Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 20 – Tingkat akut


__ADS_3

Eps. 20 – Tingkat akut


Carol : “Oh, gitu ceritanya.


Nando : “Pantesan Bu Ana selalu sendiri ya. Ke pesta ultah perusahaan juga sendiri. Cocok tuch.”


Carol : “Maksudmu? Kamu mau ngejar bu Ana juga?”


Nando : “Adooww...jangan dicubit, sakit nich. Maksudku kasi kak Nanda.”


Joya : “Bukannya kakakmu udah nikah?”


Nando : “Jomblo akut, Ny. Terlalu sibuk kerja, sampai lupa nikah.”


Joya mengatakan pada pertemuan pertama mereka, Nanda berpamitan karena mau menjemput putrinya.


Nando mengatakan kalau adik perempuan mereka, Nadia masih kelas 6 SD dan sangat


manja pada Nanda karena itu Nanda memanggilnya putri.


Joya mulai tertarik pada keluarga Nando sekarang, tentang kisah kehidupan 3 bersaudara


itu. Nando mengundang Joya dan Boy agar datang untuk makan siang besok di villa


Nanda. Joya langsung menerimanya tapi sibuk bertanya lagi pada Boy apa Boy


setuju. Boy pasrah saja mengikuti keinginan istrinya itu.


Joya memutuskan telpon dengan Carol dan Nanda. Ia masih harus merawat Boy yang menderita


pukulan juga. Ny. Besar sudah memanggil dokter untuk memeriksa Boy dan


mengatakan kalau Boy hanya perlu mengompres memarnya saja.


Joya : “Hmm. Besok aku ijin kerja lagi dong kalo gitu.”


Boy : “Kenapa emangnya Ny.Boy?”


Joya : “Lupa kalo uda jadi istri mas.”


Boy : “Udah ngajuin resign, kan?”


Joya : “Udah sich.”


Boy menggeser tubuhnya, ia menaruh kepalanya di pangkuan Joya yang duduk di sampingnya. Joya


mengelus-elus pipi Boy yang memar.


Joya : “Besoknya enaknya bawa apaan ya kesana?”


Boy : “Puding buah aja.”


Joya : “Tumben cepet banget jawab, ditanya makanan. Mas pengen makan itu?”


Boy : “Ya. Gigiku masih sakit nich. Tau gini harusnya aku lanjutin latihan tinju.”


Joya : “Oh gitu. Aku buatin sup ayam sekarang mau?”


Boy : “Mau, tapi suapin ya.”


Joya : “Iya. Manja banget sich.”


Joya sudah hampir bergeser, tapi Boy tidak membiarkannya. Boy berubah pikiran, ia ingin


Joya tetap disini dan meminta Joya memberi tahu Bi Ijah untuk masak sup ayam.


Joya mengambil ponselnya, ia menelpon Bi Ijah dan minta di buatkan sup ayam


untuk Boy.

__ADS_1


Boy tersenyum senang, ia bermanja-manja dengan Joya, iseng membuka kaos yang dipakai Joya.


Tangannya mulai tidak bisa dikondisikan mulai gerayangan ke tubuh Joya.


Joya : “Mas masih sakit gitu, gak bisa diem ya.”


Boy : “Sapa suruh kamu kayak magnet, narik aku terus. Gak usah mikirin kantor lagi, mereka


mau nuntun kamu, ntar aku yang pecat.”


Joya : “Gak bisa, mas. Aku kan jadi gak enak.”


Boy : “Nurut sama suamimu. Aku bilang jangan ke kantor, nurut. Atau aku pukul pantatmu


lagi.”


Joya : “Aku tinggal ngadu ke ibu, kita lihat siapa yang kalah.”


Boy : “Gitu aja menangnya.”


Joya : “Habisnya aku bukan anak kecil. Masa dipukul pantat. Aiihh...!!”


Tangan Boy sudah sampai ke bagian sensitif Joya. Joya memejamkan matanya menikmati


sentuhan Boy. Ia tidak sadar kalau pakaiannya sudah berserakan di samping


tempat tidur mereka.


Tok, tok, tok... Boy menghentikan gerakan tangannya. Ia menarik selimut menutupi seluruh


tubuh Joya dan beranjak membuka pintu. Bi Ijah memberikan nampan berisi nasi


dan sup ayam, serta minuman untuk mereka berdua. Ia melirik sedikit ke dalam


kamar dan senyum-senyum malu sendiri.


cepat-cepat menaruh nampan ke tangan Joya dan menarik selimutnya.


Joya : “Mas, aku pake baju dulu.”


Boy : “Gak boleh. Gitu aja. Suapin aku makan, cepat.”


Joya : “Bisa masuk angin nich. Selimutan boleh ya?”


Boy : “Nggak. AC-nya aku matiin nich.”


Boy makan sambil disuapin Joya yang menahan rasa malunya. Gimana gak malu kalo harus


nyuapin suami tapi gak pake baju. Boy tersenyum puas bisa melihat tubuh


istrinya. Joya ngdumel dalam hati ‘gini amat punya suami mesum tingkat akut.’


*****


Sementara itu di villa Nanda, Nando dan Carol sedang menikmati makan malam mereka. Ketika


Nanda datang dan bergabung dengan mereka.


Nanda : “Dimana Nadia?”


Nando : “Gak tau. Masih di kamarnya kali.”


Nanda : “Dari tadi gak keluar kamar? Apa kamu gak ngecek dia?”


Nando : “Aku ngecek, kak. Kalo gak, mana tau dia dimana. Dia terus ngdumel masalah di


sekolahnya, teman-temannya.”


Nanda : “Acara tahunan sekolah lagi ya.”

__ADS_1


Nando : “Hmm. Ini tahun terakhir dan dia belum pernah datang bersama papa dan mamanya. Kakak


cepet nikah sana.”


Nanda : “Kamu aja datang sama Carol ke sekolah Nadia. Kalian kan akan menikah sebentar lagi.”


Nando : “Yang dianggap papa sama Nadia itu kakak. Kakak mau kukenalkan sama satu wanita?”


Nanda : “Habiskan makananmu! Jangan cerewet!”


Nando : “Dih, sensi. Jangan teriak, kak. Kau menakuti Carol.”


Nanda menahan dirinya karena melihat Carol sudah gemetar ketakutan melihatnya teriak-teriak.


Jangan sampai calon adik iparnya ini ketakutan karena dirinya dan memilih


meninggalkan Nando. Nanda kembali meratapi nasibnya yang jomblo. Sebentar lagi


Nando akan menikah dan ia akan semakin senang menggodanya nanti.


Nanda : “Pergi bawakan makanan untuk Nadia.”


Nanda memberi perintah pada Charlie yang mengangguk dan berjalan ke dapur. Pelayan membawakan


makanan diatas nampan dan mengikuti Charlie menuju kamar Nadia.


Carol : “Apa aku boleh ketemu Nadia?”


Nando : “Sebaiknya tidak sekarang.”


Carol : “Kenapa?”


Nando : “Suasana hatinya sedang tidak baik. Dia mudah mengamuk kalau sudah seperti itu.


Biarkan Charlie mengurusnya dulu.”


Carol menghabiskan makanannya dan Nando membawa Carol masuk ke kamarnya. Carol


melihat sekeliling kamar yang dominan berwarna biru. Ia mendekati tempat tidur


Nando, duduk disana sambil mengusap permukaan seprai yang halus.


Saat dirinya tersadar, Nando sudah ada di depannya, mengukungnya dengan kedua tangannya.


Carol menjauhkan dirinya, naik ke atas tempat tidur Nando sampai tubuhnya


tertahan kepala tempat tidur. Tangan Carol refleks menahan  Nando agar tidak mendekat lagi,


Carol : “Nando, jangan dekat-dekat. Aku mau balik ke kamarku.”


Nando : “Tidur sini sama aku.”


Carol : “Nggak boleh. Kita belum sah.”


Nando : “Aku gak akan macem-macem.”


Gak macem-macem sich, tapi kalo khilaf ya lanjut aja. Carol tetap menggeleng. Ia melihat


seseorang berdiri di pintu kamar Nando, menatap mereka dengan pandangan yang


mematikan.


Carol : “Itu kak Nanda.”


*****


Klik profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa


tinggalkan jejakmu). Tq.

__ADS_1


__ADS_2