
Dokter Risman
sedang memeriksa Boy yang mulai mengigau karena demamnya,
Boy : “Bu...
maaf... Joya...”
Boy terus saja
menggumamkan tiga kata itu dalam keadaan tidak sadar. Dokter Risman sampai
harus memasang infus dan menyuntik Boy.
Ny. Besar : “Gimana
keadaan Boy, dokter?”
dr. Risman : “Demamnya
sudah mulai turun. Tetap dijaga ya, kompres terus. Kalau sampai pagi demamnya belum
turun, telpon saya lagi.”
Ny. Besar : “Baik,
dokter.”
Bi Ijah
mengatar dokter Risman keluar dan Joya masih merawat Boy.
Joya : “Bu,
istirahat saja. Joya akan jaga mas Boy.”
Ny. Besar : “Iya,
ibu tahu. Tapi kamu lihat ini tangan Boy gak mau lepas tangan ibu.”
Joya
memperhatikan Boy menggenggam tangan ibunya dengan erat. Joya segera menyiapkan
tempat di samping Boy agar Ny. Besar bisa berbaring dengan nyaman.
Joya : “Ibu,
berbaring di samping mas Boy saja ya. Joya akan duduk disini.”
Ny. Besar : “Tapi,
nak. Apa kamu akan begadang sepanjang malam?”
Joya : “Iya,
bu. Ibu harus istirahat, ibu tidur dulu ya.”
Ny. Besar : “Joya,
kamu baru sembuh. Seharusnya kamu beristirahat lebih banyak.”
Joya : “Joya
sudah sehat, bu. Ibu tidur duluan saja. Nanti gantian sama Joya ya, bu.”
Ny. Besar
akhirnya pindah ke samping Boy dan menggenggam tangan putra bungsunya lagi. Boy
mengigau lagi dalam tidurnya,
Boy : “Bu... maaf...
Joya...”
Ny. Besar : “Apa
anak ini sangat menyesal sampai sakit saja masih bilang maaf.”
Joya : “Ibu kan
tahu, Mas Boy paling tidak bisa melihat ibu kecewa.”
Ny. Besar : “Ya.
Meskipun sikapnya sangat dingin, tapi dia yang akan datang duluan waktu
mendengar ibu sakit. Apa ibu salah, Joya?”
Joya : “Ibu gak
pernah salah, bu. Ibu adalah ibu terbaik yang kami miliki.”
Ny. Besar : “Mulutmu
sangat manis, Joya.”
Joya : “Kenapa
kata-kata ibu sama dengan mas Boy? Dia selalu mengatakan itu setelah kami
berciuman. Oh...”
Blush. Wajah
Joya memerah mendengar kata-katanya sendiri. Ny. Besar tertawa melihat Joya memegang
pipinya sendiri.
Ny. Besar : “Apa
__ADS_1
kau bahagia, Joya?”
Joya : “Ya, bu.
Memiliki pria yang Joya cintai dan ibu yang sangat Joya sayangi. Kebahagiaan
apa lagi yang Joya harapkan.”
Ny. Besar : “Mungkin
seorang pangeran kecil?”
Joya : “Pangeran
kecil? Maksud ibu... seorang anak?”
Ny. Besar : “Bukan
hanya seorang, buatlah yang banyak. Mau sebanyak apapun, ibu masih sanggup
mengejarnya.”
Joya : “Ibu...
mas Boy belum membicarakan tentang anak, bu.”
Ny. Besar : “Tapi
kalian sering membuatnya, kan.”
Joya bahkan
kehilangan kata-katanya, ia menunduk menyembunyikan pipinya yang merona. Ny.
Besar semakin keras tertawa.
Ny. Besar : “Ibu
juga pernah muda, Joya. Saat pertama ibu datang kerumah ini sebagai pengantin,
ibu masih ingat saat itu.”
Joya menegakkan
kepalanya kembali, ia selalu kepo dengan segala sesuatu tentang Ny. Besar. Tapi
Ny. Besar tidak pernah mau bercerita tentang pernikahannya dulu.
Ny. Besar : “Kau
tahu, Joya. Ayah mertuamu persis seperti Boy dan Lastri. Sifatnya sangat baik
tapi juga bisa sangat posesif.”
Joya : “Oh,
jadi dari sana...”
Ny. Besar : “Ayahmu
usai. Tanpa ada orang yang tahu.”
Joya semakin
tertarik mendengar kelanjutan cerita ibu mertuanya.
Joya : “Lalu
apa yang terjadi?”
Ny. Besar : “Kamu
kepo sekali.”
Joya : “Bu, jangan
membuat Joya penasaran. Cepat cerita, bu.”
Ny. Besar : “Ibu
sebenarnya sedikit takut saat ayah mengunci pintu kamar. Apalagi saat ayah
mulai membuka jas-nya.”
Joya : “Memangnya
ayah dan ibu sebelumnya tidak pernah bersama?”
Ny. Besar : “Ibu
belum cerita ya kalau ibu dan ayah dijodohkan. Pernikahan bisnis.”
Joya : “Oh, artinya
ibu menikah tanpa cinta?”
Ny. Besar : “Mungkin...”
Joya : “Ibu
jatuh cinta pada ayah?”
Ny. Besar : “Apa
kau tidak jatuh cinta pada Boy?”
Joya : “Ya, bu.
Mas Boy sangat tampan, meskipun dia sangat galak.”
Ny. Besar : “Sama
__ADS_1
persis. Ayahmu juga begitu.”
Joya : “Apa
ayah kasar pada ibu?” Ny. Besar menatap Joya yang berubah sendu.
Ny. Besar : “Tidak,
ayah tidak pernah kasar karena ibu selalu didampingi seorang asisten yang
melaporkan apapun yang ibu lakukan pada ayahmu.”
Joya : “Oh...
apa artinya Joya juga harus punya asisten? Tidak, tidak. Itu akan sangat aneh.”
Ny. Besar : “Mau
dilanjut lagi ceritanya?”
Joya : “Iya,
iya. Apa yang ibu dan ayah lakukan di dalam kamar?”
Ny. Besar : “Seharusnya
kau lebih tahu.”
Joya : “Ibu,
jangan menggodaku.”
Ny. Besar : “Malam
itu tidak terjadi apa-apa. Ayahmu membuka jas-nya dan menyuruh ibu mandi
duluan. Tapi ibu menghabiskan banyak waktu untuk melepaskan semua aksesoris dan
baju pengantin ibu. Ayahmu sampai menerobos masuk karena ibu tidak keluar juga.”
Joya : “Lalu?”
Sungguh Joya bingung, kalau tidak terjadi apa-apa, kenapa ayah menerobos masuk?
Ny. Besar : “Ibu
sangat malu karena ayahmu menatap ibu yang cuma memakai handuk waktu itu. Ibu
baru berhasil melepas bagian bawah baju pengantin saja. Ayahmu berkata, ‘kalau
kau perlu bantuan, bilang saja’.”
Joya : “Trus?”
Ny. Besar : “Ayahmu
mulai membantu ibu melepas kebaya dan semua aksesoris di rambut ibu. Ayahmu
juga yang membantu menghapus riasan ibu. Tentu saja dengan tidak sabaran.”
Joya : “Kata
ibu, tidak terjadi apa-apa...”
Ny. Besar : “Ibu
belum selesai cerita. Setelah semuanya selesai, ayahmu berkata lagi, ‘aku akan
mandi duluan. Diam disini, jangan bergerak’. Kau bisa bayangkan, Joya. Ibu
hanya memakai handuk, duduk di closet kamar mandi, dan ayahmu mandi di dalam
shower. Ibu tidak berani bergerak dan cuma bisa menunduk saja.”
Joya : “Kenapa
ibu tidak mandi bersama?”
Ny. Besar : “Joya,
hal seperti itu belum ada pada jaman ibu dulu. Ayahmu mandi dengan cepat dan
keluar dari kamar mandi begitu saja. Jantung ibu hampir copot waktu ayahmu
lewat di depan ibu.”
Joya : “Telanjang?”
Ny. Besar : “Iya.
Dia bahkan gak minta diambilkan handuk.”
Joya : “Apa
yang ibu lihat?”
Ny. Besar : “Ibu
tidak bisa melihat apa-apa. Ibu sudah menutup mata duluan sebelum ayahmu
keluar.”
Joya semakin
antusias mendengar cerita Ny. Besar sampai dirinya tidak menyadari kalau Boy
sudah sadar sejak tadi dan ikut mendengarkan cerita ibunya.
*****
Klik profil
__ADS_1
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.