
Rian mengejar Niken yang berjalan cepat masuk ke dalam mobil mereka. Pagi itu mereka hampir terlambat ke kantor karena Niken bangun kesiangan.
Semalam benar-benar terjadi saat Rian menunjukkan apa yang dikatakannya. Dan Niken merasa malu sampai tidak bisa tidur setelah lewat tengah malam. Ia bahkan memperingatkan Rian untuk tidak menyentuhnya.
Rian : "Niken, jangan ngambek terus dong. Aku cuma iseng."
Niken : "Iseng? Berhenti bicara dan cepat jalankan mobilnya. Jangan katakan apapun lagi."
Rian : "Niken..."
Niken : "Aku naik taksi aja."
Niken hampir turun dari mobil saat Rian menghidupkan mobil dan mengendarainya menuju kantor. Selama perjalanan, Niken lebih banyak diam tidak menanggapi Rian.
Sampai di kantor, Rian menuju ruang kerjanya sementara Niken turun di lantai ruangannya. Joya sudah datang dan melihat suasana hati Niken sepertinya kurang baik.
Wajahnya terlihat kesal dan memerah,
Joya : "Kakak gak pa-pa?"
Niken : "Aku..."
Niken ingin sekali curhat sama Joya tapi ia sadar kalau Joya belum menikah, dan pastinya akan jadi memalukan sekali baginya mendengar cerita Niken.
Niken : "Aku hampir terlambat. Cepat siapkan bahan meetingnya. Pak Calvin akan datang sebentar lagi."
Joya : "Baik, kak."
-----
Siang itu mereka meeting lagi dengan Calvin karena project sudah berjalan 50% dan pihak Calvin harus mentransfer dana lagi untuk kelanjutan project.
Staf Calvin yang datang lebih dulu, sudah menerima dan mengecek progress laporan dengan kenyataan di lapangan dan dari pihak mereka sangat puas dengan hasilnya.
Untuk itu Calvin datang hari ini. Agak aneh karena biasanya direktur tidak akan datang lagi sebelum project finish atau ada kendala dengan project itu.
Benar saja, sejak kedatangannya, mata Calvin selalu mengamati kemana Joya pergi. Dia benar-benar menyukai Joya, sesekali mereka ngobrol membuat Boy terbakar api cemburu.
Calvin : "Joya, terakhir kali kita bertemu sepertinya rambutmu tidak sependek ini. Apa kau memotongnya?"
Joya : "Tidak, tuan Calvin."
Calvin : "Ach, masa sich? Tapi lebih manis begini."
Joya : "Tuan, bisa fokus ke depan saja."
Calvin : "Mereka sudah menyelesaikannya. Makan siang denganku ya. Kamu belum punya pacar kan?"
__ADS_1
Joya : "Saya masih ada meeting, pak."
Calvin : "Aku akan minta ijin pada tuan Boy. Ayolah, Joya."
Joya : "Saya tidak yakin kalau tuan Boy akan mengijinkan saya."
Calvin tahu kalau Boy juga menyukai Joya, dan ingin membuat Boy cemburu. Ia ingin tahu saat pebisnis tangguh seperti Boy goyah karena cinta, apa yang akan terjadi pada bisnisnya.
Lagi pula, Calvin lebih tertarik pada Boy daripada Joya sebenarnya. Ssstttt!!! Ini rahasia ya.
Calvin : "Tuan Boy, makan siang nanti saya mengundang nona Joya secara pribadi untuk makan siang bersama saya. Saya rasa tuan Boy tidak akan keberatan, bukan?"
Boy : "Boleh saja asalkan saya juga bisa bergabung."
Calvin : "Ach, bagus sekali. Kita bisa ngobrol banyak."
Mau gak mau, Joya tetap harus menemani Calvin makan siang meskipun bersama Boy juga. Tetap saja Joya gak nyaman dengan cara Calvin memandangnya.
Mereka sudah duduk di dalam salah satu restaurant yang mewah. Joya sedikit gugup dan ingin kabur saja dari sana. Tapi ia harus menghadapi ini demi perusahaan.
Setelah pesanan mereka datang, Calvin semakin gencar mendekat pada Joya. Bahkan tidak segan menyentuh tangannya. Joya jadi canggung mendapat perlakuan manis dari Calvin.
Pandangan Boy tajam menatap interaksi antara Joya dan Calvin. Ia ingin sekali berteriak pada Calvin untuk menjauh dari Joya dan Joya adalah miliknya. Tapi ia tidak bisa mengatakannya atau Joya akan tahu semua rahasianya selama ini.
Makanan mereka akhirnya habis, Calvin meminta Joya mengikutinya ke sebuah ruangan yang sedikit private. Untuk mempercepat kegalauan dan ketidaknyamanan agar segera berakhir, Joya mengiyakan saja.
Merasa khawatir, Boy membuka pintu itu dan langsung masuk. Ia menatap sekeliling ruangan yang kosong, kemana Joya pergi?
Tapi saat berbalik, Boy melihat Calvin berjalan ke arahnya.
Calvin : "Tuan Boy, senang sekali bisa ketemu lagi."
Boy : "Dimana Joya?"
Calvin : "Ditempat yang aman... Aku perlu bicara sama kamu."
Calvin semakin mendekati Boy yang tetap diam di tempatnya. Boy menatap tajam pada Calvin yang hampir menempel pada tubuhnya.
Calvin : "Kyaa...!! Ganteng banget! Mas Boy, aku padamu!"
Boy : "...???!!!"
Boy kaget sekali ketika sikap Calvin tiba-tiba berubah 180'. Calvin dengan lancang menarik kemeja Boy dan hampir menciumnya.
Boy : "Apa yang kau lakukan?!"
Calvin : "Mas Boy... Cium aku... Jangan jauh-jauh mas."
__ADS_1
Boy geli melihat tingkah Calvin yang ingin memeluk dan menciumnya. Boy baru sadar kalau Calvin hanya menggunakan Joya untuk memancingnya masuk ke ruangan ini.
Boy : "Maaf, tuan Calvin. Tapi saya masih sangat normal. Saya harap tuan jangan salah paham."
Calvin : "Apa Joya lebih baik dari aku? Lebih manis?" Calvin merajuk berharap Boy akan memilihnya daripada Joya dan jelas dia sudah gila.
Boy : "Dimana Joya? Katakan dimana dia atau aku akan menghentikan kerja sama kita."
Calvin : "Kau akan kehilangan banyak, mas Boy..."
Boy : "Demi Joya, aku siap kehilangan sebesar itu."
Melihat keteguhan hati Boy, Calvin menghela nafas. Ia mengambil sebatang rokok dari sakunya dan mulai merokok.
Calvin : "Ah, kamu gak asyik. Coba mau aku cium, kita bisa bermain panas sebentar."
Boy : "Dimana Joya?!"
Calvin : "Sstt... Mungkin dia sudah tertidur sekarang."
Calvin memberi tanda dengan kepalanya, dibelakang mereka ada sedikit celah. Boy berjalan cepat kesana dan melihat Joya terbaring diatas ranjang. Pakaiannya masih utuh dan sepertinya dia baik-baik saja.
Saat Boy menengok ke belakang untuk melihat Calvin, orangnya uda menghilang entah kemana. Sepertinya ia tidak akan mengganggu mereka untuk hari ini.
Boy masuk ke ruangan itu dan duduk di samping Joya. Ia membelai kepalanya dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Dipandangnya wajah tenang Joya, keningnya berkerut saat Boy mengecup kening itu.
Boy : "Syukurlah kamu baik-baik aja. Maaf aku gak bisa melindungimu. Aku mencintaimu, Joya."
Tiba-tiba mata Joya terbuka, mereka langsung bertatapan dan Joya langsung bangkit dari tidurnya.
Boy : "Apa yang terjadi?"
Joya : "Tidak tahu, tuan. Waktu saya masuk ke sini, kepala saya pusing."
Boy : "Bisa bangun? Kita balik ke kantor."
Joya mengangguk dan perlahan turun dari ranjang, ia memakai sepatunya dan membawa barang-barangnya keluar dari sana bersama Boy.
-----
Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.
Makasi banyak...
__ADS_1
-------