
Setelah selesai
sarapan pagi yang terlambat, Boy benar-benar membawa Joya ke apartmentnya.
Lebih tepatnya menculik Joya karena Boy membawanya diam-diam. Joya bahkan tidak
sempat membawa ponselnya, saking terburu-burunya Boy menarik Joya masuk ke
mobilnya.
Joya : “Tuan,
HP saya ketinggalan. Kita balik lagi ya.”
Boy : “Nggak.
Kamu udah gak mau berangkat honeymoon, aku uda nurut. Sekarang kita cuma ke
apartment sebentar, kamu uda ribut.”
Joya : “Nanti
kalau Ny. Besar telpon gimana, tuan?”
Boy : “Kan bisa
nelpon ke HP-ku. Pokoknya aku cuma mau kita berduaan.”
Joya : “Itu
yang bahaya...”
Boy : “Apa kamu
bilang?”
Joya : “Gak
ada, tuan. Silakan jalan lagi. Sudah hijau.”
Mereka sempat
berhenti di lampu merah, Boy kembali menjalankan mobilnya dan mereka masuk ke
basement parkir apartment.
Joya : “Tuan,
saya gak bawa baju ganti. Kita gak menginap kan?”
Boy : “Emangnya
kamu masih perlu baju?”
Joya : “Saya
kan gak mungkin telanjang, tuan.”
Boy : “Itu yang
aku mau.”
Joya : “Apa?!
Tuan bercanda kan?”
Boy : “Tuan,
tuan terus. Panggil aku suamiku.”
Joya : Su...suamiku.”
Boy tersenyum
girang melihat wajah Joya yang merona. Boy menarik tangan Joya menuju lift yang
membawa mereka ke lantai kamar apartment Boy. Sampai di dalam kamar itu, Joya
merasakan Boy mendekatinya.
Joya : “Tuan,
dekorasinya ada yang berubah ya.”
Boy : “Gak ada.
Aku gak mau dekorasi kamar ini berubah.”
Joya : “Masa
sich? Sofa ini kayaknya gak gini warnanya.” Joya duduk di sofa, Boy duduk di
sampingnya.
Boy : “Sofa ini
masih sama.”
Joya : “Apa
warna kordennya ya? Eh, ada pesawat yang lewat.”
Joya terus saja
bergerak di dalam apartment itu, membuat Boy mulai lelah dan kesal mengejarnya.
Akhirnya Boy hanya duduk di sofa, membiarkan Joya berkeliling apartmentnya.
Joya yang juga
lelah akhirnya duduk di pinggir ranjang, ia mengelus seprai putih yang sangat
lembut di tangannya.
Bruk ! Joya
menjatuhkan dirinya diatas ranjang, ia menatap langit-langit kamar apartment
Boy. Bruk! Boy ikut berbaring di samping Joya.
Joya :
“Tuan...” Joya sudah hampir bangkit, tapi Boy menahannya.
Boy : “Kamu capek?”
Joya : “Nggak,
tuan...”
Boy : “Kalau
capek, kamu tidur aja. Aku juga mau tidur.”
Boy berbaring
menyamping dan memeluk pinggang Joya. Ia mulai memejamkan matanya, membiarkan
__ADS_1
Joya menatap wajahnya. Setelah beberapa saat, Joya memberanikan diri mengusap
pipi Boy.
Joya : “Aku
sangat mencintaimu, tuan... Boy, suamiku. Sayangku...”
Boy : “Aku juga
sangat mencintaimu, Joya. Istriku...”
Mata Joya
terbelalak saat Boy membuka matanya. Boy bangkit, mengukung Joya dengan kedua
lengannya. Ia menunduk dan mulai mencium Joya dengan lembut.
Entah
bagaimana, pakaian Joya mulai terlempar satu persatu ke bawah ranjang. Boy
menatap wajah merah Joya yang sibuk menutupi dadanya.
Boy : “Jangan
ditutup.”
Joya : “Saya
malu... Matikan lampunya, tuan...”
Boy : “Kenapa
dimatikan? Kamu lebih cantik begini.”
Joya : “Ta...
tapi.”
Boy tidak
memberi kesempatan Joya untuk protes lagi, ia membuat Joya melayang dengan
cumbuannya.
*****
Joya terbangun
saat hari menjelang sore, ia bangkit dan bersandar pada sandaran tempat tidur.
Dirapatkannya selimut yang menutupi tubuhnya. Saat ia melihat ke samping, Boy
sudah tidak ada di sampingnya.
Joya : “Kemana,
mas Boy?” Wajah Joya memerah mendengar suaranya memanggil mas Boy.
Ia menutup
wajahnya dengan bantal dan geregetan sendiri.
Boy : “Kamu
ngapain?”
Joya menoleh
melihat Boy membawa nampan berisi dua piring makanan dan dua gelas minuman yang
Boy : “Uda sore
nich, kita makan dulu.”
Joya : “Habis
makan, kita pulang ya, Tuan.”
Boy : “Tuan?
Kayaknya tadi kamu gak manggil gitu dech. Lagian ngapain kita pulang?”
Joya : “Tapi
nanti ibu nyariin kita, m... maas.” Joya mengecilkan suaranya saat memanggil
Boy dengan sebutan mas.
Boy : “Kamu
manggil apa? Aku gak denger.”
Joya : “Mas
Boy...”
Joya menunduk
dengan wajah merah, ia malu sekali dan belum terbiasa memanggil Boy seperti
itu. Boy mengangkat dagu Joya,
Boy : “Aku mau
dipanggil gitu mulai sekarang. Yang keras. Kamu sudah jadi istriku dan aku
lebih suka kamu panggil aku gitu.”
Joya : “Habis
ini kita pulang ya, mas.”
Boy : “Kata ibu,
kita gak boleh pulang sampai lusa.”
Joya : “Apa?!
Tapi kenapa?”
Boy : “Kita
baru nikah, Joya. Kita perlu waktu berduaan. Masa kamu gak ngerti.”
Joya : “Ooh,
iya. Saya ngerti. Maas, bisa minta tolong?”
Boy : “Apa,
sayang?”
Joya : “Bisa
tolong ambilkan baju saya? Saya gak mungkin makan masih selimutan gini kan?”
__ADS_1
Boy : “Oh,
bentar.”
Boy membuka
lemarinya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
Boy : “Pakai
ini.”
Joya : “Ini
apa?”
Joya mengangkat
kain tipis yang diberikan Boy, ia bisa melihat wajah Boy dari balik kain itu.
Boy : “Udah,
pakai aja. Jangan banyak nanya.”
Joya : “Mas
balik badan dulu, dong. Saya malu.”
Boy menuruti
permintaan Joya dan membalik badannya, ia tersenyum lebar membayangkan tubuh
Joya akan tetap terlihat meskipun dia memakai lingerie yang diberikannya.
Boy : “Udah?”
Joya : “Udah,
mas. Tapi kenapa tipis begini?”
Boy berbalik
dan melongo melihat penampilan hot Joya.
Boy : “Woow!
Seksi banget.”
Joya : “Saya
malu, mas.” Joya menarik selimut menutupi pahanya.
Boy : “Jangan
ditutup. Ayo, cepat makan.”
Joya terpaksa makan
dibawah tatapan Boy yang terus tersenyum padanya. Selesai makan, Joya ingin
membawa piring bekas makan mereka ke dapur. Tapi ia merasa risih dengan
lingerie mini yang dipakainya.
Joya : “Mas,
pinjem kaos dong. Saya malu pakai baju ini.”
Boy : “Kamu mau
kemana?”
Joya : “Mau
bawa piring kotor ini ke dapur. Sambil cuci piring sekalian.”
Boy : “Gitu aja
gak pa-pa. Pintu apartment udah aku kunci, kok. Gak akan ada orang yang masuk.”
Joya : “Beneran?”
Boy : “Iya, gak
mungkin aku biarin orang lain nglihat kamu kayak gini.”
Boy
senyum-senyum melihat Joya berjalan keluar kamar membawa piring kotor. Ia cukup
tergoda untuk mengikuti Joya ke dapur. Pelan-pelan Boy keluar dari kamar dan
melihat Joya baru selesai mencuci piring. Ia mengeringkan tangannya dengan lap
yang ada disana, dan baru ingin berbalik ketika Boy memeluknya dari belakang.
Joya : “Maass...”
Boy : “Ya,
sayang... Udah kenyang kan?”
Joya : “Udah,
mas mau apa?”
Boy : “Sekali
lagi ya...”
Joya : “Disini?”
Boy : “Iya.”
Joya hanya bisa
pasrah saat Boy minta jatah lagi padanya. Padahal tubuhnya mulai terasa sakit
akibat aktifitas panas yang mereka lakukan.
🌼🌼🌼🌼🌼
Terima kasih
sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa
like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel
author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren
Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak..
__ADS_1
🌴🌴🌴🌴🌴