Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Hubungan tanpa status


__ADS_3

"Udah lama nunggunya?" sapa Yuki yang langsung menghampiri keduanya di dapur.


"Nggak kok, baru aja."


"Yura, boleh tolong buatkan minum?" pinta Yuki pada anak gadisnya itu.


"Oke yah!" setujui Yura, dia memang selalu sigap jika Yuki meminta sesuatu dan kebetulan sudah beberapa hari ini ART di rumah mengambil cuti jadi hampir semua pekerjaan rumah di handle oleh Yura.


Arkan dan Yuki beralih ke ruang tengah, sepertinya Arkan ingin konsultasi pada Yuki. Bagaimana pun juga mendapat kontrak dari klub besar seperti Sunrise adalah hal yang sangat membanggakan untuk anak muda seperti Arkan.


"Kamu benar-benar hebat! Sudah bergabung dengan Sunrise di usia muda, dulu, om masih luntang lantung waktu seumur kamu!" puji Yuki memulai obrolan.


"Makasih om," tukasnya.


"Kamu harus teguh, fokus, bukan berarti usaha kamu selesai saat tanda tangan kontrak, akan ada kompetisi internal juga sesama pemain, kamu harus menyiapkan mental karena om tahu betul di usia ini emosimu masih sangat labil, iya kan?"


"Iya, itu bener banget om!"


"Kamu bisa belajar banyak pada Papamu."


"Iya, tapi Papa bilang Om Yuki ini paling hebat saat mengatur emosi dan mental di lapangan, makanya aku butuh motivasi dari Om sebelum Om bener-bener pergi ke Aussi," ungkap Arkan dan di sela-sela obrolan serius itu Yura datang dengan dua cangkir teh dan sepiring kookies yang sudah jadi. Kali ini kookiesnya tampak lebih baik dan dengan penuh percaya diri dia menyajikannya di atas meja.


"Waah, yang ini tampaknya berhasil," kata Yuki agak menggoda, Yura hanya tersenyum tersipu malu.


"Yang ini mungkin berhasil Yah, dicoba ya dan kasih penilaian nanti, hehe."


"Pasti hasilnya baik."


"Silakan, aku balik ke dapur ya, harus cepat-cepat dibereskan!" pamit Yura, dan Yuki hanya mengangguk dengan senyuman.


"Huh, Yuraa, beruntung sekali kami mengangkatnya menjadi anak," kata Yuki pelan tapi Arkan bisa dengar itu.


"Dan Yura juga sangat beruntung memiliki orang tua seperti kalian!" ungkap Arkan membuat suasana sedikit mengharu biru.


"Mungkin ini memang sudah ditakdirkan, Om rasa, Yura adalah salah satu semangat dan energi positif yang pernah kami dapatkan, terutama untuk mendiang Tante Lulu," ucap Yuki dan saat menyebut nama Lulu hatinya kembali terasa teriris, walau sudah berlalu sekian bulan tapi Yuki kadang masih belum bisa tegar saat menyebut namanya.


"Dan sekarang dia istirahat dengan tenang di surga sana Om," semangati Arkan, Yuki mengangguk sembari tersenyum.

__ADS_1


Obrolan mereka berlanjut walau diselingi dengan kenangan Yuki terhadap Lulu. Arkan benar-benar ingin belajar banyak dari Yuki dan dari Azka pastinya, dia bertekad untuk menjadi pemain yang baik di masa mendatang.


***


Ting tong,


Bi Marni lekas membukakan pintu, dan yang datang adalah Alana. Bi Marni sudah cukup familiar dengannya karena beberapa tahun terakhir ini Alana kembali dekat dengan Arkan setelah dia memutuskan untuk meneruskan kuliah dan kariernya di Indonesia.


"Eh Non Alana, masuk, masuk Non," sapa Bi Marni lalu dia mempersilakan Alana untuk masuk.


"Makasih Bi, Arkan belum bangun?" tanya Alana yang berjalan mengikuti langkah Bi Marni menuju ruang tengah.


"Udah kok Non, barusan dia ikut sarapan sama Mama Papanya," jawab Bi Marni dan Alana sudah sampai di ruang tengah itu, kemudian dia duduk menunggu.


"Bibi panggil dulu ya ...."


Alana mengangguk dan dia menunggu dengan sabar. Dan baru saja Bi Marni hendak naik ke lantai atas, Arkan sudah lebih dulu turun dengan penampilannya yang sudah rapi.


"Non Alana sudah nunggu den," kabari Bi Marni yang menahan langkahnya di anak tangga.


"Iya Bi."


"Bi Marni kepo," cibirnya lalu dia segera menemui Alana di ruang tengah. Bi Marni hanya ketawa-ketiwi melihat majikan kecilnya kini sudah mulai tumbuh dewasa.


"Huh, Den Arkan! Gak kerasa kamu udah besar, bahkan Bibi tahu kamu sejak dalam perut Den, hehe."


Arkan duduk di samping Alana yang menyambutnya dengan senyuman semanis gula. Setiap hari dia semakin terpikat dengan pesona Arkan.


"Lho, kita samaan sih?" tanya Alana saat dia juga menyadari kalau saat ini mereka kompak memakai motif pakaian yang sama. Dirinya dengan blus strip hitam putih dan Arkan dengan kemeja flanel hitam putih juga.


"Kebetulan," sahutnya.


"Emang jodoh kali," celetuk Alana membuat Arkan menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang dalam dan tentu saja, Alana terjebak di dalamnya.


"Jodoh? Jadian aja nggak!" kata Arkan enteng, membuat Alana agak kecewa mendengarnya.


"Ya udah, tunggu apa lagi sih?"

__ADS_1


"Tunggu sampai aku sukses ya."


"Ya ampun Ar, status itu gak perlu nunggu kamu sukses! Apa-apaan sih, hubungan kayak gini, gak jelas tahu gak?" keluh Alana.


"Tapikan kita sama-sama."


"Ya tapi kamu gak pernah nembak aku, sekalinya aku nembak kamu juga gak pernah kasih jawaban konkrit, statusnya jadi bias kan?"


"Entahlah, tapi kalau ada cowok yang mau serius sama kamu gak apa-apa kok, sebaiknya kamu pilih dia!"


"Jadi kamu gak serius?"


"Bukan gak serius, aku cuma belum siap aja dengan komitmen untuk pacaran, semuanya selalu terasa mengikat."


"Huh," Alana mendengus kesal, ingin marah tapi dia tak ingin kehilangan Arkan walaupun sampai sejauh ini mereka belum resmi pacaran.


Alana memang cinta mati pada Arkan, walau bertahun-tahun statusnya samar tapi dia tetap setia menemani Arkan dan sialnya dia hanya tak bisa memilikinya secara utuh. Entah apa pula yang Arkan pikirkan sampai tega melakukan hal itu pada Alana padalah sesekali Arkan juga sering merasa kangen pada gadis manis yang fasihionable itu.


"Lagian sekarang, aku mau fokus dengan karir," ungkap Arkan dan Alana tak mampu membantah, dia tahu betul kalau Basket adalah passion dan mimpi seorang Arkana, dia tak bisa protes kalau basket masih menjadi prioritas Arkana.


"Iya, aku akan tetap setia menemani dan mendukung semua cita-cita dan karir kamu!"


"Harus!"


"Tapi setelah itu kamu harus segera memutuskan, bisa?" tuntut Alana dan sorot matanya menangkap Arkan seolah-olah Arkan tak bisa menghindari lagi.


"Ya."


"Kapan?"


"Selesai kompetisi, selesai musim debutku di Sunrise!" jawab Arkan yang akhirnya telah memutuskan, Alana cukup senang. Akhirnya setelah bertahun-tahun, Arkan akan memberinya jawaban atas hubungan yang terombang-ambing ini beberapa bulan lagi, setelah musim kompetisi digelar dan selesai.


"Jadi kita mau pergi kemana?" tanya Arkan mengakhiri obrolan serius itu.


"M, aku mau cari bahan buat beberapa rancangan terbaruku! Antar aku ke toko bahan yaa," pinta Alana manja, seperti biasa.


Arkan setuju dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


Entah apa yang Arkan pikirkan sampai membuat Alana menunggu selama itu, tapi Alana juga tetap dengan kesetiaannya. Akankah kelak mereka benar-benar meresmikan hubungan mereka tanpa ada konflik dan orang ketiga?


__ADS_2