
Arkan terbaring di atas dipan kayu di tepi kolam di belakang cottage tempatnya menginap. Terbaring santai di bawah guyuran sinar rembulan dan gemerincik air dan satu lagi, menikmati hasil jepretannya tadi siang.
Sepertinya anak remaja itu sedang merasakan perasaan yang sungguh mendalam, sialnya menyukai bahkan mencintai perempuan milik sahabatnya sendiri. Itu adalah perasaan yang sungguh sangat menyesakan.
"Arkaan, sayaaang!" suara seseorang memanggil mendekat kearahnya, dia segera tutup layar kameranya lalu meletakannya di atas meja kayu di sampingnya. Itu pasti Nara yang merasa keheranan karena putra kesayangannya itu tak kunjung masuk ke dalam kamarnya untuk menepikan lelah setelah seharian menikmati kegiatan di luar sana.
"Arkaaan, astaga! Lihat ini jam berapa sayaang? 23.48 lhoo, midnight ini!" kata Nara yang kini sudah sampai di samping Arkan.
"Sebentar lagi ma," sahutnya lalu pura-pura memejamkan matanya seolah-olah menikmati suasana malam yang terlanjur larut padahal saat ini Arkan sedang menikmati rasa sesak dalam hatinya.
"Kamu kenapa?" tanya Nara lalu dia duduk di dipan lainnya yang terletak di sebrang dipan yang Arkan tempati.
"Gak kenapa-napa, Mama tidur aja! Aku nyaman disini!" sahutnya masih memejamkan kedua matanya.
"Tapi disini dingin lho!"
"Gak papa, aku cuma pengen sendirian!"
Diam-diam dari balik tirai di kamar yang terletak tepat di depan area kolam renang ada sepasang mata yang mengawasi Arkan, siapa lagi kalau bukan Yura. Dia juga tak kunjung tertidur juga di malam yang syahdu ini. Banyak sekali yang menyita pikirannya sampai membuatnya tak bisa tertidur dengan lelap.
"Ayolah!" Nara memaksa, dia tarik tangan Arkan untuk segera masuk ke dalam cottage.
"Iya iya!" akhirnya Arkan setuju dan sebelum benar-benar berlalu matanya sempat memicing ke arah kamar Yura dan Ya, itulah kamar gadis yang sangat-sangat dia cintai saat ini.
***
"Cheesse!"
Dua keluarga kecil itu sedang melakukan sesi pemotretan, suasana begitu ceria dan hangat. Yura benar-benar merasa sangat beruntung berada di tengah-tengah mereka, tak henti-hentinya dia mengucap syukur kepada yang maha kuasa atas takdir indah yang dia alami ini.
KRIIIIING, ponselnya berdering dan yang menghubunginya saat ini adalah Keita.
"Sebentar ya Bu," pamit Yura pada Lulu.
"Iya sayaang!"
Yura menepi ke sudut sepi, dan Arkan melihatnya. Dia yakin kalau saat ini Yura sedang mengangkat telepon dari Keita.
"Hai Kak," sapa Yura, mereka melakukan video call, walau baru dua hari tak bertemu tapi Keita sudah merasakan kerinduan yang sangat dalam.
"Hai, lagi apa?" tanyanya, dia terbaring di atas bantalnya sedang Yura menepi di dipan kayu yang Arkan tempati semalam.
"Lagi photo-photo Kak!"
__ADS_1
"Oh, aku ganggu dong?"
"Nggak kok, udah selesai, Kak, ini adalah kali pertama aku ke Bali! Menyenangkan berada disini, dan mungkin bisa lebih menyenangkan lagi kalau kita bisa berlibur bersama nanti,"
Keita tersenyum simpul mendengar harapan manis kekasihnya itu dia pun merasakan hal yang sama. Ingin sekali dia bisa berlibur bersama tapi itu semua terasa tak mungkin mengingat mereka masih terlalu dini untuk melakukan perjalanan vacation berdua saja.
"Nanti yaa, kalau kita udah dewasa, eummm, kalau kita honeymoon nanti!" sahut Keita dengan sedikit gurauan.
"Hehe, semoga yaaa ...."
Selalu ada yang diam-diam memperhatikan, ya siapa lagi kalau bukan Arkan? Melihat senyum lepas Yura membuatnya penasaran dengan apa yang membuatnya bisa seperti itu. batinnya seperti berkata 'Sorry i love you!'
"Yuraa."
"Iya kak."
"Orangtuaku gak bisa dibantah lagi," kata Keita dan dia tampak lesu sekali.
"Maksud Kak Kei?" tanya Yura.
"Aku fix kuliah di luar negeri." kabarinya.
"Oh ya? Aku rasa ini bukan pilihan yang sulit Kak, kuliah lah disana! Aku akan selalu mendo'akanmu!"
"Tapi, aku gak bisa jauh-jauh dari kamu,"
Serangan kata-kata manis dari Yura meyakinkan Keita. Dan senyuman penuh keyakinan tercipta begitu saja.
"I love you," kata Keita lewat layar ponselnya.
"Love you more!" sahut Yura.
Mereka akhiri obrolan itu dan setelah itu datanglah Arkan mencoba mencari kesempatan.
"Galau?" sapanya iseng, Yura segera menegakan tubuhnya yang sebelumnya kuyu sesaat saat suara Arkan mendekat.
"Iya, sedikit." sahutnya lesu walau dia mencoba tegar.
"Kenapa?"
"Kak Kei udah fix kuliah di luar negeri!"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya, mungkin itu udah keputusan finalnya, dia sudah dapat akses masuk salah satu universitas di UK."
"Lo harus dukung dia!"
"Pasti, aku bisa mendukungnya dari jauh! Walau nanti kita jauh dimata, kan kita bisa tetap dekat di hati!" sahut Yura lalu dia terkekeh malah membuat Arkan tersenyum masam.
'Asem!' gerutunya dalam hati.
Dan begitulah, ini adalah fase dimana seorang Arkana harus menyiapkan hati yang lapang karena ini adalah fase ujian untuk hatinya yang akan segera bertransisi dari seorang remaja menuju pria dewasa.
Liburan itu terasa manis, asem dan pahit untuk Arkan. Ada banyak kesempatan untuk menikmati waktu berdua saja dengan Yura tapi tak jarang juga dia mengalami kegetiran setiap melihat Yura begitu antusias setiap bercerita tentang Keita.
***
Beberapa bulan kemudian ....
Yura mengantar Keita ke bandara, waktu memang berjalan begitu cepat. Hasil ujian Keita sudah keluar dan dia sudah bisa diterima di salah satu universitas di United Kingdom (Inggris).
Tak ada kata selain 'rindu' yang nanti akan keduanya rasakan. Selain itu mereka juga akan selalu menyematkan kata 'setia' dalam prinsip mereka.
Selain Yura, Arkan dan Vano juga ikut mengantar Keita, mereka saat ini berdiri di depan akses masuk keberangkatan luar negri, di antara orang-orang yang berlalu lalang.
"Aku akan selalu setia!" kata Keita sembari mengusap kepala Yura yang terjaga nyaman dalam peluknya, Yura hanya mengangguk.
"Ar, Van! Semoga kalian sukses disini ya!" kata Keita.
"Sama-sama bro! Do'a kami selalu menyertai lo!" kata Vano dan pada akhirnya mereka berempat saling merangkul satu sama lain.
Hanya ada dua kata saat perpisahan seperti ini terjadi, kesedihan dan harapan. Mereka saling melontarkan harapan dalam rangkulan itu.
"Gue harus cepat-cepat berangkat! Tolong jaga Yura ya, jangan biarkan seseorang mencuri hatinya!" kata Keita dengan nada gurauan.
Deg, Arkan merasa tertampar dengan kalimat terakhir Keita itu. Dia sempat berkali-kali berusaha mencuri kesempatan itu.
"Byee! tunggu gue 2 tahun lagi!"
Tangan mereka saling melambai mengiringi langkah-langkah Keita yang semakin menjauh. Yura juga tetap berdiri bertahan sampai dia tak melihat punggung Kekasihnya itu.
"Yang tabah yaa!" kata Vano lalu menepuk punggung Yura, Yura tersenyum dan menguatkan hatinya.
"Ayo pulang!" ajak Arkan.
"Iya Kak." setujui Yura.
__ADS_1
Mereka pun berlalu, meninggalkan perpisahan itu. Mereka akan menjalani kehidupan mereka lagi di hari-hari yang akan datang.
Bisakah Yura dan Keita saling menjaga janji setia mereka? Dan bisakah Arkan menahan hasratnya untuk tidak mengusik Yura dan mengambil kesempatan?