Menantu Untuk Ibu

Menantu Untuk Ibu
Eps. 10 - Berduaan lagi


__ADS_3

Rian dan Niken baru sampai di rumah Rian setelah berbelanja beberapa kebutuhan mereka. Rian sedikit memanjakan Niken dengan membelikan apapun yang dibutuhkannya.


Tak lupa Rian membeli cincin kawin untuk mereka, tentu saja sesuai dengan pilihan Niken. Ia berharap malam ini mereka bisa melewati malam pertama yang indah.


Rian terus menatap Niken yang sedang menyiapkan makan malam. Khayalan liar Rian mulai memenuhi otaknya saat melihat Niken memakai apron. Ia tidak tahan untuk mendekati Niken.


Rian : "Niken..."


Tubuh Niken merinding saat ia merasakan tangan Rian menyusuri punggungnya. Rian menyudutkannya hingga menempel di dinding dapur dan mengangkat satu kaki Niken.


Rian : "Sayang, kau sangat menggairahkan..."


Niken : "Ri... Rian, aku masih masak. Kamu mandi dulu ya."


Rian tersenyum merasakan kegugupan Niken, ia juga sedikit gugup tapi hasratnya menekan kegugupannya. Ia melepaskan Niken dan berjalan masuk ke kamarnya.


Rian melihat sekeliling kamarnya yang bersih dan wangi. Ia teringat sesuatu dan mencari di laci nakas. Rian mengumpulkan beberapa lilin dan aromatherapi. Ia memiliki rencana manis untuk Niken.


-----


Niken sudah selesai memasak, ia menunggu Rian yang tidak kunjung keluar dari kamar. Merasa gerah dan tidak nyaman, Niken akhirnya masuk ke kamar mereka.


Ia terpana melihat kamar yang sudah disinari lilin di sudutnya. Suasana romantis di dalam kamar langsung menguar menyelimuti Niken saat ia masuk ke dalam.


Niken : "Rian? Kamu masih mandi?"


Tidak ada jawaban apapun, Niken mengetuk pintu kamar mandi sekali lagi dan memberanikan diri membuka pintu. Ia terpana sekali lagi, aromaterapy memenuhi hidungnya dari lilin disamping bathup yang penuh dengan air hangat.


Niken menutup pintu kamar mandi, ia mulai membuka satu persatu pakaiannya dan masuk ke dalam bath up.


Niken : "Uh..." Niken merasa sangat rileks saat air hangat meresap di tubuhnya yang lelah.


Rian : "Jangan mendesah, sayang..."


Deg! Mata Niken terbelalak ketika mendengar suara Rian disampingnya. Ia meringkuk menutup bagian tubuh sensitifnya yang terlihat jelas dari dasar bath up.


Tubuhnya gemetar saat tangan Rian menyentuh pundaknya yang terbuka lebar. Rian sempat kaget melihat reaksi Niken, tapi ia mengerti kalau Niken belum siap.


Rian : "Kamu capek? Lain kali jangan maksa masak ya."


Niken : "Aku nggak..."


Rian : "Aku pijat ya. Tenang aja, rileks."

__ADS_1


Bukan bohong kalau Rian tidak bernafsu melihat tubuh Niken, tapi melihat reaksi istrinya itu, sepertinya Rian harus menunggu lagi. Ia tidak ingin memaksa Niken melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Meskipun itu adalah haknya sebagai suami.


Rian memijat perlahan pundak dan tengkuk Niken yang tegang. Sesekali ia mengambil air di bath up dan menuangkannya ke pundak Niken.


Niken : "Uda, aku mau bilas."


Rian : "Iya, aku bantu berdiri ya."


Niken : "Ja... Jangan, aku bisa sendiri."


Rian : "Ok, aku tunggu di luar ya."


Niken bernafas lega saat Rian menutup pintu kamar mandi setelah ia keluar. Ia benar-benar belum siap untuk melakukan kewajibannya sebagai istri untuk Rian. Ia belum siap secara sadar menyerahkan dirinya.


Ketika Niken keluar dari kamar mandi dan melihat lampu kamar sudah dinyalakan dan lilin yang tadi menyala sudah dimatikan. Rian ada di depan lemari, sedang mengambil kaos.


Niken melihat tubuh maskulin Rian yang belum tertutup kaos. Ia tergoda melihatnya dan ingin menyentuhnya. Rian menyadari pandangan mata Niken, ia menoleh dan tersenyum sebelum berbalik melangkah keluar dari kamar.


Setelah Rian menutup pintu kamar, Niken memegang kedua pipinya yang memerah. Ia memukul kepalanya yang mengirimkan signal mesum membuat tubuhnya gemetar.


Niken : "Apaan sich??!!"


Ia memerlukan waktu hampir 10 menit untuk menghilangkan hawa panas yang tiba-tiba menyerangnya. Padahal Rian sudah menunggu untuk makan malam bersama.


Niken mengambil piyama tidur di lemari dan memakainya tanpa memperhatikan bentuk pakaian itu. Ia segera keluar dari kamar menuju meja makan.


Niken : "Kenapa ngliatin gitu?"


Rian : "Itu... So hot..."


Mata Rian intens menatap tubuh Niken, karena piyama yang dipakai Niken malam itu cukup rendah lehernya memperlihatkan area sensitifnya dengan jelas didepan Rian.


Niken : "Kyaa...! Jangan lihat...!


Tangan Niken ditarik Rian ketika istrinya itu hampir beranjak dari duduknya. Niken meronta, tapi Rian berhasil menenangkannya.


Rian : "Hei, tenang. Talinya kurang ditarik tuch."


Tali piyama itu belum diikat Niken dengan benar karena terburu-buru keluar kamar. Rian beranjak ke belakang Niken, menarik dan mengikat tali piyama di punggungnya.


Setelah diikat, piyama itu menutup tubuh Niken dengan sempurna. Rian senyum-senyum membayangkan pemandangan indah yang baru saja dilihatnya. Sementara wajah Niken kembali memerah.


Mereka makan malam dalam diam yang canggung. Bagaimana pun juga mereka masih termasuk pengantin baru, bisa saja hal-hal kecil seperti tadi membuat canggung situasi mereka berdua.

__ADS_1


-----


Rian membantu Niken mencuci piring dan membersihkan dapur. Ia sudah tidak berharap akan dapat jatah basah malam ini. Tapi sedikit ciuman masa gak dapet sich.


Niken lanjut membersihkan meja makan. Sebenarnya mereka tidak perlu melakukan itu karena Rian sudah menyewa orang untuk membersihkan rumahnya. Tapi sepertinya Niken sengaja mengulur waktu agar mereka tidak segera tidur.


Lampu di ruang tamu dan dapur sudah dimatikan Niken, perlahan ia berjalan menuju kamarnya. Rian sudah duluan masuk ke dalam sana dan entah apa yang direncanakannya.


Saat Niken masuk ke dalam kamar, ia melihat Rian sudah berbaring di atas ranjang. Setengah tubuhnya tertutup selimut dan setengahnya lagi terbuka lebar. Ia tampak tertidur lelap dengan lengan menutup matanya.


Niken berjalan mendekati ranjang, ia ingin melihat lebih dekat tubuh suaminya. Tubuh Rian sangat bersih tanpa rambut yang wajarnya tumbuh di beberapa bagian tubuh pria.


Tanpa sadar tangan Niken terulur menyentuh ketiak Rian, ia sedikit kegelian dan membalik tubuhnya menghadap Niken. Lagi, Niken masih ingin menyentuh tubuh Rian. Kali ini di bagian dadanya.


Saat Niken menyentuh dada Rian, ia kembali kegelian dan mata Rian tiba-tiba terbuka lebar. Rian menahan tangan Niken,


Rian : "Sebenarnya kamu mau apa? Aku sudah berusaha tidur tapi kamu terus gangguin."


Niken : "Aku gak gangguin, cuma... pengen pegang aja."


Rian : "Mau pegang yang mana lagi, cepetan...!"


Rian kembali berbaring ke posisi semula, ia menahan dirinya tidak menyerang Niken duluan. Ia ingin Niken yang berinisiatif, meskipun itu akan lama sekali. Dan sekali saja Niken melakukan itu, Niken akan jadi miliknya selamanya.


Niken kembali mendekati Rian, kali ini ia menyentuh perut Rian. Tonjolan otot perut Rian membuat Niken senang memegangnya. Beberapa bagian terasa keras, bagian lainnya terasa lembek.


Niken : "Hi hi bisa gitu ya. Aneh banget."


Rian : "Mau liat yang lembek jadi keras gak?"


Rian menatap Niken yang terlihat penasaran,


Niken : "Emang ada?"


Rian senyum-senyum nakal menghadap ke arah Niken.


-----


Terima kasih sudah membaca novel author dan dukungan untuk author.


Jangan lupa like, fav, komen, kritik dan saran para reader sangat ditunggu author.


Baca juga novel author yang lain dengan judul “Perempuan IDOL”, “Jebakan Cinta” dan “Duren Manis” dengan cerita yang gak kalah seru.

__ADS_1


Makasi banyak...


-------


__ADS_2