Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Serangan Boy


__ADS_3

Niken dan Rian


sudah duduk di sofa saat Joya keluar dari kamar mandi. Mata keduanya auto fokus


melihat bekas ciuman Boy pada tubuh Joya yang tidak tertutup pakaian. Rian


berdehem saat Niken mencubitnya, untung bukan Boy yang memergoki Rian menatap


Joya, kalau tidak bukan cubitan yang didapatnya tapi surat mutasi ke negara A.


Dan yang paling


sadis, Boy yang akan menungguinya menulis sendiri surat mutasi itu. Niken


menghitung bekas ciuman yang sempat ia lihat sebelum Joya menutupi kakinya dengan


handuk.


Niken : “Itu


gak salah? Yang keliatan aja nyampe 20, gimana yang ketutup baju?”


Joya : “Gak


usah dihitung, kak. Banyak banget. Kak Rian, mas Boy kenapa sich?”


Rian : “Aku


mulai dari mana ya? Ini gara-gara Lia.”


Joya : “Mbak


Lia? Sekretaris mas Boy?”


Rian :


“Singkatnya dia ngasi obat perangsang ke tuan Boy. Dari CCTV aku lihat tuan Boy


kayaknya pusing gitu. Memangnya tuan Boy masih sakit?”


Joya : “Demamnya


sudah turun tadi pagi. Mungkin kena angin lagi di jalan jadi kumat lagi.”


Niken : “Aku


mau lihat CCTV-nya.”


Joya : “Aku


juga, kak.”


Rian : “Yakin


nich gak akan ngambek?”


Joya :


“Memangnya apa yang sudah terjadi? Jangan bilang...” Joya sudah hampir menangis


memikirkan yang tidak-tidak. Apalagi tadi pakaian Boy juga sudah tidak lengkap


saat Boy menyerangnya.


Rian : “Lihat


sendiri ya. Jangan salah paham sama tuan Boy. Tuan sangat mencintaimu, Joya.”


Rian memutar


ulang kejadian saat Lia merayu Boy dengan sangat berani. Joya mengepalkan


tangannya menahan marah melihat video itu. Niken juga sama kesalnya dengan Lia.


Cantik tapi kelakuan busuk.


Joya : “Aku gak


nyangka mbak Lia begitu kelakuannya. Dia berani merayu mas Boy.”


Rian : “Kami


sebenarnya sudah curiga waktu gak sengaja mergokin dia di ruangan tuan Boy.”


Niken


menceritakan waktu dirinya dan Rian melihat Lia di ruang kerja Boy pada malam


sebelumnya. Dan Rian juga menambahkan kalau Boy sudah tahu kelakuan Lia tapi


memilih waktu yang tepat untuk memergokinya.


Joya : “Trus


mas Boy tahu gak kalau obat yang diminumnya itu obat perangsang?”


Rian : “Sepertinya


gak tau. Mungkin tuan pikir itu cuma obat penurun panas biasa.”


Joya : “Untung


aja ada kak Rian, kalo gak... aku gak bisa bayangkan apa yang terjadi.”


Rian : “Itu


sudah tugas kami, Joya. Kami akan kembali bekerja. Kamu disini saja jaga tuan


Boy. Sudah makan siang?”


Joya : “Belum.”


Rian : “Aku


pesankan makanan ya. Ayo, babe.” Rian mengajak Niken kembali ke ruang kerja


mereka masing-masing.


Niken : “Gak


bisa manggil yang lain ya? Malu tau.”

__ADS_1


Rian : “Ayo,


istriku sayang.”


Pukulan


mendarat di lengan Rian. Joya tersenyum maklum melihat pasangan muda itu. Ia


masuk kembali ke ruang istirahat dan melihat Boy masih tidur dengan posisi


awal.


Joya : “Mas


Boy...”


Tangan Joya


terulur mengusap rambut Boy yang berantakan. Sentuhan Joya membuat Boy


terbangun,


Boy : “Joya...”


Joya : “Mas,


aku disini.”


Mata Boy


terbuka lebar, ia langsung bangkit dari tidurnya dan panik melihat tubuhnya


hanya berbalut selimut.


Joya : “Mas...”


Boy : “Tadi...


aku... Joya.”


Boy menarik


Joya dan memeluknya sangat erat. Ia menciumi pipi, bibir, dan leher Joya dengan


agresif.


Joya : “Ma...


mas...”


Joya sempat


berpikir kalau Boy masih terpengaruh obat perangsang. Ia melepas pakaian yang


dipakainya dengan cepat atau suaminya itu akan mengoyak pakaiannya lagi. Boy


melepas pelukannya dan menatap tubuh Joya yang penuh bekas kemerahan.


Boy : “Apa yang


terjadi? Kamu alergi?” Boy menyentuh semua bekas merah di tubuh Joya.


Joya : “Mas


Boy benar-benar


masih terpengaruh obat itu, ia kembali menciumi Joya. Seluruh tubuh istrinya


tanpa ada yang terlewatkan oleh ciuman dari Boy. Joya menggigil menahan geli di


sekujur tubuhnya.


Joya : “Maass...  jangan lagi...”


Boy : “Aku


tidak bisa menghentikannya, sayang.”


Lagi dan lagi,


Boy menghentakkan tubuh Joya hingga istrinya itu hampir kehilangan


kesadarannya. Saat Boy akhirnya berhenti, ia melihat ke bawah pada Joya yang


sudah tidak sadarkan diri. Panik, Boy meraih ponselnya dan menelpon dokter


Risman.


Boy : “Dokter,


tolong ke kantor saya. Joya pingsan.”


dr. Risman : “Saya


kesana sekarang.”


Boy mencoba


membangunkan Joya dengan menepuk pipinya, ia mengambil air minum di samping


tempat tidur dan memercikkan air ke wajah Joya. Wanita itu bahkan tidak


bergerak, ia seperti tertidur karena sangat lelah.


Boy melihat


handuk di samping tempat tidur. Boy memakai handuk itu menutupi tubuhnya, ia


berjalan keluar dari ruang istirahat dan masuk ke kamar mandi dengan cepat.


Sedikit bingung kenapa ada paper bag berisi pakaian pria  yang sangat pas di tubuhnya.


Boy keluar dari


ruang kerjanya setelah ia berpakaian, ia mencari Rian tapi malah bertemu dengan


Carol.


Carol : “Tuan


Boy.”

__ADS_1


Boy : “Kamu


siapa?”


Carol : “Saya


Carol, sekretaris tuan yang baru.”


Boy : “Dimana


Rian?”


Carol : “Pak


Rian sedang makan siang dibawah, tuan.”


Boy : “Bisa


minta tolong? Ambilkan air gula dan makanan.”


Carol : “Baik,


tuan.”


Boy masuk lagi


ke dalam ruang kerjanya sambil menelpon Rian.


Boy : “Rian, ke


ruanganku sekarang. Panggil Niken. Joya pingsan.”


Rian : “Baik,


bos. Niken, kita harus keatas sekarang. Joya pingsan.”


Keduanya


langsung melesat ke arah lift tanpa mempedulikan makanan mereka lagi. Lift naik


ke lobby, dokter Risman masuk dengan terburu-buru.


dr. Risman : “Rian.


Boy memanggil saya.”


Rian : “Iya


dokter.”


Mereka bertiga


tiba di lantai ruang kerja bersamaan dengan Carol yang membawa air gula hangat


ke dalam ruang kerja Boy.


Carol : “Tuan,


mau ditaruh dimana air gulanya?”


Boy : “Sini, saya


yang bawa.”


Rian, Niken,


dan dokter Risman masuk ke ruang kerja Boy. Rian memberi tanda agar Carol


kembali ke mejanya. Boy menahan Rian agar tidak ikut masuk ke ruang


istirahatnya. Dokter Risman sudah masuk lebih dulu bersama Niken.


Boy : “Kamu


tunggu disini.”


Rian : “Okey,


bos.”


Carol masuk


lagi membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di sofa.


Carol : “Pak


Rian, boleh saya makan siang dulu?”


Rian : “Ya,


pergilah. Pesankan aku makanan lagi nanti.”


Carol : “Pak


Rian belum sempat makan?”


Rian : “Bos


sudah memanggil, gimana bisa makan.”


Carol : “Baik,


pak.”


Kecemasan tampak


di wajah Boy melihat keadaan Joya. Berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan


kasar.


*****


Kecemasan juga


terlihat pada wajah author saat melihat belum ada yang vote nich. Vote dong kk.


Klik profil


author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan


jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2