
Niken dan Rian
sudah duduk di sofa saat Joya keluar dari kamar mandi. Mata keduanya auto fokus
melihat bekas ciuman Boy pada tubuh Joya yang tidak tertutup pakaian. Rian
berdehem saat Niken mencubitnya, untung bukan Boy yang memergoki Rian menatap
Joya, kalau tidak bukan cubitan yang didapatnya tapi surat mutasi ke negara A.
Dan yang paling
sadis, Boy yang akan menungguinya menulis sendiri surat mutasi itu. Niken
menghitung bekas ciuman yang sempat ia lihat sebelum Joya menutupi kakinya dengan
handuk.
Niken : “Itu
gak salah? Yang keliatan aja nyampe 20, gimana yang ketutup baju?”
Joya : “Gak
usah dihitung, kak. Banyak banget. Kak Rian, mas Boy kenapa sich?”
Rian : “Aku
mulai dari mana ya? Ini gara-gara Lia.”
Joya : “Mbak
Lia? Sekretaris mas Boy?”
Rian :
“Singkatnya dia ngasi obat perangsang ke tuan Boy. Dari CCTV aku lihat tuan Boy
kayaknya pusing gitu. Memangnya tuan Boy masih sakit?”
Joya : “Demamnya
sudah turun tadi pagi. Mungkin kena angin lagi di jalan jadi kumat lagi.”
Niken : “Aku
mau lihat CCTV-nya.”
Joya : “Aku
juga, kak.”
Rian : “Yakin
nich gak akan ngambek?”
Joya :
“Memangnya apa yang sudah terjadi? Jangan bilang...” Joya sudah hampir menangis
memikirkan yang tidak-tidak. Apalagi tadi pakaian Boy juga sudah tidak lengkap
saat Boy menyerangnya.
Rian : “Lihat
sendiri ya. Jangan salah paham sama tuan Boy. Tuan sangat mencintaimu, Joya.”
Rian memutar
ulang kejadian saat Lia merayu Boy dengan sangat berani. Joya mengepalkan
tangannya menahan marah melihat video itu. Niken juga sama kesalnya dengan Lia.
Cantik tapi kelakuan busuk.
Joya : “Aku gak
nyangka mbak Lia begitu kelakuannya. Dia berani merayu mas Boy.”
Rian : “Kami
sebenarnya sudah curiga waktu gak sengaja mergokin dia di ruangan tuan Boy.”
Niken
menceritakan waktu dirinya dan Rian melihat Lia di ruang kerja Boy pada malam
sebelumnya. Dan Rian juga menambahkan kalau Boy sudah tahu kelakuan Lia tapi
memilih waktu yang tepat untuk memergokinya.
Joya : “Trus
mas Boy tahu gak kalau obat yang diminumnya itu obat perangsang?”
Rian : “Sepertinya
gak tau. Mungkin tuan pikir itu cuma obat penurun panas biasa.”
Joya : “Untung
aja ada kak Rian, kalo gak... aku gak bisa bayangkan apa yang terjadi.”
Rian : “Itu
sudah tugas kami, Joya. Kami akan kembali bekerja. Kamu disini saja jaga tuan
Boy. Sudah makan siang?”
Joya : “Belum.”
Rian : “Aku
pesankan makanan ya. Ayo, babe.” Rian mengajak Niken kembali ke ruang kerja
mereka masing-masing.
Niken : “Gak
bisa manggil yang lain ya? Malu tau.”
__ADS_1
Rian : “Ayo,
istriku sayang.”
Pukulan
mendarat di lengan Rian. Joya tersenyum maklum melihat pasangan muda itu. Ia
masuk kembali ke ruang istirahat dan melihat Boy masih tidur dengan posisi
awal.
Joya : “Mas
Boy...”
Tangan Joya
terulur mengusap rambut Boy yang berantakan. Sentuhan Joya membuat Boy
terbangun,
Boy : “Joya...”
Joya : “Mas,
aku disini.”
Mata Boy
terbuka lebar, ia langsung bangkit dari tidurnya dan panik melihat tubuhnya
hanya berbalut selimut.
Joya : “Mas...”
Boy : “Tadi...
aku... Joya.”
Boy menarik
Joya dan memeluknya sangat erat. Ia menciumi pipi, bibir, dan leher Joya dengan
agresif.
Joya : “Ma...
mas...”
Joya sempat
berpikir kalau Boy masih terpengaruh obat perangsang. Ia melepas pakaian yang
dipakainya dengan cepat atau suaminya itu akan mengoyak pakaiannya lagi. Boy
melepas pelukannya dan menatap tubuh Joya yang penuh bekas kemerahan.
Boy : “Apa yang
terjadi? Kamu alergi?” Boy menyentuh semua bekas merah di tubuh Joya.
Joya : “Mas
Boy benar-benar
masih terpengaruh obat itu, ia kembali menciumi Joya. Seluruh tubuh istrinya
tanpa ada yang terlewatkan oleh ciuman dari Boy. Joya menggigil menahan geli di
sekujur tubuhnya.
Joya : “Maass... jangan lagi...”
Boy : “Aku
tidak bisa menghentikannya, sayang.”
Lagi dan lagi,
Boy menghentakkan tubuh Joya hingga istrinya itu hampir kehilangan
kesadarannya. Saat Boy akhirnya berhenti, ia melihat ke bawah pada Joya yang
sudah tidak sadarkan diri. Panik, Boy meraih ponselnya dan menelpon dokter
Risman.
Boy : “Dokter,
tolong ke kantor saya. Joya pingsan.”
dr. Risman : “Saya
kesana sekarang.”
Boy mencoba
membangunkan Joya dengan menepuk pipinya, ia mengambil air minum di samping
tempat tidur dan memercikkan air ke wajah Joya. Wanita itu bahkan tidak
bergerak, ia seperti tertidur karena sangat lelah.
Boy melihat
handuk di samping tempat tidur. Boy memakai handuk itu menutupi tubuhnya, ia
berjalan keluar dari ruang istirahat dan masuk ke kamar mandi dengan cepat.
Sedikit bingung kenapa ada paper bag berisi pakaian pria yang sangat pas di tubuhnya.
Boy keluar dari
ruang kerjanya setelah ia berpakaian, ia mencari Rian tapi malah bertemu dengan
Carol.
Carol : “Tuan
Boy.”
__ADS_1
Boy : “Kamu
siapa?”
Carol : “Saya
Carol, sekretaris tuan yang baru.”
Boy : “Dimana
Rian?”
Carol : “Pak
Rian sedang makan siang dibawah, tuan.”
Boy : “Bisa
minta tolong? Ambilkan air gula dan makanan.”
Carol : “Baik,
tuan.”
Boy masuk lagi
ke dalam ruang kerjanya sambil menelpon Rian.
Boy : “Rian, ke
ruanganku sekarang. Panggil Niken. Joya pingsan.”
Rian : “Baik,
bos. Niken, kita harus keatas sekarang. Joya pingsan.”
Keduanya
langsung melesat ke arah lift tanpa mempedulikan makanan mereka lagi. Lift naik
ke lobby, dokter Risman masuk dengan terburu-buru.
dr. Risman : “Rian.
Boy memanggil saya.”
Rian : “Iya
dokter.”
Mereka bertiga
tiba di lantai ruang kerja bersamaan dengan Carol yang membawa air gula hangat
ke dalam ruang kerja Boy.
Carol : “Tuan,
mau ditaruh dimana air gulanya?”
Boy : “Sini, saya
yang bawa.”
Rian, Niken,
dan dokter Risman masuk ke ruang kerja Boy. Rian memberi tanda agar Carol
kembali ke mejanya. Boy menahan Rian agar tidak ikut masuk ke ruang
istirahatnya. Dokter Risman sudah masuk lebih dulu bersama Niken.
Boy : “Kamu
tunggu disini.”
Rian : “Okey,
bos.”
Carol masuk
lagi membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di sofa.
Carol : “Pak
Rian, boleh saya makan siang dulu?”
Rian : “Ya,
pergilah. Pesankan aku makanan lagi nanti.”
Carol : “Pak
Rian belum sempat makan?”
Rian : “Bos
sudah memanggil, gimana bisa makan.”
Carol : “Baik,
pak.”
Kecemasan tampak
di wajah Boy melihat keadaan Joya. Berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan
kasar.
*****
Kecemasan juga
terlihat pada wajah author saat melihat belum ada yang vote nich. Vote dong kk.
Klik profil
author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa tinggalkan
jejakmu). Tq.
__ADS_1