
Eps. 20 – Tunjukkan semuanya
Nanda : “Dan
aku ingin menua bersamamu.”
Deg! Deg! Deg!
Jantung Ana berdetak sangat cepat mendengar kata-kata Nanda. Ia mencoba menepis
tangan Nanda yang masih betah memegang dadanya.
Ana : “Tuan
gila! Kita baru kenal. Tidak semudah itu memutuskan menikah. Lagian status
saya..”
Nanda : “Janda.
Kamu tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan yang kulihat cukup indah.
Suamimu meninggal beberapa hari setelah kalian menikah, maaf aku mengungkitnya.
Kalian kecelakaan saat akan berangkat bulan madu dan kau punya bekas luka di
pahamu karena itu. Apa aku benar?”
Nanda meraba
paha Ana yang memiliki bekas luka operasi. Ana berdesis karena perbuatan Nanda
pada pahanya. Ia meronta agar Nanda menghentikan perbuatannya.
Ana : “Tuan!
Jangan kurang ajar!”
Nanda :
“Menikah denganku, Ana. Akan kutunjukkan seberapa kurang ajarnya aku.”
Ana : “Nggak!!”
Nanda : “Atau
kita lakukan sekarang saja. Tidak usah menikah.”
Nanda
mengangkat tubuh Ana dan memanggulnya keluar dari walk in closet. Ana terlempar
ke atas ranjang Nanda, ia mengambil bantal dan melempari Nanda dengan apapun
yang bisa diraihnya diatas tempat tidur itu.
Ana : “Jangan
mendekat!!”
Tok, tok, tok.
Nanda menatap horor ke arah pintu kamarnya. Ia sudah meminta Charlie mengurus
Nadia, jadi siapa lagi yang berani menganggunya. Mau tak mau Nanda membuka
pintu kamarnya. Nadia ada di depan pintu, menatapnya dengan bingung.
Nadia : “Kakak,
dimana tante Ana?”
Ana : “Nadia!
Nadia, tolong tante.”
Nadia : “Kenapa
tante Ana ada diatas tempat tidur kakak?”
Nanda : “Dengar
kakak, Nadia mau kan tante Ana tinggal disini sama kita?”
Nadia : “Iya,
mau.”
Nanda : “Gimana
kalau tante Ana nikah sama kakak? Nadia bisa punya ibu dan ayah. Kakak Nanda
jadi ayah, tante Ana jadi ibu Nadia. Mau?”
Nadia : “Iya,
mau.”
Ana : “Nadia,
tante gak mau.”
Nadia : “Tante
gak mau jadi ibu Nadia?”
Ana : “Bukan gitu,
__ADS_1
sayang.”
Nadia : “Hore!
Nadia punya ibu, punya ayah, punya kakak!”
Gadis kecil itu
hampir berjalan masuk ke kamar Nanda tapi Nanda menghentikannya.
Nanda : “Nadia
juga mau kan punya adik?”
Nadia : “Adik?
Adik laki-laki? Mau!!”
Ana menatap
ngeri kearah kakak beradik itu. Ia hampir bicara lagi, tapi Nanda dengan cepat
bicara pada Nadia.
Nanda : “Kalau
gitu, biarin tante Ana sama kakak dulu ya. Besok, tante Ana bisa diajak main
lagi. Nadia makan dulu sama kak Nando dan kak Carol ya.”
Nadia : “Iya,
kak. Dadah tante Ana.”
Ana : “Nadia!”
Sia-sia saja
memanggil Nadia yang sudah pergi dari depan kamar Nanda. Nanda menutup pintu
kamarnya dan menguncinya. Nando menghadap pada Ana lagi. Ia mengendurkan
dasinya dan melepaskan jasnya.
Nanda : “Kenapa
kamu gak lari?”
Ana : “Apa?”
Nanda : “Ya,
kenapa kamu gak lari? Silakan lari duluan.”
Ana turun dari
atas tempat tidur, ia berlari ke arah pintu keluar, tapi pintunya terkunci.
berlarian berkejar-kejaran di dalam kamar Nanda.
Ana benar-benar
gesit dalam berlari, beberapa kali Nanda gagal menangkapnya. Sampai nafas Ana
mulai ngos-ngosan. Ia tersandung kaki tempat tidur dan jatuh menyamping di atas
tempat tidur Nanda.
Ana : “Kenapa
tuan mengejar saya seperti itu?”
Nanda : “Itukan
yang dilakukan saat malam pertama.”
Ana : “Apa?”
Nanda : “Ya,
Nando bilang itu yang dia lakukan sama Carol ketika malam pertama mereka.
Mereka bahkan membuat kamar sangat berantakan.”
Ana tertawa
geli mendengar kepolosan Nanda. Ia tidak bisa berhenti tertawa sambil mengatur
nafasnya. Nanda kebingungan melihat reaksi Ana. Tapi ia menyukai tawa Ana yang
lepas seperti itu. Saat Ana berhenti tertawa, Nanda sudah ada diatasnya,
menatap dalam mata jernihnya.
Ana : “Tu...
tuan mau ngapain?”
Nanda :
“Ceritakan tentang suamimu. Maksudku almarhum suamimu.”
Ana : “Kalau
tuan mau tau ceritanya, gak begini juga posisinya.”
Nanda :
__ADS_1
“Ceritakan yang singkat. Aku sudah tahu seperti apa suamimu. Bagaimana kalian
melewati malam pertama pernikahan?”
Ana : “Anda ini
memang kurang ajar atau memang mau tahu? Apa mulut anda selalu sepedas ini?”
Nanda : “Kau
coba sendiri rasa mulutku. Pedas nggak?”
Ana mendengus
kesal. Ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Nanda. Tapi memang seperti
itulah Nanda. To the point sampai bikin orang salah paham padanya dan berakhir
Charlie yang harus membereskan semuanya.
Ana : “Saya
hanya tidur dengan suami saya karena kebetulan saya sedang haid saat itu.”
Nanda : “Tuch
kan benar. Memang sebaiknya tidur saja di malam pertama. Ngapain Nando buat
kamarnya berantakan.”
Ana : “Tentu
saja mereka melakukan sesuatu yang lain juga.”
Nanda :
“Sesuatu apa?”
Ana menyesali
mulutnya yang keceplosan mengatakan tentang melakukan sesuatu. Nanda mengejar
Ana untuk mengatakan hal apa yang mereka lakukan selain tidur.
Ana : “Bikin
anak.”
Nanda : “Gimana
caranya?”
Ana : “Tuan
Nanda! Anda sudah setua ini masa masih perjaka? Apa tuan tidak pernah
menggunakannya?”
Wajah Nanda
seolah membentuk tanda tanya besar, keningnya berkerut memecahkan kode yang
diberikan Ana. Tentu saja sangat memalukan kalau Ana mengatakan secara vulgar
tentang apa yang ia maksud.
Ana : “Sudah,
jangan dipikirkan. Boleh saya keluar sekarang?”
Nanda : “Tidak.
Kita sudah melewati malam pertama, kita harus menikah kan?”
Ana : “Tuan
bahkan tidak melakukan apa-apa pada saya. Buat apa kita menikah.”
Nanda : “Apa
aku harus melakukan sesuatu padamu?”
Ana tersenyum
geli lagi. Pria di depannya ini benar-benar tidak tahu apa yang harus ia
lakukan. Omongannya hanya gertakan saja. Ana sudah ketakutan saat Nanda
menyebut adik pada Nadia tadi. Ia pikir Nanda akan memaksanya bercinta sekarang
juga.
Ana : “Apa
perlu saya ajari caranya?”
Jder!! Ana
terkejut saat Nanda memintanya menunjukkan caranya dan Ana tidak boleh pergi
sebelum menunjukkan semuanya.
Ana : “Semuanya?”
*****
Klik
__ADS_1
profil author untuk mampir ke novel author yang lain ya. (jangan lupa
tinggalkan jejakmu). Tq.