
Azka membawa Nara pulang ke rumah, Nara merasa kalau sebentar lagi akan terjadi pertengkaran hebat. Tapi sekuat hati dia mencoba menekan egonya sendiri, dia tak mau kalau kesalah fahaman ini menghancurkan keharmonisan rumah tangganya.
Azka langsung masuk kedalam kamar dan Nara mengikuti langkahnya, kebetulan bi Marni juga sedang pulang kampung jadi hanya ada mereka saat ini di dalam rumah.
Azka duduk di ujung ranjang, dia seperti sedang menahan emosi dan saat Nara datang matanya memicing tajam kearah Nara.
"Tolong jangan bersikap seperti ini!" kata Nara yang sudah berdiri tepat di hadapan Azka yang masih tampak marah padanya.
"Jadi aku harus gimana?" tanya balik Azka dengan nada yang tajam.
"Aku kan udah bilang kalau Yuki cuma membantu, harusnya kamu berterimakasih sama dia!"
"Heh..." Azka malah tersenyum kecut, kecut sekali.
"Tolong jangan salah faham ya, dia kan teman baik kamu, dia cuma mau bantu aku membuat konsep baru untuk cafeku nanti," kata Nara yang masih bicara dengan nada pelan, tapi Azka masih belum bisa menyingkirkan rasa curiga dan rasa kecewanya.
"Benar begitu?" tanya Azka semakin sarkas.
"Maksudnya?"
"Dia sangat menginginkan kamu!" kata Azka tegas.
"Ayolah, itukan dulu! gak usah diungkit lagi!"
__ADS_1
"Sampai detik ini dia masih mengharapkan kamu! lihat tatapan matanya! jangan belagak gak tahu, dia sengaja menawarkan jasanya agar bisa dekat lagi dengan kamu!" Azka semakin emosi, intonasi bicaranya naik dan Nara tak habis pikir dengan tuduhan sepihak Azka.
"Ya ampun, sejauh itu pikiran kamu?"
"Atau mungkin, kalian sengaja merencanakan ini semua?" Azka semakin menuduh yang tidak mendasar dan Nara mulai terpancing.
"Please! singkirkan tuduhan itu, itu semua gak benar!"
"Terus kenapa pagi ini kamu pergi pagi sekali tanpa memberi tahuku?" tanya Azka yang masih dikuasai rasa cemburu,curiga dan itu bercampur menjadi emosi berlebihan yang mungkin akan memantik pertengkaran yang lebih hebat lagi.
"Aku cuma gak mau ganggu kamu! tadi kamu tidur nyenyak sekali, mana tega aku bangunin kamu!" jekaskan Nara masih mencoba bersabar.
"Heh, alibi!" desis Azka, senyum kecut yang dia lempar berkali-kali membuat Nara sakit. Sudah lama Azka tak bersikap seperti ini, dan Nara mulai insecure lagi, dia merasa kalau Azka sedang mencari alasan untuk bisa berpisah darinya. Ya! semua ini malah membuat Nara berpikir sangat jauh.
"Apa kamu sengaja mencari kesalahanku biar bisa berpisah sama aku?" Nara balik menyerang, Azka terhenyak dia langsung menatap Nara tajam.
"Iya! aku bisa simpulkan, kamu sengaja kan mencari kesempatan ini agar bisa berpisah dan kembali ke pelukan cinta pertamamu yang sekarang sedang gencar menggodamu lagi!" Nara semakin emosi, sekian menit dia bersabar akhirnya dia kalah juga dengan rasa insecurenya.
"Apa maksudnya?" tanya Azka terlihat semakin marah.
"Aku tahu, akhir-akhir ini kalian sering bertemu! kalian juga sering saling menghubungi satu sama lain, iya kan???"
"Jangan memutar balikan fakta!"
__ADS_1
"Siapa yang memutar balikan fakta! itu semua benarkan? kalian sering ketemu kan? dan kamu tahu, bahkan dia sempat mengatakan kalau dia akan merebut kamu kembali dari tanganku!"
Azka malah semakin marah, dia semakin salah faham, dia yakin kalau Nara sedang sengaja membuat masalah dengannya.
"Gak usah bawa-bawa dia dalam masalah ini! ini hanya tentang kita dan Yuki!" tegaskan Azka.
"Semalam kalian juga mengobrol via telphonkan??"
Kini Azka agak terpojok, dia heran kenapa Nara tahu semalam Kalyla menelphonenya.
"Ya, inilah! ini yang paling aku takutkan, akhirnya dia datang dan mulai merealisasikan rencananya..." kata Nara dan airmatanya mulai meniti, dia mulai merasa kalau Azka sengaja mencari kesalahnnya untuk bisa menutupi kedekatannya dengan Kalyla, padahal ini semua murni karena kesalah fahaman.
"Heh, pikiran itu terlalu jahat! Kalyla gak mungkin melakukannya! dia sudah merelakan semuanya, kamu gak usah cari-cari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahan kamu sendiri!" Dan dengan teganya Azka menuduh Nara yang tidak baik, itu semakin mencabik-cabik perasaan Nara. Nara gak tahu lagi harus bagaimana, Azka yang selama ini mengerti segala tentangnya kini malah balik menyerang dan membela Kalyla yang jelas-jelas sedang merencankan sesuatu yang buruk untuk menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu lebih percaya dia?" tanya Nara, dengan mata berbinar yang menyiratkan ketakutan yang luar biasa.
"Jauhi Yuki!" kata Azka tanpa menjawab pertanyaan Nara, dan dia langsung pergi meninggalkan Nara dan rasa sakitnya. Nara merasa Azka sedang membela Kalyla dan itu sungguh sangat menyakitkan. Nara gak bisa berpikir jernih lagi, dia yakin kalau Azka akan goyah dengan godaan Kalyla secepatnya.
GRUUUUNG, Tak lama Nara mendengar suara mobil Azka yang baru saja keluar dari gerbang rumah, Azka senagaja menginjak gasnya sekencang mungkin dan Nara sadar kalau Azka juga marah padanya.
Nara jatuh, dia terduduk dan menangis kencang. Dia merasa kehangatan rumah tangganya akan segera berakhir, dia merasa masalah kecilnya ini berubah jadi bencana karena mereka saling menyalahkan satu sama lain. Nara menyesal karena tidak bisa meyakinkan Azka, dan kini dia merasa kalau Azka akan segera berpaling pada Kalyla.
Masalah ini memang berlarut-larut karena mereka tak saling bicara, dan penyelesaian masalah dengan emosi dan ego malah membuat keadaan semakin memburuk.
__ADS_1
Bersambung.