Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Apartment lagi


__ADS_3

Setelah selesai


sarapan pagi yang terlambat, Boy benar-benar membawa Joya ke apartmentnya.


Lebih tepatnya menculik Joya karena Boy membawanya diam-diam. Joya bahkan tidak


sempat membawa ponselnya, saking terburu-burunya Boy menarik Joya masuk ke


mobilnya.


Joya : “Tuan,


HP saya ketinggalan. Kita balik lagi ya.”


Boy : “Nggak.


Kamu udah gak mau berangkat honeymoon, aku uda nurut. Sekarang kita cuma ke


apartment sebentar, kamu uda ribut.”


Joya : “Nanti


kalau Ny. Besar telpon gimana, tuan?”


Boy : “Kan bisa


nelpon ke HP-ku. Pokoknya aku cuma mau kita berduaan.”


Joya : “Itu


yang bahaya...”


Boy : “Apa kamu


bilang?”


Joya : “Gak


ada, tuan. Silakan jalan lagi. Sudah hijau.”


Mereka sempat


berhenti di lampu merah, Boy kembali menjalankan mobilnya dan mereka masuk ke


basement parkir apartment.


Joya : “Tuan,


saya gak bawa baju ganti. Kita gak menginap kan?”


Boy : “Emangnya


kamu masih perlu baju?”


Joya : “Saya


kan gak mungkin telanjang, tuan.”


Boy : “Itu yang


aku mau.”


Joya : “Apa?!


Tuan bercanda kan?”


Boy : “Tuan,


tuan terus. Panggil aku suamiku.”


Joya : Su...suamiku.”


Boy tersenyum


girang melihat wajah Joya yang merona. Boy menarik tangan Joya menuju lift yang


membawa mereka ke lantai kamar apartment Boy. Sampai di dalam kamar itu, Joya


merasakan Boy mendekatinya.


Joya : “Tuan,


dekorasinya ada yang berubah ya.”


Boy : “Gak ada.


Aku gak mau dekorasi kamar ini berubah.”


Joya : “Masa


sich? Sofa ini kayaknya gak gini warnanya.” Joya duduk di sofa, Boy duduk di


sampingnya.


Boy : “Sofa ini


masih sama.”


Joya : “Apa


warna kordennya ya? Eh, ada pesawat yang lewat.”


Joya terus saja


bergerak di dalam apartment itu, membuat Boy mulai lelah dan kesal mengejarnya.


Akhirnya Boy hanya duduk di sofa, membiarkan Joya berkeliling apartmentnya.


Joya yang juga


lelah akhirnya duduk di pinggir ranjang, ia mengelus seprai putih yang sangat


lembut di tangannya.


Bruk ! Joya


menjatuhkan dirinya diatas ranjang, ia menatap langit-langit kamar apartment


Boy. Bruk! Boy ikut berbaring di samping Joya.


Joya :


“Tuan...” Joya sudah hampir bangkit, tapi Boy menahannya.


Boy : “Kamu capek?”


Joya : “Nggak,


tuan...”


Boy : “Kalau


capek, kamu tidur aja. Aku juga mau tidur.”


Boy berbaring


menyamping dan memeluk pinggang Joya. Ia mulai memejamkan matanya, membiarkan

__ADS_1


Joya menatap wajahnya. Setelah beberapa saat, Joya memberanikan diri mengusap


pipi Boy.


Joya : “Aku


sangat mencintaimu, tuan... Boy, suamiku. Sayangku...”


Boy : “Aku juga


sangat mencintaimu, Joya. Istriku...”


Mata Joya


terbelalak saat Boy membuka matanya. Boy bangkit, mengukung Joya dengan kedua


lengannya. Ia menunduk dan mulai mencium Joya dengan lembut.


Entah


bagaimana, pakaian Joya mulai terlempar satu persatu ke bawah ranjang. Boy


menatap wajah merah Joya yang sibuk menutupi dadanya.


Boy : “Jangan


ditutup.”


Joya : “Saya


malu... Matikan lampunya, tuan...”


Boy : “Kenapa


dimatikan? Kamu lebih cantik begini.”


Joya : “Ta...


tapi.”


Boy tidak


memberi kesempatan Joya untuk protes lagi, ia membuat Joya melayang dengan


cumbuannya.


*****


Joya terbangun


saat hari menjelang sore, ia bangkit dan bersandar pada sandaran tempat tidur.


Dirapatkannya selimut yang menutupi tubuhnya. Saat ia melihat ke samping, Boy


sudah tidak ada di sampingnya.


Joya : “Kemana,


mas Boy?” Wajah Joya memerah mendengar suaranya memanggil mas Boy.


Ia menutup


wajahnya dengan bantal dan geregetan sendiri.


Boy : “Kamu


ngapain?”


Joya menoleh


melihat Boy membawa nampan berisi dua piring makanan dan dua gelas minuman yang


Boy : “Uda sore


nich, kita makan dulu.”


Joya : “Habis


makan, kita pulang ya, Tuan.”


Boy : “Tuan?


Kayaknya tadi kamu gak manggil gitu dech. Lagian ngapain kita pulang?”


Joya : “Tapi


nanti ibu nyariin kita, m... maas.” Joya mengecilkan suaranya saat memanggil


Boy dengan sebutan mas.


Boy : “Kamu


manggil apa? Aku gak denger.”


Joya : “Mas


Boy...”


Joya menunduk


dengan wajah merah, ia malu sekali dan belum terbiasa memanggil Boy seperti


itu. Boy mengangkat dagu Joya,


Boy : “Aku mau


dipanggil gitu mulai sekarang. Yang keras. Kamu sudah jadi istriku dan aku


lebih suka kamu panggil aku gitu.”


Joya : “Habis


ini kita pulang ya, mas.”


Boy : “Kata ibu,


kita gak boleh pulang sampai lusa.”


Joya : “Apa?!


Tapi kenapa?”


Boy : “Kita


baru nikah, Joya. Kita perlu waktu berduaan. Masa kamu gak ngerti.”


Joya : “Ooh,


iya. Saya ngerti. Maas, bisa minta tolong?”


Boy : “Apa,


sayang?”


Joya : “Bisa


tolong ambilkan baju saya? Saya gak mungkin makan masih selimutan gini kan?”

__ADS_1


Boy : “Oh,


bentar.”


Boy membuka


lemarinya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Boy : “Pakai


ini.”


Joya : “Ini


apa?”


Joya mengangkat


kain tipis yang diberikan Boy, ia bisa melihat wajah Boy dari balik kain itu.


Boy : “Udah,


pakai aja. Jangan banyak nanya.”


Joya : “Mas


balik badan dulu, dong. Saya malu.”


Boy menuruti


permintaan Joya dan membalik badannya, ia tersenyum lebar membayangkan tubuh


Joya akan tetap terlihat meskipun dia memakai lingerie yang diberikannya.


Boy : “Udah?”


Joya : “Udah,


mas. Tapi kenapa tipis begini?”


Boy berbalik


dan melongo melihat penampilan hot Joya.


Boy : “Woow!


Seksi banget.”


Joya : “Saya


malu, mas.” Joya menarik selimut menutupi pahanya.


Boy : “Jangan


ditutup. Ayo, cepat makan.”


Joya terpaksa makan


dibawah tatapan Boy yang terus tersenyum padanya. Selesai makan, Joya ingin


membawa piring bekas makan mereka ke dapur. Tapi ia merasa risih dengan


lingerie mini yang dipakainya.


Joya : “Mas,


pinjem kaos dong. Saya malu pakai baju ini.”


Boy : “Kamu mau


kemana?”


Joya : “Mau


bawa piring kotor ini ke dapur. Sambil cuci piring sekalian.”


Boy : “Gitu aja


gak pa-pa. Pintu apartment udah aku kunci, kok. Gak akan ada orang yang masuk.”


Joya : “Beneran?”


Boy : “Iya, gak


mungkin aku biarin orang lain nglihat kamu kayak gini.”


Boy


senyum-senyum melihat Joya berjalan keluar kamar membawa piring kotor. Ia cukup


tergoda untuk mengikuti Joya ke dapur. Pelan-pelan Boy keluar dari kamar dan


melihat Joya baru selesai mencuci piring. Ia mengeringkan tangannya dengan lap


yang ada disana, dan baru ingin berbalik ketika Boy memeluknya dari belakang.


Joya : “Maass...”


Boy : “Ya,


sayang... Udah kenyang kan?”


Joya : “Udah,


mas mau apa?”


Boy : “Sekali


lagi ya...”


Joya : “Disini?”


Boy : “Iya.”


Joya hanya bisa


pasrah saat Boy minta jatah lagi padanya. Padahal tubuhnya mulai terasa sakit


akibat aktifitas panas yang mereka lakukan.


🌼🌼🌼🌼🌼


Terima kasih


sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa


like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel


author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren


Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.


Makasi banyak..

__ADS_1


🌴🌴🌴🌴🌴


__ADS_2