
"Ma-maaf ...."
Kata Yura lalu dia hendak melepaskan tubuhnya dari pelukan Arkan tapi GAP, entah kenapa Arkan malah menahan tangannya di pinggang Yura. Yura sampai terkaget dibuatnya.
'Kak Arkan, apa ini maksudnya?' batinnya tak mengerti. Kenapa Arkan tak melepaskan pelukan spontan itu?
Arkan menatap lagi, dalam ruangannya yang gelap itu, dia hanya bisa melihat seraut wajah manis yang kini ada tepat di depannya.
"Maaf Kak, tolong lepaskan!" kata Yura lalu dia mendorong dada kokoh Arkan yang ada di depannya secara perlahan. Yura tak ingin terjebak dalam situasi syahdu ini.
"Yura ...." gumam Arkan dan tangannya masih nakal, Arkan masih menahan Yura dalam pelukannya.
Yura kembali mendongakan kepalanya, dia ingin tahu apa maksud Arkan melakukan hal mengejutkan ini padanya.
"Apa ini maksudnya Kak?"
"Gue suka sama lo, lo udah tahu kan?" ungkap Arkan, lagi dan lagi membuat Yura terperangkap di dalamnya.
"Please Kak, jangan berpikir yang aneh-aneh!" sahut Yura lalu kembali dia memalingkan wajahnya, mencoba menghindari Arkan.
"Yura!" Bahkan kini Arkan berani menarik dagunya, Yura kembali dibuat shock dengan sikap agresif Arkan.
'Kak Arkan, apa-apaan ini? Ada apa dengannya?' batin Yura seketika ketakutan, Arkan benar-benar bersikap nakal saat ini.
"Sekali saja," ucapnya sampai akhirnya 'kiss', Arkan menangkap bibir Yura dengan sempurna. Yura stuck, dia tak bisa apa-apa. Apa yang Arkan lakukan seakan menghentikan detak jantungnya.
'Kak Arkaaaaaan!' pekiknya dalam hati, dia tak bisa mengungkapkannya secara langsung karena saat ini Arkan masih asyik menyapa bibir manisnya dengan permainan lidah yang tak bisa Yura duga.
'Kak Arkan nakal! Kak Arkan jahat!' batinnya penuh sesal dan seketika Yura ingat pada Keita yang saat ini jauh darinya. Yura langsung merasakan perasaan bersalah yang dalam pada kekasih hatinya yang kini berada ribuan mil dari darinya.
Arkan sudah selesai dengan tindakan nakalnya, dia melepaskan bibirnya dan menatap Yura yang sedari tadi hanya memejamkan matanya karena ketakutan. Dalam gelap malam, anak lelaki yang masih saja membuatnya gugup itu menciumnya penuh kehangatan.
__ADS_1
Arkan nyalakan lagi senter dalam ponselnya ....
Yura membuka matanya dan langsung memicingkan matanya ke arah Arkan yang bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Sorry, lupakan saja yang terjadi barusan!" kata Arkan, Yura tak habis pikir, lupakan? Semudah itu? Pikirnya.
Bagaimana bisa Yura lupakan ciuman nakal itu, ciuman dari seorang Arkana yang juga berkali-kali membuatnya bimbang. Kalau harus jujur, sampai detik ini pun Yura masih membagi sebagian perasaannya pada Arkan walau bagian terbanyaknya tetap untuk Keita.
"Kakak tahu apa yang Kak Arkan lakukan barusan itu salah?" tanya Yura sedikit emosi, bagaimanapun juga adegan tadi tak layak Arkan lakukan padanya.
"Ya!" jawab Arkan singkat dan santai.
"Terus?"
"Apa harus gue jelaskan lagi?" tanya balik Arkan.
"Apa? Apa maksudnya?"
Arkan kembali mendekat, Yura sampai melangkah mundur dan kakinya mentok di tepi tempat tidur Arkan dan BRUK, akhirnya dia terjatuh dan terduduk. Arkan benar-benar berubah horor malam ini. Yura sampai ketakutan. Arkan duduk di sampingnya, sekuat hati Yura hindari kontak mata dengan Arkan.
"Ya, tapi itu gak berarti apa-apa kan? Kamu tahu aku ini pacarnya Kak Keita, kenapa kamu tega lakukan itu Kak?" tanya Yura tanpa berani menatap balik ke arah Arkan.
"Karena gue juga suka sama lo!" tegasnya.
"Kenapa?"
"Kenapa? Gue merasakannya dan gue sendiri gak tahu kenapa! Han Yura ...." Tangan Arkan kembali beraksi, Arkan mengambil kedua belah pundak Yura sampai Yura benar-benar menghadap kearahnya saat ini, Yura mencoba terbiasa dengan getaran itu, dengan ketakutan itu.
"Lihat mata gue!" desisnya, Arkan adalah monster malam ini.
"Han Yura, tatap gue!" desaknya dan akhirnya Yura mau, dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Arkan malam ini, Yura mencoba mencari jawabannya di sorot matanya.
__ADS_1
"Semoga lo bisa mempertimbangkan gue!"
"Kak, apa yang sudah merasuki Kak Arkan sekarang? Ini gila! Apa yang Kak Arkan lakukan ini sungguh gila! Apa yang akan terjadi kalau Kak Keita melihat ini semua?" kata Yura kembali dengan emosi meletup-letupnya.
"Heh," Arkan malah tersenyum getir.
"Disana ada Kak Alana yang sedang menunggu kepastian dari Kakak! Kenapa Kakak lakukan ini ke aku? Kenapa Kak?" Yura mulai menuntut.
"Karena gue suka sama lo! Gue gak perlu alasan lain!" tegasnya dan Yura merasa Arkan malah seperti pecundang malam ini. Untuk pertama kalinya Yura membenci Arkan malam ini.
Ya, Arkan hanyalah anak lelaki biasa yang mulai beranjak menjadi seorang pria. Tindakan nakalnya terhadap Yura adalah salah satu fase dimana dia mampu atau tak mampu mengendalikan hasratnya. Dan sialnya, Yura membuatnya gagal. Yura malah membuat Arkan bertindak seperti seorang pecundang. Bagaimana kalau Keita mengetahui hal ini? Sudah pasti ini akan menjadi skandal besar.
"Aku harap, kejadian tadi tak akan terulang lagi!" kata Yura lalu dia gunakan senternya sendiri dan bersiap untuk beranjak. Yura tak ingin terjebak lagi dalam suasana gelap yang berubah menjadi sangat biru itu.
Yura pergi dengan rasa kecewanya. Walau tak bisa dipungkiri, sebagai gadis normal, ciuman dari seorang Arkan adalah hal hebat yang diimpikan gadis-gadis lainnya tapi Yura menyesalkan karena dia merasa hal itu terjadi dalam waktu dan situasi yang salah.
'Gila! Bagaimana bisa Kak Arkan berpikir seliar itu? Huh, maafkan aku Kak Keita! Maafkan kami!' batinnya selama dia menyusuri anak tangga dari lantai atas menuju lantai bawah berharap dia bisa bertemu Nara dan Azka di bawah.
"Sayaang, Arkannya mana?" sapa Nara begitu Yura sampai di ruang tengah, disana agak terang dengan lampu cadangan yang bisa menyala saat aliran listrik mati.
"Di atas Bu, aku biar pulang naik taksi aja!" sahut Yura dan malah bersiap untuk pergi.
"Lhoo, ini pemadaman massal loh, area rumah kamu juga pasti mengalami ini, kamu nginep aja disini ya?" tawarkan Nara, Yura langsung menolak, saat ini Yura sedang ingin jauh-jauh dari Arkan. Yura tak ingin kejadian seperti tadi terjadi lagi.
"M, gak Bu, saya khawatir kalau rumah dikosongkan dalam keadaan gelap!"
"Tapi ...."
"Gak usah cemas Bu, saya udah biasa kok!" Yura cepat-cepat meraih tangan Nara dan memberi salam pamit, begitupan pada Azka.
"Gue tunggu di depan!"
__ADS_1
Arkan muncul lagi, dia menyusul dan malah dia mendahului langkah Yura. Dia menunggu Yura di depan rumahnya. Yura kembali dibuat up and down dengan sikap Arkan malam ini.
"Ya sudah, kalau kamu gak mau nginep, hati-hati ya! Pokonya kalau ada apa-apa segera hubungi kami!" kata Nara tanpa dia tahu kalau yang paling Yura takutkan saat ini adalah puteranya sendiri.