan makanan untuk bekal nanti


siang. Ny. mau masak apa?”


Joya : “Saya


bawa ayam goreng sama sayur bening aja, bi. Maaf ya saya bangun kesiangan.”


Bi Ijah : “Saya


paham kok, Nyonya.”


Joya melihat


lirikan mata Bi Ijah ke arah lehernya, Joya membetulkan kemejanya yang berleher


tinggi dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.


Tapi lain


halnya dengan Ny. Putri ketika mereka bertemu di meja makan, Ny. Putri dengan


heboh mengintip ke balik kemeja tinggi Joya dan menggodanya habis-habisan.


Joya : “Mbak,


jangan keras-keras dong. Joya malu nich.”


Ny. Putri : “Jadi


rencanaku berhasil.”


Melihat Joya


mengangguk malu-malu, Ny. Putri semakin heboh menggodanya. Kalau sudah begitu,


Joya hanya bisa menunduk malu dan kabur ke kamarnya untuk membangunkan Boy.


*****


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2