Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
RESTU pt.2


__ADS_3

Yuki sedang mengemas barang-barangnya. Rencananya besok pagi ia akan kembali ke Australia.


TOK TOK, Yura datang lalu mengetuk pintu, Yuki menoleh dan mempersilakan Yura masuk, "masuklah!".


Yura masuk lalu duduk di tepi ranjang dan membantu Yuki merapikan kopernya. Mereka sudah seperti Ayah dan anak yang sebenarnya. Hubungan antara keduanya begitu hangat.


"Berarti nanti acara opening-nya tanpa Ayah dong," kata Yura agak manja.


"Iya, tapi kamu harus tetap semangat! Kalau urusannya gak terlalu penting, Ayah juga sebenarnya gak mau cepat-cepat kembali ke Aussie!" sahut Yuki.


"Heum, baiklah," dengus Yura pasrah.


"Besok Arkan mau antar Ayah ke Bandara!"


"Kak Arkan?"


"Iya, kamu ikut?"


"Lihat besok aja!"


"Hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Yuki tiba-tiba membuat Yura merasa salah tingkah.


"M, baik."


"Akur-akur ya, anggap dia sebagai Kakak, kalau ada apa-apa minta bantuannya!"


'Dia mau lebih dari itu Ayah, apa yang harus aku putuskan? Apakah aku bisa tetap hidup tenang kalau aku menjauh dari Kak Arkan? Atau sama saja? Apa aku berhak menerima cintanya?' batin Yura dan dia jadi melamun. Yuki menyadari hal itu.


"Yuraa ...." panggil Yuki, Yura tersadar dan segera mengalihkan perhatiannya pada Yuki.


"Kenapa?" tanya Yuki, dia merasa putri angkatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Dan Yura memang sedang menyembunyikan dilematisnya.


"Gak kenapa-napa," sahutnya.


"Bohong!"


"Aku cuma sedih aja, setelah besok Ayah kembali ke Aussie, aku sendirian lagi disini!" dalih Yura.


"Arkan akan menemani kamu!"


Sekali lagi Yura berdecak, kenapa sejak tadi Yuki bicara seolah-olah dia tahu kalau yang Yura pikirkan saat ini adalah Arkan?


"Ayah pikir, kalian bisa saling menjaga! Kalian memang masih terlalu muda, tapi ... kalau kalian merasa nyaman satu sama lain, go ahead!" lanjut Yuki, Yura malah semakin salah tingkah. Yuki sepertinya tahu apa yang sedang Yura perdebatkan dalam hatinya saat ini.


"Ayah gak akan selamanya ada buat kamu, bahkan sekarang kita harus terpisah jarak yang jauh! Ayah gak tahu apa yang terjadi sama kamu, yang kamu sembunyikan, dan yang kamu takutkan! Masalah Keita, ya ... kamu memang harus mengorbankannya demi Dara, tapi ... kamu gak akan mengorbankan lagi Arkan untuk yang lain kan?"


Kata-kata Yuki membuat Yura merenung, selama ini Yura selalu mengalah dan berkorban untuk orang-orang yang bahkan tak pernah menghargainya. Yura pikir apa yang dikatakan Yuki ada benarnya juga. Dia sudah kehilangan Keita, dan sekarang, dia masih punya hati untuk Arkan. Apakah Yura akan mengorbankan lagi perasaannya?


"Pilihlah kebahagian kamu! Walau harus sedikit egois dan mungkin melukai beberapa hati, tapi kamu juga perlu memikirkan kebahagian kamu sendiri!" Kata-kata Yuki meresap ke dalam hati dan jiwa Yura. Yura pikir apa yang Ayahnya katakan benar sekali. Selama ini Yura terlalu memikirkan orang lain.


***


Arkan menepati janjinya, dia mengantar Yuki ke Bandara dan Yura ikut serta. Tidak mungkin Yura tak ikut mengantar Ayah kesayangannya itu. Sepanjang perjalanan Arkan asyik mengobrol dengan Yuki. Mengobrol tentang dunia Basket tentunya dan Yura hanya diam mendengarkan di jok belakang. Sepertinya Yura sedang memikirkan keputusannya nanti, dia sedang mempertimbangkannya matang-matang.


"Pilihlah kebahagian kamu! Walau harus sedikit egois dan mungkin melukai beberapa hati, tapi kamu juga perlu memikirkan kebahagian kamu sendiri!"


Kata-kata Yuki semalam juga terngiang-ngiang di kepalanya. Apakah kata-kata itu akan mempengaruhi keputusannya?


'Arkana ... apa kamu bersungguh-sungguh?' batin Yura sembari dia pandangi Arkan sesekali. Wajahnya, tawanya, bahkan saat Yura melihat dari arah belakang, dia sungguh sempurna. Tak ada alasan untuk menolak cinta Arkan tapi, selalu ada tapi di benak Yura. Sulit untuk Yura menjadi egois. Dia selalu dan terlalu memikirkan orang lain.


Akhirnya sudah sampai di Bandara, seperti biasa, Yura mengantar Yuki di bawah board keberangkatan internasional. Sayang sekali, Yuki harus kembali ke Australia sebelum dia membuka tokonya.


"Be your self! Love your self!" kata Yuki, kata-kata itu begitu sederhana tapi maknanya begitu dalam untuk Yura.


"Iya Ayah!" sahutnya.


"Om, sebelum Om berangkat ... ada sesuatu, yang mau aku bicarakan!" kata Arkan tiba-tiba.


"Silakan," persilakan Yuki.


Arkan menghela nafas, lalu dengan yakin dia merebut tangan Yura yang seketika terkaget, Arkan menggenggamnya dengan erat.


"Aku mau minta restu dari Om, boleh kan, aku jagain Yura!" kata Arkan to the point. Yura tersanjung, tapi selebihnya dia malu karena Arkan memang begitu gentle meminta restu pada Yuki secara langsung seperti itu.

__ADS_1


Yuki tersenyum lalu mengangguk, Yuki sepertinya percaya pada Arkan. Yuki pikir, Arkan maupun Keita sama-sama menyayangi Yura dengan tulus walau sekarang Keita harus pergi karena kelicikan Dara.


"Jaga dia baik-baik ya!" kata Yuki sembari menepuk pundak Arkan. Arkan senang bukan main, dan Yura hanya tersipu karena genggaman tangan Arkan semakin erat dan mengalirkan sinyal-sinyal serta keyakinan pada hati Yura.


"Iya, Om gak usah cemas!" tegas Arkan.


"Yura ...." panggi Yuki, perlahan wajah Yura yang agak memerah terangkat.


"Kamu suka sama Arkan?" tanya Yuki, membuat Yura kesulitan untuk menjawabnya. Arkan malah antusias menunggu jawaban Yura.


"Yuraa ...."


"Ayaaaah," kata Yura manja.


"Jawab saja! Karena Arkan sudah mengakui perasaannya terhadapmu pada Ayah!" kata Yuki menyela, sejenak Yura memicingkan matanya ke arah Arkan yang tersenyum manis menanti jawabannya. Yura pikir, Yuki dan Arkan sudah bersekongkol di belakangnya sebelum ini.


"Iya? Kamu juga suka sama Arkan?" desak Yuki, akhirnya Yura menyerah, dia anggukan kepalanya walau pelan tapi itu cukup untuk Arkan.


"Arkan! Jaga Yura ya, jangan biarkan apapun dan siapapun melukainya! Secara fisik maupun secara batin! Om, percayakan Yura sama kamu!" kata Yuki, lampu hijau untuk Arkan.


"Oke, Om!" sambut Arkan penuh semangat.


"Dan kamu juga harus tetap fokus dengan karir kamu!"


"Itu pasti Om, makasih! Makasih buat restunya!" kata Arkan, auranya berbeda sekali, hari ini Arkan begitu cerah ceria.


"Yura, yakinkan hatimu ya!"


Yura hanya mengangguk. Sejujurnya, situasi saat ini membuatnya berdebar-debar dan salah tingkah tapi selebihnya dia senang karena Yura pikir, ini adalah hari baru bersama harapan baru dan harapan itu adalah anak lelaki bernama Arkana yang sampai detik ini masih menggenggam tangannya dengan erat.


Setelah berpamitan dan selesai dengan pesan-pesannya, Yuki berlalu menuju lorong penghubung yang akan menggiringnya masuk ke dalam pesawat airbus itu.


Yura dan Arkan masih berdiri disana memastikan sampai Yuki tak terlihat lagi. Dan setelah itu, Yura mencoba melepaskan genggaman tangan Arkan tapi Arkan tak melepaskannya sama sekali. Mata Yura kembali memicing.


"Kenapa?" tanya Arkan.


"Gandengan terus, kayak truk gandeng!" jawab Yura bergurau, dia ingin mengurai rasa gugupnya, Arkan tertawa kecil.


"Kamu gembok, aku kuncinya! So, kalau bukan aku, gak ada yang bisa membuka hati kamu!" kata Arkan manis sekali, tapi Yura malah semakin tersipu.


"Yas! Masa sama pacar sendiri manggilnya 'gue elo'," sahut Arkan.


"Heum, jadi ... sekarang kita mau jadi sepasang gembok dan kunci?" tanya Yura, suasana berubah menjadi sangat manis.


"Heum, cuma aku kunci hati kamu!" tegas Arkan, Yura tatap Arkan lamat-lamat, Yura mencoba mencari dusta di sorot matanya tapi Yura rasa tak ada! Yura rasa kalau Arkan sedang tidak membual.


"Heum, tapi Kak Arkan belum nembak aku secara resmi ya," goda Yura, Yura seperti sedang memancing Arkan untuk menyatakan lagi cintanya yang sudah terpendam lama itu.


"Oke, aku akan katakan ini sekali lagi, ayo pulang!" Arkan menarik tangan Yura berjalan menuju mobilnya. Mereka masih bergandengan dan Arkan tak melepaskannya sama sekali seolah dia ingin menegaskan kalau Han Yura adalah miliknya seorang saat ini.


Setelah keduanya ada di dalam mobil. Arkan tak cepat-cepat menyalakan mesin mobilnya.


"Akhirnya ...." ucap Arkan pelan.


"Akhirnya apa?" tanya Yura tak mengerti.


"Han Yura, kamu mau kan jadi calon isteriku?"


Hah? Calon isteri? Yura terkekeh, kata-kata dan tingkah Arkan semakin membuatnya berdebar-debar. Yura hanya mencoba tertawa untuk mengurangi rasa gugupnya itu.


"Hehe, calon istri?"


"Ya!"


"Ya ampun Kak, butuh beberapa tahun lagi untuk maju ke arah sana! Ayo ah, kita jalan," kata Yura lalu dia mencoba mengalihkan perhatian Arkan.


"Jawab dulu!" tuntut Arkan.


"Jawab apa?"


"Permintaanku barusan!"


"Nanti aja!"

__ADS_1


"Sekarang!" paksa Arkan, Yura sampai tak habis pikir tapi ia mencoba mengerti kalau Arkan memang sudah tak tahan menunggu kepastian darinya.


"Heum, m ...." Yura menahan kalimatnya, sungguh mempermainkan kesabaran Arkan dan Arkan menunggu apa yang akan tercetus dari bibir manis Han Yura.


"Huh, lama! Lets say! Just Yes or No!" kata Arkan yang hilang kesabaran. Dan dalam hati dia hanya berharap, 'please say yes! Say yes!'.


"Yes!"


Akhirnya Yura memberi jawaban, walau jawabannya singkat tapi memang hanya kata itulah yang Arkan inginkan. Arkan semakin bahagia, dia kini bisa memiliki Yura.


Setelah bertahun-tahun terombang-ambing, akhirnya Arkan mendapat kepastian dan dia juga sudah memberi kepastian pada Alana. Komplit sudah kebahagian Arkan sepanjang tahun ini.


Arkan kembali merebut tangan Yura dan menggenggamnya, bahkan mengecupnya dengan hangat, romantis sekali.


'Ya Tuhan, apa ini nyata? Apakah aku bisa memilikinya secara utuh?' batin Yura yang malah meragu lagi. Yura hanya takut kalau kebahagiaannya saat ini adalah sesuatu yang semu.


"Tunggu 2 atau 3 tahun lagi ya!" kata Arkan sembari membelai wajah Yura yang hanya diam dan terpaku. Sungguh, saat ini Arkan sudah bertranformasi menjadi makhluk paling manis dan romantis untuk Yura.


"Dua sampai tiga tahun lagi? Untuk apa?"


"Atau mungkin lebih cepat! Menikah muda bukan masalah kan?"


"Menikah muda?"


"Ya, bagaimana?"


"Iiih Kak Arkan ...." Yura malah kembali malu-malu.


"Kenapa? kita kan udah dapat restu dari Ayahmu!"


"Fokus selesaikan kompetisi musim ini! Aku juga mau fokus membangun usaha kecilku! Setelah itu, baru kita pikirkan pernikahan!"


"Heum, okay!"


Akhirnya Arkan mulai menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari area Bandara. Kemana Arkan akan membawa Yura setelah ini? Ternyata Arkan membawanya ke rumah. Ke rumahnya yang dulu, rumah orang tuanya, Nara dan Azka. Yura jadi malu, ketegangan dan rasa gugupnya ternyata belum berakhir hari ini. Apalagi Arkan tak melepaskan genggaman tangannya sampai mereka sampai di depan Nara dan Azka yang sedang bersantai sore itu.


Nara menatap tangan Yura dan Arkan yang masih saling berpautan. Azka juga merasakan sesuatu yang berbeda dari puteranya itu, Azka rasa Arkan sedang sangat jatuh cinta, seperti saat dia mulai mencintai Nara 23 tahun yang lalu.


"Heum, aku gak akan berbasa-basi lagi ya, aku mau kasih tahu, kalau mulai hari ini, Yura ini ... adalah calon menantu Mama dan Papa!" cetus Arkan tanpa berbasa-basi lagi, Yura malah malu-malu dan bersembunyi di balik lengan Arkan.


Nara berdecak dan Azka turut merasakan getaran yang Arkan rasakan saat ini. Azka senang karena putranya bisa menentukan pilihan lebih cepat dari pada dirinya di masa lalu.


"Benarkah? Coba ulangi sekali lagi!" kata Nara hampir-hampir tak percaya dan meminta Arkan untuk mengulangi pernyataannya.


"Aaah Mama ...."


"Baguslah! Kami merestui kalian!" sambar Azka juga to the point, Arkan senang sekali mendapat respon positif dari Papanya itu.


"Sebentar ... sebentar! Jadi, kamu ... sama Yura, resmi pacaran?" tanya Nara yang masih agak tak percaya dengan kenyataan yang baru saja putranya sampaikan itu.


"Iya!" tegas Arkan. Dan Yura masih menunduk malu, dia rasanya tak berani mengangkat wajahnya.


"Yura ...." panggil Nara, dan mau tak mau Yura pun menampakan wajahnya perlahan. Dia masih tersipu keluar dari persembunyiannya, dari balik lengan Arkan yang atletis.


"Iya Bu ...." sahutnya dan wajahnya masih memerah.


"Apa Arkan membual? Atau, apa yang dia katakan itu benar adanya?" tanya Nara, Yura menghela nafas dan bersiap dengan jawabannya.


"M, kita ...." Yura masih malu-malu, apalagi saat ini Nara dan Azka fokus memperhatikannya. Mereka menunggu klarifikasi Yura dan Yura tak tahu pasti bagaimana reaksi keduanya yang sebenarnya. Yura hanya takut dan ragu kalau Nara maupun Azka akan senang atau tidak dengan kabar jadiannya dengan Arkan.


"Yura, apa Arkan serius?" tanya Nara lagi, tampaknya dia tak sabar dengan jawaban Yura yang masih tertahan di ujung lidahnya. Akhirnya Yura hanya mampu menganggukan kepalanya perlahan tanpa berani melihat ke arah kedua orang tua kekasihnya itu.


"Heum, manis banget deh kalian ini," goda Nara, akhirnya Yura yakin kalau Nara welcome dengan status barunya saat ini.


"Mulai sekarang, panggil mereka Mama sama Papa ya!" kata Arkan menambah manis suasana.


"Iya, Arkan benar! Kalau begitu, kamu panggil kami Mama Papa saja ya!" imbuh Nara, Yura senang sekali, benar-benar senang. Setidaknya orang tua mereka menyambut baik hubungannya dengan Arkan. Tak peduli apa kata yang lainnya nanti. Yura hanya perlu restu dari Yuki, Azka dan Nara. Masalah Alana, Keyla ataupun Ahsan itu urusan belakangan, pikirnya.


"Sayaaang, lihat ... anak kita benar-benar sedang jatuh cinta!" bisik Nara pada Azka saat melihat Arkan berbisik-bisik dan Yura yang hanya malu-malu.


"Heum, dia tumbuh dengan cepat!" sahut Azka.


Ya begitulah, hari yang begitu indah untuk Yura dan Arkan. Akhirnya cinta yang tersimpan selama bertahun-tahun itu hari ini mekar dan mewangi.

__ADS_1


Akankah hubungan mereka mulus? Atau ini adalah awal konflik cinta jajar genjang yang baru?


__ADS_2