Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Gebetan baru Keita


__ADS_3

Latihan di malam hari selepas petang memang waktu favorit Arkan dan Keita, mereka adalah squad inti tim basket sekolah. Mereka sedang latihan ringan di court Basket kecil di samping rumah yang dulu biasa Azka gunakan juga.


"Yang tadi itu siapa sih? lengket banget sama lo seharian ini?" tanya Keita, dia memang penasaran dengan sosok Yura yang tampak seperti seorang pacar untuk Arkan seharian ini.


"Kan udah gue kasih tahu, dia itu korban gue tadi pagi!" jawab Arkan ketus, dia memang tak nyaman dengan pandangan curiga Keita.


"Ngomong-ngomong manis juga ya," akui Keita, itulah sebabnya tadi Keita memandang Yura beberapa detik, mungkin dia terkesan dengan kecantikan seorang Han Yura.


"Heh, ambil sana!" ujar Arkan lalu tersenyum kecut.


"Adik kelas kan?"


"Heum!"


"Siapa namanya? Gue lupa!"


"Yura!"


"Oh, Yura ya? beneran lo gak tertarik?" yakinkan Keita.


"Gak!"


"Oke lah, entar gue keceng lah!"


"Bro!" seru Vano yang saat itu baru hadir bergabung. Dia datang dengan sekotak pizza, dia memang selalu seksi konsumsi di antara ketiganya. Vano bertubuh gempal karena hobi ngemeal oleh karena itu dia tak bisa bergabung dengan tim Basket.


"Kebetulan, gue laper nih!" sambut Keita yang menepi di pinggir lapangan menghampiri Vano yang mulai unboxing pizzanya, Arkan menyusul kemudian.


Dan tak lama Nara datang dengan tiga botol minuman, dia segera menghampiri ketiga anak muda yang tengah berkumpul itu.


"Bi Marni masak banyak malam ini, kalian juga makan disini ya," kata Nara membawa kabar menggembirakan untuk Vano, Vano memang hobi makan.


"Wah, dengan senang hati tante," sahut Vano semangat.


"Terimakasih banyak tante!" ucap Keita.


"Tante mau tanya nih, apa tadi di sekolah Arkan benar-benar menjalankan tanggung jawabnya dengan baik?" tanya Nara, sejenak dia bergabung dengan mereka, hanya ingin memastikan kalau Arkan tak berbohong padanya tentang masalah Yura tadi pagi.


"Nggak kok tan, Arkan benar-benar jadi kaki-kakinya Yura hari ini!" sahut Keita menggoda, Arkan hanya diam saja.

__ADS_1


"Iya tante, hari ini Arkan kayak Kakak yang benar-benar peduli sama adeknya!" timpali Vano.


"Bagus deh, ya sudah ... tante tunggu di dalam ya, kita makan sama-sama!" kata Nara lalu dia beranjak meninggalkan lagi Arkan, Keita dan Vano.


"Kasian juga tadi si Yura di bully sama si Manda!" kata Keita memulai obrolan lagi.


"Bener-bener posesif ya si Manda, pacar bukan tapi tiap ada yang mau deketin lo kayak kebekaran jenggot aja tuh anak!" gerutu Vano.


"Tapi nanti biar gue aja yang melindungi dia!" cetus Keita lagi, sepertinya Keita tak main-main, dia memang suka pada Yura walau baru bertatap muka beberapa kali saja.


"Whoaa, seriusan? Gimana tuh Ar, ditikung sama si Key? rela lo?" tanya Vano lalu menepuk punggung Arkan.


"Ya biarin aja, apa urusannya sama gue?" tanggapi Arkan cuek, " ya kali aja lo mau meneruskan rasa tanggung jawab lo sampai dia jadi pacar lo!" goda Vano.


Arkan hanya memicingkan matanya, dia memang belum pernah terpikir untuk memiliki pacar, tapi sebenarnya ada satu gadis yang dia sukai sejak lama. Dia hanya mengaguminya dari jauh, dia tak berani menyatakan cintanya karena dia merasa belum waktunya dia menyatakan perasaan cintanya itu.


"Jangan jadi toxic deh! Udah, si Yura jadi target gue sekarang!" sela Keita.


"Target? Bukan target, tapi calon korban!" cibir Vano.


"Huh, sialan lo!" gerutu Keita.


"Ayo, ayo! Asyik masakan bi Marni tuh enak banget tahu gak!" sambut Vano semangat.


"Buat lo gak ada yang kagak enak!" cibir Keita.


Ya begitulah, mereka memang sudah bersahabat sejak kecil, dan sampai saat ini masih bersama dalam sebuah persahabatan yang hangat dan erat.


***


Hanna rapikan penampilannya, ini adalah hari dimana dia akan mulai melamar pekerjaan yang Danty tawarkan kemarin. Dia kelihatan semangat sekali,


"Semangat! Aku harus dapat pekerjaan ini!" ucapnya di depan cermin lalu dia keluar dari kamarnya dan menemui Ibu dan Tania yang sudah mulai sarapan di meja makan.


"Mau kemana?" tanya Ibu saat melihat Yura sudah berdandan rapi dan membawa serta tas selempang kecilnya.


"Aku ada perlu sama Kak Danty sebentar bu," sahutnya lalu dia tarik piring sarapannya, walaupun cuma sejumput nasi dan telur mata sapi saja tapi Yura tak pernah protes sedikitpun. Dia nikmati apapun yang dia terima.


"Bohong! Jangan-jangan lo mau janjian sama Arkan, iya kan?", Tania belum selesai dengan tuduhan-tuduhan recehnya dan Yura malas sekali untuk menanggapinya.

__ADS_1


"Sayaaang, mana mungkin dia lebih tertarik sama si Yura, kalau Arkan lihat kamu, sudah pasti dia akan lebih tertarik dengan kamu!" kata Ibu, merendahkan Yura seperti biasa.


"Oh ya jelas, makanya aku juga masih gak ngerti kenapa seharian kemari Arkan peduli banget sama dia bu!"


Yura anggap obrolan Tania dan Ibu sebagai backsound, dia tak peduli apapun yang terdengar yang penting dia nikmati sarapannya pagi ini. Itulah alasan kenapa Yura tak pernah merasa tertekan dengan sikap buruk keduanya, karena Yura selalu menikmati semuanya dengan pikiran yang positif.


"Permisi, Yuraaaa!"


Ada panggilan di luar pagar rumah, dan Yura yakin kalau itu memang Danty.


"Siapa tuh?" tanya Tania.


"Kak Danty!" Jawab Yura dengan mulut yang penuh, dia segera habiskan sarapannya karena ingin cepat-cepat menemui Danty.


"Aku berangkat dulu ya Bu," pamitnya masih dengan mulut yang penuh, lalu dia setengah berlari keluar rumah.


"Hiiih, aneh!" cibir Tania.


Yura temui Danty penuh semangat, dia tarik sepedanya dan segera menghampiri Danty yang sudah menunggu di luar pagar rumahnya.


"Pagi Kak!" sapa Yura, dan dia masih belum selesai mengunyah.


"Pagi Yura, semoga kamu dapatkan pekerjaan ini ya!" harap Danty.


"Iya, semoga saja kak, aku butuh pekerjaan ini! Semoga bos Kak Danty mengerti kalau aku ini pelajar yang cuma bisa bekerja sepulang sekolah di hari-hari biasa!" harap Yura.


"Dia bos yang baik kok, dia udah tahu kamu itu pelajar!"


"Oh ya? Wah, aku deg-degan banget lho ini,"


"Semangat! Ayo, biar gak terlambat!"


"Ayo, tapi nanti Kakak naik angkot kan?"


"Iya, kamu ikutin aja, nanti Kakak share lokasinya ya!"


"Oke!"


Yura benar-benar semangat, dia hanya belum tahu kalau cafe yang dia tuju sekarang adalah cafe milik Nara, mamanya Arkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2