Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Pelik


__ADS_3

Nara menunggu kepastian yang akan Yuki bawakan untuknya, Nara menunggu bersama Arkan. Arkan yang bermain riang malah membuat Nara merasa sakit, jika keadaan tak kunjung membaik maka korban dari segala kekacauan ini adalah Arkan. Di usianya yang masih bayi, Arkan harus menerima kenyataan jika suatu saat Nara dan Azka tak kunjung menyelesaikan permasalahan mereka ini.


'Semuanya berjalan begitu cepat! baru saja kami merasa jadi orang paling bahagia di dunia saat kamu lahir sayang...' ucap Nara dalam hati, Arkan yang tidak mengerti apa-apa hanya tertawa-tawa sembari menghentak-hentakan kakinya.


Tak lama Yuki datang, dengan luka di pelipis kirinya dan tentu saja hal itu membuat Nara kaget dan panik. Nara berjalan mendekat meninggalkan Arkan sendiri di atas tempat tidur.


"Ya tuhan, ini apa? kenapa?" tanya Nara penuh kepanikan saat mendekat dan mendapati darah terus mengalir dari pelipis Yuki.


"Tenang, gak usah panik!" sahut Yuki yang segera mencari air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan lukanya sendiri.


"Kamu duduk aja, biar aku yang bawakan air hangat buat bersihin luka kamu!" kata Nara sigap, Yuki pun mau. Sejujurnya dia merasa pusing karena pukulan Azka tadi cukup telak, darah yang menetespun cukup banyak. Yuki duduk di tepi tempat tidurnya memastikan Arkan aman, lalu dia juga sempat menyapa bayi kecil itu dengan senyum hangatnya.


'Kalau masih mungkin, aku akan menjaga kalian dengan sepenuh hati, aku janji!' tekad Yuki dalam hati.


Nara datang dengan satu wadah kecil air hangat, lalu dia duduk di hadapan Yuki. Dengan telaten Nara bersihkan sisa-sisa darah yang mengering dengan handuk kecil itu. Dari jarak sedekat itu Yuki bisa menikmati kecantikan Nara yang selama ini dia inginkan.


"Jangan bilang ini ulah Azka!" ucap Nara dengan wajah penuh kecemasan.


"Awalnya salah faham!" sahut Yuki pelan.


"Dia pasti gak bisa berpikir jernih! huh, bagaimana kalau aku yang ada di posisi kamu sekarang,"


"Dia gak mungkin kasar sama perempuan, apalagi sama kamu!"

__ADS_1


"Terus ini kenapa? kenapa kalian bertengkar?" tanya Nara yang sudah selesai membersihkan luka Yuki, lalu dia kompres ujung alisnya itu dengan es batu.


"Nar..." ucap Yuki pelan lalu dia meraih tangan Nara yang masih mengompres lukanya. Nara terdiam saat tiba-tiba Yuki menggenggam tangannya...


"Jangan biarkan masalah ini berlarut-larut..." kata Yuki.


"Aku juga maunya begitu! tapi kamu lihat kan kalau Azka malah semakin parah! dia gak bisa mencegah penyebaran video itu! dan sekarang semua orang tahu tentang hal ini!" sahut Nara kesal.


"Cepat selesaikan masalah ini! dan yang bisa menyelesaikannya hanya kalian berdua!"


"Ya, tapi aku masih butuh waktu sendiri,"


"Semakin lama kamu simpan masalah ini, semakin besar kesempatan Kalyla untuk merebut posisi kamu!", kata-kata Yuki membuat Nara takut lagi, setiap mendengar nama Kalyla maka Nara akan seketika merasa insecure.


"Aku senang kalau semuanya selesai dengan baik! kamu bisa kembali pada Azka dan melanjutkan kehidupan sempurna kalian! tapi...kalau memang semuanya gak bisa diperbaiki, aku akan selalu ada disini, menunggu kamu!" ucap Yuki dalam sekali, membuat Nara semakin dan semakin yakin lagi kalau yang mencintainya dengan sepenuh hati adalah Yuki.


Kriiiiing...Kriiiing...


Ponsel Nara berbunyi, dan kali ini yang menghubunginya adalah ibu. Nara berat sekali untuk mengangkatnya...


"Siapa?" tanya Yuki.


"Ibu! ibu mertuaku!" sahutnya.

__ADS_1


"Angkatlah! jangan biarkan dia cemas,"


"Gak! biarkan ibu mencari tahu kebenarannya sendiri!" sahut Nara lalu setelah telphonnya berhenti berdering dia kembali matikan ponselnya.


Ibu semakin panik, apalagi kemudian Nara mematikan ponselnya. Dia yang sedang menyetir pun sampai hampir kehilangan fokus karena panik, dia tak tahu harus mencari menantu dan cucunya kemana.


Ibu sudah melihat berita tentang anaknya dan tentusaja dia bisa merasakan kekecewaan yang Nara rasakan saat ini, dia juga marah besar pada Azka.


Ibu sampai di depan rumah Azka, dia langsung berjalan menerjang menuju pintu rumah anaknya dan saat Azka membukakan pintu untuk ibu...


PLAK, tamparan telak ibu menyapa Azka...


Azka hanya diam, dia tidak marah karena dia sadar kalau saat ini dia sangat bersalah.


"Bisa-bisanya kamu lakukan hal gila itu bersama Kalyla! harusnya kamu pikirkan sebelum kamu lakukan hal bodoh itu! siapa Kalyla? dia itu artis! yang gerak-geriknya selalu jadi perhatian banyak orang!" omeli ibu masih di ambang pintu, Azka hanya menunduk.


"Oke, Kalyla memang teman baikmu! dia juga sudah ibu anggap sebagai anak sendiri! tapi ingat, ada hati yang harus kamu jaga saat ini! kamu lupa? sudah berapa kali Nara pergi dari rumah ini, dan semuanya selalu karena Kalyla!" lanjut ibu penuh emosi.


"Ibu gak mau tahu! kamu harus cepat-cepat temukan Nara sama Arkan! pantas kalau Nara ingin pergi dari kamu, kelakuan kamu sama Kalyla memang sungguh sangat keterlaluan!" kecam ibu lalu tak menunggu lama ibu kembali menarik langkahnya lalu pergi lagi dari sana.


Ibu hanya ingin Nara dan Arkan pulang, dan Azka mengerti hal itu. Dia semakin galau dan tertekan. Azka belum tahu harus mencari anak istrinya kemana, andai saja tadi dia mau bicara dengan kepala dingin pada Yuki, sudah pasti dia akan segera tahu kalau saat ini mereka aman bersama Yuki di apartementnya. Tapi karena Azka tak bisa mengendalikan emosinya, maka Yuki pun enggan menyerahkan Nara dan Arkan pada Azka yang masih tampak labil hari ini.


Bisakah Nara dan Azka menyelesaikan masalah pelik mereka ini? Atau Kalyla akan kembali menjadi racun yang memperkeruh konflik keduanya?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2