Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Kisah pernikahan Ny.Besar


__ADS_3

Dokter Risman


sedang memeriksa Boy yang mulai mengigau karena demamnya,


Boy : “Bu...


maaf... Joya...”


Boy terus saja


menggumamkan tiga kata itu dalam keadaan tidak sadar. Dokter Risman sampai


harus memasang infus dan menyuntik Boy.


Ny. Besar : “Gimana


keadaan Boy, dokter?”


dr. Risman : “Demamnya


sudah mulai turun. Tetap dijaga ya, kompres terus. Kalau sampai pagi demamnya belum


turun, telpon saya lagi.”


Ny. Besar : “Baik,


dokter.”


Bi Ijah


mengatar dokter Risman keluar dan Joya masih merawat Boy.


Joya : “Bu,


istirahat saja. Joya akan jaga mas Boy.”


Ny. Besar : “Iya,


ibu tahu. Tapi kamu lihat ini tangan Boy gak mau lepas tangan ibu.”


Joya


memperhatikan Boy menggenggam tangan ibunya dengan erat. Joya segera menyiapkan


tempat di samping Boy agar Ny. Besar bisa berbaring dengan nyaman.


Joya : “Ibu,


berbaring di samping mas Boy saja ya. Joya akan duduk disini.”


Ny. Besar : “Tapi,


nak. Apa kamu akan begadang sepanjang malam?”


Joya : “Iya,


bu. Ibu harus istirahat, ibu tidur dulu ya.”


Ny. Besar : “Joya,


kamu baru sembuh. Seharusnya kamu beristirahat lebih banyak.”


Joya : “Joya


sudah sehat, bu. Ibu tidur duluan saja. Nanti gantian sama Joya ya, bu.”


Ny. Besar


akhirnya pindah ke samping Boy dan menggenggam tangan putra bungsunya lagi. Boy


mengigau lagi dalam tidurnya,


Boy : “Bu... maaf...


Joya...”


Ny. Besar : “Apa


anak ini sangat menyesal sampai sakit saja masih bilang maaf.”


Joya : “Ibu kan


tahu, Mas Boy paling tidak bisa melihat ibu kecewa.”


Ny. Besar : “Ya.


Meskipun sikapnya sangat dingin, tapi dia yang akan datang duluan waktu


mendengar ibu sakit. Apa ibu salah, Joya?”


Joya : “Ibu gak


pernah salah, bu. Ibu adalah ibu terbaik yang kami miliki.”


Ny. Besar : “Mulutmu


sangat manis, Joya.”


Joya : “Kenapa


kata-kata ibu sama dengan mas Boy? Dia selalu mengatakan itu setelah kami


berciuman. Oh...”


Blush. Wajah


Joya memerah mendengar kata-katanya sendiri. Ny. Besar tertawa melihat Joya memegang


pipinya sendiri.


Ny. Besar : “Apa

__ADS_1


kau bahagia, Joya?”


Joya : “Ya, bu.


Memiliki pria yang Joya cintai dan ibu yang sangat Joya sayangi. Kebahagiaan


apa lagi yang Joya harapkan.”


Ny. Besar : “Mungkin


seorang pangeran kecil?”


Joya : “Pangeran


kecil? Maksud ibu... seorang anak?”


Ny. Besar : “Bukan


hanya seorang, buatlah yang banyak. Mau sebanyak apapun, ibu masih sanggup


mengejarnya.”


Joya : “Ibu...


mas Boy belum membicarakan tentang anak, bu.”


Ny. Besar : “Tapi


kalian sering membuatnya, kan.”


Joya bahkan


kehilangan kata-katanya, ia menunduk menyembunyikan pipinya yang merona. Ny.


Besar semakin keras tertawa.


Ny. Besar : “Ibu


juga pernah muda, Joya. Saat pertama ibu datang kerumah ini sebagai pengantin,


ibu masih ingat saat itu.”


Joya menegakkan


kepalanya kembali, ia selalu kepo dengan segala sesuatu tentang Ny. Besar. Tapi


Ny. Besar tidak pernah mau bercerita tentang pernikahannya dulu.


Ny. Besar : “Kau


tahu, Joya. Ayah mertuamu persis seperti Boy dan Lastri. Sifatnya sangat baik


tapi juga bisa sangat posesif.”


Joya : “Oh,


jadi dari sana...”


Ny. Besar : “Ayahmu


usai. Tanpa ada orang yang tahu.”


Joya semakin


tertarik mendengar kelanjutan cerita ibu mertuanya.


Joya : “Lalu


apa yang terjadi?”


Ny. Besar : “Kamu


kepo sekali.”


Joya : “Bu, jangan


membuat Joya penasaran. Cepat cerita, bu.”


Ny. Besar : “Ibu


sebenarnya sedikit takut saat ayah mengunci pintu kamar. Apalagi saat ayah


mulai membuka jas-nya.”


Joya : “Memangnya


ayah dan ibu sebelumnya tidak pernah bersama?”


Ny. Besar : “Ibu


belum cerita ya kalau ibu dan ayah dijodohkan. Pernikahan bisnis.”


Joya : “Oh, artinya


ibu menikah tanpa cinta?”


Ny. Besar : “Mungkin...”


Joya : “Ibu


jatuh cinta pada ayah?”


Ny. Besar : “Apa


kau tidak jatuh cinta pada Boy?”


Joya : “Ya, bu.


Mas Boy sangat tampan, meskipun dia sangat galak.”


Ny. Besar : “Sama

__ADS_1


persis. Ayahmu juga begitu.”


Joya : “Apa


ayah kasar pada ibu?” Ny. Besar menatap Joya yang berubah sendu.


Ny. Besar : “Tidak,


ayah tidak pernah kasar karena ibu selalu didampingi seorang asisten yang


melaporkan apapun yang ibu lakukan pada ayahmu.”


Joya : “Oh...


apa artinya Joya juga harus punya asisten? Tidak, tidak. Itu akan sangat aneh.”


Ny. Besar : “Mau


dilanjut lagi ceritanya?”


Joya : “Iya,


iya. Apa yang ibu dan ayah lakukan di dalam kamar?”


Ny. Besar : “Seharusnya


kau lebih tahu.”


Joya : “Ibu,


jangan menggodaku.”


Ny. Besar : “Malam


itu tidak terjadi apa-apa. Ayahmu membuka jas-nya dan menyuruh ibu mandi


duluan. Tapi ibu menghabiskan banyak waktu untuk melepaskan semua aksesoris dan


baju pengantin ibu. Ayahmu sampai menerobos masuk karena ibu tidak keluar juga.”


Joya : “Lalu?”


Sungguh Joya bingung, kalau tidak terjadi apa-apa, kenapa ayah menerobos masuk?


Ny. Besar : “Ibu


sangat malu karena ayahmu menatap ibu yang cuma memakai handuk waktu itu. Ibu


baru berhasil melepas bagian bawah baju pengantin saja. Ayahmu berkata, ‘kalau


kau perlu bantuan, bilang saja’.”


Joya : “Trus?”


Ny. Besar : “Ayahmu


mulai membantu ibu melepas kebaya dan semua aksesoris di rambut ibu. Ayahmu


juga yang membantu menghapus riasan ibu. Tentu saja dengan tidak sabaran.”


Joya : “Kata


ibu, tidak terjadi apa-apa...”


Ny. Besar : “Ibu


belum selesai cerita. Setelah semuanya selesai, ayahmu berkata lagi, ‘aku akan


mandi duluan. Diam disini, jangan bergerak’. Kau bisa bayangkan, Joya. Ibu


hanya memakai handuk, duduk di closet kamar mandi, dan ayahmu mandi di dalam


shower. Ibu tidak berani bergerak dan cuma bisa menunduk saja.”


Joya : “Kenapa


ibu tidak mandi bersama?”


Ny. Besar : “Joya,


hal seperti itu belum ada pada jaman ibu dulu. Ayahmu mandi dengan cepat dan


keluar dari kamar mandi begitu saja. Jantung ibu hampir copot waktu ayahmu


lewat di depan ibu.”


Joya : “Telanjang?”


Ny. Besar : “Iya.


Dia bahkan gak minta diambilkan handuk.”


Joya : “Apa


yang ibu lihat?”


Ny. Besar : “Ibu


tidak bisa melihat apa-apa. Ibu sudah menutup mata duluan sebelum ayahmu


keluar.”


Joya semakin


antusias mendengar cerita Ny. Besar sampai dirinya tidak menyadari kalau Boy


sudah sadar sejak tadi dan ikut mendengarkan cerita ibunya.


*****


Klik profil

__ADS_1


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.


__ADS_2