
Tak rela rencananya yang sudah dia rancang dengan sempurna dan hampir berhasil menjadi hancur berantakan dalam sekejap mata, Kalyla langsung mencari keberadaan Azka. Tak peduli dia harus mencarinya ke rumah keluarga besarnya, dan Kalyla tak main-main.
Ibu, ayah, dan Kakek menyambutnya, mereka tahu masalah yang terjadi pada anak-anaknya tapi mereka tetap mencoba merangkul Kalyla yang sudah mereka anggap sebagai anak mereka sendiri.
Saat datang Kalyla langsung menangis dalam pelukan ibu, ibu tak bisa apa-apa dia hanya mencoba mengerti perasaan Kalyla yang tengah dilanda cinta buta pada anaknya sendiri.
"Tante..." bisiknya lirih.
"Menangislah!" kata ibu sembari menepuk punggung Kalyla yang terasa rapuh.
"Kenapa jadi seperti ini, apa aku salah tante? apa aku salah mencintai Azka?" tanya Kalyla yang masih menangis perih dalam pelukan ibu.
"Sayaaang, kamu peduli kan sama Azka?" tanya ibu, lembut sekali.
"Ya, aku sangat sangat sangat sayang sama Azka, dia harus bahagia sama aku!" ratap Kalyla, ibu hanya tersenyum mendengarnya.
"Coba lihat Arkan..." kata Ibu lalu menunjuk pada Arkan yang sedang duduk nyaman dalam pangkuan ayah, Kalyla hanya melihatnya...
"Kalyla, kamu jangan merasa sendirian ya! ada kami disini, Azka sudah punya tanggung jawabnya sendiri, tapi kami...kami akan tetap jadi orangtuamu!" kata Kakek bijak sekali, bagaimanapun juga Kalyla adalah anak yang mereka sayangi juga.
"Azka juga akan tetap menyayangimu sebagai teman dan adiknya sendiri!" tambah ayah,
Entahlah, entah bagaimana perasaan Kalyla sekarang tapi yang pasti saat ini dia tak bisa berhenti menangis.
"Kamu mau temui mereka?" tanya ibu, Kalyla hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Mereka ada di kamar atas, tadi Nara sedikit gak enak badan, temuilah mereka!" kata ibu, dan meski hatinya tak siap Kalyla segera berjalan menuju kamar Azka di lantai atas, dia tak tahan, dia ingin mencurahkan apa yang dia rasakan malam ini, mungkin Kalyla juga ingin meminta maaf pada Nara.
"Semoga Kalyla mengerti..." harap ibu yang sebenarnya tak tega melihat keadaan Kalyla yang tampak kacau saat ini.
"Mereka hanya perlu bicara, biarkan mereka bicara dari hati ke hati!" kata Kakek.
Kalyla terus berjalan, dan saat sudah sampai di depan pintu kamar Azka...
Pintu kamar tidak tertutup rapat dengan begitu Kalyla bisa melihat apa yang Azka dan Nara lakukan sekarang. Langkahnya terhenti dan mungkin saja Kalyla juga mati rasa, betapa hancur hatinya saat melihat Azka dan Nara bermesraan tepat di depan matanya.
"Cukup, aku lagi gak enak badan tau..." kata Nara yang tak tahan karena Azka terus menggoda dan mencumbunya.
"missing you so hard..." bisik Azka yang tak henti-hentinya menggodanya.
"Heh, gombal!" cibirnya.
"Meragukan!"
"Apa perlu kamu belah dada ini?"
"Heh, males banget dengernya! gombalan kamu ini klise tau gak???"
"Aaaah, gimana lagi cara buat meyakinkan istri tersayangku ini ya???"
"Mau tahu apa yang bisa membuatku yakin?" tanya Nara, Azka mengangguk lalu menyimak istrinya dengan seksama.
__ADS_1
"Setia dan pengertian! udah itu aja!"
"Oke!"
"Ini yang terakhir, kalau suatu hari kita mengalami hal seperti ini lagi, aku gak akan bertahan lagi! aku gak main-main!" ancam Nara.
"Oke, aku gak akan meninggalkan kalian untuk alasan apapun, catat itu!"
Kalyla mendengarnya dengan jelas, dan tak bisa dibayangkan lagi bagaimana hancurnya perasaan Kalyla saat ini. Apa yang dia dambakan hancur berkeping-keping, dia tak percaya kalau Azka yang dulu hanya mengagumi dan menyayanginya kini berpaling sangat jauh pada Nara. Tidak rela? sudah pasti tapi bisa apa Kalyla sekarang? dia hanya bisa menelan kepahitan itu...
Kalyla pulang dengan luka yang sangat dalam, sepanjang perjalanan pulangnya, Kalyla tak bisa menghentikan derai airmatanya, bahkan saat ini dia mengemudi dengan kecepatan sangat tinggi. Rasa sakitnya membuyarkan konsentrasinya, dia tak peduli dengan keselamatannya saat ini.
Menyesal adalah kata yang dapat menggambarkan apa yang Kalyla alami sekarang, tak ada kata lain dalam benaknya saat ini.
***
Ada kabar yang sangat mengejutkan pagi ini, Kalyla mengalami kecelakaan semalam. Kini reputasi Kalyla benar-benar hancur karena ulah dan egonya sendiri, sejak semalam dia belum keluar dari ruang ICU, sepertinya lukanya cukup parah karena kondisi mobilnya pun cukup ringsek.
Ibu dan ayah sigap menemui Shita yang standby sejak semalam, mereka sangat panik dan khawatir, apalagi semalam Kalyla baru saja pulang dari rumah mereka.
Bagaimana keadaan Kalyla?
Sejak semalam dia belum memberikan respon apapun, berbagai selang infus membelenggunya, luka hampir membalut tubuh mulusnya.
Apakah Kalyla akan baik-baik saja?
__ADS_1
Akankah ini jadi akhir petualangannya?