Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Menantu Untuk Ibu bagian 13


__ADS_3

Kamu bisa pecahkan vas bunga itu, tapi wangi bunganya akan tetap tinggal untuk memberi kenangan


🌷🌷🌷


Mbok Mirah tertegun saat AlvaΒ  memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Ia tahu betul lelaki putra ke dua Pak Yuda ini keras kepala sekaligus manja. Tapi saat ini ia merasa pria itu menjadi lebih egois dari sebelumnya.


"Mbok, kenapa malah bengong? Pertanyaan tadi belum dijawab," protesnya.


Wanita berdaster merah itu menggeleng pelan seraya berkata, "pergi ke desa. Mereka berangkat siang tadi. Kenapa nggak bilang Mas Alva saya tidak tahu"


Alva mendengkus tak terima.


"Mereka? Mereka siapa, Mbok?"


"Mas Tyo tadi yang ngantar Nak Safira," jelas asisten rumah tangganya itu. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Dengan sedikit berlari ia meniti anak tangga menuju kamar. Sambil menggerutu ia membanting pintu. Alva menjatuhkan dirinya ke pembaringan, "sial! Kenapa harus Kak Tyo yang mengantar? Tunggu! Kapan dia kembali?" gumamnya lagi.


Dengan senyum ia membuka pintu. Tampak kedua orang tuanya baru saja tiba di rumah.


"Sore, Ibu, Ayah." Ia menyalami keduanya.


"Kamu sudah sehat?" tanya sang ibu. Pria itu mengusap tengkuk kemudian mengangguk. Bu Santi duduk di sofa sedang sang suami pergi ke kamar.


"Bu, eum Kak Tyo mana?" tanyanya basa-basi.


"Dia mengantar Safira, oh iya gadis itu sudah nggak balik lagi. Ia memutuskan untuk tinggal di sana, kamu sudah tahu?" Perempuan itu melepas kacamata lalu meneguk teh hangat yang baru saja dihidangkan Mbok Mirah. Mendengar penuturan sang ibu, Alva tertegun.


"Nggak balik lagi? Maksud ibu ... dia,"


"Iya, dia akan tinggal di sana," jelas Bu Santi.


Terasa ada yang hilang di dalam hatinya mendengar penjelasan itu. Entah, ia sendiri belum yakin tentang perasaannya. Sebab ia sendiri tak tahu sejak kapan rasa itu mulai muncul.


Rasa senang memandang wajah Safira, rasa bahagia saat dekat dengannya meski ia lebih sering membuat gadis itu bersedih. Bu Santi melirik sang putra, ia sedikit heran dengan ekspresi Alva.


"Kamu kenapa? Masih terasa tidak sehat?"


Pria itu menggeleng tersenyum datar.


"Ibu sebenarnya agak keberatan menggagalkan rencana pernikahanmu waktu itu. Tapi setelah ibu timbang-timbang, daripada nantinya kalian tidak bahagia, buat apa toh? Meski ibu yakin Safira gadis baik." Alva menarik napas dalam-dalam mendengarkan ucapan ibunya.


Lagi-lagi ada bagian hatinya yang nyeri mendengar itu. Terlebih saat Bu Santi mengatakan hal yang hampir membuat jantungnya terlepas. Sang ibu berencana menikahkan Safira dengan Prasetyo!


"Kak Tyo ... eum dengan Safira?" Ia mengulangi perkataan ibunya.


"Iya. Mungkin sebagian orang menganggap ibu aneh, tapi ibu hanya ingin anak-anak ibu mendapatkan yang terbaik, termasuk jodoh, itu saja." Mendadak tenggorokannya terasa kering. Berkali-kali ia meneguk air putih di depannya, tapi tak juga bisa meredakan resah.


"Bu, Alva ke kamar dulu," pamitnya beringsut dari duduk. Ia melangkah lesu meniti anak tangga yang membawanya ke kamar.


"Shit! Kenapa kamu sekarang jadi masalah buatku!" Ia mengepalkan tinju ke dinding dengan keras, sehingga punggung tangannya terluka.


πŸ₯€πŸ₯€


Nyanyian binatang malam yang ia rindukan kembali dapat dinikmati Safira. Malam itu ia duduk di serambi depan bersama Tyo dan pasangan suami istri yang menjaga rumah tersebut. Asap dari teh melati yang masih mengepul berlomba dengan ubi rebus yang baru saja dibawa istri Pak Sholeh dari dapur.


"Pantas kamu suka suasana tempat ini, Safira. Tempat ini sangat nyaman!"


"Iya, Mas. Tenang, kita bisa berpikir lepas tanpa beban apa pun," balasnya tersenyum.


"Mas Tyo pasti belum tahu sungai di belakang bukit itu, bagus, Mas!" Pak Sholeh promosi. Pria berhidung mancung itu tampak tertarik. Ia pun asik bertanyaΒ  segala hal tentang desa itu.


"Pengetahuanmu tentang desa ini masih kalah dengan Pak Sholeh," selorohnya menggoda Safira.


Mereka semua tertawa, Bu Sholeh mempersilakan mereka menikmati sajian malam itu. Malam semakin merangkak, wajah lelah tergambar di raut Safira.


"Kamu istirahat dulu deh. Besok dan besoknya lagi, jamin bisa terus menikmati tempat ini." Tyo menatap gadis itu.


"Mas besok jadi pulang?"


"Kenapa? Mau ikut balik?" godanya.


Safira menggeleng kemudian tertawa kecil.

__ADS_1


Tyo menggelengkan kepalanya, ia mengatakan akan tinggal beberapa hari lagi di tempat itu.


"Beneran, Mas?"


"Iya, kenapa? Nggak boleh?"


Cepat ia menggeleng, mata Safira berbinar seketika.


"Saya senang jika Mas Tyo bisa tinggal lama di sini. Ada banyak hal baru yang Mas bisa ketahui," tuturnya tersenyum.


"Oke, sekarang istirahat! Besok tunjukkan padaku tempat favoritmu itu."


Safira kemudian masuk meninggalkan Tyo dan Pak Sholeh yang masih bercengkrama di beranda.


πŸ₯€πŸ₯€


Semalaman Alva uring-uringan tak jelas. Ia tidak turun saat makan malam demikian juga dengan pagi ini. Getar di ponselnya membuat ia mengusap matanya yang masih terasa lengket akibat tak tidur sepanjang malam.


Panggilan dari Luna tak membuatnya beranjak, tak berniat menjawab, ia menekan tombol merah lalu mengaktifkan mode pesawat. Tak lama ia kembali membenamkan tubuh di balik selimut. Baru saja ia hendak memejamkan mata, ketukan pintu terdengar.


"Mas Alva, ada tamu," panggil Mbok Mirah seraya terus mengetuk.


"Siapa, Mbok?"


"Mbak Luna!"


Alva membuang napas kasar, bergegas ia memakai t shirt menyisir rambut lalu membuka pintu.


"Ibu udah berangkat?" tanyanya.


"Sudah, Mas. Oh iya, Mbak Luna ada di bawah."


Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian melangkah turun.


"Ngapain ke sini?" tanyanya acuh. Luna menghambur ke pelukan pria itu. Alva mencoba melepaskan.


"Kamu kok gitu sih, Al? Aku kan juga pingin tahu kabar kamu? Aku telepon nggak diangkat, kirim pesan nggak dibalas. Kamu kenapa sih?" cecarnya tak terima dengan sikap pria itu.


Alva diam, ia menyerahkan gadgetnya pada gadis yang lama ia pacari.


Mata Luna membulat tampak tak percaya dengan apa yang ia lihat. Mendadak gadis itu membeku di tempatnya. Video berdurasi lima menit itu cukup membuatnya tak bisa lagi mengelak.


"Al, maafin aku. Aku sama sekali nggak bermaksud ...."


Kasar ia menepis tangan Luna saat gadis itu mencoba meraih lengannya. Meski telah mendapatkan pengusiran, ia tetap enggan pergi. Dengan mengiba ia memintaΒ  pria itu memaafkan. Alva mendapatkan video itu dari seseorang teman yang biasa nongkrong di club bersama-sama.


Alva bergeming, pergumulan Luna dengan seseorang yang ia tak tahu siapa itu membuatnya sadar bahwa gadis di depannya itu bukan wanita yang layak dipertahankan.


"Sudahlah, kita selesai! Kamu pergi sekarang!"


"Alva, aku benar-benar nggak tahu itu semua! Kita bisa bicara baik-baik, 'kan?" Kembali Luna memohon. Namun, Alva tidak berubah, ia tak bereaksi.


"Luna! Maaf, kamu boleh pergi sekarang! Sekali lagi kita selesai!" Ia beranjak meninggalkan gadis itu menuju kamar.


"Aarrgh, sial!" teriaknya seraya membanting pintu.Β  Ia duduk di petiduran dengan wajah penuh amarah.


Telepon selulernya berbunyi, ada pesan. Tyo sang kakak membagi foto-foto dirinya tengah menikmati pagi di desa Safira. Dari beberapa foto tampak mereka berdua sangat dekat. Hal itu membuat dirinya yang tengah diliputi amarah semakin terbakar.


πŸ₯€πŸ₯€


Kepergian Safira dari rumah telah benar-benar membuat Alva merasa kehilangan. Meski begitu egonya terlalu kuat untuk mengakui rasa itu. Terlebih sang kakak sering bercerita dan terang-terangan mengatakan jatuh cinta pada gadis itu. Alva merasa kedua orang tuanya telah menghukum perbuatannya dengan melepas Safira. Kini ia dihadapkan pada kenyataan bahwa sang kakak telah benar-benar menyatakan siap untuk menikahi Safira.


"Loe cinta sama dia?" Deva menatap serius wajah kusut pria di depannya. Dengan menghela napas Alva mengangguk.


"Loe boleh bilang gue bodoh! Tapi gue rasa gue udah jatuh cinta sama dia," tuturnya mengacak rambut.


"Tapi ...." Ia menggantung kalimat.


"Tapi apa?"


"Telat, Dev! Pertunangan itu sudah dibatalkan. Dan Kak Tyo juga mencintainya."

__ADS_1


"Ayolah, Al. Loe bisa kan bilang ke ortu loe?"


"Bilang apaan?"


"Bilang kalau ternyata elo mencintai dia!" Alva tersenyum masam kemudian menggeleng. Pria itu meneguk habis segelas air di depannya.


"Nggak, Dev! Itu bukan gue! Lagipula, Kak Tyo akan segera menikahinya."


"Wait! Jadi ...."


"Iya, mungkin bulan depan atau entah kapan. Aku enggan bertanya," ungkapnya masih dengan wajah kusut.


"Tapi Safira gimana? Dia cinta juga nggak sama kakak loe?"


Alva menggeleng mengatakan bahwa bisa belum pernah bertemu lagi dengan gadis itu. Deva menyarankan agar Alva menemui Safira di desa.


"Gak tahu deh, Dev! Gue bingung!"


Mendengar itu Deva mengangkat bahu kemudian mengangguk mengerti. Ia tahu Alva memiliki sikap keras, dan ia tak lagi memberi saran apa pun.


"Oke, serah loe deh! Yang jelas kalau elo benar cinta sama dia. Kejar! Sebelum resmi menikah, kamu masih bisa!"


"Meski harus bersaing dengan sodara sendiri?" timpal Alva.


"Iya!"


Pria itu kembali mengacak rambutnya.


"Gue cabut, Dev!"


"Ke mana loe?"


Alva tak membalas pertanyaan Deva. Ia meluncur begitu saja dengan mobilnya. Sepanjang jalan bayangan Safira hadir memenuhi kepalanya. Sementara ucapan Deva kembali terngiang.


"Oke, kali ini aku kejar!" gumamnya kemudian menepikan mobil. Tangannya meraih telepon pintar di dashboard. Menyentuh tombol hijau memanggil seseorang.


"Safira, aku ke desa sekarang!"


Tanpa menunggu jawaban dari seberang, ia segera menutup telepon dan memutar balik mobil menuju desa tempat tinggal gadis yang telah mencuri hatinya itu. Perjalanan jauh tak lagin dirasakan. Pikirannya kini hanya bagaimana bisa mengatakan pada gadis itu tentang perasaannya.


"Maaf, Kak Tyo. Aku rasa kita harus bersaing sehat, kita lihat siapa pria beruntung itu," gumamnya menyungging senyum.


πŸ₯€πŸ₯€


Safira tengah bersama anak-anak desa. Mereka berkumpul di depan rumah untuk berlatih melukis. Gadis itu membiarkan rambutnya menari ditiup angin.


Sesekali ia tertawa lepas mendengar celoteh mereka. Tanpa ia sadari, Alva menikmati tawa gadis itu dari dalam mobil. Sengaja ia tak keluar sehingga ia bisa lama memperhatikan Safira.


Tiga puluh menit kemudian, terlihat satu persatu anak-anak itu pulang. Safira membereskan peralatan untuk kembali dimasukkan ke rumah.


"Safira!"


"Mas Alva?"


Alva tersenyum, mendadak ia seperti kehilangan keberanian yang sudah ia kumpulkan sedari tadi. Sejenak mereka saling tatap.


"Masuk, Mas. Barusan Mas Tyo telepon."


Mendengar nama sang kakak disebut ia terlihat gusar. Namun, demi sebuah asa, ia mencoba menahannya. Pria itu duduk di beranda.


"Tunggu ya, Mas. Saya mau buatkan minuman."


"Eum, Safira. Tunggu!"


"Iya, Mas?"


"Aku boleh tinggal di sini bersamamu?"


Gadis itu mengernyit heran.


"Eum ... maksudku, aku ingin tinggal di sini, boleh?"

__ADS_1


Masih dengan wajah penuh tanya, Safira mengangguk berkata, "ini kan rumah Mas Alva. Tentu saja Mas bebas tinggal di sini kapan pun Mas Al mau."


Alva tersenyum lega. Di kepalanya menari banyak rencana agar ia bisa mendapatkan hati gadis itu.


__ADS_2