
"Sayaaang, ayo dong! Emangnya di dunia ini anak perempuan tuh cuma dia?" Maminya Keita sedang mencoba bicara dari hati ke hati dengan putra kesayangannya itu.
Sejak pengkhianatan Yura terjadi, Keita berubah menjadi pribadi yang sangat murung. Mami-nya sangat mengkhawatirkannya. Dia tahu tentang semua isu yang beredar dan sungguh, ia kini sangat kecewa bahkan kadung benci pada Yura.
Keita hanya memainkan sendok di atas nasi goreng keju favoritnya, tapi untuk kali ini makanan favoritnya itu sama sekali tak bisa menghibur rasa galaunya.
"Makan ... makan! Habiskan! Mami tuh gak ngerti deh sama kamu!" kata Sang Mami lagi masih agak mengomel.
"Oke, Mami akui Han Yura itu memang gadis yang manis, tapi ayolaaaah Kei, rupa itu relatif, kamu lihat dong kelakuannya! Mami marah sebenarnya, pengen labrak dia, lihat sekarang! Dia udah bikin anak kesayangan Mami down kayak begini! Kuliah terbengkalai, aaah, Mami temui aja lah si Yura sekarang!" Mami semakin kesal dan dia hendak bangkit untuk menemui Yura tapi Keita segera menahannya.
"Udahlah Mi, gak usah berlebihan!" kata Keita ketus.
"Apa? Berlebihan? Siapa yang berlebihan? Kamu sayang! Lihat perubahanmu ini, kamu yang berlebihan!"
"Aku balik ke UK aja! Aku akan fokus kuliah disana!" kata Keita memutuskan.
"Serius? Jadi kamu beneran mau fokus kuliah lagi?"
"Heum!"
"Tapi kamu gak akan berlarut-larut lagi kan? Open minded sayang, cari gadis impian kamu disana! Kamu pantas mendapatkan yang jauh lebih baik!"
Benarkah? Apa benar Keita akan pasrah dan kembali ke London meninggalkan kisah cinta menyedihkannya ini? Tapi, andai saja Keita tahu kalau yang terjadi selama ini bukanlah kehendak Yura. Sebenarnya, Keita lah korban dari ini semua.
Lebih celakanya lagi, saat ini Dara nekat menemui Yura secara langsung ke rumahnya. Yura sangat terkejut, terlebih lagi Yura sangat ketakutan.
"Kak Da-ra ...." sapanya dengan getaran di setiap suku kata yang ia katakan, Yura takut sekali apalagi di rumah sama sekali tak ada siapa-siapa.
"Hai, kaget ya aku datang kesini?" sapa Dara dengan mimik muka misteriusnya. Yura tahu, kalau Dara pasti akan membicarakan masalah keputusan Zahran dan bukan tidak mungkin kalau Dara akan mengancam Yura lagi.
"Heum, masuklah!" persilakan Yura, walau sebenarnya Yura sangat ragu untuk mempersilakan monster menyeramkan seperti Dara masuk ke dalam rumahnya sementara hanya ada dirinya saja sendirian saat itu.
"Kamu tinggal sendirian disini?" tanya Dara masih bersikap biasa.
"I-iya Kak!"
"Kenapa Han Yura? Sepertinya kamu ketakutan? Kami takut aku mengancam lagi?"
DEG, jujur saja 'iya!', Yura merasa tak menentu. Dia pun putuskan untuk mengirim pesan pada Alika untuk segera datang ke rumahnya.
"M, nggak kok Kak, silakan duduk!"
Mereka duduk di ruang tengah, Yura masih terlihat tegang beda sekali dengan Dara yang terlihat sangat santai dan relax. Tapi hal itu malah membuat Yura semakin takut. Yura takut Dara menyerangnya secara tiba-tiba.
"Heum Yura, aku gak mau berbasa-basi lagi, langsung saja ke tujuan utamaku datang kemari! Apa kamu mempengaruhi Zahran?"
Sudah Yura duga, kedatangan Dara memang untuk membahas masalah ini. Yura masih bingung harus menjelaskan apa pada Dara. Jujur atau berbohong pasti akan membawanya kepada kehancuran. Ya, sikap Dara membuat Yura sangat ragu untuk memberi jawaban apapun.
Yura memencet-mencet layar ponselnya dengan sembarang, dia sangat panik sampai tanpa sadar dia sudah menghubungi nomor kontak Arkan.
"Kak, maafkan aku, ini semua gak bisa diteruskan!" ungkap Yura tanpa berani melakukan kontak mata sedikit pun dengan Dara yang menatapnya tajam seperti sedang bersiap-siap untuk menerkam.
"Maksudnya apa? Huh? Coba jelaskan! Dengan jelas dan dengan alasan yang masuk akal! Jangan kasih aku alasan yang akan mungkin membuat aku marah!"
Yura seperti sedang ada dalam adegan horor, ya bagaimanapun juga saat ini Dara sudah menjelma menjadi teror yang nyata untuk Yura.
Arkan yang sedang bersiap untuk melakukan latihan cukup heran dengan panggilan yang Yura lakukan, terlebih dia tak mendengar sapaan Yura. Malah Arkan mendengar percakapan Dara walau agak samar.
"Halo? Yura ... ada apa ini?" tanyanya mulai agak curiga.
__ADS_1
"Cintaku ini cinta gila Yura! Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Keita! Termasuk aku bisa aja menyingkirkan kamu dengan cara halus sampai tak akan ada orang yang curiga kalau kamu celaka dengan tanganku ini!" Dara mulai melancarkan ancaman-ancaman gilanya, dan beruntung Arkan yang masih stand by dengan sambungan telepon itu mendengar walau agak samar-samar.
Arkan seketika mengkhawatirkan keadaan Yura, kata-kata Dara barusan menegaskan dugaannya kalau saat ini posisi Yura sangat terancam.
'Gila! Ternyata benar kalau si Dara itu pshyco! Gue harus kesana? Apa ini di rumahnya?' batin Arkan, dan walau kini dia sudah berseragam untuk latihan, dia akan meminta izin untuk pergi sebentar, memastikan kalau keadaan Yura baik-baik saja.
"Bang! Boleh gue pinjam motor lo gak?" tanya Arkan pada Rado, mereka memang teman satu kamar.
"Boleh, emangnya mau kemana? Kurang dari 30 menit lagi kita latihan!" tanya Rado.
"Keluar bentar, gak akan lama kok! Gue pinjam ya Bang!" sahut Arkan lalu dia ambil kunci motor Rado dan ia bergegas pergi. Rado cukup penasaran tapi dia biarkan saja juniornya itu mengurusi urusannya terlebih dahulu.
Seperti biasa, senjata andalan Dara adalah cutter kecil, dan Yura tahu kalau saat ini dia sudah terjebak lagi dalam ancaman Dara. Melihat cutter itu Yura seperti merasakan trauma yang cukup dalam.
"Kalau aku mati, orang pertama yang harus jadi tersangkanya itu kamu Han Yura! Kamu sedang membunuhku secara perlahan, tapi kalau mau kita bisa mati sama-sama, biar adil! Biar setelah ini gak akan ada yang bisa memiliki Keita pada akhirnya!"
'Gila! Kenapa ini harus terjadi lagi, aku harus gimana?' batin Yura bergelut, Yura ketakutan sampai bibirnya pun tiba-tiba kelu dan tak mampu memberikan pembelaan.
"Yura? Bisa beri alasan kenapa kamu harus tetap hidup di dunia ini? Aku gak main-main ya, kamu adalah ancaman terbesar buat hidupku! Kamu adalah pengganggu yang harus ikut lenyap kalau aku sampai depresi dan mati!" Dara mendekat, dia duduk di samping Yura kali ini.
"Kak ...."
"Apa sayaaang? Jadi benarkan kalau kamu yang membujuk si Zahran buat gak nurut lagi sama aku? Iya kan?" Kini jarak duduk keduanya hanya beberapa inci saja dan ketakutan Yura semakin dan semakin memuncak.
Di tempat lain, Zahran juga akhirnya mendapat kesempatan untuk bertatap muka secara langsung dengan Keita. Secara kebetulan, Keita mampir ke bengkel tempatnya bekerja karena mengalami sedikit masalah dengan mobilnya.
Awalnya Keita kesal karena harus bertemu Zahran di bengkel itu. Zahran adalah pria yang paling dia benci saat ini. Tapi Zahran tetap mencoba profesional dengan menangani masalah mobil Keita sampai selesai.
"Bisa bicara sebentar?" kata Zahran, perbedaan di antara keduanya sangat kentara. Keita yang selalu klinis dan rapi sedangkan Zahran? Setiap hari dia bergelut dengan ceceran oli.
"Soal apa?" tanya Keita masih bersikap dingin.
Zahran menghela nafas panjang, dia akan mantapkan hatinya untuk benar-benar mengingkari pernanjiannya dengan Dara, kini Zahran benar-benar akan berada di pihak Yura.
"Lo harus tahu bro! Yura gak pernah mengkhianati lo!"
Keita semakin tertarik dengan obrolan dadakan ini, Keita simak Zahran dengan seksama.
"Gue gak bisa terus-terusan kayak gini! Si Yura itu orang baik, gak adil banget kalau dia harus jadi tersangka karena kelicikan seseorang!"
"Maksud lo apa?"
"Ini semua, rencana si Dara!"
Barulah Keita mengerti, walau Zahran tak menjelaskannya secara detail tapi dia sangat mengerti apa maksud Zahran.
"Jadi lo bukan sepupu si Dara?" tanya Keita.
"Bukan! Gue cuma suruhannya!"
"Kenapa lo mau ngikutin permainan ini?"
"Karena saat itu gue butuh uang! Dan sekarang gue sadar kalau kebaikan dan ketulusan si Yura gak bisa gue permainkan lagi, dia sangat baik gak mungkin gue curangi dia terus menerus demi uang!"
Keita tahu, dia sempet meragu karena permainan Dara begitu berjalan mulus dan sempurna. Kini Keita tahu, seharusnya dia tak meragukan Yura sejak awal.
"Temui dia! Nanti dia juga pasti akan menceritakannya sama lo! Selama ini dia takut sama ancaman di Dara! Si Dara itu gila! Sakit Jiwa! Asal lo tahu, si Dara udah neror Yura sejak di London!"
Keita semakin tahu kebenarannya. Ada rasa bersalah, ada rasa menyesal tapi ada juga rasa senang terselip karena ternyata kenyataannya tak seperti apa yang terjadi belakangan ini. Penjelasan Zahran memudarkan rasa benci dan rasa ragu Keita terhadap Yura, kini rasa sayang dan rasa cinta yang menggebu itu kembali terbit dan hadir.
__ADS_1
"Sorry ya Bro! Gue sangat menyesal!" kata Zahran, Keita akhirnya mau tersenyum. Dia memang kesal pada Zahran tapi dia hargai kejujurannya.
"Oke! Gue akan temui dia sekarang!"
"Ya, temui dia! Jangan sia-sia kan bidadari berhati lembut kayak dia!" goda Zahran, Keita hanya tersenyum lalu dia benar-benar pergi.
Zahran kembali merasa lega, dia yakin kalau stigma yang melekat didiri Yura saat ini akan segera hilang. Semua orang akan segera tahu kalau ini semua hanya obsesi gila Dara.
Kembali ke situasi Yura dan Dara ....
"Jangan takut sayaaang! Ini gak akan sakit kok!" kata Dara yang semakin menggila, dia merebut tangan Yura dan Yura menduga kalau Dara ingin memutus urat nadi Yura, gila! Dara memang sudah gila.
Dengan sigap Yura bangkit dari duduknya, dia akan menghindari Dara apapun yang terjadi.
"Kak please! Apa yang Kak Dara lakukan ini salah, tenanglah, aku gak bicara apa-apa kok sama Kak Keita!" kata Yura, dan dia terus menarik mundur langkahnya, dia benar-benar ketakukan karena Dara juga terus berjalan ke arahnya.
'Gak! Mana mungkin Kak Dara nekat melukai aku? Tapi, tapi ... aaah, apa ini akhir dari hidupku Tuhan?' batinnya.
"Tapi si Zahran akan mengungkapkan semuanya! Lihat saja Yura, setelah ini, aku juga akan melukai Chiyo! Adik si Zahran yang sedang sekarat! Kamu kenal dia kan?"
Beruntung, Arkan sudah tiba di depan rumah Yura, dugaannya benar, saat ini dia melihat mobil Dara terparkir. Tanpa pikir panjang, Arkan simpan sepeda motornya sembarang tempat lalu setengah berlari menuju pintu utama rumah.
CKTT, begitu dia membuka pintu, Dara sudah berhasil mengayunkan cutternya sampai melukai tangan Yura, aliran darah dalam tangan mengalir deras, walau luka Yura tak begitu dalam tapi darah sudah bercecer di lantai. Mengerikan sekali.
"Dara!" hentak Arkan.
Dara terkejut dengan kedatangan Arkan. Yura mencoba menahan aliran darahnya dengan tangannya, jadilah kini dia berlumur darah. Arkan segera mendekat menghampiri Yura bahkan dia mengorbarkan jerseynya untuk membalut tangan Yura.
'Sial!' batin Dara, kini dia dalam posisi yang sangat terpojok. Dia pikir tak akan ada orang yang datang dan memergoki perbuatan biadabnya. Dia pikir Yura akan tetap diam dan menuruti semua kehendaknya.
"Lo benar-benar gila Dar! Apa-apa an ini? Apa yang lo lakukan ini kriminal!" Arkan melancarkan penghakimannya, dia tak menyangka kalau Dara tega dan nekat melakukan tindakan keji ini pada Yura.
Yura hanya menangis, berlindung di dekat Arkan, jujur saja, kini traumanya bertambah parah, apalagi melihat darahnya yang tercecer di lantai, kalau saja ayunan tangan Dara tadi tepat sasaran, mungkin saja cutter itu akan melukai wajahnya, ngeri! Yura sampai ngeri dan menangis perih membayangkannya.
"Ini bukan urusan kamu Arkan!" kata Dara innocent.
"Ini urusan gue! Gue akan laporkan ini semua!"
"Heh, coba aja kalau berani! Lagian, si Yura ini emang gak berarti apa-apa! Kenapa kamu harus peduli, apa harus aku laporkan aksi sok heroik-mu ini sama Kak Alana?" Dara malah balik mengecam dan Arkan membalasnya dengan senyum kecut penuh kebencian.
"Kenapa gue harus gak berani! Mengungkap kejahatan itu bisa dilakukan sama siapa aja! Tunggu disini, dan gue akan segera hubungi polisi!"
"Lebih baik gue mati saja kalau begitu!" Dara mulai beraksi lagi, dia mengancam dengan meletakan lagi cutter itu di pergelangan tangannya sendiri.
"Jangan Kak, jangan! Tenang dulu!" tahan Yura, Yura tak ingin ada luka berikutnya.
Kini Arkan tahu bagaimana liciknya Dara mempermainkan emosi seseorang. Arkan bisa saja tak peduli jika Dara membunuh dirinya sendiri tapi kemudian dia melirik ke arah Yura yang tampak sangat ketakutan.
"Arkan! Sepertinya kamu peduli dengan si Yura! Kenapa? Apa kamu juga menyukai dia, huh?" tanya Dara yang masih menempelkan mata cutter itu di pergelangan tangannya.
"Simpan lagi cutternya Kak, ini selesai, ini sudah selesai!" kata Yura.
"Gak, aku pengen denger dulu pengakuan Arkan, biar semuanya terungkap dengan jelas, kalau benar Arkan juga suka sama kamu, berarti selama ini kamu sudah mempermainkan banyak hati Yura!"
"Apa maksudnya?" tanya Yura tak mengerti.
"Arkan itu milik Alana dan kamu juga mau merebutnya dari Alana, huh?" bentak Dara, Yura semakin tak mengerti saja.
"Kalau gue juga cinta sama Yura, emangnya kenapa? Bukan masalah buat lo kan?" akui Arkan di depan Dara, Dara berdecak dengan pengakuan itu dan tahukan? Saat Arkan mengungkapkan kata-kata penuh makna itu, Keita juga sudah tiba di ambang pintu rumah. Keita mendengar pengakuan itu, bagaimana reaksinya? Dia terpaku, dia terdiam.
__ADS_1
Akankah konflik di antara mereka semakin panjang dan rumit? Bagaimana tidak, saat ini Keita baru saja mendengar kalau sahabat baiknya mencintai gadis yang sama dengan dirinya.
Apakah Keita akan marah? Atau dia akan pasrah?