
Beberapa saat sebelum makan malam pernikahan,
Alvin dan Rara masih menyalami para tamu undangan yang hadir, ketika lampu sorot mendadak berubah ke arah pintu masuk.
Semua orang memandang seorang wanita cantik yang berjalan anggun memasuki ruang resepsi. Tidak seperti kebanyakan tamu undangan yang memakai busana resmi untuk nikahan, wanita cantik ini datang menggunakan setelan kerja dengan blazer dan sepatu hak tinggi.
Warna blazernya sangat kontras dengan tamu undangan yang datang sehingga sangat menarik perhatian. Belum lagi koper berwarna hitam yang sedang ditariknya, membuat wanita ini jadi pusat perhatian.
Alvin mengamati sosok wanita yang berjalan semakin dekat ke pelaminan, ia menyadari sesuatu dan berlari meninggalkan Rara sendirian di atas pelaminan. Alvin berlari ke arah wanita itu dan langsung memeluknya.
Rara melihat suaminya memeluk wanita lain didepannya, sontak menghentakkan kakinya dengan mata berkaca-kaca. Joya dan Boy yang melihat kejadian itu, segera menghampiri Rara dan menenangkannya.
Rara : “Ma... Alvin, ma...”
Joya : “Sabar dulu ya...”
Papa Rara yang melihat kejadian itu, segera berjalan ke arah Alvin yang masih memeluk wanita itu. Ia menepuk keras pundak Alvin, membuat menantunya berjingkat.
Papa Rara : “Alvin, papa butuh penjelasan. Siapa dia?”
Alvin : “Eh, maaf pah. Ayo, Alvin kenalin dulu.”
Alvin menggandeng wanita cantik itu naik ke pelaminan. Rara dan wanita itu kini berhadapan, wanita cantik berambut panjang dan memakai kacamata hitam itu melepas kaca matanya dan langsung memeluk Rara yang kebingungan.
Aliya : “Kakak iparku sayang!”
Rara : “Kakak ipar? Entar dulu, kamu siapa?”
Aliya : “Kak, jangan bilang kakak gak cerita tentang aku.” Aliya emosi langsung menginjak kaki Alvin yang berdiri di sampingnya.
Alvin : “Aduch, jadi adik tuch jangan galak-galak kenapa sich. Sapa suruh gak pernah pulang.”
Rara : “Adik? Dia siapa?”
Joya dan Boy bergantian memeluk wanita cantik itu,
Joya : “Besan, Rara, ini anak kami yang kedua, namanya Aliya. Maaf gak pernah cerita, anak ini sudah hampir 5 tahun gak pernah pulang. Dia tinggal di LN.”
Aliya : “Kakak ipar, aku Aliya, adik iparmu. Kakak jangan nangis dong, aku memang ngangenin kok.”
__ADS_1
Rara : “Aku gak nangis karena kamu, tapi karena...”
Aliya : “Jangan bilang kakak cemburu tadi.”
Rara : “Sedikit...” Alvin memeluk dan mencium pipi Rara yang terlihat manis ketika ia malu-malu.
Aliya : “Kakak! Sabar sedikit, aku masih jomblo!”
Semua orang yang hadir tertawa mendengar kata-kata Aliya, lengkap sudah keluarga Boy, mereka bersiap foto bersama. Aliya memeluk papa dan mamanya dan mencium tangan mertua Alvin.
🍀🍀🍀🍀🍀
Kembali lagi saat Alvin mencoba membuka retsleting gaun Rara yang tersangkut, keringat menetes ke dahinya padahal AC dalam kondisi menyala dengan suhu paling rendah.
Akhirnya gaun Rara terlepas dari tubuhnya, Alvin mengalihkan pandangannya dari tubuh Rara. Ia tidak mau terburu-buru melewati malam pertam mereka.
Rara : “Al, aku mandi dulu ya, sekalian ganti baju.”
Alvin mengangguk seperti orang bodoh. Ia segera membuka baju pengantinnya dan meletakkannya bersama baju pengantin Rara di atas sofa. Sebagai gantinya Alvin hanya memakai bathrobe untuk menutup tubuhnya.
Tok, tok, tok... Suara ketukan pelan di pintu kamar pengantin, mengalihkan perhatian Alvin. Ia membuka pintu dan melihat mama dan papa Rara memandangnya kepo.
Alvin : “Lagi mandi, pah. Gerah katanya.”
Papa Rara : “Kalian uda... “ Mama Rara menyikut papa Rara yang mulai posesif.
Mama Rara : “Mama sama papa cuma ngecek aja kalian dimana, dari tadi dicariin soalnya mau pada pamitan. Baju pengantinnya mana? Mau dibawa sama besan balik ke villa.”
Alvin mengambil baju pengantin mereka dan memberikannya pada mama Rara.
Mama Rara : “Sudah ya, selamat istirahat.”
Papa Rara : “Vin, pelan-pelan aja ya...”
Alvin : “Pah, kalo pelan-pelan kapan papa punya cucunya...”
Alvin nyengir lebar sambil menutup pintu kamar, membiarkan papa mertuanya menangis bombay di pelukan mama mertuanya.
Rara sudah keluar dari kamar mandi, ia memakai bathrobe dan membungkus rambutnya dengan handuk. Alvin memandang Rara yang berdiri malu-malu, ia menghampiri Rara dan hampir menciumnya lagi.
__ADS_1
Rara : “Vin, mandi dulu sana. Aku mau ganti baju dulu.”
Alvin : “Iya... sayang...”
Alvin bergegas mandi, saat keluar dari kamar mandi ia melihat lampu kamar sudah dimatikan berganti lampu tidur dan cahaya lilin di beberapa sudut kamar.
------
Skip lagi ya...
------
Alvin berjalan masuk ke kamar mandi, ia menghidupkan kran air hangat di bathup dan kembali ke kamar, dilihatnya Rara mencoba meraih gelas berisi air putih diatas nakas. Alvin mengambil gelas itu dan membantu Rara minum.
Alvin : “Sayang, kita mandi lagi ya. Aku bantu pelan-pelan.”
Rara hanya pasrah saat Alvin menggendongnya ke kamar mandi, ia memejamkan mata menahan perih pada
tubuhnya saat mengenai air hangat.
Alvin membersihkan seluruh bagian tubuh Rara dan juga dirinya. Rara mulai merasa nyaman dan perihnya berkurang, ia membuka matanya menatap Alvin yang duduk didepannya.
Rara : “Al, aku cinta kamu.”
Alvin : “Aku cinta kamu, sayang.”
Rara dan Alvin berciuman lagi dan kembali memanaskan malam pengantin mereka.
-------
Terima kasih sudah membaca novel author, kisah Joya dan Boy masih akan berlanjut, jadi ditunggu kelanjutannya ya.
Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.
Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL” dan “Jebakan Cinta” dengan cerita yang gak
kalah seru.
-------
__ADS_1