
Boy dan Joya
sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Hari ini mereka akan berangkat
ke Bali untuk liburan dan bukan honeymoon. Boy tidak mau memakai istilah itu
karena dia gak bisa macem-macem dengan Joya.
Boy : “Sudah semuanya
kan, sayang? Tiketnya sudah?”
Joya : “Udah,
mas. Ayo pamit sama ibu dulu.”
Mereka turun
dari lantai 2 dan melihat Ny. Besar sedang duduk di ruang tengah menunggu
mereka.
Boy : “Ibu, Boy
sama Joya pergi dulu. Ibu jaga kesehatan.”
Joya : “Bu,
Joya pergi sama mas Boy ya. Kalau ada apa-apa, telpon ya bu.”
Joya mencium
tangan ibu mertuanya yang mengelus kepalanya dengan sayang. Joya tersenyum
dengan manis dan memeluk ibu mertuanya itu.
Joya : “Joya
bakalan kangen banget sama ibu.”
Ny. Besar :
“Iya. Sudah sana berangkat. Nanti terlambat naik pesawat.”
Joya sibuk
melambaikan tangan pada Ny. Besar dan sopir Boy mengantar mereka sampai di
bandara.
*****
Setelah
melakukan perjalanan udara selama 1,5 jam, mereka sampai juga di bandara Ngurah
Rai Bali. Boy dan Joya menunggu koper mereka keluar dari bagasi dan membawanya
keluar dari kedatangan bandara. Joya melihat nama mereka terdapat di salah satu
papan yang dibawaa seorang pria paruh baya.
Boy : “Pak
Made, ya?” tanya Boy
Made : “Iya,
saya Made. Dengan Pak Boy dan Ibu Joya?”
Mereka
bersalaman dan Made membawakan barang bawaan mereka. Ketiganya berjalan menuju
parkiran mobil dan Made menaikkann barang-barang Boy dan Joya ke dalam bagasi.
Setelah mereka
semua duduk di dalam mobil mini bus itu. Made menoleh dan bertanya pada Boy
ingin langsung ke hotel atau mau makan dulu.
Boy : “Kita
makan dulu ya, pak. Saya mau coba makan ayam betutu.”
Made : “Baik,
pak.”
Mereka langsung
meluncur ke sebuah warung makan yang cukup ramai di daerah Tuban-Kuta. Boy
menuntun Joya masuk ke dalam warung makan itu dan pelayan menunjuk tempat yang
__ADS_1
kosong untuk mereka berdua.
Tak lama,
pesanan mereka datang. Boy melihat cukup banyak cabai di atas makanan itu. Ia
meminta pada Joya agar jangan terlalu banyak makan sambal. Keduanya mulai
mengeluarkan keringat karena kepedasan. Joya menyelap keringat Boy di kening
dan pipinya. Bibir Boy semakin merah karena makanan yang pedas.
Potongan besar
ayam betutu itu disajikan dengan sayur plecing kangkung, kacang goreng, dan
nasi putih yang mengepul. Boy sampai dua kali memesan es jeruk untuk meredakan
rasa pedas dalam mulutnya.
Joya yang
terbiasa makan pedas, tidak mengalami kesulitan menghabiskan ayam betutu itu.
Ia merasa sangat kasihan dengan suaminya dan sedikit membantu membersihkan
cabai yang melekat di potongan ayam itu.
Joya : “Jangan
dipaksa makannya, mas. Ntar perut mas sakit.”
Boy : “Pedes
banget tapi enak ya. Aku gak bisa berhenti makan. Nanti di hotel pesen teh
tawar aja, biar gak sakit perut.”
Selesai makan,
Boy membayar bill mereka. Sambil tetap kepedasan, Boy dan Joya masuk ke dalam
mobil.
Boy : “Pak,
kita ke hotel dulu. Saya mau istirahat.”
Made : “Baik,
Mereka
melanjutkan perjalanan ke wilayah Kuta, ada sebuah hotel di pinggir pantai Kuta
yang sangat terkenal karena menghadap kearah pantai Kuta. Mereka bisa melihat
sunset dari kamar hotel itu. Made mengarahkan mobil masuk ke lobby hotel dan
membantu menurunkan barang-barang mereka dari dalam mobil.
Boy : “Pak Made
besok jemput kami lagi ya sekitar jam 10. Saya mau mampir ke toko baju kaos di
dekat tempat kita makan tadi. Habis itu langsung ke Ubud.”
Made : “Baik,
Pak Boy. Nanti saya di kontak saja. Sudah ada nomor WA, kan?”
Boy : “Ok, pak.
Makasih ya pak.”
Boy dan Joya
masuk ke dalam hotel dan memberikan kertas reservasi mereka pada resepsionis.
Boy menggenggam tangan Joya sambil tersenyum pada istrinya itu. Joya yang
ditatap intens jadi salah tingkah sendiri.
Joya : “Mas,
ngapain sich ngliatin gitu? Malu tau.”
Resepsionis
yang melihat kemesraan mereka berdua hanya senyum-senyum sambil melanjutkan
pekerjaan mereka.
Boy : “Kenapa?
Aku kan cuma ngliatin istriku aja. Kamu cantik.”
__ADS_1
Joya memegangi
pipinya yang memerah. Resepsionis memberikan kunci kamar Boy dan menunjukkan
arah kamar mereka. Mereka tidak perlu diantar karena semua petunjuk menuju
kamar mereka sudah sangat jelas tertera di beberapa papan yang ada disana.
Ketika akhirnya
mereka sampai di depan kamar, Boy membuka kunci pintunya dan mendorong
barang-barang mereka masuk.
Joya : “Wah,
pemandangannya bagus ya. Kita bisa ke pantai?”
Boy : “Ntar ya.
Agak sorean. Sekarang masih panas, sekalian kita lihat sunset nanti.”
Joya : “Mas mau
minum teh tawar sekarang? Minum sekarang ya. Daripada mules nanti.”
Boy : “Ya. Buat
aja disitu.” Tunjuk Boy ke meja berisi pemanas air.
Joya membuatkan
teh tawar untuk Boy. Sambil menunggu air meluap, Boy mendekati Joya. Ia memeluk
Joya dari belakang. Tangan nakal Boy mulai menurunkan retsleting baju yang
dipakai Joya saat itu.
Joya : “Mas,
mau ngapain?”
Boy : “Aku mau
buka bajumu. Selama kita di kamar, aku gak mau lihat kamu pake baju.”
Joya memukul
tangan Boy, ia ingin protes tapi Boy tetap meloloskan bajunya melewati kepala
Joya. Boy melempar baju Joya ke atas koper mereka. Ia kembali memeluk tubuh
Joya dari belakang. Tangannya turun kebawah, menurunkan retsleting celana yang
dipakai Joya.
Saat itu air
panas sudah mendidih dan Joya menuangkan air itu ke dalam cangkir teh yang
sudah ia siapkan sebelumnya. Joya membiarkan saja Boy meloloskan celana panjangnya
diantara kakinya. Boy tersenyum lebar, ia mencium pundak Joya.
Joya : “Mas,
ntar kebablasan.”
Boy : “Nggak,
sayang. Aku inget kok. Tapi aku mau mengingat liburan kita kali ini. Mau ya.
Gini aja selama kita di dalam kamar.”
Joya : “Iya,
mas. Sayang...”
Boy menarik
Joya ke atas tempat tidur mereka. Ia memeluk erat tubuh Joya dan menciumi
tengkuknya sampai Joya tertawa geli. Mereka saling bercanda dan bercengkrama
dengan selingan kecupan.
Sampai tak
terasa hari semakin sore dan sunset akan segera tiba.
*****
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
__ADS_1
jejakmu). Tq.